Beberapa hari terakhir Saya sedang amat risau dengan dua hal, yaitu rokok dan Sepeda Motor.
Dari banyak training di berbagai daerah (http://trainerkita.blogspot.com), Saya mengamati adanya gejala yang sama hampir di setiap daerah, bahwa rokok akan menjadi bom waktu yang akan meledak di Indonesia, mungkin lebih dahsyat dari masalah HIV/AIDS.
Anak-anak usia SD hingga jompo, bahkan wanita juga tak mau ketinggalan, rokok seolah jadi indiktor status sosial (pada awalnya), tetapi menjadi sesuatu yang harus dipenuhi … hingga benda putih sembilan senti meter itu lebih penting dibanding susu dan biaya sekolah. Pernah sangat teriris rasa Nasionalisme Saya ketika seorang yang warna kulitnya beda menyatakan di media bahwa kaum Bapak di Indonesia lebih mementingkan rokok dibanding susu bayinya (th 2000) …. tetapi Saya amati saat ini tampaknya hal itu benar. Masyarakat sebenarnya tahu tentang bahaya merokok, tetapi strategi promosi rokok membuat publik tak sadar dan memandang rokok dengan cara yang amat keliru.
Tentang tingkat pengangguran yang akan melimpah jika pabrik rokok dilarang di Indonesia mungkin harus dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh oleh industri roko yang kini sudah dimiliki oleh
pengusaha Negeri Obama … karena jangka panjang, akibat negatif dari rokok, rakyat negeri ini akan banyak yang sakit … obat dan peralatan kesehatan yang dibutuhkan harus impor dari US … sekarang mereka
untung … nanti pun mereka makmur.
Saya di lingkungan yang kecil hanya mampu berusaha untuk tidak merokok dan cegah teman-teman merokok di ruang kerja … Saya menjadi sangat sensitif dan langsung memanggil semua orang di ruang itu, ketika Saya mencium bau asap rokok. Untuk siswa/i, kami sangat tegas jika ditemukan rokok atau siswa yang merokok.
Tentang sepeda motor, berawal keprihatinan Saya saat berkendara atau berada di jalan melihat anak-anak yang masih sangat kecil kendarai sepeda motor, bahkan digunakan kendaraan itu ke sekolah, hingga parkir
motor di sekolah penuh.
Hal itu akan tanamkan hal yang kurang baik, MELANGGAR ATURAN SEJAK KECIL sehingga penduduk tak disiplin sejak usia dini … kecelakaan dan kerawanan lainnya tinggal jadi hal yang sangat dekat … korban
kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh spd motor sangat tinggi prosentasenya. Tentang Green City juga akan jadi terhambat dengan makin banyak spd motor di jalan raya
Saya coba lakukan terapi di sekolah yang Saya pimpin, walaupun kontroversi pada awalnya karena guru dan karyawanpun banyak yang memiliki pola fikir ”lucu” … kini mereka mamahami dan tak ada siswa/i atau org dewasa yang membawa motor ke sekolah tanpa SIM, Satpam kami akan memeriksa kelengkapan surat-surat kendaraan dan mengunci ban spd motor yang tak memiliki SIM dan STNK.
Bagaimana di sekolah atau tempat kerja Anda?
Filed under: Foto, Up grade , dedi dwitagama, foto dedi, rokok, sekolah, sepeda motor, smk, SMK Negeri 3 Jakarta

















di tempat bapak ada larangan bawa sepeda motor untuk yg blom punya SIM, pak? emang mesti potong satu generasi
dimulai dari para pelajar yg ada skarang ini
Sudah Bro, satpam kami periksa siswa/i yang bawa sepeda motor, tanpa SIM dan STNK diingatkan untuk tak bawa lagi besok. Jika dilanggar, ban motornya akan digembok, harus diambil oleh orang tua murid yang namanya sesuai dengan data di sekolah, trm ksh sdh berkunjung
Kaum bapak di indonesia mementingkan rokok daripada buku pelajaran anaknya. Masalah sepeda motor di tempat saya mengajar sih gak ada yang pake, soalnya saya mengajar di SD
tapi cukup khawatir mengetahui bahwa sekarang anak-anak kelas VII pun sudah bisa dan berani mengendarai motor khususnya di jalan kampung. Sebentar lagi akan tambah muda.
trm sh sdh berkunjung
Betul Bu, lebih baik utk beli rokok dibanding susu atau buku anak, anak kelas III sudah banyak yang diajarkan oleh orang tua atau temannya