@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

menyimpan tulisan NINOK LEKSONO; Mumbai, Jurnalisme, dan Masa Depan Internet

Leave a comment

anda blogger?

anda blogger?

“Serangan di India bisa menjadi studi kasus lain tentang bagaimana teknologi mentransformasi warga menjadi reporter potensial, menambah satu dimensi baru pada media berita.”(Brian Stelter dan Noam Cohen, “New York Times”, 29/11)

 

Internet sebagai teknologi terbukti ampuh digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari komunikasi personal hingga korporasional, mulai dari perdagangan hingga media. Khususnya untuk yang terakhir, salah satu wujudnya yang telah mapan adalah hadirnya media online seperti Kompas.com.

Dalam perkembangan berikut, muncul fenomena blog, yang aslinya lebih berupa ekspresi personal atas berbagai topik, tetapi dalam perkembangan selanjutnya melahirkan impak yang jauh di wilayah media
dan jurnalistik. Bahkan, muncul pertanyaan fundamental, “Apakah blog menjadi masa depan jurnalistik?”

Jawabannya terpulang pada keyakinan masing-masing, tetapi blog bersama tren lain yang kini juga berkembang, yakni jurnalisme warga (citizen journalism), tak diragukan lagi akan terus berkembang mewarnai perkembangan media.

Salah satu uraian tentang praktik jurnalisme warga yang aktual karena terkait dengan berita utama internasional adalah yang dilakukan Arun Shanbhag ketika terjadi aksi teror di Taj Mahal Palace dan Tower di Mumbai, Rabu (26/11) malam pekan silam. Ia melaporkan apa yang terjadi melalui internet dari teras Colaba Causeway di Mumbai selatan (Lihat Brian Stelter dan Noam Cohen di The New York Times yang dikutip di atas).

Shanbhag sendiri adalah asisten profesor di Harvard Medical School di Boston, yang hari itu kebetulan ada di Mumbai. Karena menyaksikan kejadian itu secara langsung, ia terpanggil untuk berbagi. Lalu, ia
pun mengabarkan tentang suara rentetan tembakan dari senapan melalui Twitter dan mengunggah foto-foto yang ia buat dalam blog pribadinya.

Dalam kenyataan, apa yang dilakukan Shanbhag itu hanya satu dari laporan yang ditulis jurnalis warga. Semuanya memperlihatkan bagaimana teknologi sedang mengubah warga menjadi reporter potensial.

Saat aksi teror memuncak, ada lebih dari satu pesan dalam satu detiknya dengan kata “Mumbai” di dalamnya yang dikirim ke Twitter, layanan pesan pendek yang semula dianggap keanehan, tetapi kini dalam dua tahun berhasil tumbuh menjadi satu panggung berita (news platform).

Pesan-pesan tersebut dan juga lainnya yang dikirim melalui situs web dan juga situs yang digunakan untuk berbagi foto memang terkesan kacau. Namun, itu rupanya sangat berarti untuk menghubungkan orang dari berbagi tempat di dunia.

Sebenarnya apa keunggulan yang ditawarkan media baru ini?

Melalui Twitter, seseorang mendapat umpan (feed) dari banyak orang
dalam satu waktu. Selain itu, jurnalis warga juga bisa menghindar dari
aturan birokrasi yang dihadapi organisasi media. Misalnya saja batas
waktu transmisi video langsung seperti yang dihadapi CNN, yang membuat
reporternya lalu hanya bisa mengirim laporan via telepon, padahal
stasiun TV berita, seperti CNN, amat mengandalkan gambar video.
Sementara kamera dan telepon yang dibawa warga lain, termasuk jurnalis
warga, tidak terikat dengan aturan di atas.

Informasi yang dikirim jurnalis warga ini diakui besar artinya pada
tahap awal krisis, khususnya ketika informasi resmi baik dari
pemerintah maupun media utama masih berusaha menaksir seberapa luas
skala serangan.

Informasi tersebut barangkali sedikit, tetapi informasi yang sedikit,
menurut guru besar Graduate School of Journalism Columbia University
Sreenath Sreenivasan, lebih baik daripada tidak ada informasi sama sekali.

Masa depan internet

Dari uraian di atas tampak internet memegang peranan penting dalam
munculnya dimensi baru jurnalisme.

Mereka yang akrab dengan sejarah internet mengetahui bahwa medium ini
tumbuh dan berkembang bisa dikatakan bukan sebagai produk akhir.
Internet sebagai bukan produk akhir memberi kesempatan luas bagi siapa
pun untuk berkreasi di atasnya. Pebisnis dan penemu bisa
menggunakannya sebagai papan lontar untuk inovasi selanjutnya.

Kini, ketika internet telah menjadi media utama, muncul desakan untuk
mengubahnya menjadi sistem yang sudah mereka kalahkan, yaitu dengan
jalan membuatnya tertutup. Artinya, nanti akan tidak ada lagi peluang
bagi pihak luar untuk “main-main” atau merekayasa (tinkering) sistem
jaringan ini. Kalaupun tidak sepenuhnya, peluang untuk itu hanya akan
dibuka sedikit, di bawah pengawasan ketat (Jonathan Zittrain, “The
Internet is Closing”, Newsweek, 8/12)

Alasan keamanan

Perubahan yang akan terjadi itu sebagian karena adanya kebutuhan untuk
menjawab masalah keamanan yang memang biasanya muncul pada teknologi
terbuka. Sebagian alasan lain adalah karena bisnis.

Namun, upaya untuk mengubah sistem terbuka menjadi sistem tertutup
diperkirakan akan memunculkan inovasi baru yang lazimnya muncul dari
akibat tak terduga aktivitas otak- atik, yang sejauh ini telah memberi
kita web, pesan cepat (instant messaging), jaringan langsung ke pihak
tertentu (peer- to-peer networking), Wikipedia, dan sejumlah inovasi lain.

Langkah penutupan juga akan memunculkan penjaga gawang, yang akan
membuat kita, tetapi juga mereka, tawanan bagi rencana bisnis yang
terbatas dan juga regulator yang umumnya takut pada hal-hal baru yang
mengguncangkan.

Kemungkinan di atas bisa jadi akan menimbulkan gelombang balik yang
mengguncangkan. Bisa kita bayangkan berapa harga yang harus dibayar
untuk berbagai sistem tertutup yang akan diperkenalkan, sementara
pilihan teknologi dan aplikasi mungkin juga akan lebih terbatas.

Namun, konsekuensi hilangnya kreativitas yang selama ini banyak dipicu
dengan bebas dan terbukanya internet boleh jadi yang paling mendalam.
Kita menilai bahwa internet yang kita kenal selama ini adalah salah
satu pembentuk peradaban terbuka dan demokratis yang cocok dengan
zaman dan gaya hidup abad ke-21.

Sumber: Kompas

About these ads

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building also as photografer. Please visit; http://dedidwitagama.wordpress.com, http://trainerkita.wordpress.com and http://fotodedi.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 15,884 other followers