Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan


Leave a comment

Percakapan orang lapar

lapar-dan-berpuasa

A: eh, paspormu masih hidup?
B: wah enak tuh nasgor pagi-pagi
A: wah, budeg trus lapar jadi gawat deh
B: sayur lodeh juga gapapa
A: anjaaas, makanan melulu di otakmu
B: otak-otak juga mauuu
A: wah otaknya udah rusak parah
B: nah, setelah makan es blewah bikin seger
A: cairan otaknya udah pekat kali ya?
B: alpukat juga saya doyan
A: minta ditimpuk kali ni orang
B: kamu tahu aja kalo saya suka kerupuk
A: sue banget dah
B: eh, ikan cue itu kalo ditumis pedes pake cabe ijo enak tauuu
A: kampret dasar
B: kamu tahu orang yang bisa masak kampret?
A: tewas dah
B: yawdah, teh panas saya juga doyan


2 Comments

Guru Desa eksis mendunia, Guru Kota takut dipenjara

Seorang Guru honor di sebuah sekolah dasar di kaki gunung yang berjarak hampir seribu kilometer dari ibukota negeri, menulis cerita tentang sekolahnya, tentang kegiatannya, tentang anak murid-muridnya, tentang lingkungan tempat tinggalnya, beliau juga mendokumentasikan pelajaran, soal-soal ulangan, ujian dan foto-foto serta video yang ingin dikenangnya di blog pribadinya.

Dia tak mengeluh saat akses internet sedang berhenti, disimpannya bahan tulisan untuk posting blognya, dan saat mendapat akses internet yang bagus guru itu memposting tulisannya sehingga guru di pinggir gunung itu dikenal oleh banyak orang seantero negeri.

Melalui mesin pencari google, guru-guru seluruh negeri bahkan yang berada di luar negeri mencari materi belajar, soal-soal, dan hal-hal lain untuk proses belajar di Sekolah Dasar. Guru pemilik blog yang tak berbayar jadi sering diundang ke berbagai forum di daerah lain hingga ke ibukota negeri dan kerap mendapat kiriman tiket pesawat dan fasilitas akomodasi di hotel berbintang, sebuah anugerah luar biasa untuk seorang guru honor di daerah terpencil. Dia menjadi narasumber pada berbagai kegiatan seminar dan pelatihan di berbagai kota di negerinya. Guru itu juga mendorong murid-murid SD nya untuk memanfaatkan teknologi informasi memberitakan kegiatan di sekolahnya.

sd-jambekumbu

Murid SDN Jambekumbu 01

Seorang guru di ibukota negeri berpenghasilan belasan juta rupiah sebulan, tak memiliki blog, tak berani menuliskan sesuatu karena takut dipenjara, dia senang berselancar membaca berbagai informasi, dia seperti berkubang di lobang yang sama puluhan tahun dan semakin tenggelam, dilupakan murid-muridnya, tak dikenal teman guru sekecamatan, apalagi dicari oleh guru di kota lain, keikutsertaannya dalam seminar-seminar atau pelatihan sebagai peserta atas undangan dinas pendidikan di kota dan profinsinya.

Betapa sia-sia fasilitas di sekolah guru yang terletak di ibukota negeri dan akses internet yang berlimpah … bahkan nama guru ibukota itu tak terlacak di mesin pencari google, nama sekolahnya pun hanya sedikit jejaknya di google.

Bagaimana dengan anda dan guru-guru di sekolah anda?


Leave a comment

Teacher Writing Camp 6 di Kampus UNJ — Labschool Jakarta

Kepada Yth Ibu dan bapak guru. Di – Tempat Terimakasih sudah mendaftar dalam acara Teacher Writing Camp Batch 6, sebuah acara yang akan mempertemukan para guru dari seluruh Indonesia yang ingin mengembangkan potensinya menjadi guru yang menginspirasi, menggerkan dan meneladani melalui tulisan-tulisan kreatifnya. Kegiatan ini rencana akan dilaksankan di Wisma UNJ Jakarta pada tanggal 29-31 […]

via Teacher Writing Camp 6 di Kampus UNJ — Labschool Jakarta


Leave a comment

Pagi ini saya minum teh tawar panas, kalo kamu?

Saya mencoba memahami fikiran orang-orang yang membeli minuman yang tak jelas kandungannya, menelan cairan yang rasanya tak jelas, dan mati dengan cara yang tak jelas juga. Kenapa mereka mau minum sesuatu dengan alasan solidaritas, kekompakan, pertemanan atau apapun yang berujung pada kematian.

Apakah di dalam kubur mereka tetap bisa bertemu dan membeli minuman oplosan lagi buat dinikmati bersama hingga mati kedua kalinya?

Pagi ini saya minum teh tawar panas, kalo kamu?


Leave a comment

Selamat hari Guru, masih percaya peribahasa?

“Gajah mati meninggalkan gading,
Harimau mati meninggalkan belang,
Manusia mati meninggalkan nama”

Itu peribahasa lama yang hampir semua guru tahu,
tapi guru sering lupa menerapkan dalam hidupnya,
apa buktinya?

jika ada murid di sekolah yang tak mengenal seorang guru
maka guru itu dipastikan tak menerapkan peribahasa di atas,
dia belum mati saja murid tak mengenalnya, gimana jika dia mati?

Sekarang, orang-orang mencari sesuatu dan belanja lewat internet,
mencari route jalan ke suatu lokasi,
membeli tiket pesawat, memesan kamar hotel,
membeli tiket pertunjukkan, mencari ojek atau mobil sewaan,
semua bisa dicari di internet hanya dengan telepon genggam.

Jika anda seorang guru, coba cari nama anda di internet lewat google
gunakan telepon genggam anda, atau minta tolong murid anda,
ada berapa banyak informasi diri anda di internet?
kalau tak ada, artinya tak ada gading atau belang,
apalagi nama yang anda tinggalkan
anda bukan pahlawan, tanda jasapun tak ada,
hasil karya tak terlihat, nama dan foto anda tak berjejak di internet

bagaimana agar diri anda eksis di google?
berikan tugas murid-murid anda untuk membuat makalah
jangan lagi dicetak, unggah di blog murid
topik belajar atau setiap kompetensi bisa jadi bahan tugas
berupa essay foto atau kumpulan foto yang bercerita, unggah di instagram
bisa juga dibuat video dan diunggah ke youtube

judul tugas yang diunggah mencantumkan nama guru dan sekolah,
misalnya: “TUGAS MATEMATIKA IBU AZIZA CANTIKA SMKN 3 JAKARTA”
jika setiap semester anda mengajar dua ratus murid,
dan memberikan tiga tugas memanfaatkan teknologi informasi,
maka 1.200 nama anda dan sekolah anda dipromosikan di internet

Video di atas adalah salah satu contoh model penugasan kepada murid yang sudah bisa dikerjakan oleh murid sekolah dasar, karena banyak aplikasi android atau software gratis yang mudah penggunaanya untuk mengedit video, sudah pernah search nama anda di google?