@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Model Kurikulum berbasis Keunggulan Lokal, Prof. Dr. Wasino

10 Comments

A. Sejak tahun 1998, terjadi perubahan yang sangat mendasar terhadap semua aspek kehidupan Bangsa Indonesia. Perubahan itu disebabkan oleh perubahan politik dan tata pemerintahan yang semula bersifat sentralistik menjadi desentralistik. Dalam pemerintahan sentralistik, hampir semua kebijakan penting dan kendali pemerintahan dilakukan oleh pemerintah pusat. Pemerintah Daerah, propinsi dan kabupaten/kota menjadi pelaksana dari kebijakan pemerintah pusat, Jakarta. Pada saat ini fungsi dan wewenang pemerintah daerah lebih besar dalam membuat kebijakan dan melaksanakannnya sesuai dengan variasi potensi, dan kepentingan pengembangan daerahnya masing-masing. Salah satu desentralisasi pendidikan adalah desentralisasi kurikulum. Pemerintah, c.q. Departemen Pendidikan Nasional hanya menentukan standar-standar minimal yang harus dipenuhi oleh satuan pendidikan di tingkat daerah. Standar minimal itu berupa standar kompetensi lulusan, standar isi, standar evaluasi, dan standar sarana dan prasarana. Pengembangan lebih jauh terhadap standar-standar tersebut diserahkan kepada daerah masing-masing.

Dengan adanya desentralisasi kebijakan itu, maka daerah dapat mengembangkan potensi wilayahnya sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Salah satu kebijakan yang dapat dikembangkan adalah membuat kurikulum sekolah yang berbasis keunggulan lokal dan global. Berdasarkan peraturan perundang-undangan di atas sudah diatur bahwa pelaksanaan pendidikan di luar kewenangan pemerintah pusat dan harus dilakukan di daerah. Oleh karena itu pengembangan kurikulum sebagai salah satu substansi utama dalam pengembangan pendidikan perlu di desentralisasikan, terutama kebutuhan siswa, keadaan sekolah dan kondisi daerah. Dengan demikian daerah atau sekolah memiliki cukup kewenangan untuk merancang dan menentukan hal-hal yang akan diajarkan. Sehubungan dengan kondisi daerah dan potensi daerah di Indonesia yang cukup beragam, maka daerah perlu menggali, meningkatkan dan mempromosikan potensinya melalui pendidikan di sekolah. Masing-masing daerah mempunyai keunggulan potensi daerah yang perlu dikembangkan yang lebih baik lagi. Keunggulan yang dimiliki oleh masing-masing daerah sangat bervariasi. Dengan kebergaman potensi daerah ini pengembangan potensi dan keunggulan daerah perlu mendapatkan perhatian secara khusus bagi pemerintah daerah sehingga anak-anak daerah tidak asing dengan daerahnya sendiri dan faham betul tentang potensi dan nilai-nilai serta budaya daerahnya sendiri, sehingga anak-anak dapat mengembangkan dan memberdayakan potensi daerahnya sesuai dengan tuntutan ekonomi global yang telah disepakati oleh pemerintah Indonesia. Diharapkan dengan ekonomi global tersebut, masing-masing daerah ingin berlomba bersaing dengan negara lain untuk memasarkan keunggulan daerahnya sendiri.

B. Daya Saing Bangsa melalui Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global Kenggulan suatu bangsa terkait dengan kemampuan daya saingnya dengan bangsa-bangsa lain. Daya saing mengacu pada kemampuan bersaing seseorang, kelompok, masyarakat atau bangsa terhadap individu, kelompok, masyarakat, atau bangsa lain. Daya saing dengan demikian berkaitan dengan nilai berkompetisi terhadap pesaingnya. Untuk dapat berkompetisi tentu diperlukan keunggulan-keunggulan, baik keunggulan kompetitif dan komparatif. Keunggulan komparatif terkait dengan sumber daya alam yang tersedia. Sedangkan keunggulan kompetitif terkait dengan kemampuan sumberdaya manusianya (SDM) nya. Pada dasarnya, setiap organisasi, semakin hari semakin dituntut untuk berjuang menemukan sumber keunggulan kompetitifnya. Banyak organisasi akhir-akhir ini menyadari bahwa satu-satunya sumber riil untuk mempertahankan keunggulan kompetitif adalah memberdayakan kekuatan manusia. Manusia tidak hanya memberikan keunggulan kompetitif, tapi juga sangat sulit untuk digandakan atau dibeli. Setiap insan memiliki talenta yang dapat diberdayakan menjadi keunggulan kompetitif melalui penciptaan nilai. Penciptaan nilai menjadi inti dari pengembangan sumber daya manusia akhir-akhir ini. Bangsa Indonesia dengan sumber daya manusia (SDM) yang sangat besar (nomor lima setelah Cina, India, Amerika, dan Jepang) harusnya memiliki keunggulan kompetitif dari penciptaan nilai modal manusianya. Keunggulan kompetitif modal manusia akan memberikan daya saing bangsa yang tinggi dalam percaturan global. Dalam hal keunggulan komparatif, bangsa Indonesia memiliki alam yang kaya dan iklim yang bersahabat. Bahkan dengan meminjam istilah Presiden Spekarno, tongkat pun bisa hidup di tanam di Indonesia. Akan tetapi perlu disadari bahwa keunggulan ini justru membuat kita lalai sehingga tidak melakukan apa-apa (karya besar) dalam waktu yang lama. Sementara untuk keunggulan kompetitif, berupa potensi yang dapat dikembangkan, kita juga kini tertinggal dengan negara lain. Jepang adalah negara yang memiliki area (keunggulan komparatif) sangat terbatas. Sebagian besar daratannya, 80 persen, berupa pegunungan dan tidak menunjang untuk pertanian. Faktanya kini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia. Jepang laksana negara industri terapung terbesar dengan daya serap impor bahan baku dari segala penjuru. Sebaliknya, produk jadi mereka melesat tak terbendung ke pasar-pasar di segala penjuru bumi. Swiss juga demikian. Negara ini tidak memiliki perkebunan cokelat, namun dikenal sebagai pembuat cokelat terbaik di dunia. Daratan Swiss hanya 11 persen yang bisa ditanami, namun negara ini menjadi negara produsen makanan terbesar di dunia dengan perusahaan makanan multinasional dari Swiss, Nestle, adalah salah satu nama yang dikenal luas di dunia. Dalam isu daya saing suatu negara, merujuk Growth Competitiveness Index Rankings 2005, daya saing kita berada pada urutan 74 dari 117 negara yang disurvei. Peringkat pertama ditempati Finlandia. Tak jauh dengan Swiss, negara penghasil merek Nokia ini juga hampir sepanjang tahun diselimuti salju. Nyatanya mereka bisa menaklukkan hambatan alam hingga menjadi negara dengan SDM paling produktif di dunia. Untuk ASEAN, kita juga harus mengakui keunggulan daya saing Singapura, Malaysia, maupun Thailand. Singapura menjadi yang terbaik di Asia Tenggara, di posisi 6 dunia. Malaysia pada peringkat 24, sedangkan Thailand 36. Kemajuan suatu negara juga tidak tergantung dari umur negara tersebut. Dengan demikian, Indonesia yang berumur 61 tahun akan bisa meraih kemajuan besok, lusa, tahun depan, abad depan, atau tidak maju sama sekali. Sebab, umur bukan faktor penting, melainkan produktivitas yang akhirnya mendongkrak daya saing negara tersebut. Mesir dan India bisa menjadi contoh aktual, di mana kedua negara berumur lebih dari 2.000 tahun. Namun mereka tetap terbelakang jika dibandingkan dengan Australia, Singapura, New Zealand, maupun Kanada. Negara-negara ini baru berumur kurang dari 150 tahun. Dalam kurun waktu yang singkat itu, pembangunan yang mereka jalankan mampu membebaskan rakyatnya dari kemiskinan. Ras dan suku bangsa pun demikian, bukan faktor utama maju tidaknya suatu bangsa. Di kawasan Afrika dan Asia yang tertinggal, dihuni oleh ras yang berbeda dengan orang-orang di Eropa. Namun, jika kita melihat para imigran, kontribusi mereka bagi negara tujuan sangat tinggi. Para pakar ekonomi cenderung sepakat bahwa imigran dari Afrika dan Asia turut menyumbang pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi di negara-negara Eropa dan Amerika Utara. Ujung masalahnya terletak pada sikap dan perilaku masyarakat suatu negara yang telah dibentuk puluhan tahun melalui kebudayaan dan pendidikan. Di negara maju, penduduk negara tersebut paling tidak mematuhi hal-hal berikut, yaitu etika, kejujuran dan integritas, bertanggung jawab, hormat pada aturan, menghormati hak orang lain, cinta pekerjaan, gemar menabung, bekerja keras, dan tepat waktu. Kelihatannya sembilan hal di atas sederhana, tetapi kita selama ini sulit melakukannya (Zaenal Budiyono, 2007). Berdasarkan konseptualisasi di atas, maka daya saing dapat dibentuk. Pembentukan daya saing, terutama yang kompetitif dapat dilakukan dengan pendidikan. Kurikulum yang dikembangkan oleh suatu lembaga pendidikan akan menentukan output pendidikan yang memiliki daya saing bangsa. Sehubungan dengan hal itu, maka diperlukan model kurikulum yang dapat menumbuhkan daya saing bangsa. Model kurikulum berbasis keunggulan lokal dan global merupakan suatu cara yang tepat untuk meningkatkan daya saing bangsa.

C. Dasar Penyelenggaraan Sejak terjadinya reformasi di Indonesia telah dikeluarkan aturan-aturan yang terkait dengan desentralisasi, aturan-aturan tersebut adalah : 1. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang: Pemerintah Daerah menuntut pelaksanaan otonomi daerah dan wawasan demokrasi dalam penyelenggaraan pendidikan. 2. PP Nomor 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan Provinsi sebagai daerah otonomi dalam bidang pendidikan. 3. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Bab XIV Pasal 50 Ayat 5 menegaskan bahwa pemerintah Kabupaten / Kota mengelola pendidikan dasar dan menengah,serta satuan pendidikan yang berbasis pendidikan lokal. 4. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 Bab III Pasal 14 Ayat 1 bahwa kurikulum untuk SMP/MTS/SMPLB atau bentuk lain yang sederajat, dapat memasukkan pendidikan berbasis keungulan lokal. Berdasarkan peraturan perundang-undangan di atas sudah diatur bahwa pelaksanaan pendidikan di luar kewenangan pemerintah pusat dan harus dilakukan di daerah. Oleh karena itu pengembangan kurikulum sebagai salah satu substansi utama dalam pengembangan pendidikan perlu di desentralisasikan, terutama kebutuhan siswa, keadaan sekolah dan kondisi daerah. Dengan demikian daerah atau sekolah memiliki cukup kewenangan untuk merancang dan menentukan hal-hal yang akan diajarkan. Sehubungan dengan kondisi daerah dan potensi daerah di Indonesia yang cukup beragam, maka perlu daerah meningkatkan potensi daerah melalui pendidikan di sekolah. Masing-masing daerah mempunyai keunggulan potensi daerah yang perlu dikembangkan yang lebih baik lagi. Keunggulan yang dimiliki oleh masing-masing daerah sangat bervariasi. Dengan kebergaman potensi daerah ini pengebangan potensi dan keunggulan daerah. Sehingga anak-anak tidak asing dengan daerahnya sendiri dan faham betul tentang nilai-nilai dan budaya daerahnya sendiri, sehingga anak-anak dapat mengembangkan dan memberdayakan potensi daerahnya sesuai dengan tuntutan ekonomi global yang telah disepakati oleh pemerintah Indonesia. Diharapkan dengan ekonomi global masing-masing daerah ingin berlomba bersaing dengan negara lain untuk memasarkan keunggulan daerahnya sendiri.

D. Konsep Dasar Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan global dalam aspek ekonomi, seni budaya, SDM, bahasa, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain ke dalam kurikulum sekolah yang akhirnya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik yang dapat dimanfaatkan untuk persaingan global. Keunggulan lokal adalah hasil bumi, kreasi seni, tradisi, budaya, pelayanan, jasa, sumber daya alam, sumber daya manusia atau lainnya yang menjadi keunggulan suatu daerah. Keunggulan yang dimiliki suatu daerah dapat lebih memberdayakan penduduknya sehingga mampu meningkatkan pendapatan atau meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Karena manfaat dan pendapatan yang diperoleh menjadikan penduduk daerah tersebut berupaya untuk melindungi, melestarikan dan meningkatkan kualitas keunggulan lokal yang dimiliki daerahnya sehingga bermanfaat bagi penduduk daerah setempat serta mampu mendorong persaingan secara kompetitif pada tingkat nasional maupun global. Dengan memberdayakan keunggulan lokal dan global dapat menjawab permasalahan yang ada, antara lain : a. Keunggulan lokal dan global apa yang dapat dikembangkan b. Adakah manfaatnya bagi masyarakat c. Bagaimana cara mengembangkannya d. Bagaimana cara pembelajarannya yang efektif dan efesien e. Infrastruktur apa yang diperlukan f. Berapa lama pembelajaran keunggulan lokal dan global dilaksanakan Tujuan penyelenggaraan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global adalah agar siswa mengetahui keunggulan lokal daerah dimana dia tinggal, memahami berbagai aspek yang berhubungan dengan keunggulan lokal daerah tersebut, selanjutnya siswa mampu mengolah sumber daya, terlibat dalam pelayanan / jasa atau kegiatan lain yang berkaitan dengan keunggulan lokal sehingga memperoleh pendapatan dan melestarikan budaya / tradisi / sumber daya yang menjadi ungulan daerah serta mampu bersaing secara nasional maupun global. Supaya keunggulan yang dimiliki daerah dapat dipahami siswa dan keunggulan daerah dapat menyejahterakan masyarakatnya diharapkan keunggulan daerah dapat menjadi kebanggaan bagi masyarakat pada umumnya. Sehingga masyarakat dapat menjaga kelestarian potensi daerahnya dan dapat memanfaatkan potensi daerahnya sendiri dengan semaksimal mungkin, sehingga bermanfaat bagi hidupnya, dan bagi masyarakat pada umumnya.

E. Pengembangan KTSP Model KTSP yang dikembangkan dalam sekolah-sekolah menengah berbasis keunggulan lokal dan global secara umum sama dengan sekolah-sekolah menengah lain. Bedanya terletak pada spesifikasi muatan kurikulum yang hendak dikembangkan, mulai dari visi misi, isi mata pelajaran/bidang studi, pembelajaran, dan juga penilaian. 1. Rumusan Visi dan Misi Pengembangan Kurikulum berbasis keunggulan lokal dan global terkait dengan pengembangan dan penyelengaraan KTSP yang sedang dikembangkan oleh sekolah tersebut. Dengan demikian kurikulum ini terkait dengan pengembangan kurikulum inovatif lainnya seperti : pendidikan kecakapan hidup, pengembangan multi kultur, sets, dan kurikulum-kurikulum inovatif lain yang hendak dikembangkan. Sehubungan dengan hal itu maka visi dan misi sekolah yang hendak mengembangkan kurikulum berbasis keunggulan lokal harus memadukannya dengan visi dan misi kurikulum inovatif lainnya dengan menonjolkan pada keunggulan lokalnya yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan kompetitif sekolah tersebut dalam bersaing dengan dunia global dalam menghasilkan lulusannya. Rumusan visi dan misi tersebut harus jelas mencirikan keunggulan lokalnya yang memiliki basis kuat dalam lingkungan ekonomi, budaya, dan alam di sekitarnya. Sebagai contoh pada sekolah menengah yang tinggal di lingkungan pusat wisata budaya (seperti di sejumlah sekolah menengah di Bali) harus memasukkan visi dan misi sekolahnya sebagai sekolah yang berwawasan wisata budaya. Demikian pula pada sekolah di lingkungan ekonomi kerajinan seperti Jeapara Jawa Tengah, atau Kerajinan wayang kulit di Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri harus memasukkan secara tegas dalam visi misi sekolahnya bahwa sekolah tersebut berbasis seni kerajinan unggul di daerahnya tersebut. Sementara itu pada sekolah-sekolah yang memiliki keunggulan alam yang dapat dikembangkan untuk melahirkan daya saing tingkat global memasukkan visi-misi yang terkait dengan pengembangan sumber alam tersebut. Sekolah Menengah di NTB yang tinggal di dekat pantai dapat memasukkan visi misi sekolahnya secara ekpsplisit bahwa sekolah tersebut mengembangkan sumber daya air seperti kerang mutiara, dan seterusnya. Visi dan misi yang dicantumkan dalam KTSP di sekolah-sekolah tersebut bukan sekedar merupakan selogan. Visi misi haruslah sebuah semboyan umum yang masuk akal dan dapat diimplementasikan dalam kegiaan pembelajaran dengan dukungan lingkungan yang memadai. Perumusan visi misi harus didasarkan pada studi kelayakan yang memadai dan pemikiran futurologis yang dapat mengangkat citra sekolah itu sebagai sekolah yang bercitra khusus dengan keunggulan tertentu yang membedakan dengan sekolah-sekolah lain. Keunggulan kurikulum yang dikembangkan akan menghasilkan output lulusan yang dalam jangka panjang dapat bersaing pada tingkat yang lebih luas, yakni nasional dan global. 2. Tujuan Visi misi yang lebih umum sifatnya itu secara spesifik dirumuskan dalam tujuan sekolah yang berbasis keunggulan lokal dan global. Tujuan mencakup dua hal, yaitu: 1. tujuan umum sekolah secara umum, yakni tujuan kurikulum sekolah menengah secara umum sebagaimana sekolah-sekolah menengah lainnya sebagaimana tercantum dalam UU Sisdiknas dan PP 19 tahun 2005. 2. tujuan khusus berupa rincian cita-cita yang hendak dicapai sekolah tersebut secara khusus yang membedakan dengan sekolah-sekolah menengah lainnya. Misalnya pada beberapa sekolah di Bali yang dekat dengan lokasi wisata dapat dirumuskan tujuan-tujuan khusus yang mendukung pengembangan potensi lokal kepariwisataan:mampu menguasai bahasa Inggris untuk komunikasi dengan turis, menguasai tradisi-tradisi budaya masyarakat Bali, memiliki kemampuan dalam manajemen pariwisata, dan sebagainya. 3. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Pengembangan kurikulum berbasis keunggulan lokal tidak dimaksudkan untuk mengembangkan menjadi mata pelajaran tersendiri. Akan tetapi dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran atau bidang studi lain yang relevan dengan keunggulan lokal yang hendak dikembangkan oleh suatu sekolah. Mata pelajaran atau bidang studi yang menjadi sasaran integrasi materi keunggulan lokal yang hendak dikembangkan dalam KTSP tiap sekolah tidak sama. Hal itu tergantung dari pilihan keunggulan yang hendak dikembangkan dari suatu sekolah. Di bawah ini dicoba dilakukan pemataan integrasi materi keunggulan lokal dalam sejumlah mata pelajaran. Aspek Keunggulan lokal yang dikembangkan Mata Pelajaran/bidang studi ekonomi Buah -buahan Ekonomi/ IPA (Biologi) seni budaya Kesenian tradisional Pengembangan diri bahasa Jawa Muatan lokal jasa Wisata sejarah Sejarah ekologi mutiara IPA (Biologi) 4. Pembelajaran dan Penilaian a. Pembelajaran: Sebagaimana diketahui bahwa Struktur Kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi, terdiri atas 16 mata pelajaran pada kelas X dan 13 mata pelajaran pada kelas XI dan XII, ditambah dengan komponen Muatan Lokal dan Pengembangan Diri. Dalam penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, sekolah dapat mengembangkan struktur kurikulum berdasarkan kebutuhan siswa dan sekolah terkait dengan upaya pencapaian Standar Kompetensi Lulusan. Pengembangan Struktur Kurikulum dilakukan dengan cara antara lain: mengatur alokasi waktu pembelajaran tatap muka seluruh mata pelajaran wajib dan pilihan keterampilan/bahasa asing lain, memanfaatkan 4 jam tambahan untuk menambah jam pembelajaran pada mata pelajaran tertentu atau menambah mata pelajaran baru, mencantumkan jenis mata pelajaran muatan lokal dalam struktur kurikulum, tidak boleh mengurangi mata pelajaran yang tercantum dalam standar isi. Pembelajaran materi pelajaran keunggulan lokal dapat ditempuh dengan tiga cara, yaitu mandiri, kolaborasi, dan integrasi. Yang dimaksud dengan penyelenggaraan secara mandiri yaitu sekolah secara sepenuhnya memberikan materi keunggulan lokal di dalam sekolah termasuk dalam proses belajar mengajar, guru pembelajar, dan sarana-prasarana pendukungnya. Pembelajaran secara kolaborasi dimaksudkan bahwa sekolah menjalin kerjasama dengan instansi terkait untuk mengimplementasikan kurikulum berbasis keunggulan lokal, misalnya dengan dinas pariwisata, dinas perindustrian, lembaga kerajinan, galery seni, paguyuban dalang, dan sebagainya. Penyelenggaraannya di sekolah, tetapi dengan mendatangkan pengajar dari lembaga mitra yang kompeten. Cara ketiga hampir sama dengan cara kedua, tetapi penyelenggaraannya di luar sekolah tetapi di tempat lembaga mitra tersebut. Untuk menjamin keberlanjutan pelaksanaan program pendidikan berbasis keunggulan lokal, maka program pembelajarannya harus menjadi bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan, dengan beberapa alternatif sebagai berikut:

1).Pelaksanaan Pembelajaran dapat dilaksanakan melalui:

a). Pengintegrasian dalam mata pelajaran Bahan kajian/substansi keunggulan lokal dapat diintegrasikan kedalam mata pelajaran tertentu yang relevan dengan SK/KD mata pelajaran tersebut. Selain itu pengintegrasian juga dapat dilakukan pada mata pelajaran lain yang memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada kelompok mata pelajaran pengembangan diri.

b). Kelompok Mata pelajaran pengembangan diri Dalam standar isi kurikulum 2005 tersedia muatan materi pelajaran yang tidak terteampung dalam struktur mata pelajaran formal dapat dimasukkan dalam pengembangan diri. Pembelajaran materi pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat juga diberikan secara tersendiri sebagai bagian dari pengembangan diri. Apabila daya dukung satuan pendidikan yang bersangkutan kurang memadai untuk menyelenggarakan pendidikan keunggulan lokal, maka dapat dilaksanakan melalui kerjasama dengan satuan pendidikan formal dan/atau satuan pendidikan non formal lain (yang terakreditasi) dan menyelenggarakan program yang relevan. b. Penilaian Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian:

1). Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.

2). Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi

3). Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya. 4). Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yangberkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa.

4). Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.

5). Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pemeblajran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.

Selain itu juga perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Penilaian hasil belajar disesuaikan dengan karakteristik pembelajaran pendidikan keunggulan lokal yang dilaksanakan sebagai berikut:  Bila terintegrasi dalam mata pelajaran, maka penilaiannya menyatu dengan SK dan KD mata pelajaran yang terkait.  Bila menjadi mata pelajaran pengembangan diri, maka penilaiannya dilakukan secara mandiri sesuai dengan jenis program yang diselenggarakan.

b. Program PBKL yang dilaksanakan melalui kerjasama dengan lembaga pendidikan lain, maka kelulusannya dapat diwujudkan dalam bentuk sertifikat.

Prof. Dr. Wasino, Semarang, 17 Februari 2008

About these ads

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building also as photografer. Please visit; http://dedidwitagama.wordpress.com, http://trainerkita.wordpress.com and http://fotodedi.wordpress.com

10 thoughts on “Model Kurikulum berbasis Keunggulan Lokal, Prof. Dr. Wasino

  1. Pak Dedi,

    Literatur ini mohon ijin akan saya pakai dalam paper saya,
    bisakah menyebutkan dalam seminar/konferensi apakah paper ini dipresentasikan?

    terima kasih, Pak

  2. Dengan segala hormat, kami tim majalah sekolah SMA Islam Sultan Agung 3 Semarang hendak mengambil artikel ini untuk di muat di majalah SULTAN Edisi II Tahun 2008.
    atas ijin dan restunya, kami sampaikan banyak terimkasih.

    Redaksi
    majalah SULTAN

  3. pak, saya ijin memakai tulisan ini y pak. untuk tugas paper saya

  4. saya sangat berterima kasih sekali atas kahdiran web ini, karna sangat membantu sekali bagi saya dalam perkulihan. kalau bsa mhon dikirikan langsung ke e-mail saya. thanks

  5. pak..! Dr.wasino mohon Dikirim Model Silabus dan Perangkat Pembelajaran serta penilaian Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal Dan Global. Terima kasih

  6. PAK…. tulisannya bagi ya pak…., makasih semoga amalnya mengalir ke Bapak terus….

  7. Bagaimana mewujudkan pendidikan tanpa politic will dari pemerintah yang pro UU, Permendikas tentang Standar Nasional Pendidikan, dsb ?
    Permasalahan di lapangan, sering tidak match antara kodisi riel dan harapan yang mendekati ideal tentunya.
    Tulisan bapak semoga menjadi inspirasi bagi penguasa di daerah. Terima kasih atas wawasan yang diberikan pada saya.

  8. Alhamdulillah…Terima kasih, Pak informasinya.
    Sekolah kami sedang memulai menyelenggarakan PBKL. Tp, kami masih bingung dengan pembuatan kurikulumnya.
    Tulisan Bapak dah membantu kami.

  9. pak,saya guru,geografi,sudah lama merancang pendidikan berbasis kawasan, sepertinya tidak jauh berbeda dengan pbkl,namun selama ini sering terkendala dengan kebijakan kepala sekolah. apa bisa pbkl ini dilaksanakan sendiri pada matpel geografi di sma?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 14,052 other followers