@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Dear Bapak Yusuf Kala

6 Comments

Beberapa tahun lalu, di perhelatan besar PGRI di Solo, Bapak begitu marah mendengar Bapak Winarno Surachmad baca puisi tentang sekolah seperti kandang ayam … gemanya cukup besar dan lama terdengar …. mass media gencar memberitakan kondisi banyak sekolah di berbagai daerah yang seolah menjawab kegundahan Bapak.

Kramat Jati mungkin tak terlalu jauh dari kediaman resmi Bapak di Surapati, masih di DKI Jakarta Ibukota Negara RI, bahkan masih satu Kota administatif dengan kantor Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta yang dipimpin oleh seorang Doktor dalam bidang Pendidikan, bahkan Pak Walikotanya itu juga Doktor dalam bidang Pendidikan … ada sekolah tak beratap … murid SD Negeri 21 Kramat Jati belajar beratap langit … bisa dibayangkan bagaimana suasana mereka di bulan Februari ini dimana air tercurah hampir tiada henti.

Maaf, mungkin Bapak bisa datang atas nama organisasi Bapak yang besar dan beratribut kebesaran kuning, untuk menyumbang dana rehab gedung sekolah itu karena anggaran pemda belum turun hingga kini, Saya yakin itu bisa jadi jurus kampanye yang ampuh menjelang 2009, agar anak-anak disana belajar dengan tenang, orang tua dan guru tak perlu khawatir anaknya tertimpa runtuhan bangunan. Bukankah ini indikator kesejahteraan warga negara?.

Mari terus berjuang saudaraku.

Dedi Dwitagama

Dibawah ini reportase Repubiika 26 Feb 08 yang berjudul “Sekolahku Sayang, Sekolahku Malang”

Hari itu, 9 April 2006. TNI sedang merayakan ulang tahun ke-60. Sejumlah pesawat jet dalam formasi anggun meraung-raung di angkasa, berputar-putar, menghiasi langit yang cerah dengan asap warna-warni. Anak-anak SD Negeri 21 Kramat Jati, Jakarta Timur, menengadah dengan takjub. Tiba-tiba, brak … brak … brak!

Murid dan guru yang sedang memandang atraksi pesawat-pesawat itu berlari tunggang-langgang. Tak lama kemudian, mereka mencari asal suara. Rupanya, langit-langit ruang kelas empat rontok berbarengan dengan derum burung besi yang melintas di atas sekolah itu. Beruntung, saat plafon ambrol, tak ada seorang pun yang berada di dalam kelas.

Sudah dua tahun plafon itu rontok. Tapi, sampai kini, kondisinya tetap sama, bahkan lebih parah. Hujan deras yang melanda Jakarta awal tahun ini, membuat tiang penyangga sekolah itu kian lapuk. Pekan ketiga Februari, plafon ruang kelas empat yang tersisa berjatuhan bersama genteng tanah liat yang warnanya sudah kehijauan.

Kini, langitlah yang menjadi atap ruang kelas yang berada di tenagh kota itu. Dan, setiap hujan turun, ruang kelas itu seketika bak kolam renang. Karena posisi ruang kelas empat lebih tinggi, air pun mengalir ke bilik-bilik kelas lain yang posisinya lebih rendah melalui pintu penghubung, misalnya, ruang kelas tiga.

”Bu, ini air kencing siapa?” kata seorang murid kelas tiga, ketika pertama kali mendapati air berwarna kekuningan menggenangi lantai kelas tiga. Sebanyak 26 murid di kelas itu pun menjadi heboh. Usut punya usut, ternyata bukan air seni, melainkan genangan air hujan yang luber dari ruang sebelah, ruang kelas empat yang kehilangan atap.

Guru kelas tiga, Adis Hasanah, tak menyangka air hujan akan merembes ke kelasnya. Tapi, terjadi. Kini, setiap hujan datang, dia selalu khawatir. Karena proses belajar-mengajar terpaksa dilakukan tanpa alas kaki. ”Anak-anak belajarnya nyeker,” kata guru yang telah mengajar di SDN 21 sejak 2000 itu, beberapa waktu lalu.

Bukan hanya pada genangan air, Adis khawatir, tapi juga pada langit-langit sekolah yang setiap saat bisa runtuh. Bila langit-langit rontok saat tak ada orang di dalam kelas, seperti yang terjadi pada ruang kelas empat, tentu tak masalah. Tapi, bila langit-langit runtuh saat proses belajar-mengajar berlangsung, tentu akan menjadi malapetaka besar.

Kekhawatiran serupa disampaikan Sarah Urbadanisah, murid kelas tiga. ”Di sebelah kan sudah roboh. Takut juga nanti kelas ikutan roboh,” katanya. Apalagi, kata Sarah, di tembok bagian atas depan kelasnya telah muncul retakan sepanjang 15 sentimeter. Sudah begitu, dia mengatakan setiap hujan turun, semua anak-anak harus bekerja bakti, karena lantai kelas kotor.

Orang tua murid juga cemas. ”Setiap hujan dan angin kencang, saya bawaannya khawatir melulu. Sedikit-sedikit selalu melongok ke sekolah melihat keadaan anak,” kata Nurhayati, ibu Sarah, yang rumahnya terletak di seberang lokasi SDN 21, sehingga memudahkannya mengontrol kondisi sekolah dan anaknya.

Sejak plafon kelas empat jebol, aktivitas belajar-mengajar di SD yang berlokasi di Jl Kerja Bakti inipun berubah. Demi keselamatan murid, ruang kelas empat tak lagi dipakai. Para guru memindahkan 22 murid kelas empat ke kelas lima. Murid kelas satu dan dua juga terpaksa berbagi kelas. Jam masuk sekolahnya pun terpaksa mengalami perubahan.

Ketika para guru bisa menarik napas lega, belum lama ini plafon ruang guru juga ambrol. Kepala Sekolah SDN 21, Hermansyah, terpaksa mengungsikan para guru. ”Sekarang semua guru bergabung di ruangan kepala sekolah,” kata mantan guru SDN 02 Setu Cipayung ini. Kondisi ruang guru, kini persis seperti ruang kelas empat.

Hermansyah yang memimpin SDN 21 sejak 2007 itu, berharap sekolahnya segera direhabilitasi. Maklum, sekolah tersebut memang terbilang uzur. Dibangun pada 1978, jadi usianya sudah mencapai sekitar 30 tahun. Karena itulah, ketika jet tempur melintas jauh di atasnya sekalipun, bagian-bagian bangunan sekolah tersebut tercerai-berai karena getaran.

Persoalan bertambah mengkhawatirkan karena sekolah tersebut berlokasi tak jauh dari Bandara Halim Perdanakusuma yang merupakan pangkalan pesawat tempur dan komersial. Deru pesawat yang diikuti getaran yang melanda sekolah setiap kali ada pesawat yang mendarat atau take off, merupakan makanan sehari-hari para murid dan guru.

Meski umurnya telah 30 tahun, sekolah itu baru dua kali direhabilitasi. Yaitu, pada 1995 dan 2005. Pada rehabilitasi kedua, plafon kelas enam yang jebol, meski tak separah yang menimpa ruang kelas empat setahun berikutnya. ”Semoga rehab bisa cepat terlaksana, agar aktivitas sekolah bisa berjalan normal kembali,” kata Hermansyah.

Sebenarnya, masalah yang menimpa SDN 21 itu sudah berulang kali dilaporkan kepada Suku Dinas Pendidikan Dasar Jakarta Timur. Barulah pada tahun ini, pemerintah mengalokasikan anggaran untuk melakukan rehabilitasi berat sekolah yang hampir roboh itu. ”Anggarannya Rp 800 juta,” kata Kasudin Dikdas Jaktim, Zaenal Soleman.

Sampai saat ini, di DKI Jakarta yang anggaran pendidikannya sudah menyundul 20 persen APBD, masih ada sekolah rusak yang belum tertangani. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Dasar Pemprov DKI Jakarta, saat ini ada 400 gedung sekolah yang rusak. Padahal, sekolah-sekolah itu terletak di tengah-tenagh kota.

(c67 )

About these ads

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building also as photografer. Please visit; http://dedidwitagama.wordpress.com, http://trainerkita.wordpress.com and http://fotodedi.wordpress.com

6 thoughts on “Dear Bapak Yusuf Kala

  1. Sebuah puisi kadang menggambarkan realita yang terjadi, namun karena merasa kurang “bagus” puisi tersebut dianggap hanya celotehan biasa yang tidak perlu direspon positif. Mengenaskan kondisi sekolah tersebut, namun mungkin itu hanya segelintir saja dari sekolah yang butuh”sentuhan besar” saat ini.
    Semoga kita yang berkecimpung dalam pendidikan mampu mengubah kondisi buruk menjadi kondisi yang kondusif meski cuma lewat tulisan.
    Mari kita terus berjuang,…
    Perjuangan membangun anak bangsa tidak akan berujung…

    Salam semangat dan selamat berkarya .
    Komariyah

    Trm ksh

  2. yth.bpk Yusuf Kalla
    saya seorang karyawan salah satu perusahaan swasta di solo.
    sejak 1thn yg lalu saya mempunyai keinginan utk membuka usaha sendiri.alangkah sedih dan kecewanya saya tiap kali ingin mengajukan pinjaman modal usaha ke bank bpd jateng,bni,juga bri selalu ditolak karena alasan pinjaman modal itu hanya utk pengembangan usaha bkn utk orang yg akan memulai usaha atau blm pnya usaha sama sekali.pertanyaan saya disini apa saya harus pinjam ke rentenir dulu utk bisa memulai usaha yg akan saya dirikan?jaminan sertifikat tanah pun saya punya tapi kenapa msh dipersulit.saya capek cuma jd pegawai.sedangkan saya pnya skill yg bisa menghasilkan omset ratusan juta hanya utk perusahaan tmpt sy bekerja saat ini.saya rugi waktu tenaga dan pikiran lebih baik skill yg saya pnya ini saya gunakan utk saya sendiri mendirikan sebuah usaha.tolong bapak yusuf kalla memperhatikan kami.

  3. jadi teringat sama guru saya kalau mendengar pak jusuf .. :-)

  4. Bapak yusuf Kalla yth
    Saya punya keinginan untuk melanjutkan kuliah saya ke S2.
    Tapi saat ini saya tidak mempunyai kemampuan biaya tuk meujudkanya.
    Penghasilan saya pas pasan sekali ,bahkan kadang kurang.
    saya mohin bantuan bapak agar kiranya bersedia membiayai kuliah S2 saya.
    Hanya Allah lah yg bisa membalas kebaikan hati bapak kepada saya.
    Semoga Allah memberi bapak, ibu, anak cucu bapak kesehatan dan selalu dalam bimbinganNYa,
    Dan diberinya rejeki yang berlimpah dan barokah.
    Amin.Insya Allah.
    dan akhir kata saya ucapkan terima kasih banyak.
    Wsslmkm

  5. pak ini no hp saya 085277906287

  6. Pak ada lahan sawit yg mau di jual di langkat sumatera utara kira 40 km dari kota medan.
    luasnya 4200 ha,HGU s/d 2015,ada PKS, 45 ton/jam.mau di jual 250 milyar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 15,067 other followers