
mendidik
Menurut Kepolisian, diperkirakan 3,9 juta pemudik menggunakan sepeda motor akan melakukan perjalanan dari Jakarta ke berbagai kota di Jawa dan Sumatera. Anda bisa bayangkan, berapa panjang untaian bebek beroda dua yang berbaris pulang ke kandang hantarkan penunggangnya menemui kerabat dan handai tolan di kampung halaman setelah bertahun mencari nafkah di belantara Ibukota. Perjalanan ratusan kilometer dalam waktu tempuh belasan jam di tenah cuaca panas atau dinginnya malam tak membuat jumlah pemudik bermotor makin berkurang, walau tak sedikit yang memaketkan tunggangan roda dua melalui kereta atau model paket lainnya.
Di area permukiman Anda tentu sering melihat orang tua yang sedang mengajarkan anak remajanyamengendarai sepeda motor, bahkan tak sedikit yang masih duduk di Sekolah Dasar. Atau Anda sendiri pernah mengajarkan putra/putri Anda yang sangat belia kendarai bebek besi?. Apakah motivasi Anda?
Ingin membuat rasa percaya diri anak tumbuh, untuk keperluan mengantar ibunya ke pasar, agar bisa membawa motor ke sekolah sehingga tak perlu diantar atau lebih irit dalam ongkos dibanding harus naik angkutan umum berganti beberapa kali.
Parkir sepeda motor di berbagai sekolah di Jakarta cenderung makin banyak penghuninya. Remaja berseragam putih abu-abu, putih biru hingga putih merah atau Sekolah Dasar tak sedikit yang pulang pergi membawa bebek Jepang, padahal umur mereka belum memenuhi persyaratan mengemudikan kendaraan bermotor, karena belum melampaui batas umum persyaratan peroleh Surat Izin Mengemudi (SIM).
Manajemen sekolah mungkin merasa persoalan diatas adalah ranah tugas kepolisian. Sekolah hanya mengurus persoalan belajar mengajar yang berujung pada Ujian Nasional. Sebagai lembaga pendidikan, seharusnya sekolah memberi perhatian dan melakukan berbagai upaya mendidik pelajar untuk menjadi warga negara yang taat hukum negeri.
Kami pernah berencana menambah area parkir sepeda motor karena daya tampungnya semakin tak mencukupi. Setelah mengamati beberapa hari, Saya melihat mayoritas pengendara sepeda motor di sekolah kami belum memiliki SIM. Padahal sekolah kami berada di pusat kota tak jauh dari Pasar Baru Jakarta yang bertetangga dengan Istana Negara.
Saya bersama staf mulai merancang strategi, sistem penanganan parkir kendaraan di sekolah kami. Kegiatan sosialisasi, urun pendapat dilakkan beberapa kali, pro dan kontra menyambut rencana yang berujung pada “Larangan Peserta Didik atau Guru/Tenaga Pedidikan yang tidak memiliki SIM ke Sekolah”. Satpam kami memeriksa kelengkapan setiap kendaraan yang masuk ke area parkir di Sekolah kami, yang tidak memiliki SIM diberi surat peringatan untuk tidak membawa motor lagi. Jika setelah mendapatkan peringatan masih membawa sepeda motor, maka Satpam kami akan mlaukan tindakkan mengikat roda sepeda motor pelanggar dengan rantai dan memanggil orang tua/wali peserta didik untuk datang ke sekolah dan mengambil sepeda motornya.
Ternyata, strategi itu berhasil. Jumlah sepeda motor menurun drastis dan rencana menambal luas area parkir sekolah tak jadi dilakukan, hal yang lebih pentig dari itu adalah bahwa peserta didik dibiasakan untuk mematuhi aturan hukum negeri yang berlaku. Manfaat lainnya adalah meminimalisasi peluang kerjadinya kecelakaan lalu lintas yang bisa menimbulkan cedera atau kematian.
Selamat pagi pembaca, mau mudik naik motor?
Filed under: SMK Negeri 36 Jakarta, guru , guru, parkir, pendidik, sekolah, sepedamotor
Komentar Terbaru