Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan


Leave a comment

Guru Vlogger: Mendokumentasikan Keasyikan Membaguskan Anak Negeri

Video di atas adalah video pertama di channel youtube saya yang saya upload 31 Oktober 2007, mendokumentasikan kegiatan training saya bersama BNN RI di Kantor Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang pesertanya perwakilan mahasiswa perguruan tinggi yang ada di Jakarta.

Rupanya sya mulai kacanduan ngevlog sejak saat itu, saya tak tahu apa namanya, yang penting saya cuma ingin mendokumentasikan berbagai kegiatan saya dan membagikan di youtube agar mereka yang ikut serta kegiatan saya bisa menikmati kenangan saat berjumpa dengan saya, waktu itu smartphone belum secanggih sekarang, dimana banyak aplikasi yang memudahkan semua orang mengedit video dan menggunggah di sosial media, instagaram pun belum ada saat itu.

Di bawah ini adalah video terakhir saya yang saya unggah kemarin 22 Juli 2017, merupakan video saya ke 1.129 yang tayang di channel saya.

Hampir semua video saya tak mengalami editing, saya rekam dan langsung saya unggah, apakah ini masuk kategori vlogging? apakah saya sudah termasuk vlogger? saya mah B ajaaaa (istilah anak sekarang) … yang penting saya mendokumentasikan aktifitas saya buat laporan kepada keluarga, sahabat dan kolega tentang apa yang sedang atau sudah saya kerjakan, termasuk mengucapkan terima kasih atas perkenan bekerjasama melakukan kebaikan untuk lebih membaguskan kehidupan, ada berapa video kamu di youtube?


Leave a comment

Rokok, Ganja dan Sabu: Sekolah seperti percuma berlalu

Screen Shot 2017-07-13 at 2.13.24 PM

Selamat pagi pengunjung setia blog saya, setelah habis lebaran negeri ini dihebohkan oleh penusukan ahli IT ITB di jalan tol dan keberhsilan Polisi menggagalkan penyelundupan satu ton sabu di Pantai Anyer.

Selamat buat Kepolisian RI yang berhasil mengagalkan penyelundupan satu ton sabu di Pantai Anyer Banten, hal ini merupakan rekor baru setelah hasil tangkapan 800 kg sabu beberapa tahun lalu. Melihat jumlah yang sedemikian luar biasa, bisa diartikan bahwa permintaan pasar di Indonesia sangat besar, kebutuhan pengguna sabu sangat banyak sehingga bandar narkoba yakin satu ton stok yang diimpor dari Cina melalui laut pasti akan habis dibeli oleh para pengedar berakhir di para pengguna. Sabu yang dalam bahasa kimianya disebut metamfetamin memiliki dampak begini:

EFEK-EFEK JANGKA PENDEK

  • Kehilangan nafsu makan
  • Peningkatan denyut jantung, tekanan darah dan suhu tubuh
  • Pupil mata yang membesar
  • Pola tidur yang terganggu
  • Rasa mual
  • Bersikap aneh, tidak terduga, terkadang bertindak keras atau kejam
  • Halusinasi, gembira yang berlebihan, sifat lekas marah
  • Panik dan psikosis
  • Dosis yang berlebihan dapat berakibat kejang-kejang dan kematian

EFEK-EFEK JANGKA PANJANG

  • Kerusakan permanen pada pembuluh darah di jantung dan di otak, tekanan darah tinggi, berakibat serangan jantung, stroke dan kematian
  • Kerusakan pada lever (hati), ginjal dan paru-paru
  • Kerusakan jaringan dalam hidung, bila dihirup
  • Masalah pernapasan bila dihisap seperti rokok
  • Penyakit-penyakit menular dan peradangan, bila disuntikkan
  • Kekurangan gizi, kehilangan berat badan
  • Kerusakan gigi yang parah
  • Disorientasi, apatis, kebingungan dan kelelahan
  • Ketergantungan psikologis yang besar
  • Psikosis
  • Depresi
  • Kerusakan otak mirip penyakit Alzheimer3, stroke dan epilepsi

1.paranoia: kecurigaan, ketidakpercayaan atau ketakutan kepada orang lain.
2.kardiovaskular: berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah.
3.penyakit Alzheimer: penyakit yang mempengaruhi orang-orang berusia lanjut yang diikuti dengan kehilangan ingatan. (Sumber: http://id.drugfreeworld.org/drugfacts/crystalmeth/the-deadly-effects-of-meth.html)

screen-shot-2017-07-13-at-2-21-08-pm.pngSaya jadi bertanya-tanya, seberapa banyak kah pengguna sabu di Indonesia?

Apakah cuma karena ingin dibilang hebat, mengikuti trend sehingga seseorang mau menggunakan sabu yang membuatnya kecanduan dan menimbulkan dampak buruk buat dirinya dan orang-orang yang ada disekitarnya.

Apakah orang tua tak memiliki kemampuan melindungi anaknya dari penyalahgunaan narkoba, atau karena para orang tua juga terbiasa merokok atau menyalahgunakan narkoba sehingga anak-anaknya dengan mudah meniru kelakuan orang tuanya?

Apakah sekolah telah gagal total mendidik muridnya sehingga tak memiliki daya tahan terhadap gempuran penyalahgunaan narkoba, apakah sekolah sedemikian tak peduli dengan kebiasaan muridnya yang merokok hingga menyalahgunakan narkoba?

Apakah pendidikan negeri ini tak mampu melahirkan para orang tua yang sadar terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba, sehingga membiasakan hidup sehat termasuk mendorong pembiasaan hidup sehat kepada anak-anaknya saat mereka berkeluarga.

Jumlah penduduk Indonesia yang sangat banyak dan kemampuan berfikir yang tak terbiasa positif, sadar akan bahaya dan peduli masa depan adalah pasar yang sangat potensial sehingga bandar narkoba mengimpor satu ton sabu untuk dipasarkan disini, karena yakin jutaan rakyat yang bodoh merasa jadi lebih hebat dan bermartabat jika menghisap sabu.

Saya jadi miris sering melihat anak berseragam sekolah putih biru (usia SMP) dengan wajah bangga menyulut rokok di depan warung pada pagi hari, pedagang warung rokok seolah tak peduli melihat anak kecil melakukan hal yang salah, orang tua anak itu apakah tak pernah tahu bahwa anaknya perokok, guru-guru di sekolah apakah tak mampu mendeteksi bahwa muridnya telah kecanduan rokok?

Pemerintah seolah tak peduli terhadap banyaknya perokok muda, apa karena menangkap penjual rokok atau menangkap pembeli rokok anak-anak adalah pelanggaran HAM? Apakah Pemerintah takut diprotes pejuang HAM yang akan membela pedagang rokok atau anak dibawah umur yang ditangkap? atau menjual rokok kepada anak-anak dan anak kecil membeli rokok dan merokok bukan pelanggaran hukum?

Jika mebghisap asap rokok sudah jadi biasa, menghisap ganja adalah kemajuan kecil yang sangat mudah dijalani pecandu, dan kalau sidah jadi pecandu ganja maka menghisap sabu jadi sangat mudah, mungkin karena itu pecandu sabu sangat banyak di negeri ini dan bandar yakin mengimpor satu ton sabu bakal segera laku, habis terjual dengan untung yang sangat bombastis?

Menurut anda?


8 Comments

Mengganti nama

Kita sering mendengar seseorang memiliki nama panggilan yang tak sama dengan nama sebenarnya dihubungkan denga pekerjaan atau gelar, seperti;

Pak RT,
Bu RW,
Pak Lurah,
Bu Kades,
Pak Camat,
Bu Haji,
Pak Direktur,
bu Dirjen,
Pak Menteri,
Bu Guru,
Pak Kepsek,
Bu Kadis,
Pak Dosen,
Bu Propesor,
Pak Polisi,
Bu Tentara,
Pak Gojek,
Bu Uber,
Pak Hakim,
Bu Jaksa,
Pak Gubernur,
Bu Presiden,
Pak Pencuri,
Bu Selingkuh,
Pak Koruptor,
Bu Pemalak,
Pak Perokok,
Bu Pecandu,
Pak Penipu,
Bu Tersangka,
Pak Terpidana,
Bu Disainer,
Pak Pembalap,
Bu Petani,
Pak Peternak,
….

..
di belahan negeri lain cara memanggilnya begini; Pak Direktur Robi atau Bu Presiden Margareth, kamu pernah dipanggil apa?


2 Comments

Lebarannya penerima KJP

Jagaseteru adalah ibukota negeri paman besut yang waktu kampanye calon gubernurnya berjanji akan menggratiskan biaya sekolah dan memberi bantuan biaya pendidikan lewat program KARTU JAGASETERU PINTAR (KJP), dibawah ini ada percakapan murid dengan petugas tata usaha di satu SMK Negeri;

Murid (M): “Pak, kenapa dana KJP saya tidak turun sampai sekarang?”

Petugas tata usaha (P): “Apakah nama kamu ada dalam daftar penerima KJP?”

M: “Ada Pak, kan waktu SMP saya dapat, jadi berlanjut di SMK dapat lagi”

P: “Rencana kamu uangnya buat apa?”

M: “Lumayan Pak, buat nambahin jajan saat pulang kampung nanti”

P: “Kemana kaamu puulang kampungnyaa? Naik apa?”

M: “Ke kota Pandang di Sumitra, carter mobil”

P: “Wah, hebat kamu orang berpunya?”

M: “Di Pandang orang tua saya punya kos-kosan, karena rumah orang tua saya dekat kampus perguruan tinggi”

P: “Ternyaata kamu orang mampu,  kenapa mau terima KJP?

M: “Kan dikaasih Pak, lumayan laaah. Sudah ya Pak, gojek saya sudah datang”

 


Kamu dapat KJP, buat apa kamu gunakan uangnya?


2 Comments

Antara berita dan yang nyata

Beritanya utang kita makin banyak, yang nyata pemerintah makin sering menggratiskan aneka rupa seperti;
– mudik gratis
– melahirkan gratis
– berobat gratis
– sekolah gratis
– pajak gratis
– tol gratis

Semua yang gratis itu ada biayanya, apakah utang negara digunakan untuk menggratiskan banyak hal? Membangun banyak jalan? kapan lunasnya?


Leave a comment

Pendidikan yang mendorong berprestasi di Jakarta

“SLTA di Jakarta mencari murid SLTP yang berbakat dan punya prestasi dalam berbagai bidang, ditawarkan masuk ke sekolahnya dengan fasilitas seleksi khusus, beasiswa dan sponsor ikut kompetisi di dalam maupun luar negeri. Murid-murid baru didata prestasi dan hobinya, kemudian dikumpulkan dalam satu kegiatan ekskul yang dilatih dua kali seminggu lalu disertakan dalam berbagai kompetisi di dalam maupun di luar negeri

Pada peringatan hari-hari besar tertentu, misalnya ulang tahun sekolah, hari olah raga nasional, dsb diadakan kompetisi berbagai cabang olahraga, seni, dsb yang diikuti oleh murid-murid SLTP bertujuan untuk mencati bakat-bakat baru calon murid di SLTA itu.

Setiap selesai belajar hari senin hingga jumat sekolah ramai dengan kegiatan latihan berbagai unit kegiatan, bahkan pada hari sabtu dan minggu pun anak-anak serius berlatih terutama ketika menghadapi kompetisi atau pementasan. Menginap di sekolah jadi hal yang biasa, karena sekolah menyediakan mess dan fasilitas kamar mandi yang layak.

Dalam empat hingga lima tahun ke depan muncul atlit-atlit nasional dari sekolah-sekolah negeri dan jago lukis, nari, musik, hiphop, stand up komedi, fotografer, dsb, yang masih berseragam putih biru atau abu-abu. Ulang tahun SLTA jadi ajang pementasan semua kegiatan ekskul di sekolah dan lomba-lomba mengundang aktifis ekskul adik-adiknya yang belajar di SLTP untuk diajak masuk ke sekolahnya dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Anak-anak yang tak punya hobi olahraga atau seni didorong untuk aktif di berbagai kegiatan seperti Karya ilmiah remaja, ROHIS (mereka diikutkan lomba MTQ & MHQ hingga ke tingkat dunia), main layangan, main yoyo dan diikutkan kompetisi hingga tingkat dunia atau pelajari soal ujian nasional untuk dapat nilai terbaik se Indonesia, murid yang hobi masak dipersiapkan ikut kontes master chef di dalam dan luar negeri, yang hobi bikin vlog didorong untuk produktif upload vlog di channel youtubenya dan ikut kompetisi di dalam dan luar negeri, murid yang hobi nonton mendapat pelatihan dari ELI SUGIGI untuk belajar jadi koordinator penonton dan jadi profesional di bidangnya.

JADI PROFESIONAL DI BIDANG YANG DISUKAI adalah kata kunci konsep pendidikan di Jakarta, karena semua yang dibutuhkan untuk jadi profesional dalam bidang apapun tersedia di Jakarta, dan anak-anak muda Jakarta jadi kreatif dan punya peran sebagai subjek kehidupan Jakarta, produktif berkarya tak hanya jadi penonton atau pengangguran.”

 

Nurdin: “Maaf Pak, kita sudah sampai di Bandara.”

Oh, maaf pembaca, rupanya saya tertidur dan bermimpi di perjalanan menuju bandara setelah membaca berita di koran tentang tawuran pelajar di saat ulang tahun sekolahnya yang menimbulkan korban jiwa.