Pakaian peserta didik di sekolah seragam … guru juga seragam, eh komite sekolah ikut-ikutan ssragam memungut atau minta sumbangan …. dipukul rata semua,
Akibatnya efek seragam di sekolah, yg kaya enak, simiskin enek
Pakaian peserta didik di sekolah seragam … guru juga seragam, eh komite sekolah ikut-ikutan ssragam memungut atau minta sumbangan …. dipukul rata semua,
Akibatnya efek seragam di sekolah, yg kaya enak, simiskin enek
“Saya akan berubah menjadi …… jika pimpinanan sekolah ini berganti, kalau fasilitas ditambah, andai peraturan dirubah, setelah gedung dipugar, …. , atau berbagai alasan lainnya”
Lalu anda perhatikan, apakah orang itu berubah setelah persyaratannya terpenuhi?
Sebagian besar kelakuan dan kinerjanya tak berubah …. karena sesungguhnya BERUBAH TAK PERLU PRASYARAT.
Mau berubah? yuuu kita mulai
alun sebuah simponi
kata hati disadari
merasuk sukma kalbuku
dalam hati ada satu
…….
owh …. kasus century ga beres-beres, pengurus partai bolak-balik ke KPK, Ambon meledak lagi, tawuran pelajar sama wartawan apa benar bubar jalan, ….. eh ada bom meledak di gereja di Solo … brantem melulu …. kapan dong ada damai di Indonesia?

PENJUAL ROKOK DI MALOBORO JOGJAKARTA http://fotodedi.wordpress.com
Selamat pagi pembaca
semoga anda dan orang-orang yang anda cintai
dalam sehat dan sejahtera senantiasa
apa kegiatan anda pagi ini?
ada keluarga di rumah yang merokok?
coba lihat sesaat anda keluar pintu rumah
berapa banyak orang yang merokok?
jika satu hari mereka hisap sekian batang rokok,
maka berapa juta batang rokok diperjual belikan?
memang banyak rakyat miskin yang dapat untung
jadi penjual rokok di lampu merah atau asongan
sayang uang mereka habis juga untuk penuhi kecanduannya
sehingga tetap aja miskin dan sakit-sakitan

http://www.cartoonstock.com/

https://spanish-farb.wikispaces.com/
kacian deh, harus keluar gedung untuk isap asap beracun
Kamis, 22 September 2011 sekitar jam 10.00 pagi ..
di SMK N 36 mengadakan Forum Diskusi antar OSIS SMK se-Jakarta Utara yang membahas tentang tawuran siswa SMU N 6 dengan wartawan ..
om Boy mengajukan pertanyaan kpada para peserta forum diskusi tersebut “mengapa siswa bisa tawuran ??”
JAWABAN :
-Ardiansyah (SMK N 36 sekaligus Ketua Umum Forum Osis SMK se-Jakarta Utara) mejawab : karena tidak ada peraturan yang bagus dan regas di sekolah tersebut .
-M.Aji C.A : karena kurangnya pengawasan dari guru di sekolah tersebut dan tergantung hati nurani masing-masing siswa.
-Pak Sugiono (SMK N 12) : Karena kurangnya peran guru di swkolah tersebut .
-Tri Wahyudi S (SMK Al-Khairiyah) : karena kurangnya pengawasan dan tegasnya dari guru, dan kurangnya wadah untuk menuangkan kreatifitas masing-masing siswa tersebut .
-Diana Mayangsari (SMK N 36) : karna rasa ketidak senangan, dan kurangnya peran guru dalam menumbuhkan dan menanmkan rasa kasih sayang terhadap murid-murid nya .
menurut saya sendiri, kenapa sih mesti tawuran..???
kita kan seorang pelajar dan tugas kita kan belajar bukan berkelahi …. giamana kita mau jadi penerus bangsa yang baik kalo kita aja masih berkelahi dengan orang-orang yang masih tinggal di bangsa kita …???….seharusnya kita menyatu bukan malah terpecah belah ….

seperti Vita Muzarrofah (saya) dan Asri Pratiwi Wulandari, kita “CINTA DAMAI”….
jadi, mulai sekarang wahai para pelajar atau pemuda pemudi indonesia STOP TAWURAN !!! dan katakan TIDAK !! pada TAWURAN ….
lebih baik kita melakukan hal-hal positif dari pada tawuran yang hanya merugikan diri kita sendiri ….
kita BISA…..pasti BISA …. harus BISA ….karena SMK BISA !!!
Silahkan berkunjung ke Blognya Vita.
Diskusi antar seluruh OSIS di Jak-Ut yang di dampingi dengan guru masing-masing. Diskusi itu dilakukan di aula SMKN 36 . Dan hadir juga dari perwakilan wartawan yaitu pak boy. Diskusi itu membicarakan tentang tawuran di SMA 6 bulungan , jakarta selatan (19/9/2011).
Dan foto di atas adalah Bapak Dedi Dwitagama yang memimpin diskusi antar OSIS. Pak Dedi Dwitagama adalah kepala sekolah dari smkn 36 jakarta.
Pada Saat Diskusi 1/1 perwakilan dari sekolah ditanya untuk memberi pendapat . Kenapa sih pelajar bisa berkelahi dan tawuran dengan wartawan?. Dan 1/1 siswa/i dari perwakilan sekolah memberi pendapatnya. Dan saya pun berada disana saat forum diskusi di laksanakan.

BAHA
Kalau menurut saya sih simple . Terjadinya tawuran pada pelajar mungkin karna peraturan yang sangat di sepelekan oleh pelajar dan menurut pelajar itu biasa. Dan itu juga karna tidak ada perhatian dari orang tua pelajar yang sama sekali tidak memperhatikan anaknya. Coba untuk para orang tua menanamkan aqidah-qidah agama pada anak senjak kecil dan diajar kan untuk saling menyayangi sesama muslim . Pasti dihari tua nya nanti akan bisa menjadi orang yang bisa menghargai dan menyayangi sesama satu sama lain.
Faktor terjadinya tawuran oleh anak SMA 6 dengan wartawan. Pada saat itu sebelum terjadinya kerusuhan antara pelajar dengan wartawan yaitu pada saat SMA 6 tawuran dengan SMA70 dan diliput oleh salah satu wartawan tv swasta. Dan siswa dari SMA 6 tidak terima karna wartawan meliput terjadinya tawuran itu . Mungkin dia takut akan dilaporkan sehingga memaksa mengambil kaset dari rekaman kamera wartawan tersebut . Dan wartawan tidak menerima dan meminta utk di kembalikan kaset tsb. Karna wartawan memaksa siswa SMA 6 lansung memukul pihak wartawan . Dan pada hari selanjutnya para wartawan demo ke sekolah SMA 6 dan langsung tiba-tiba datang dari belakang lansung menghajar para wartawan . Semenjak itu berita pelajar VS wartawan menyebar luas se-DKI jakarta.
Nikmati blog Baha disana.
Ini satu dari beberapa tulisan Dewi Pradipta Iskanadardinata di blognya.
Pagi kurang lebih pukul 10.00 WIB,di smk 36 mengadakan Forum antar siswa smk se-Jakarta utara .
Kurang lebih 80 orang kita membahas permasalahan Tawuran di SMA 6 jakarta,diskusi di lakukan dgn “BEBAS TAPI SOPAN” itulah yang ada di Forum diskusi pagi di smk 36 yang bertempat di Aula smk 36.
Dengan adanya program ini(orum yang ada siswa/siswi dapat mengenal 1 sama yang lain….
acara tersebut terlihat sedehana karna hanya siswa dan perwakilan sekolah laen yang datang, wartawan tak segan” untuk meliputi kegiatan tersebut ni lah Wartawan kita

sedang menjelaskan pertanyaan yang ada dan di berikan pertanyaan dari siswa/siswi
inti dari kegiatan tersebut adalah untuk membangun kehidupan yang lebih layak tanpa “TAWURAN”
TAWURAN = NO ! ! !
HIDUP SEJAHTERA = YES ! ! !

MIRIL BERKOPIAH
Ini yang ditulis Miril, aktifis ROHIS SMKN 36 Jakarta di blognya:
kenapa tawuran pelajar bisa terjadi??
Beberapa hari terakhir ini kita di hebohkan oleh tawuran pelajar yaitu antara pelajar SMAN 6 dengan wartawan.sebuah hal yang memilukan di kalangan pelajar. dimana seorang pelajar yang baik harus menujukan sikap dia sebagai pelajar.ini membuat dunia pendidikan indonesia tercoreng seolah pelajar indonesia hanya bisa berkelahi ….
sungguh sangat mengherankan,,.,.,
Apa yang membuat ini terjadi ???
sistem sekolahkah yang tidak baik???
atau siswa sma tidak bisa di atur……
atau ada faktor lain???.
sebuah sistem sekolah yang menerapakan disiplin tinggi akan menghasilkan pelajar-pelajar yang berkualitas. tidak pandang bulu dia anak pejabat bahkan anak presiden , jika dia bersalah tetap di hukum..
Inilah yang sudah di terapkan di sekolah SMKN 36… ada beberapa hal yang bila ia melanggarnya bisa di keluarkan saat itu juga yaitu
1. Berkelahi
2. Mengedarkan Narkoba
3. Mencuri
4. Lompat pagar
Inilah sebuah peraturan yang ketat untuk mendidik sebuah pelajar yang bisa di harapkan oleh bangsa. Banyak preman-preman di sekolah kami… namun mereka semua terkendali akaibat peraturan-pertauran tersebut. dan ini akan terbiasa saat kita sudah Bekerja…
Budayakan kreatifitas Bukan budaya berkelahi
Selamat pagi bapak dan ibu guru, hampir di setiap sekolah pasti pernah terjadi permelahian atau tawuran antar peserta didik dinsatu sekolah atau dengan sekolah lainnya.
coba perhatikan, dari semua guru di sekolah anda berapa persen yang peduli dan bekerja sama lakukan seseatu ketika terjadi tawuran? kebanyakan merasa itu tugas dari pembina OSIS dan tim kesiswaan dan BK, bahkan ada guru yang pembina ekskul, PPKN, guru Agama atau yg berkaitan dengan moral dan karakter tak peduli kejadian itu.
guru-guru itu bilang yang penting saya berseragam lalu setiap pagi dan sore hari saya lapor pada mesin absen, cap jempol atau telapak tangan agar tunjangan tak berkurang sambil dorong anak belajar tekun agar semua lulus ujian nasional, soal apa yg dilakukan peserta didik biar guru pembina OSIS atau Guru BK serta Kepala Sekolah yg urus …. kami kan dinilai dari seragam, kehadiran di sekolah dan prosentase ujian nasional.
Di Negeri Paman Besut
Para orang tua sibuk kerja sejaka pagi hingga petang
Jalan macet tak terkira, hingga baru tiba di rumah malam hari
Ayah dan ibu harus sama kerja buat keluarga
Tinggalkan anak bersama pengasuh di rumah
Apapun yang dilakukan anak pengasuh tak berani bertindak tegas
Karena takut anak ngadu pada orang tuanya beresiko pengasuh dipecat
Saat usia sekolah taman kanak-kanak
Anak itu nakal dan bandel tak suka dengar larangan guru
Yang mengasuh dia selama di sekolah
Apapun yang dilakukan anak pengasuh tak berani bertindak tegas
Karena takut anak ngadu pada orang tuanya beresiko pengasuh dipecat pemilik TK
Saat bersekolah di Sekolah Dasar
Anak yang makin nakal itu “dijewer” gurunya yang mengasuh selama di sekolah
Karena berkali dinasehati tak kunjung nurut
Orang tuanya marah bawa Polisi, LSM dan Wartawan
Berita muncul di media massa berhari-hari
Dinas Pendidikan menjewer Kepala Sekolah
Kepala Sekolah menjewer Guru yang berbuat
Apapun yang dilakukan anak pengasuh tak berani bertindak tegas
Karena takut anak ngadu pada orang tuanya
Orang tua mengadu pada Polisi, LSM dan Wartawan beresiko pengasuh dipecat
Saat bersekolah di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
Anak yang makin nakal itu “dijewer” gurunya yang mengasuh selama di sekolah
Karena berkali dinasehati tak kunjung nurut
Orang tuanya marah bawa Polisi, LSM dan Wartawan
Berita muncul di media massa berhari-hari
Dinas Pendidikan menjewer Kepala Sekolah
Kepala Sekolah menjewer Guru yang berbuat
Apapun yang dilakukan anak pengasuh tak berani bertindak tegas
Karena takut anak ngadu pada orang tuanya
Orang tua mengadu pada Polisi, LSM dan Wartawan beresiko pengasuh dipecat
Saat bersekolah di Sekolah Lanjutam Tingkat Atas
Anak yang makin nakal itu “dijewer” gurunya yang mengasuh selama di sekolah
Karena berkali dinasehati tak kunjung nurut
Orang tuanya marah bawa Polisi, LSM dan Wartawan
Berita muncul di media massa berhari-hari
Dinas Pendidikan menjewer Kepala Sekolah
Kepala Sekolah menjewer Guru yang berbuat
Apapun yang dilakukan anak pengasuh tak berani bertindak tegas
Karena takut anak ngadu pada orang tuanya
Orang tua mengadu pada Polisi, LSM dan Wartawan beresiko pengasuh dipecat
Guru takut, kepala Sekolah tak berani, dinas pendidikan alergi diberitakan
maka anak Negeri Paman Besut terus tawuran denhan berbagai alasan
bosan dengan sekolah lain kini dengan wartawan
dan kini ditunggu …..
DENGAN SIAPA LAGI PELAJAR AKAN TAWURAN?

ASRI (KIRI)
Kita semua tentunya turut prihatin akan apa yang terjadi di dunia pendidikan kita. Pelajar dari sebuah sekolah favorite di DKI Jakarta melakukan tindak kekerasan terhadap wartawan yang mencoreng nama baik pelajar dan membuat pertanyaan besar terhadap dunia pendidikan.
Tapi, meski sama-sama pelajar, tidak semua pelajar melakukan tindak kekerasan. Semua manusia memiliki potensi yang sama untuk melakukan kebaikan maupun kejahatan, namun hati nurani dan akal yang menuntun kita kemudian.
Hari ini, kami berkumpul. Di SMK 36 Jakarta.
Diskusi masalah kekerasan fisik antara wartawan dengan anak SMA 6Anggota Forum Osis Jakarta Utara (FOSJU), Blogger, Anggota Penegak Disiplin SMK 36, dan beberapa perwakilan murid dan guru dari beberapa sekolah melakukan diskusi yang dipimpin oleh Pak Dedi Dwitagama yang merupakan Kepala Sekolah SMK 36. Om Boy yang merupakan wartawan dari PGRI juga turut hadir dan mendokumentasikan kegiatan ini. Selain Om Boy, 2 murid dari SMK 36 juga turut menjadi seksi dokumentasi dan memotret berlangsungnya kegiatan (Achmad Alamsyah dan Supri Zaki).
Om Boy dan Pak Dedi DwitagamaKegiatan ini menunjukan bahwa tidak semua pelajar itu buruk dan kami sebagai pelajar yang menggunakan akal dan hati nurani turut prihatin akan apa yang terjadi, maka dari itu di kesempatan kali ini kami sangat senang dan antusias untuk mengemukakan pendapat kami. Bahkan guru-gurunya pun antusias.
Di diskusi ini saya mendapat banyak sekali pengetahuan dan opini-opini yang hebat, salah satunya dari Pak E’ef yang merupakan guru di SMK Nusantara.
Pak E’ef dari SMK Nusantara dalam diskusiBeliau mengatakan, kita tidak boleh melupakan sejarah, kita harus mengingat kembali pancasila dan apa yang terkandung di dalamnya. Landasan moral kita ya dari sana, sekarang pancasila seolah-olah dilupakan. dan hal ini membuat generasi muda mudah dipengaruhi apabila diserang arus-arus negatif dunia. harusnya pendidikan moral dan agama lebih ditingkatkan.
Beliau benar, yang benar-benar memahami arti dari kelima sila itu sedikit. Tentu saja dengan ketidakpahaman itu kita menjadi tidak berandaskan dengan kuat sehingga kita tidak stabil dan mudah jatuh. Ke kanan atau ke kiri jatuhnya, itu faktor eksternal. Landasan lah faktor internalnya dan merupakan hal pertama yang harus diperhatikan.
Ada juga murid yang menceritakan pengalamannya mengenai kekerasan yang dilakukan oleh sesama pelajar yang bergerombol dan ketahuilah ini merupakan bentuk Physical Bullying. Sangat disayangkan hal ini masih terjadi di sekitar kita setiap hari. Saya sebagai duta Learn Without Fear mendapatkan banyak sekali informasi bermanfaat dari diskusi ini.
Kalau dididik dengan baik di sekolah maupun di rumah pasti kami generasi muda tumbuh dengan baik juga. Kasus pelajar SMA 6 itu coba diselidiki lebih dalam apakah lingkungan para tersangka baik atau tidak, adakah faktor-faktor yang membuat mereka bertindak seperti itu, apakah metode pengajaran moral terhadap mereka baik atau tidak. karena buktinya tidak semua pelajaar seperti itu. dan kami yang hadir dalam diskusi hari ini tidak seperti itu. Kami sangat menyukai berorganisasi. Menjalin relasi dan apabila ada masalah lebih baik diurai dengan jalur musyawarah atau diplomasi.
Kami pelajar cinta damai.
Asri Pratiwi Wulandari (saya) dan Vita Muzarrofah “kami cinta damai”Untuk para wartawan, jangan cap semua pelajar jelek ya. Sehabis diskusi ini kami berencana untuk membuat sebuah surat pernyataan bahwa kami prihatin. Dan berencana untuk mengontak beberapa media cetak untuk mempublikasikannya.
Asri adalah peserta didik SMKN 36 Jakarta, Duta Indonesia ke Jerman untuk misi Learn without Fear, 2011.
Dhika Prasetyo, blogger SMKN 36 Jakarta menulis posting berjudul: Sekolah elite berbuat tak elite “kasus SMA 6 dan SMA 70″:

DHIEKA
baru baru ini kalo temen temen update timeline di twitter atau juga sering baca detik.com atau media online lainnya, pasti temen temen tau deh berita terhangatnya apa ?, yap benar sekali tawuran sma 6 dengan sma 70, emang sih tawuran sering banget terdengar tapi coba deh dua sekolah diatas itu kan sekolah sekolah ELITE dan isue isue yang beredar juga anak anak dari pejabat tinggi banyak bersekolah di 2 sekolah itu, hemm tapi bukan soal tawurannya aja yang bakal dibahas ada satu lagi, ketika 2 sekolah itu sedang yah kaya perang gitu deh ada seorang pers yang merekam kejadian tawuran tersebut tapi anak anak sma itu gasuka sama pers yang merekam kejadian itu, alhasil sekolompok pelajar itu merebut kamera dan mengambil kaset dari wartawan yang merekam kejadian tawuran tersebut, dan lebih parahnya lagi! wartawan itu dipukuli sama sekelompok pelajar itu bzzz parah banget kan,
![]() |
| sumber VIVAnews |
dan sehari sesudah kejadian tidak ELITE itu sekelompok pihak PERS menggelar aksi damai di depan SMA 6 sekaligus meminta pertanggung jawaban dari pihak sekolah tapi apa hasilnya setelah para siswa dipulangkan siswa SMA 6 malah menyerang pihak PERS yang bisa dibilang sedang berunjuk rasa di depan sekolah mereka, ada salah satu siswa yang tertangkap kamera memukuli pihak PERS menggunakan mangkuk
sumpah miris banget deh kayanya, dan ini dia korban pengeroyokan yang tidak lain dan tidak bukan adalah wartawan yang sedang meminta pertanggung jawaban dari pihak sekolah
perbuatan murid murid sekolah ELITE tersebut memang sudah diluar kendali, mereka bergerak membabi buta, tingkah laku mereka sekarang berasal dari banyak faktor dan ini berdasarkan apa yang pernah saya dengar dan menemukannya di ketika sedang berseluncur
1. kurangnya perhatian dari orang tua, walaupun mendapat perhatian yang cukup juga mereka akan menganggap orang tua mereka berkuasa jadi mereka tidak segan segan melakukan perbuatan yang seperti ini
2. kurangnya kontrol dari pihak sekolah, sebenernya pihak sekolah bertanggung jawab besar atas kejadian ini, pihak sekolah juga dinilai tidak dapat mendidik siswa siswanya untuk menghilangkan kebiasaaan itu yang memang sudah turun temurun menjadi kebiasaan premiere sekolah elite itu “TAWURAN”
3. sekolah juga dinilai tidak mempunyai peraturan yang benar benar membuat sang murid mematuhinya, dan mungkin juga, selama ini sekolah ELITE tersebut tidak pernah memberikan sanksi yang tegas terhadap muridnya
coba kaya di SMKN 36, di SMK Negeri 36 jakarta terdapat 4 peraturan yang jarang banget bahkan mungkin ga ditemuin di sekolah lain. yaitu
1. Berkelahi
2. Mencuri
3. Lompat Pagar
4. Mengkonsumsi, Menjual dan Mengedarkan Narkoba
apabila siswa 36 kedapatan melakukan satu saja 4hal terlarang diatas maka hari itu juga dia resmi di pecat dari sekolah,
kebayang ga ? coba deh semua sekolah menerapkan 4 peraturan tsbt, jelas itu akan meredam dan meminimalisir terjadinya tindak kriminal siswa, di 36 sendiri tahun ajaran 2010-2011 sudah memecat 66 siswa yang sebagian diantaranya memang melanggar 4 hal diatas itu,
tapi kayanya kalo sekolah elite yang emang udah punya kebiasaan tawuran gitu, tindak pemukulan gitu rada susah untuk diobatinya, soalnya pihak sekolah juga takut sama murid2 nya sendiri yah pasti taulah kan mereka anak anak pejabat macem2 dikit lapor papa mama deh,
dalam suatu masalah pasti ada jalur penyelesaiannya,
DEAR orang orang yag membaca artikel ini coba deh berfikir positive gada gunanya kan kalian adu fisik, lagian adu fisik gitu juga bukan jalan yang terbaik buat menyelesaikan satu masalah
dan buat temen2 dari SMA 6 dan SMA 70 semoga ada salah satu dari kalian yang membaca artikel ini dan cobalah berubah, bukan maskud diriku ini untuk jadi sok ceramah tapi kalian kan siswa elite jadi berbuat elite bisakan, masalah tradisi kalian yang sering tawuran itu lupakan sajalah, mulailah hari baru yang bersih dari nafsu untuk adu fisik itu, lagian kita kan pelajar jadi jangan bikin nama pelajar jelek di mata dunia
mungkin segini dulu yang ditulis nanti kalo ada info update nya pasti di post, dan kabarnya SMA 6 meliburkan siswanya 5 hari kedepan dan melarang siswanya masuk sampai tanggal 29 september.
Namanya Sophian Nugroho, dia menulis di blognya seperti ini:
Tawuran sering terjadi di ibukota jakarta. apa penyebabnya dan apa masalahnya ?. semua yang terjadi pasti ada sebab dan ada akibat.
Semua yang terjadi berawal dari masalah yang sepele. mereka pelajar ?. ya jelas mereka pelajar tetapi hal yang mereka lakukan adalah hal yang bukan seharusnya mereka kerjakan.
Menurut saya yang juga seorang pelajar, kemungkinan semua yang mereka lakukan lantaran kejenuhan bersekolah. mengapa ?. kalian semua pasti juga pernah menjadi pelajar kan. semua yang terjadi lantaran karena kejenuhan yang hadapi mereka dengan persoalan nilai masalah di sekolah dan mungkin keluarga.
Mayoritas pelajar yang bertawuran mereka adalah pelajar yang jeduh akan kehidupan mereka sehari hari. di karenakan tidak ada kegiatan yang mereka lakukan.tapi ada juga yang tidak sedikit dari mereka yang berfikir dengan bertawuran mereka merasa hebat.merekapun di dukung sepenuhnya oleh alumni mereka dan tidak jarang mereka wajib mengikutinya.
Tidak hanya itu saja, faktor daktor tawuran kerap terjadi karena masalah masalah lain. faktor adat, faktor ini adalah faktor terkuat untuk mereka bertawuran yang di sebabkan entah apa penyebabnya. mereka hanya mengetahui senior mereka melakukan itu dan mereka pun harus melakukan itu.

SHOPIAN
faktor lain adalah permasalahan antar perorangan. biasanya karena mereka tidak senang karena teman mereka kalah dengan yang lain mereka pun ikut membantu teman mereka tersebut yang bertengkar dengan sekolah lain dan terjadi pertarungan antar kelompok atau antar sekolah.
Semua faktor tersebut tidak lain penyebabya karena pendidikan yang tidak mementingkan masalah sosial.sekolah saat ini tidak sama dengan sekolah waktu IR.Soekarno menjabat. Nilai nilai dan lulus 100%.
itulah moto sekolah di jaman sekarang. sosial di era seperti ini sangat di pentingkan, karena untuk mencekah hal hal tersebut tidak terjadi lagi pelajar setidaknya di beri pelajaran bersosialisai.
Keluarga juga menjadi faktor terbesar.orang tua bertanya “mengapa kamu sampai Tawuran ?” dan anakpun menjawab “yah memang kalian peduli dengan saya ?”. moto orang tua jaman sekarang “Yang penting anak saya bisa makan, cukup segalagalanya kan dia udah di sekolahkan”. berarti orang tua telah menyerahkan anak sepenuhnya terhadap sekolah. tetapi mereka memang tau kurikumlum sekolah dan moto sekolah “YANG PENTING LULUS DEH 100%”.bagai mana mereka tau kalau mereka tidak memantau anaknya yang setiap hari pergi jam 07.00 anak sudah sekolah dan pulang 22.00 anaknya pun sudah tidur.
Jadi siapa yang harus di salahkan ?. polisi ? “emang anak saya, anak saya ajah ga tau gimana” guru ? “kan saya di gaji hanya absen dan mengajar” kepala sekolah “emang saya gak ada pekerjaan yang lebih penting” presiden ? “NO COMENT”.masa kpk ?
Peraturan ?. salah sendiri, banyak orang bilang “PERATURAN DI BUAT UNTUK DI LANGGAR” ya gimana pelajar gak itkutan orang yang lebih dewasa ajah seperti itu.semua yang terjadi semua faktor adalah SOSIAL.
Aktifitas, seperti yang sudah saya ungkap di atas aktifitas juga dapet menimbulkan masalah seperti di atas. berikan mereka aktifitas. setiap hari berangat sekolah jam 05.30 pagi pulang jam 04.00 – 5.00 sore. memang tidak jenuh ?. orang tua berkata “kalau pulang sekolah jangan kemana mana yah”. sang anak dalam hati nya “ya dari pada nanti pulang ga boleh kemana mana lagi mending ikut mereka tawuran”. sebenarnya jika mereka di biarkan melakukan aktifitas yang positif pasti mereka tidak akan seperti itu. “mah mau kewarnet” “janngan di rumah aja” sebenarnya anak di warnet juga belajar, semua yang di lihat oleh mereka adalah pelajaran. game online adalah pelajaran buat mereka. mengapa ? “pilih mana tawuran apa game ?” “game lah ga sakit lagi juga nanti siapa tau saya menang turnamen”. “mah mau main bola” “jangan nanti cape di rumah aja”. main bola yang jelas-jelas baik aja di larang. “mah mau ke rumah temen” “jangan ngerepotin ajah udah di rumah ajah”. main ke rumah teman adalah suatu bentuk SOSIALisasi, bersosialisasi aja di larang mimana mau belajar sosial.
MUNGKIN KAN KEJADIAN SEPERTI INI AKAN TERULANG KEMBALI ?
YA PASTI TERJADI LAGI
JIKA PENDIDIKAN TETAP SEPERTI INI
HENDAKNYA SEKOLAH DAN ORANG TUA IKUT SERTA DALAM SOSIAL ANAKNYA

SUASANA DISKUSI
para orang tua pengelola negara saat ini sedang sibuk bicarakan masalah resufle kabinet dan korupsi …… saya pengelola sekolah dengan lebih dari delapan puluh peserta didik, guru pembina OSIS dan Forum OSIS SMK Jakarta Utara bicarakan tentang masalah Tawuran Peserta didik SMA 6 Jakarta dengan wartawan di Aula SMKN 36 Jakarta … tujuannya agar bisa ambil pelajaran kasus itu dan bisa selesaikan pendidikan untuk perbaiki kualitas hidup jadi lebib sejahtera.

AKTIF DISKUSINYA
umumnya para pengurus OSIS yang datang menyampaikan pendapat bahwa minimnya contoh baik atau panutan dari para orang tua dan lemahnya penanganan masalah kesiswaan/aturan, sistem punish and reward membuat peserta didik berani berbuat yang tak seharusnya.
faktor lain adalah minimnya kesempatan buat peserta diri untuk menunjukkan potensi, padahal peserta didik butuh diperhatikan dan menerima penghargaan, sehingga mereka mencari perhatian lewat tawuran.
aspek pendidikan moral yang diabaikan juga dibahas dalam diskusi yang berlangsung lebih dari dua jam
…. happy deh ketemu peserta didik cerdas dan tahu kemana arah hidup dan tak siakan kesempatan peroleh sehat dan sejahtera …. love u all, thx untuk Kelompok Kerja Kepala SMK -’K3SK Jakarta Utara dan semua teman yang support.

UTUSAN SMKN 4 JAKARTA
kasus tawuran pelajar SMA 6 Jakarta dengan wartawan mdrupakan ekses dari kasus tawuran antara SMA 6 dengan SMA 70 yang terjadi berulang sudah sejak lama.
masalah utama yang seharusnya diselesaikan adalah perkelahian antara dua sekolah …. tapi koq yang terasa saat ini yang diobrak-abrik, diseriusin oleh polisi, disorot media dan dikomentari banyak fihak adalah masalah tawuran dengan wartawan.
artinya, para wartawan, polisi, para komentator dan mungkin kita semua tak peduli dengan karakter pserta didik sejauh tak mengancam keselamatan kita ….. begitukah?
mungkin para insan pers selama ini memberitakan tawuran hanya sekedar untuk mengisi slot waktu atau halaman medianya, tak peduli dengan bagaimana menyelesaikan masalah tawuran yang kerap terjadi disana, mungkin pak polisi juha merasa sudah biasa nadi tak perlu bentuk tim khusus selesaikan masalah tawuran pelajar …. manajemen sekolah mungkin terlalu sibuk siapkan peserta didik untuk untuk lulus ujian nasional dan juara olimpiade sains plus segan dengan ortu yang berkelas jadi lupa didik karakter dan tak berani beri hukuman peserta didik pelanggar tata tertib …. dinas pendidikan mungkin sibuk perbesar penyerapan anggaran dan siapkan program tahun depan lewat rapat berulang dengan legislator jadi kurang fokus cari inovasi penyelesaian masalah tawuran, melengkapi penuntasan yang “tak kreatif” dan para orang tua?
luluskah kita hadapi ujian ini?

TANGAN

TANGAN

JUARA
Foto by Achmad Alamsyah, 19 September 2011.