@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan


2 Comments

Mengenang Dingin di Seoul, 30 Okt – 7 Nop 2012, Leadership Academy untuk Kepala Sekolah Asia-Pasifik, Thx God

FIRST DAY

Saya mewakili Kepala Sekolah Indonesia pada kegiatan Leadership Academy untuk Kepala Sekolah Asia-Pasifik yang ke-3 diadakan di Seoul pada 30 Oktober ~ 7 November 2012, yang diselenggarakan oleh APCEIU dan disponsori oleh Kantor Metropolitan Seoul Pendidikan. Selama Lokakarya 9-hari, kepala sekolah 32 dari 19 Anggota UNESCO Serikat kawasan Asia-Pasifik dieksplorasi untuk pemahaman yang lebih dalam dan lebih luas dari praktek pendidikan dan sistem sekolah di Asia dan Pasifik. Mereka membangun saling pengertian dan kerjasama untuk visi bersama pendidikan.

AT CLASSROOM

Terdiri dari kuliah, presentasi individu, diskusi kelompok, pameran sekolah, kunjungan sekolah, dan pengajaran EIU kelas, Akademi ini dirancang untuk mengoptimalkan lingkungan untuk berbagi pengalaman dan jaringan oleh kepala sekolah yang berpartisipasi. Peserta bertukar informasi tentang visi mereka tentang manajemen sekolah dan program sekolah khusus mereka, dan menegaskan perlunya peningkatan program pertukaran sekolah dan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Aksi rencana yang disusun oleh kelompok selama Akademi akan dimasukkan sebagai indeks utama untuk membangun dan memelihara jaringan sekolah APCEIU.

DI TAMAN

DI TAMAN

Saya diwawancara untuk publikasi Panitia, selengkapnya ada disini dan disana.

Saya sempat berkunjung Imjinkak, perbatasan dengan Korea Utara lihat jejak kepedihan perang dan ratapan penduduk negeri ginseng, alhamdulillah … terima kasih buat semua yang support.

pedih dan dingin terasa


Leave a comment

Kepala Sekolah Anda Pimpinan atau Pemimpim, yg mana ayooo?

09 Agustus 2012 13:05

Sekolah dan pemimpin, sepintas tak ada hubungan sama sekali di antara keduanya. Namun jika ditelisik lebih jauh, dua hal ini bisa saling mempengaruhi satu sama lain.

Sekolah tanpa pemimpin, apa jadinya. Apa mungkin sekolah tak punya pemimpin? Impossible, ‘kan ada kepala sekolah. Persoalannya, benarkah figur kepala sekolah bisa jalankan peran sebagai pemimpin? Sadarilah, ini persoalan serius yang mesti dihadapi sekolah.

Sekolah butuh pemimpin, tapi tidak sebaliknya. Sekolah akan kehilangan arah andai tak ada kepala sekolah.

Kepala sekolah merupakan sosok yang bisa bangunkan motivasi mengajar para guru, membenahi sistem yang ada, menjadi teladan bagi para murid, penyambung aspirasi antara orang tua dengan pihak sekolah. Tak ada yang sangsikan peran kepala sekolah sangat penting. Penting bukan karena sekadar menyandang status kepala sekolah, tapi mampu jalankan peran serta fungsi.

Bicara soal eksistensi, ada dan tiadanya kepala sekolah tetap jadi perbincangan menarik. Lihat “drama” ketika terjadinya mutasi. Ada kepala sekolah yang ditangisi kepergiannya. Sontak semua stakeholders sekolah meminta dinas pendidikan mengurungkan keputusannya. Tak sedikit juga kepala sekolah yang disyukuri kepergiannya. Bahkan seluruh warga adakan acara syukuran. Mengapa hal ini terjadi?

Kepala sekolah adalah jabatan, setuju? Siapa pun yang menduduki jabatan itu, punyakah dia sifat kepemimpinan? Leader without leadership, itulah persoalan kita.

Jika ada kepala sekolah yang utamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan sekolah, pasti dia punya cara berpikir only for profit. Padahal jelas, sekolah bukan perusahaan apalagi ladang bisnis. Dia pasti akan bilang sekolah tak punya anggaran untuk meningkatkan kompetensi guru, ikutkan siswa dalam lomba-lomba antar sekolah, gaji guru selalu telat dibayar. Tapi di saat bersamaan, gaya hidupnya meruah-ruah. Mobil pribadinya bertambah terus, bangun rumah baru di kawasan elit, kisah yang memilukan bukan?

Sekolah di tangan kepala sekolah macam begini pasti berantakan. Guru-guru demotivasi. Soliditas tim hancur lebur. Sikut sana sikut sini. Guru “terbelah” menjadi dua. Guru yang siap berkongsi dan jadi pendukung kepala sekolah, dia pasti dapat promosi. Guru yang berani nyatakan tak sepakat pasti bisa kena masalah. Minimal dibuat tak nyaman saat bekerja, alih-alih siap-siap dimutasi.

Kepala sekolah seperti itu pasti tinggi hatinya. Dia pasti anti dengan kritik maupun masukan. Dia akan buat jarak antara dirinya dengan semua warga sekolah. Cara berpikirnya pasti semuanya tentang “AKU”. Apa urusannya dengan Anda? Inilah sosok kepala sekolah tak punya sifat kepemimpinan. Dia perankan dirinya sebagai pimpinan bukan pemimpin. Hidupnya pasti rusak dan merusakkan.

Beda lagi dengan cerita kepala sekolah yang satu ini. Bagi dia, “kepala sekolah” hanya sekadar jabatan. Jabatan itu amanah, hal itu tak bersifat abadi. Besok lusa mungkin jabatan itu akan hilang.

Maka selagi masih menjabat, dia pasti berpikir hal terbaik apa yang bisa diberikan untuk keberhasilan sekolah. Pantang dia lakukan korupsi, kolusi, maupun nepotisme. Karena dia sadar itu akan merusak tim serta menghancurkan sistem sekolah perlahan-lahan.

Suasana keterbukaan dan kebersamaan segera dibangun di awal kepemimpinan. Tak akan ada ghibah serta fitnah karena semua warga sekolah boleh bersuara di forum sekolah. Tanpa disadari, sekolah sedang membangun budaya komunikasi produktif.

Kepala sekolah membuka diri dengan kritik. Ini cara mendidik yang konkret. Guru belajar untuk berani katakan “TIDAK” jika memang itu benar adanya.

Ma’ruf atau tidak cara penyampaiannya, kepala sekolah tundukkan egonya, terima kritiknya, dan segera berbenah diri. Jika kepala sekolah salah, dia akui kesalahan kepada guru, orang tua, bahkan siswa sekali pun.

Yakinlah, harkat martabat kepala sekolah macam ini tak akan hancur berantakan. Justru sikap ini akan pantik simpati dari banyak orang. Guru pun pasti malu kalau tak mampu lakukan hal yang sama pada murid. Semua orang lantas akan bilang, “Kami ikhlas dipimpin kepala sekolah ini”. Kepala sekolah seperti ini hidupnya pasti selamat dan menyelamatkan.

Pemimpin pasti paham untuk apa jabatan itu digunakan. Inilah sedekah terbaik yang bisa dilakukannya, membuat kebijakan yang bermanfaat bagi masa depan sekolah.

Sosok pribadinya sangat mempesona. Mempesona bukan karena tak ada kesalahan yang dibuatnya. Ingat, kepala sekolah bukan manusia setengah dewa kata Iwan Fals. Dia tetap manusia biasa yang kerap lakukan kekeliruan. Kekeliruan itu bisa dimaafkan. Ini namanya proses belajar dan pendewasaan diri.

Jika dia mau terima kritik karena kesalahannya, lalu dia segera perbaiki diri, ini baru TOP MARKOTOP. Tapi, jika egonya tak mampu ditaklukkan, pasti hasrat serta nafsu akan selalu menjadi pemandu dalam mengambil kebijakan. Hasilnya apa? Pastilah keresahan, kegundahan dan kerusakan bagi keberlangsungan sistem sekolah.

Wahai para pengambil kebijakan, pilihlah kepala sekolah yang mampu perankan dirinya jadi pemimpin bukan pimpinan. Cirinya sederhana saja, telisik sisi pribadinya lalu cari tahu apakah dia sosok yang rendah hati. Karena St. Augustine pernah berujar, “Anda ingin naik? Mulailah dengan turun. Anda ingin membangun menara tinggi menjulang? Mulailah dengan menanam fondasinya, yaitu kerendahan hati”.

sumber:
Republika

http://m.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/12/08/09/m8fkmq-kepala-sekolah-pimpinan-atau-pemimpin

Penulis:
Asep Sapa’at
Teacher Trainer di Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa


2 Comments

Kepala Sekolah agar menyapa semua guru dan karyawan di sekolahnya …

Pak Dedi, tolong sampaikan kepada para Kepala Sekolah agar menyapa semua guru dan karyawan di sekolahnya …

Ternyata disapa pimpinan itu jadi sesuatu yang besar nilainya buat seseorang … mungkin karena terlalu sibuk, sehingga kepala sekolah sering tenggelam di ruang kerjanya … karena sering tak cukup waktu untuk keluar ruang didera kerja yang tak henti … sebenarnya kepala sekolah juga sangat senang bisa bercengkrama dengan semua guru dan karyawan …


2 Comments

dia tak tahu bahwa kelinci itu menyenangkan dan asik buat dibelai dan diajak main

seorang bayi menangis tersedu melihat kelinci … dia nangis histeris berlari kesana kemari … dia tak tahu bahwa kelinci itu menyenangkan dan asik buat dibelai dan diajak main.

ada guru yang histeris, omong sana omong sini … tersedu alirkan air yang sulit mengalir bertemu kepala sekolah baru … dia tak tahu bahwa kepala sekolah itu menyenangkan dan asik buat dibelai dan diajak main.

setelah bicara langsung dengan kepala sekolah barunya mereka tenang, senyum dan kembali mendidik anak negeri dengan serius.

rejeki, jodoh dan umur Allah yang atur, bukan kepala sekolah …. berbuat baik aja, sisanya Dia yang atur, love u friends.


13 Comments

Kepala Sekolah, Guru dan Orang tua jadi pesakitan, siapa kini yang mendidik kejujuran?

SIAPA BERTANGGUNG JAWAB?

dua guru dan kepala sekolah SD Gadel II surabaya jadi pesakitan
mereka diberi sangsi karena anjurkan nyontek massal
orang tua peserta didik yang jujur juga jadi pesakitan
diusir oleh penduduk sekitar rumahnya
hingga pindah ke Gresik ketakutan

mungkin, guru itu cuma jalankan tugas kepala sekolah
kepala sekolah jalankan tugas kepala bidang
kepala bidang jalankan tugas kepala dinas
kepala dinas jalankan tugas kepala daerah
kepala daerah jalankan tugas …
guru dan kepala sekolah cuma jadi alat

setelah kejadian
orang tua jujur itu kini jadi alat …
dia digadang kesana-kemari buat berbagai kepentingan

Kepala Sekolah, Guru dan Orang tua jadi pesakitan
kejujuran yang mahal dan makin terlupakan
di negeri yang gemah ripah lohjinawi
dimana tongkat susu dan batu jadi tanaman

Siapa kini yang mendidik kejujuran?


4 Comments

Kepala Sekolah & Peserta Didik NGOBROL di BLOG

ULLAN

Ullan Wulandari Asril, menulis ini di Blognya:

Gue kepilih jadi spoke person dan pergi ke jerman di bulan juni.
Agak speechless pas denger nama gue dipanggil.
Dan gue gak nyangka abis, hahha.

Gue bakal promote tentang programnya plan, anti bullying, pokoknya kasus-kasus hak anak gitu.
Deket banget program ini sama cita-cita gue,
Makasih Ya Allah.

Gue juga bakal nonton World Cup wanita di sana, main bola juga sama orang jerman.

Gue gak bakal sampai begini tanpa dukungan besar dari

Keluarga gue,
I love you the most deh

Sekolah,
Pak Marihot Hutapea dan Bu Nastiti yang udah berkorban banyak. Mobil ketabrak lah, urusan konsumsi lah. Udah sabar banget pokoknya.
Officials, Pak masna, sampai cedera gara-gara ngelatih kita, Ka Ade Hari yang paling sabar, Ka Teguh yang ngeselin,

Pak Dedi Dwitagama yang udah motivate gue macem-macem. You are the real motivator, sir.

Guru-guru lain yang udah mendukung, staff-staff sekolah, Pak Tuan, Pak Zaenal, Pak Sarono. Pak Edi, another counseling teacher yang juga udah nyupport dan ngedoain gue.

Miss Eka yang udah ngebangun fondasi gue lewat english debate.

Special thanks buat temen-temen tim sepak bola siswi SMK 36
Tanpa kalian gue gabakal bisa ngambil langkah besar ini, dan gue juga berjuang untuk kalian :)

Friends, Classmates, Schoolmates,
Yang udah ikut support gue kayak si Ali, si Umam, si Gofur, si Agung, The Girls, si vita yang juga anak tim sepakbola. Semuanya deh.

Plan Indonesia yang udah nge-provide acara ini.

Thank You Very Much ! ! !
Wish me luck !
Susah banyak yang membantu,
Pokoknya tararengkyu yaaa

Dan the last but the most special,

Thank you very much for our god, lord of the lord
Allah SWT

Saya menulis tentang peristiwa itu begini.

Kami saling bicara di blog …  menyenangkan sekali :)


4 Comments

Menikmati Ruang Kerja

nuansa putih dan coklat

nuansa putih dan coklat

Disinilah
hari-hari kerja Saya
menerima tamu
berkoordinasi dengan staf
rapat kecil dan besar
merancang kegiatan
selesaikan kerja

Lukisan nuansa Bali
menggambarkan anak kecil
yang polos memegang topeng
itu mencerminkan misi kami
memberi warna pada anak didik
dengan kreasi, tapi tak perlu bertopeng :D
antarkan anak didik
meraih hari depan lebih baik

4 Nopember 2008

4 Nopember 2008

Ada dua ukiran
kenang-kenangan
dari Keluarga besar
SMK Negeri 1 Gianyar Bali
yang berkunjung ke SMK Negeri 3 Jakarta
beberapa tahun lalu

di meja kerja itu
Saya menerima telepon,
mencari berita, kabarkan berita,
dan terima teman atau siapa saja
yang datang tak banyak
di sudut meja ada radio,
dengan speaker di atas lemari buku
lantunkan beraneka musik
seimbangkan otak kiri kanan
sepanjang hari

Selamat sore Pembaca, bagaimana ruang kerja Anda?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 16,339 other followers