Datang dari seorang pengurus organisasi guru level kota administrasi, begini tulisnya:
“Und. sminar nas untuk guru di Ditjen Dikti Gd. D lt.2 Depdiknas snayan, kamis 26-11-09 jam 8.00 dpt transpot dll, xxx”
Saya memilih tak menjawab
25/11/2009 • 1:19 PM 1
24/11/2009 • 4:20 AM 0
Di media online hari ini dika arkan ada petinggi partai besar yg sempat calonkan diri jadi presiden mau berpindah ke partai baru, itu biasa untuk orang partai. Tahun ini pake jaket merah, besok kuning, lusa hijau, minggu depan biru sangat biasa, tak ada rasa bersalah, “yang penting kan selalu berjuang untuk rakyat” salah satu alasan poli tikus.
Guru yang pindah sekolah? Takut, bingung adaptasi, khawatir dugaan ini itu dan masih banyak lagi. Bahkan ada yg dimutasi protes lewat media hingga ke DPRD.
Selamat siang pembaca. Bukankah poli tikus itu muridnyaa guru?
23/11/2009 • 5:04 AM 2
Siang ini di SMK Negeri 20 Jakarta Selatan, Saya bersama Bp. Haribowo Soenarjo (Kepala SMK Negeri 20 Jakarta-Ketua K3SK DKI Jakarta), Bp. Hasanudin (Kepala SMKN 22 Jakarta), Bp. Adi Putranto (Kepala SMKN 39 Jakarta) dan Bp. Eko. W (Wakil Kepala SMKN 49 Jakarta) rapat evaluasi ujicoba dan persiapan ujian inline guru SMK DKI Jakarta, adapun yg perlu diketahui hasilnya adlah sbb:
SELASA, 24 NOPEMBER 2009 : BHS INDONESIA
RABU, 25 NOPEMBER 2009 : BHS INGGRIS
KAMIS, 26 NOPEMBER 2009 : MATEMATIKA
Filed under: Info, guru , ujianonline smk
22/11/2009 • 5:07 PM 0
Tuntutlah ilmu walau sampai ke Negeri China. Pepatah itu kiranya terasa pas menggambarkan semangat Tarlan dalam menuntut ilmu. Bagaimana tidak? Di usianya yang sudah sangat senja, menginjak 81 tahun, kakek 19 cucu ini masih bersemangat mengikuti ujian Paket A setara SD.
Meski sesekali mengerutkan dahinya, Tarlan terlihat serius mengerjakan soal-soal ujian yang diberikan oleh pengawas dalam ujian Paket A setara (SD) yang diselenggarakan Suku Dinas Pendidikan Menengah (Sudin Dikmen) Jakarta Pusat, Jumat (20/11). Sikap Tarlan patut diacungi jempol. Di usianya yang melewati ambang batas ternyata masih bersemangat untuk belajar.
Ya, lelaki kelahiran Cirebon itu bersama rekan-rekan sebayanya mengikuti ujian Paket A yang digelar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Harapan Islam, Jalan Galur Raya 16, Johar Baru, Jakarta Pusat.
“Cari ilmu itu enggak ada batasnya. Kan ada pepatahnya, tuntutlah ilmu sampai ke negeri China,” ujar Tarlan lantang saat ditemui usai menyelesaikan soal ujian, Jumat (20/11).
Lelaki renta itu mengaku sudah sejak setahun lalu mengikuti program pendidikan Paket A. Ini dilakukan karena dia ingin memiliki ijazah SD. Nantinya jika telah lulus, ijazahnya akan dilaporkan pada pimpinannya agar dia diangkat menjadi karyawan tetap. Selama ini, Tarlan bekerja sebagai salah seorang petugas kebersihan di Masjid Istiqlal.
“Kalau mau menjadi karyawan tetap, syaratnya harus memiliki ijazah SD. Sampai saat ini saya belum punya, makanya saya ikut belajar di sini,” ungkap warga Jalan Kalibaru Timur V, Bungur, Senen, Jakarta Pusat itu.
Upaya gigih lelaki yang hanya mengenyam kelas 5 SR (sekolah setingkat SD zaman kolonial Belanda) mendapat dukungan penuh dari seluruh keluarganya. Tentu saja dukungan ini menjadikan dia lebih termotivasi dan semangat untuk menyelesaikan program Paket A.
“Mudah-mudahan umur bapak sampai,” ujar Tarlan yang terpaksa putus sekolah saat itu lantaran Indonesia dalam keadaan kondisi perang melawan penjajah.
Rupanya Tarlan tidak sendirian dalam mengikuti ujian Paket A. Beberapa kakek-kakek lainnya pun mengikuti hal yang sama. Di antaranya Mulyani (50) dan Hussein (55) yang sama-sama ingin segera memiliki ijazah setara SD agar dapat diangkat menjadi karyawan tetap sebagai petugas kebersihan di Masjid Istiqlal.
“Kalau jadi karyawan tetap, kami akan digaji sesuai UMR, katanya,” ujar Hussein.
Kasi Dikmen Kecamatan Joharbaru, Ahmad Hilmi mengatakan, wilayah Joharbaru merupakan daerah yang banyak dihuni oleh kaum dhuafa. Karena itu, pihaknya membantu dengan menyelenggarakan program Paket A setara (SD), B setara (SMP) serta C setara (SMA) guna memperbaiki kualitas hidup dan menambah pengahasilan.
“Kami ingin meningkatkan kualitas hidup, PKBM sudah ada, dengan demikian diharapkan lulusannya mampu mengembangkan ilmu dan meningkatkan taraf hidupnya,” ungkapnya.
Ahmad Hilmi mencatat, peserta ujian paket A kali ini sebanyak 26 orang, paket B 72 orang, dan paket C tidak ada pesertanya. Dia berharap, pada tahun berikutnya, peserta ujian paket A, B, dan C ini dapat terlaksana kembali guna meningkatkan kualitas masyarakat Jakarta Pusat dan mendukung program pemerintah dalam pembebasan buta aksara.
Plh Kasudin Dikmen Jakarta Pusat, Delly Indirayati, menyambut baik adanya keinginan yang kuat dari orang-orang seperti Tarlan. Meski telah memasuki usia senja, namun tetap semangat mencari ilmu.
“Saya sudah berbicara dengannya, memang ada keinginan kuat darinya untuk membuktikan kepada anak cucunya bahwa beliau tidak buta huruf. Karena itu memang sudah sewajibnya orang-orang seperti pak Tarlan kita fasilitasi,” ujar Delly.
Ke depannya PKBM yang ada akan dibina serta dievaluasi baik untuk kurikulum, metode, dan lain sebagainya agar ada peningkatan mutu baik dari PKBM maupun dari lulusannya. “Pasti, kurikulumnya akan disempurnakan untuk peningkatan mutu,” kata Delly Indirayati.
Sumber: Kompas
Selamat malam pembaca, ujian apa anda hari ini?
Filed under: Up grade, guru, pencitraan , belajar
• 1:11 AM 1
manusia pada dasarnya unik
tak pernah ada mahluk yang sama
seragam untuk membuat jadi sama
hampir mustahil
lihatlah seragam militer seluruh dunia
sama dalam warna dan model
tapi berbeda atribut kesatuan, pangkat,
tanda jasa, warna baret atau topi, dll
seragam anggota militer yang sering menerima tugas,
pelatihan, seminar, jasa, dll
akan berbeda dengan rekannya
yang tak pernah ditugaskan kemana-mana
sehingga pada prinsipnya kembali ke kodrat awal
bahwa manusia pada dasarnya unik
tak pernah ada mahluk yang sama
lihatlah dua peragawan SMK N 36 Jakarta
namanya Sugeng dan Ishar
walau sama warna, tapi ada beda
mereka punya strip dua
tak sama dengan siswa/i sekolah lain
sehingga ada rasa bangga dan senang
ketika mengenakannya
coba lihat seragam guru
tak ada beda antara
guru berprestasi dan yang malas kerjanya
yang rajin belajar dan tak pernah baca
yang langganan penerbitan, internet dan tak punya laptop
yang senang disiplinkan anak dan cuek pada sikap anak
yang ngarep macam-macam tunjangan dan kerja ikhlas
yang senang ngerumpi dan eksplorasi dengan anak didik
yang cuek sekolah kotor tak nyaman dan rajin suruh siswa kerjabakti
yang pura-pura ga tau ada kekerasan senior dan akrab dg smua siswa
yang “OMDO” omomg doang dan sedikit bicara banyak kerja
yang ngajar cuma “nyatet” dan berinteraksi lewat email
selamat pagi pembaca, masih berseragam dan OMDO?
Filed under: Foto, guru , seragam, smkn36jakarta
10/11/2009 • 6:55 AM 6

flickr.com
“terpujilah wahai engkau
ibu bapak guru
namamu akan selalu hidup
dalam sanubariku
……………….
engkau patriot
pahlawan bangsa
tanpa tanda jasa
Jakarta tahun 80-an
guru-guru gajinya pas-pasan
mereka nyambi kerja lain
atau ngajar di banyak sekolah
transport harian dibayar
jumlah jam mengajar dihitung
membuat soal bertagih
lembar koreksi dikalikan
mengawas ujian menagih
seminar & pelatihan berhitung “pity”
insentif ini itu diburu
kuli-kuli dibayar harian
mereka kerja serabutan
dimanapun ada proyek
Jakarta tahun 90-an
guru-guru mulai dapat tunjangan pemda
mereka tak boleh ngajar di beberapa sekolah
harus lima hari di sekolah
transport harian dibayar
jumlah jam mengajar dihitung
membuat soal bertagih
lembar koreksi dikalikan
mengawas ujian menagih
seminar & pelatihan berhitung “pity”
insentif ini itu diburu
gaji, tunjangan dari pemerintah
seperti tak ada, selalu merasa kurang
kuli-kuli dibayar harian
mereka kerja serabutan
dimanapun ada proyek
Jakarta tahun 2000-an
guru-guru bermobil sangat biasa
tunjangan daerah plus sertifikasi menimbun
tambahan TUNDA (tunjangan daerah yang baru)
didepan mata
transport harian dibayar
jumlah jam mengajar dihitung
membuat soal bertagih
lembar koreksi dikalikan
mengawas ujian menagih
seminar & pelatihan berhitung “pity”
insentif ini itu diburu
gaji, tunjangan dari pemerintah
seperti tak ada, selalu merasa kurang
kuli-kuli dibayar harian
mereka kerja serabutan
dimanapun ada proyek
Selamat diang pembaca, anda guru yang rajin menghitung?
Filed under: guru, pencitraan , guru, kuli, pahlawan
16/10/2009 • 4:14 AM 4
tolong hentikan ini pak polisi (1.bp.blogspot.com)
Masih tentang sepeda motor dan anak sekolah … saat mereka mulai belajar motor, berkendara, membentuk geng hingga perkelahian … pasti mereka terlihat di jalan raya … kenapa polisi tak bertindak, pepatah klasik mencegah lebih baik dari pada mengobati mungkin semua kita tahu … apa kabar polisi?
Perkelahian antargeng motor kembali terjadi. Kali ini berlangsung di Tasikmalaya, Jawa Barat. Perkelahian antara geng motor Kil dan BSC itu terekam dalam gambar video yang menyebar lewat telepon seluler. Polres Kota Tasikmalaya pun sigap bertindak.
Setelah mendapatkan laporan korban yang bernama Hari, jajaran Satuan Reserse Kriminal Polres Kota Tasikmalaya memburu pelaku. Dalam video itu terekam, Hari dipukuli anggota geng motor. Polisi mendatangi satu-persatu rumah para pelaku pemukulan. Empat pelaku langsung dibawa ke Markas Polres Kota Tasimkmalaya untuk menjalani pemeriksaan.
Mereka adalah Rizki, Saeful, Randi dan Axel. Semua masih pelajar SMP kelas tiga. Polisi juga mengamankan barang bukti berupa telepon seluler yang dipakai untuk merekam serta jaket Brigez yang dikenakan oleh korban.
Sumber: metronews.com
Filed under: Foto, Up grade, guru , sepedamotor
15/10/2009 • 1:28 AM 4
apa hubungannya?
ada batas usia sesorang untuk menikah
ada batas usia seseorang untuk peroleh Surat Izin Mengemudi (SIM)
adakah batas usia anak sekolah naik sepeda motor?
kenapa ada batas usia menikah dan peroleh SIM?
pasti karena ada fakta, data dan hasil riset yang membuat negeri membatasi usia dua hal di atas
seseorang yang sudah dewasa
akan lebih cermat memutuskan
ttg gaya atau cara
mengendarai kendaraan bermotor
dengan baik dan benar
sementara anak-anak sekolah
SD hingga SLTA
masih belum bisa berfikir jernih ttg resiko
ngebut, ngepot, nyalib, tak berhelem, dsb
sehingga saya menerima SMS dari murid saya spt ini:
“Aslmkm.
Arif dz kcelakaan
d rmh skt koja lt 8 kmr 808
ada bagian tubuh yang patah
jahitan di muka tak sedikit
kakinya belum bisa di gerakkan
Sbrkn”
Selamat pagi pembaca, Anda senang keluarga atau saudara anda pandai bersepeda motor sejak kecil?
Filed under: Foto, Info, SMK Negeri 36 Jakarta, guru , kecelakaansepedamotor, smknegeri36jakarta
05/10/2009 • 1:06 PM 1

belajar yuuu
Selesai meeting di sebuah pusat keramaian di utara jakarta, saya dihentikan seorang pria perseragam biru dengan logo perusahaan taxi bergambar burung.
Dia setengah berlari menghampiri saya dan menyapa:
“Pak Dedi ya? … saya murid bapak di SMK 39 tamat tahun 2006″
Saya menghentikan langkah dan menyalaminya, kami berlebaran … lalu berbincang tentang berbagai hal… dia sudah bekerja hampir dua tahun di perusahaan itu … dan menjadi tulang punggung biayai kehidupan keluarganya.
Saya bertanya:
“Apa yang kamu ingat dari pelajaran dengan saya di SMK 39?”
Dia menjawab begini:
“Saya belajar internet dengan serius ketika bapak beri tugas, hingga pernah menyewa komputer di rental selama satu … hari sampai bisa … dan saya sangat senang ketika suatu kali ada teman saya yang minta diajari mengakses internet, saya sudah bisa”
Tiba-tiba saya ingat tulisan di t-shirt seorang pengunjung toko buku yang begini isinya:
GAPTEK
ITU
BUKAN
BAKAT
Barangkali betul … seseorang gagap teknologi atau gaptek bukan karena bakat, tapi karena malas .
Ayo belajar pada teman, saudara, tetangga, kerabat, anak kita atau siapa saja yang anda bisa ajak belajar tentang teknologi, apalagi jika Anda adalah guru.
Selamat malam pembaca, Anda masih gaptek?
04/10/2009 • 5:11 AM 1
Selebritis ulang tahun di panti asuhan, atau buka puasa atau bersama di suatu lokasi atau kantong-kantong orang tak mampu sudah biasa.
Charly ST 12 memberikan contoh bagus dengan runi mengunjungi sekolah dasar dimanadia dulu pernah belajar …terlihat betapa dia terharu dan berterima kasih pada guru-guru yang mendidiknya ketika anak-anak.
Cerita bagaimana dulu dia mencari pinjaman gitar kesana kemari untuk ikuti perlombaan, menyebut nama guru, mencium tangan para pendidik yang beranjak renta … terlihat wajah haru, dan ungkapan terima kasih meluncur dari mulut penyanyi terkenal negeri.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargi guru-gurunya.
Selamat siang pembaca, kapan andaberkunjung ke sekolah Anda?
Filed under: Info, Up grade, guru , CHARLIE ST 12, guru
27/09/2009 • 2:33 AM 0

bayi aja membaca
Salah satu yang sering diungkap saat puasa adalah perintah Allah kepada manusia untuk IQRA, membaca … belajar.
Puasa dah berlalu, setelah lebaran kita kembali ke kehidupan rutin. Jika anda sebagai pendidik atau peserta didik, mengajar-belajar seperti saat sebelum puasa … TAK ADA YANG BERUBAH.
Tak ada perubahan untuk LEBIH BERGAIRAH MEMBACA, BELAJAR tentang apa saja … anda hanya jalani hai-hari seperti biasa, sekedar jadi peserta didik, jadi guru yang biasa-biasa aja …. ga perlu baca koran, majalah apalagi langganan internet atau membeli CD-CD pembelajaran … atau apapun …. intinya membuat pegetahuan dan keterampilan kita BERTAMBAH dari kemarin.
Selamat pagi pembaca, apa yang ingin anda pelajari hari ini?
17/09/2009 • 3:54 AM 2
Bayu Sutrisno, peserta didik SMK Negeri 36 Jakarta yang jadi Ketua OSIS menulis di blognya seperti ini:
“Mata gue terbuka ketika mendatangi Acara buka puasa bersama di SMA 75 JAKARTA, kenapa kebuka? yah memang kan selama ini sipit ternyata di SMA sewaktu acara Buka Puasa berasama itu, hampir 70% acara di pegang sama guru.
whow. dan setelah memastikan. acara pensi pesantren kilat dan lain lain di pegang sama guru pula. hal itu gak biasa bagi gue, setiap ada acara dan gue jadi panitianya seperti kemarin pesantren kilat TIGA hari berturut turut,
dari mulai bikin propsal, nyari dana, minta tanda tangan kepala sekolah, nyari donatur, itu di kerjain sendiri.
Juga sewaktu acara berlangsung. ga ada guru sama sekali yang bantu acara.
kita masih kelas 2, itu tiga hari berturut-turut menangai 300 lebih siswa SMK yang isinya cowo semua.wogh. gue merasa campur campur..
dan 2 alasan muncul:
1. apakah sekolah gue yang gak peduli sama acara siswa kaya gini?
2. kita memang sengaja di buat mandiri seperti ini?ternyata, gue ngambil alasan yang kedua.
“SMK, GERBANG MENUJU DUNIA KERJA”
got it?”
Jawab Saya di blog Bayu begini:
“pak haji tuan dan pak ujang sutiana serta guru-guru SMK Negeri 36 Jakarta sudah faham, bahwa peserta didik harus dilatih di setiap kesempatan utk mengerjakan apapun … nanti peserta didik akan memiliki rasa percaya diri yang baik sehingga bisa menjadi tenaga kerja yang trampil dan punya insiatif krn dah sering melakukan apa aja … selamat menikmati pendidikan yang mensejahterakan.
Selamat siang pembaca, masih tak memberi kepercayaan kepada peserta didik? … Anda akan lelah dan tak punya waktu belajar hal-hal baru sementara peserta didik tak makin bersinar
Filed under: SMK Negeri 36 Jakarta, Up grade, guru, pencitraan , smknegeri36jakarta
12/09/2009 • 1:28 AM 3

venimoenif.files.wordpress.com
Menyambung posting Saya terdahulu tentang Nyontek, Saya dikontak Bp.Otto Hartono melalui Fesbuk lalu Saya kopi tulisan sahabat dari Belanda … selamat menikmati.
Pernah menyontek? Jujur, aku pernah. Masih tergambar jelas dalam ingatanku, ketika ibu guru matematika SMP ku menghampiri tempat dudukku.”Buka!” Ketusnya. Gemetaran, aku ambil lembar kertas paling atas di depanku. “Buka lagi!” Suaranya makin galak. Aku ikuti perintahnya sambil mengutuki degup jantungku yang bunyinya makin keras. “APA INI?!” Teriaknya. Tubuhku seketika lemas. Mati aku! SRET…SRET…! Ibu guru yang galak itu merobek-robek kertas contekanku. Uuh wajahku mendadak bersemu merah bak kepiting rebus. Ingin rasanya aku berlari sekencang-kencangnya keluar kelas, agar terhindar dari tatapan mata teman-temanku.
• 1:09 AM 1

mendidik
Menurut Kepolisian, diperkirakan 3,9 juta pemudik menggunakan sepeda motor akan melakukan perjalanan dari Jakarta ke berbagai kota di Jawa dan Sumatera. Anda bisa bayangkan, berapa panjang untaian bebek beroda dua yang berbaris pulang ke kandang hantarkan penunggangnya menemui kerabat dan handai tolan di kampung halaman setelah bertahun mencari nafkah di belantara Ibukota. Perjalanan ratusan kilometer dalam waktu tempuh belasan jam di tenah cuaca panas atau dinginnya malam tak membuat jumlah pemudik bermotor makin berkurang, walau tak sedikit yang memaketkan tunggangan roda dua melalui kereta atau model paket lainnya.
Di area permukiman Anda tentu sering melihat orang tua yang sedang mengajarkan anak remajanyamengendarai sepeda motor, bahkan tak sedikit yang masih duduk di Sekolah Dasar. Atau Anda sendiri pernah mengajarkan putra/putri Anda yang sangat belia kendarai bebek besi?. Apakah motivasi Anda?
Ingin membuat rasa percaya diri anak tumbuh, untuk keperluan mengantar ibunya ke pasar, agar bisa membawa motor ke sekolah sehingga tak perlu diantar atau lebih irit dalam ongkos dibanding harus naik angkutan umum berganti beberapa kali.
Parkir sepeda motor di berbagai sekolah di Jakarta cenderung makin banyak penghuninya. Remaja berseragam putih abu-abu, putih biru hingga putih merah atau Sekolah Dasar tak sedikit yang pulang pergi membawa bebek Jepang, padahal umur mereka belum memenuhi persyaratan mengemudikan kendaraan bermotor, karena belum melampaui batas umum persyaratan peroleh Surat Izin Mengemudi (SIM).
Manajemen sekolah mungkin merasa persoalan diatas adalah ranah tugas kepolisian. Sekolah hanya mengurus persoalan belajar mengajar yang berujung pada Ujian Nasional. Sebagai lembaga pendidikan, seharusnya sekolah memberi perhatian dan melakukan berbagai upaya mendidik pelajar untuk menjadi warga negara yang taat hukum negeri.
Kami pernah berencana menambah area parkir sepeda motor karena daya tampungnya semakin tak mencukupi. Setelah mengamati beberapa hari, Saya melihat mayoritas pengendara sepeda motor di sekolah kami belum memiliki SIM. Padahal sekolah kami berada di pusat kota tak jauh dari Pasar Baru Jakarta yang bertetangga dengan Istana Negara.
Saya bersama staf mulai merancang strategi, sistem penanganan parkir kendaraan di sekolah kami. Kegiatan sosialisasi, urun pendapat dilakkan beberapa kali, pro dan kontra menyambut rencana yang berujung pada “Larangan Peserta Didik atau Guru/Tenaga Pedidikan yang tidak memiliki SIM ke Sekolah”. Satpam kami memeriksa kelengkapan setiap kendaraan yang masuk ke area parkir di Sekolah kami, yang tidak memiliki SIM diberi surat peringatan untuk tidak membawa motor lagi. Jika setelah mendapatkan peringatan masih membawa sepeda motor, maka Satpam kami akan mlaukan tindakkan mengikat roda sepeda motor pelanggar dengan rantai dan memanggil orang tua/wali peserta didik untuk datang ke sekolah dan mengambil sepeda motornya.
Ternyata, strategi itu berhasil. Jumlah sepeda motor menurun drastis dan rencana menambal luas area parkir sekolah tak jadi dilakukan, hal yang lebih pentig dari itu adalah bahwa peserta didik dibiasakan untuk mematuhi aturan hukum negeri yang berlaku. Manfaat lainnya adalah meminimalisasi peluang kerjadinya kecelakaan lalu lintas yang bisa menimbulkan cedera atau kematian.
Selamat pagi pembaca, mau mudik naik motor?
Filed under: SMK Negeri 36 Jakarta, guru , guru, parkir, pendidik, sekolah, sepedamotor
10/09/2009 • 3:43 PM 4

dit kredit
Malam ini Saya berjumpa dengan seorang Doktor, setelah berbicara beberapa topik, beliau bertanya:
“Menulis di blog mendapat angka kredit untuk kenaikan pangkat?”
Wah, Saya cukup terkejut dengan pertanyaan seseorang yang berpendidikan sangat tinggi … apakah demikian sempitnya pandangan seorang guru yang hebat dan mengajar di sekolah paling hebat di Jakarta (kabarnya). Menulis dengan tujuan peroleh angka kredit untuk kenaikan pangkat …. sangat duniawi.
Atau barangkali Saya yang terlalu “gila”, menulis ratusan artikel sejak Novenber 2005 di tiga blog saya principal & trainer, photoblog dedi dan blog ini tanpa pernah memikirkan apa yang akan saya dapat.
Saya hanya ingin mendokumentasikan berbagai hal yang saya lakukan dalam peran saya sebagai pendidik, membantu anak negeri untuk hidup lebih sejahtera. Saya berharap tulisan Saya bermanfaat buat orang lain yang sedang memiliki persoalan yang hampir serupa dengan pengalaman yang saya tuliskan, kalaupun tidak … dari berbagai tulisan yang saya publikasikan, orang tua peserta didik di sekolah Saya mengetahui bahwa anak-anak mereka sedang disiapkan ke arah yang kebih baik.
Blog, sebagai dokumentasi berbagai kegiatan, ide, keresahan, kegembiraan atau lainnya akan memberi manfaat untuk pemilik dan pembacanya. Sebagai pendidik, seorang guru harus terbiasa menulis dan mengabarkan apa yang sedang dan akan dilakukan agar bisa jadi bahan evaluasi diri dan menjadi lebih baik.
Menulis memang bukan hal yang mudah, demikian juga ketika kesulitan ide atau topik yang akan ditulis. Pada saat seperti itu biasanya Saya menulis dalam bentuk puisi, walau hanya sebait. Menulis akan lancar bagaikan air mengalir manakala kita telah membiasakan diri menulis setiap hari. Dari pada tertidur karena tak tahan melawan ngantuk, kita bisa menulis saat menghadiri pertemuan, sebelum tidur, atau kapan saja dan dimana saja asalkan membuat diri kita bisa berbagi kepada orang lain. Hal itu sudah merupakan kenikmatan tersendiri. Apalagi bila banyak komentar yang datang memberikan tanggapan. Sungguh sangat menyenangkan karena bersifat interaktif. Terjadi komunikasi dua arah antara penulis dan pembaca setianya.
Sahabat Saya di dunia maya Riri Satria menulis di blognya begini:
“Nge-blog memungkinkan seseorang untuk mengubah tacit knowledge yang ada di dalam pikirannya, menjadi explicit knowledge, yang bisa dipelajari oleh orang lain. Dalam kerangka knowledge management, proses pengubahan tacit knowledge menjadi explicit knowledge ini sangat penting, karena dengan itulah pengetahuan akan berkembang, dan berbagai ide, wacana, atau pemikiran baru akan dibahas, diperbincangkan, bahkan diuji oleh khalayak ramai, sehingga menambah khazanah ilmu pengetahuan. Semakin banyak orang nge-blog, semakin banyak tacit knowledge yang berubah menjadi explicit knowledge, dan akhirnya akan terbentuk suatu learning society.”
Om Jay, Guru SMP Labshool Rawamangun Jakarta Timur yang sering keliling Indonesia menjadi nara sumber akibat tulisan-tulisan di blognya, beliau sahabat Saya di dunia nyata menulis begini:
“Jasad kita boleh terkubur, tetapi tulisan kita akan kekal dan terus dibaca oleh anak cucu kita. kalau sudah begitu, Yuk kita menulis sebelum tidur. Tidur kita yang panjang, tidurnya mbah Surip dan mbah Willy. S Rendra. Di kenang karena karya tulisnya yang mencerahkan.”
Selamat malam pembaca, Anda butuh kredit?
Komentar Terbaru