@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan


Leave a comment

Karena anak sekolah akrab terbiasa berteman Mereka bertemu bergembira Karena dunia itu satu Kita harus bersatu

Lihat tulisan di balik jaket itu
Dunia cuam satu
Kenapa kita tak bersatu

Kalau cuma berbeda sekolah
Berbeda nomor route bis
Kenapa saling ejek di halte
Saling teriak di pinggir jalan
Saling ejek di medi sosial
Saling lempar batu
Saling tunjukan senjata tajam
Kenapa harus berkelahi
Kenapa saling bunuh

Ada piket & satpam di sekolah
Seharusnya bisa tahu dimana murid sembunyikan senjata tajam
Ada wali kelas dan guru pembina siawa
Seharusnya bisa tahu murid yang nakal & suka tawuran
Ada SATPOL PP di setiap Kelurahan
Seharusnya tahu ada gejala tawuran
Ad POS POLISI di setiap Kecamatan
Seharusnya ada intel yang tahu akan ada tawuran

Sebelum terjadi anak-anak sekolah bisa digiring segera naik angkutan pulang
Jika sudah diingatkan masih melakukan tawuran itu kriminal
Tangkap saja dan di proses karenabawa senjatatajam
Dan mengganggu ketertiban umum
Segera buatkan BAP, ditahan & diadili
Berikan ganjaran hukum sesuai pelanggaran

Sekolah harus membuat peraturan tata tertib
Yang isinya jika murid terlibat tawuran, tertangkap polisi apalagi membunuh
Langsung dikeluarkan dari sekolah
Murid dan orangtua murid menandatangani di atas materai
Saat penerimaan murid baru hal itu disepakati
Jika ada murid yang melanggar aturan, terapkan dengan tegas
Maka sekolah bisa fokus mendidik tak diganggu masalah tawuran, dsb

Jika ada murid yang terlibat tawuran
Bahkan pernah tertangkap polisi tapi tak diproses hukum
Sekolah tak memberi sangsi sesuai aturan tata tertib
Maka murid itu akan mempengaruhi teman-temannya
Untuk melakukan hal yang sama
Berani melawan orang tua
Berani melawan guru
Berani melawan sekolah
Berani melawan polisi
Berani melawan anak sekolah lain
Berani bawa senjata tajam
Berani membunuh anak sekolah lain

Tawuran bisa dihapus
Dengan aturan yang bagus dan konsisten
Anak-anak yang suka tempur terus
Diberi kesempatan bertarung lewat ekskul beladiri, olahraga, seni, dsb
Atau daripada lari-larian di jalan
Adakan lomba balap lari antar sekolah di stadion atau di monas
Adakan berbagai lomba dengan hadiah yang menarik
Salurkan beragam bakat & minat murid secara teratur
Yang suka perang bisa diadu tanding olahraga pinball di pinggir kota
Mereka bisa saling tembak dan adu strategi seperti tentara

Dinas Pendidikan dan Pemerintah Daerah harus memfasilitasi itu
Jika masih ada sekolah yang melakukan tawuran
Tutup saja, tak boleh terima murid baru tahun depan
Hal ini sudah dilakukan di Purwakarta Jawa Barat
Agar sekolah serius mendidik murid-muridnya

Betapa nyaman lalu lintas Jakarta
Walau panas, macet dan berdebu
Tak ada rasa was-was kena lempar batu
Tak ada khawatir anak sekolah terbunuh
Karena anak sekolah akrab terbiasa berteman
Mereka bertemu bergembira
Karena dunia itu satu
Kita harus bersatu


2 Comments

Tawuran pelajar, bikin sesama rakyat berkelahi

20140613-145618.jpg
Anak salah
Orang tua lengah
Sekolah kalah
Polisi lelah
Dinas Pendidikan tak tergugah
Pemda terengah
Kemendikbud dimana entah
Warga marah

Khawatir harta yang sedikit rusak
Atau langganan lari terdesak
Takut batu & senjata tajam berserak
Akhirnya warga mengeroyok anak sekolah yang terpojok
Agar tak lagi tawuran di lokasi warga
Mereka marah karena jemu dan lelah melihat anak sekolah yang salah arah


Leave a comment

kamu adalah sesuai yang kamu bawa

20140606-115248.jpg
anak sekolah atau mahasiswa yang siapkan barang-barang di atas menyambut hari jumat, bisa dipastikan dia adalah orang baik yang membawa barang-barang baik untuk berbuat baik, memberi kebaikan buat manusia dan alam semesta.

Jika anak sekolah menyiapkan celurit, pisau belati, roda gir atau benda-benda lain untuk dibawa ke sekolah, bersepakat dengan teman basis atau jalur pergi/pulang yang sama. Dia sedang mempercepat kematiannya.


6 Comments

Video mesum, ekskul dicurigai, … , tawuran bertambah, ada yang mati lagi?

TAK BOLEH LAGI?

TAK BOLEH LAGI?

Kejadian anak SMP membuat video mesum di ruang kelas disikapi beragam, diantaranya dengan melarang sekolah berada di sekolah setelah jam pelajaran usai. Pernahkan Anda amati lingkungan tempat tinggal anak-anak Jakarta? Mereka hampir tak memiliki ruang terbuka buat bermain, rumahnya kecil, di dalam gang, ruangan sangat terbatas, sering tidur berhimpit jika malam … sulit sekali mencari tempat bermain … tak ada lapangan di sekitar rumah, hampir semua berubah jadi bangunan tepat tinggal atau ruang usaha.

Saya khawatir, larangan berada di sekolah setelah jam pelajaran usai membuat murid enggan melakukan kegiatan ekskul karena rasa dicurigai oleh para guru … ini berbahaya: mereka akan bertebaran di jalan dan tempat-tempat umum lainnya … tawuran bakal makin banyak, karena mereka bertemu di jalan .. semoga kekhawatiran saya tak terjadi, bagaimana menurut Anda?


8 Comments

Percakapan Guru sikapi TAWURAN

20131018-142212.jpg

Merespon tawuran hungga menelan korban, dimana salah satu pelakunya pelajar kelas tiga sebuah sekolah menengah:

Guru 1: murid itu sudah dua kali ketangkep polisi karena tawuran, membajak bis … seharusnya murid itu sudah dikeluarkan dari sekolah karena tidak ada motivasi belajar… dia merasa jumawa karena sekolah tak berani mengeluarkan diriya, sehingga kenakalannya semakin gila.

Jika di keluarkan, mungkin dia sudah bekerja mencari uang untuk menghidupi diri sendiri dan makin banyak pengalaman di masyarakat, dalam kondisi tak berseragam niat untuk tawuran dan anarki jadi tak ada karena resikonya akan ditanggung sendiri.

Guru 2: guru tak boleh mengeluarkan anak murid, sekolah harus berusaha membentuk perilaku yang baik … Berbagai upaya harus dilakukan untuk merubah anak yang nakal menjadi baik.

Guru 3: bagaimana jika dikeluarkan, murid itu pindah sekolah, dan bersama teman-teman di sekolah barunya mengancam murid-murid sekolah terdahulu, sehingga tawuran terus terjadi.

Guru 4: saya sih tak peduli apa yg mereka lakukan di luar, yang penting saat saya mengajardi kelasnya mereka baik-baik aja

Guru 5: kenapa kalian sibuk-sibuk urusin anak murid, sementara ayah ibu yang melahirkannya tak peduli dengan kelakuan anaknya, sebagai guru yang penting kita masuk kelas saat jam mengajar, keluar setelah selesai, kelakuan atau moral anak itu urusan orang tuanya.

Guru 6: waduuuh … Saya harus bersikap bagaimana?

Sementara di ruang kelas, di tempat nongkrong anak-anak sekolah, mereka terus merancang strategi menghajar pelajar sekolah lain, persiapkan senjata tajam, atur strategi kelompok, jadwal tanggal yang bisajadi momentum berita di media … dan para orang tua makin takut, was-was setiap melepas anaknya ke sekolah, apakah bakal mati jadi korban tawuran hari ini?

Jika anda sebagai guru? Bagaimana sikap anda?


Leave a comment

Paul Mc Cartney sudah ingatkan tentang tawuran th 1963, hari gini masih aja ada

Lagu We Can Work It Out yang diciptakan Paul Mc Cartney anggota The Beatles pada tahun 1963, tetap saja masih hangat topiknya … kita masih aja sering rewel dan berkelahi, tawuran dengan sesama … padahal, waktu terlslu singkat buat itu … berbuat baik ja yuuu, happy deh.

Hidup ini sangat pendek,
dan ada waktu untuk rewel dan berkelahi, teman saya.
Saya selalu berpikir bahwa itu adalah kejahatan

Syair lengkap lagu yang berjudl  Can Work It Out adalah sebagai berikut:

Try to see it my way,
Do I have to keep on talking till I can’t go on?
While you see it your way,
Run the risk of knowing that our love may soon be gone.

Chorus:

We can work it out,
We can work it out.

Verse #2
Think of what you’re saying.
You can get it wrong and still you think that it’s all right.
Think of what I’m saying,
We can work it out and get it straight, or say good night.

Chorus:
We can work it out,
We can work it out.

Bridge:
Life is very short, and there’s no time
For fussing and fighting, my friend.
I have always thought that it’s a crime,
So I will ask you once again.

Verse #3
Try to see it my way,
Only time will tell if I am right or I am wrong.
While you see it your way
There’s a chance that we might fall apart before too long.

Chorus:
We can work it out,
We can work it out.

Bridge:
Life is very short, and there’s no time
For fussing and fighting, my friend.
I have always thought that it’s a crime,
So I will ask you once again.

Verse #4
Try to see it my way,
Only time will tell if I am right or I am wrong.
While you see it your way
There’s a chance that we might fall apart before too long.

Chorus:
We can work it out,
We can work it out.


Leave a comment

Membina satu murid rusak atau delapan ratus murid baik?

ILLUSTRASI

Seorang pembaca blog saya berkomentar pada tulisan saya seperti ini:

Jangan dibinasakan, ehmmm, pernah nonton GTO (great teacher onizuka, lagi-lagi terinspirasi komik), ehm, seadnainya murid2 seperti itu bisa di binna, saya sendiri belom ada ide sih, tapi sepertinya harus ada yang bisa sabaaar banget dan kasih kepercayaan, ngayomi, special kali yah gurunya. heheheheh
*maap ngawur

Saya menjawabnya begini:

Seorang murid sudah dibina melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

- Konseling individu 10 kali dengan wali kelas selama satu semester,

- Dipanggil orang tuanya 3 kali oleh wali kelas dan konseling bersama murid dan ortu,

- 3 kali konseling individu oleh Guru BK dan 3 kali konseling bersama orang tuanya,

- 1 kali konseling individu dan konseling bersama orang tua dengan Tim Kesiswaan,

Jumlah totalnya 21 kali pembinaan … anak itu masih gemar membawa senjata tajam dan tawuran … sementara berbagai pilihan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah tak menarik minatnya, tawaran bikin kegiatan ekskul yang baru tak diambilnya …

Jika satu siswa diurus menggerus energi, delapan ratus lebih siswa yang baik menunggu untuk disentuh, dibina, disapa dan diberikan apresiasi atas kebaikan dan komitmen baiknya agar mereka lebih cepat mencapai target-target hidupnya buat jadi orang yang lebih baik dan bermanfaat buat sesama.

seperti yg anda tulis di akhir komment … mungkin anda ngawur (saya maafkan) karena anda tak mengalami langsung situasinya.

Pada tulisan lain beliau juga berkomentar, begini:

Sedihnya, hal yang sia-sia berujung suram. semoga yang lain gak ikutan begitu

Saya menjawab ini:

mungkin jika “dia” dibinasakan lebih awal dan tidak berada ditempat itu … kemudian dia memilih sekolah yang lebih sesuai dengan minatnya, barangkali “dia” lebih serius sekolah dan tak berniat bawa senjata apalagi membunuh … atau jika sudah tak berminat belajar atau sekolah, dia bisa bisnis atau jadi pengusaha yang kaya sejak muda dan bisa bersenang-senang dengan hasil kerjanya tanpa lelah lari-larian di jalan, bikin repot guru, sekolah, Dinas Pendidikan, PEMDA, Polisi, hingga membunuh atau dibunuh … terima kasih
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 15,477 other followers