Pak Kwarta, Guru IT KITA

dulu aku pernah bercita-cita jadi seorang arsitek
kini aku jadi seorang guru, sekaligus seorang pegawai negeri sipil
aku tak pernah bercita-cita menjadi guru, tetapi aku tak kan pernah menyesali…

Itulah penggalan kalimat yang ditulis Kwarta Adimphrana dalam situs blog-nya. Pak Kwarta memang seorang guru di SMK Negeri 4 Malang. Tapi ia bukan guru biasa.

Ia adalah guru dalam arti sebenarnya, yang memberi pelajaran, memberi teladan, dan memberi bekal agar anak didiknya bisa mengarungi kehidupan dengan lebih baik. Dan bekal utama yang diberikan pada para muridnya adalah pengetahuan tentang teknologi.

Minat Pak Kwarta terhadap teknologi terlihat dari aktivitasnya sehari-hari. Ia telah mewarnai kehidupan dan lingkungannya dengan berbagai sentuhan teknologi. Tengoklah dinding di ruang kepala sekolah SMK tempatnya mengajar. Di situ terpajang peta kota Malang beserta lokasi sekolah SMKN 4 dan bangunan-bangunan penting lain yang diambil dari Google Earth, bukti bahwa internet bukan barang asing di tempat ini.

Memasuki ruang kelas tempat Pak Kwarta mengajar, kita akan menemukan meja-meja dengan komputer di atasnya. Di muka kelas, ada proyektor untuk menampilkan bahan-bahan pelajaran dari layar komputer yang dipakai Pak Kwarta menjelaskan materi pelajaran. Pak Kwarta pula yang mengusahakan agar beberapa titik di SMKN 4 dilengkapi fasilitas Wi-Fi sehingga murid-murid bisa mengakses internet secara nirkabel.

Tidak berhenti sampai di situ, Pak Kwarta juga menularkan kegairahan teknologinya pada murid dan rekan-rekan guru lain. Para murid didorong untuk memiliki blog (web log – aplikasi web yang memuat secara periodik tulisan-tulisan pada sebuah webpage umum). Isinya terserah, boleh cerita curhat boleh puisi, boleh apapun, yang penting mereka menggunakan internet dan belajar menyusun journal.

Pak Kwarta memberikan pula Pekerjaan Rumah yang harus dikumpulkan melalui e-mail. Seringkali soalnya berbeda-beda, sehingga untuk mencari jawabannya, para murid harus menjelajahi dunia maya. Ini membuat mereka tidak asing lagi dengan internet, sekaligus membuka wawasan terhadap informasi yang tidak terbatas di dalamnya.

Kepada para guru rekannya, Pak Kwarta juga memperkenalkan teknologi secara perlahan-lahan. “Seringkali saya harus memperkenalkan lewat game, agar para guru tertarik mencoba, dan akhirnya terbiasa menggunakan mouse dan komputer,” ujarnya saat menerima KCM beberapa waktu lalu di Malang. “Baru setelah itu diperkenalkan dengan program-program dan aplikasi lain yang bisa membantu pekerjaan belajar mengajar.”

Arsitek di Almamaternya

Adapun Pak Kwarta telah menjadi guru di SMKN 4 sejak tahun 1991. Di sekolah tempat dia dahulu menjadi murid itu ia mengajar program studi Typesetting bidang studi Grafika (Percetakan). tahun 2000 ia dipercaya menangani program keahlian Teknologi Informasi karena belum ada guru yang berani pegang komputer, terutama karena kendala bahasa Inggris. Dalam perkembangan selanjutnya, Pak Kwarta ditunjuk menjadi anggota Tim Percepatan Internetisasi SMK se-Indonesia, dan makin kuat pula hasratnya untuk menggunakan teknologi dalam pengajaran di sekolah.

Saat menyusun kurikulum Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi SMK edisi 2004, Pak Kwarta mendapat bantuan dari Microsoft berupa materi kurikulum dan metode pembelajaran standar Microsoft yang berskala internasional. “Microsoft Indonesia telah banyak mendukung usaha kami, antara lain berwujud bantuan komputer, bantuan software, bantuan training untuk guru-guru SMK, serta konsultasi penyusunan materi kurikulum,” ujar Pak Kwarta.

Lewat program ‘Partners in Learning’ dari Microsoft Indonesia pula Pak Kwarta mengusahakan agar setiap guru dapat membuat materi pembelajaran dengan Microsoft Word, membuat daftar nilai dan evaluasi pemelajaran dengan Microsoft Excel, membuat media pemelajaran dengan Microsoft PowerPoint, menggali dan mengelola informasi dengan Internet Explorer, serta mengelola kelas dengan NetMeeting, Windows Media Player dan Messenger.

“Program Partners in Learning memang dirancang untuk menumbuhkan kreativitas para guru dan anak didik melalui fasilitas Teknologi Informasi. Dalam program ini kami harapkan akan muncul guru-guru dan murid yang kreatif dan pada akhirnya menciptakan sekolah yang inovatif seperti SMKN 4 Malang ini,” kata Ananta B. Gondomono, Academic Program Manager PT Microsoft Indonesia.

Dikatakan Ananta, Microsoft akan meneruskan program Partners in Learning di seluruh dunia untuk tahap kedua (yang akan dijalankan lima tahun mendatang). Ke depan, program ini akan memiliki 3 pilar program yaitu Innovative Teacher, Innovative Student, dan Innovative School.

“Dalam Innovative Teacher kami melanjutkan pelatihan dan alih pengetahuan kepada para guru dalam bentuk “train the trainee” bekerja sama dengan Depdiknas. Untuk pilar Innovative Student, Microsoft menawarkan seperangkat piranti lunak dengan harga hanya $3 jika ditempelkan pada program-program pemerintah untuk kepemilikan PC bagi siswa sekolah. Sedangkan pilar Innovative School adalah konsep yang ditawarkan Microsoft bagi sekolah masa depan. Saat ini konsep “School of the Future” sudah diterapkan di beberapa pilot project di beberapa negara, antara lain Singapura dan Finlandia,” lanjut Ananta.

Bersama Microsoft pula, lewat training ICT bagi guru Pak Kwarta berharap pada tahun 2008, 60% guru dapat bekerja dengan komputer, 25% dapat membuat modul pembelajaran berbasis multimedia, 10% dapat membuat media pembelajaran berbasis web di internet, dan sedikitnya 5% dapat mengelola sistem kelas jarak jauh berbasis ICT (multimedia, web, radio, televisi,).

Pak Kwarta percaya bahwa teknologi adalah kunci menuju masa depan lebih baik. Tak heran bila guru yang sempat menghadiri Microsoft Worldwide Innovative Teachers Forum 2006 di Philadelphia, AS ini sangat getol memperkenalkan teknologi pada murid-murid dan rekan sejawatnya. Tujuannya agar para siswa lebih siap bekerja dan agar standar pendidikan bisa ditingkatkan, tidak kalah dengan sekolah internasional.

Saat ini ia meminta setiap siswa yang melakukan Kerja Praktek agar memberi laporan kegiatan mereka lewat halaman weblog agar bisa dibaca rekan-rekannya. “Beberapa siswa kami yang melakukan Kerja Praktek di kantor Wapres bahkan membuat laporan jadwal kegiatan Pak JK sehari-hari, sekaligus menceritakan pengalaman mereka,” ujarnya bangga. “Dari situ kami pun dapat belajar berbagai hal. Jadi saya bisa menambah pengetahuan dari apa yang dilaporkan siswa.”

Kini Pak Kwarta boleh berbesar hati. Proyeknya di SMKN 4 mulai diikuti banyak sekolah di Malang. Ia pun diminta menjadi konsultan dalam proyek Malang Cyber City. Salah satu desain Malang Cyber City adalah sebagai sistem pemelajaran interaktif-atraktif berbasis teknologi informasi dan komunikasi serta media elektronik yang memungkinkan tenaga pendidik mengajar dan peserta didik belajar di mana pun dan kapan pun di Kota Malang.

Artinya Pak Kwarta telah ikut merancang pembangunan teknologi di Kota Malang. Ia telah menjadi arsitek bagi sistem pengajaran berbasis teknologi. Dan yang lebih penting, ia juga ikut serta menjadi arsitek bagi masa depan anak didiknya, untuk menjadi orang-orang yang memiliki kemampuan lebih di bidang teknologi. Pak Kwarta memang tidak perlu menyesal menjadi seorang guru. Karena dengan menjadi guru, ia juga menjadi arsitek.

Sumber: Kompas
Penulis: wisnu

8 thoughts on “Pak Kwarta, Guru IT KITA

  1. agusampurno

    Dari Pak Kwarta ini kita bisa belajar memperkenalkan ICT kepada kolega dengan cara yang perlahan namun bisa membuat mereka sadar bahwa ICT sangat membantu.

    Betul … thx for comming

    Like

    Reply
  2. harysmk3

    Teachers based technology ….barangkali itulah harapan pak Kwarta dan mudah2an menjadi inspirator bg semua guru di Indonesia
    thx Pak Hary … tambah terus posting anda

    Like

    Reply
  3. Saiful Adi

    Harapan kita bukan hanya tukul yang bisa kembali ke Labtop,

    Seharusnya setiap guru harus kembali ke Labtop sebelum dan setelah mengajar minimal kemabali Ke PC yang ada di sekolah atau di rumah or wherever dengan ada nya teknologi wireless.

    Sudah seharusnya kita sebagai guru bergelut dengan komputer tiap hari, kalo dulu tiap hari bermain kapur sekarang bermain keyboard, ya gak?

    Setuju Abi … gimana kunjungan Nur Wahid? … smg sukses, salam buat semua sahabat di 39

    Like

    Reply
  4. goeroekoe

    kwarta adimphrana?
    “dalam laut dapat diduga dalam hati siapa tahu?”

    beliau memang Te.O.Pe.Be.Ge.Te, konseptor yang patut diacungi jempol

    Puooool bgt … and top markotop :D, thx dah mampir, semoga sukses selalu

    Like

    Reply
  5. KKPI

    Dikit koreksi, pak Kwarta bukan penyusun kurikulum KKPI.

    Silakan dikonformasi pada Direktorat Dikmenjur mengenai nama-nama penyusunnya.

    Trm ksh … Sy angkat artikel dari Tempo, pls come again next time 😀

    Like

    Reply
  6. jardiknas pustekom

    Ah yang bener aja pak kwarta…. WAN anda fiktif, ICT Center anda Fiktif… Cisco Anda juga nggak tahu barang-barangnya di mana…???

    Anda selalu mengaku konseptor dan perintis… tapi sekaligus juga penggembos utama… dan OMDO … omong Doang….

    Yang memuji anda…. adalah yang tahu anda baru awal-awal aja…

    jika sudah tahu kamu pasti akan tersenyum…

    Tapi memang hebat namanya KWARTA…. sebagai perintis jardiknas pustekom Depdiknas… tapi sayangnya Jardiknas jadi sering mati… karena kalau ada masalah hanya di terima laporannya … dan sll janji akan di tindak lanjuti….

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.