@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan


Leave a comment

Saatnya akan tiba Kawan terdekat memakanmu Dan kalian saling menusuk Hingga punah satu gelanggang

Hai para pejabat yang korupsi,
Hai para politikus yang rakus,
Hara para pengusaha yang ingin kaya halalkan sgala cara,
Teruskan kelakuan bejatmu yang seolah resmi tak langgar hukum

Nikmati saja persengkongkolan jahat yg kau bilang nikmat
Hingga datang laknat mendekat
Mungkin karena rakyat lebih banyak yang bodoh
Seolah tak tahu kebusukan kamu

Saatnya akan tiba
Kawan terdekat memakanmu
Dan kalian saling menusuk
Hingga punah satu gelanggang

Karena alam terbiasa kerja sendiri
Memisahkan racun dengan madu
Memilah batu dan air
Mengurai bau busuk dan wangi


3 Comments

guru dan WS RENDRA

puisi senjatanya

puisi senjatanya

Orang-orang harus dibangunkan
Aku bernyanyi menjadi saksi

Dua baris syair yang ditulis Rendra, menunjukkan betapa beliau ingin rakyat negeri ini tak tidur karena bodoh, malas atau lainnya. Tak beda yang dilakukan Guru SMK, agar peserta didik tak bodoh, malas atau lainnya sehigga bisa menembus dunia kerja dan hidup sejahtera.

Saya sangat beruntung beberapa kali menikmati penampilannya di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, kepiawaiannya mengolah kata, mood penonton dan tata suara, membuat panggung Graha Bhakti Budaya TIM yang didekor sangat minimalis menjadi sangat berwibawa … arena “Sang Burung Merak” yang manggung membius saya dan ratusan peminat sastra.

Kemarin malam Burung Merak itu kembali ke “Sarang Keabadian”, meinggalkan nisbinya dunia yang tak pernah kekal, burung indah itu menuju ke kekelannya. Malam Jumat … waktu sangat bagus yang diharapkan orang-orang yang bertaqwa untuk kembali pulang kehadiratNya … Rendra mendapatkan waktu untuk VVIP, Very Very Important People menghadap Penciptanya.

Mendengar rakyat
Kedepankan kepentingan rakyat
Melestarikan budaya
Berani berfikir beda
Menyuarakan yang berbeda
Tak bungkam walau ditekan
Konsisten pada pendirian
Adalah sebagain yang akan selalu dikenang

Selamat jalan Bung
Semoga Allah melapangkan jalammu
Terbanglah Burung Merakku

Selamat pagi pembaca, masih tak peduli dengan kuaitas anak bangsa?, apa yang Anda lakukan buat mereka?


Leave a comment

PUISI Agus R. Sarjono

SAJAK PALSU

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hokum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu. Sebagian
menjadi guru, ilmuwan dan seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakat pun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu


2 Comments

Kangen PUISI

Tiba-tiba Saya kangen saat-saat sering baca puisi dan melatih puisi … karya TOTO SUDARTO BACHTIAR

GADIS PEMINTA-MINTA

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dam kemayaan riang

Duniamu yang lebih tinggi dari menara ketedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kauhafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk membagi dukaku

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda


6 Comments

ROKOK jadi TUHAN

Puisi yang diposting dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei 2008

TUHAN SEMBILAN SENTI

Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara- perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang
yang tak merokok,

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 16,379 other followers