Mentalitas Guru

deni-triwardana-kom2.jpgHambatan, keterbatasan ekonomi mungkin dialami banyak pendidik shg tak bisa peroleh kesempatan untuk belajar IT, dst …. Saya mencoba untuk memberi fasilitas dengan menyediakan PC untuk praktek dan kerja/belajar guru & karyawan, termasuk LAN dan akses internet free 24 jam, di ruang guru ada 7 unit PC ada juga lebih dari 10 notebook/laptop yang boleh dibawa pulang atau diserahkan kepada guru & tata usaha … tapi rupanya itu belum cukup, responnya kurang dari yang saya bayangkan.

Saya tak kendor dan patah semangat, berbagai hal terus sy upayakan, membuat tim web sekolah, tim blogger, ICT, Jardiknas, Pelatihan insidental, terakhir, sy alokasikan budget utk para blogger di APBS, dan masih ada strategi lain yg masih simpan utk akhir tahun ini.
Mungkin akibat pola instant pendidikan guru dan pengalaman selama ini … cukup banyak teman yang money oriented dalam bekerja … mereka menghitung jam mengajar, lembar koreksi, transport mengantar surat, dll. Spirit untuk eksplorasi jadi tak muncul, bekerja asal gugur kewajiban, miskin inovasi, dll.

Barangkali himpitan ekonomi keluarga juga punya andil, mungkin mereka selama ini kesulitan dalam pembiyaan hidup, termasuk menyekolahkan anak, dll … bagaimana buat beli computer atau akses internet? Karena tak ada keahlian lain yang bisa menghasilkan selain pekerjaannya sebagai guru.

Faktor lain yg saya amati adalah rasa kurang percaya diri mereka untuk berinteraksi dengan fihak lain, walaupun misalnya dengan dinas pendidikan, apalagi dengan DUDI … mungkin ini juga karena sistem belajar yang pilihan ganda, tak perlu paparan. Saya mendorong teman-teman untuk hadir di berbagai forum, atau saya undang pakar dari luar ke sekolah untuk tingkatkan rasa percaya diri.

Kemampuan berorganisasi juga sangat lemah pada banyak guru, barangkali mereka tak terbiasa berorganisasi … karena masa lalu tak ada organisasi lain di sekolah selain OSIS, di kampus cuma Senat atau Himpunan Mahasiswa Jurusan … tapi organisasi di sekolah jadi “Garing”, karena rambu yang seabrek … organisasi di luar tingkat SD, SLTP, SLTA hampir tak ada, kalaupun ada umurnya tak panjang, adakah organisasi pelajar yang langgeng bertahun-tahun, Pramuka? … cuma PBB dan tali temali, tak mengundang peserta … bahkan makin sepi kini … KNPI? ga menyentuh akar rumput, AMPI, dan masih banyak organisasi lain hanya jadi ajang untuk menggapai kedudukan dan penuh intrik (mungkin anda tahu seorang Wijanarko yang hari ini dikabarkan pingsan di pengadilan kasus Bulog – beliau tokoh organisasi pemuda masa lalu). HMI, GMNI an beberapa organisasi cukup bagus … hanya saja butuh energi sangat banyak untuk seoraang mahasiswa bisa lulus kuliah dengan IP tinggi sambil aktif di organisasi yang bagus itu.

Akibat jarang berorganisasi, guru jadi kurang memiliki kemampuan memimpin dan agak sulit juga untuk dipimpin … umumnya jadi asyikdengan dirinya sendiri … lihatlah PGRI, organisasi guru yang hampir seumur negeri ini lebih sering jadi kendaraan politik negara (zaman dulu), sekarang mengais di kancah politik daerah plus perjuangkan anggaran 20 %, tetapi mana upaya tingkatkan profesionalisme guru … PGRI sering menjadi kepanjangan fihak tertentu untuk mengumpulkan massa, termasuk kumpulkan uang … dampaknya para guru sendiri tak terlalu respek pada PGRI.

Oleh karena itu sy mendorong guru-guru untuk aktif di organisasi MGMP, Serikat, Ikatan … atau apa saja, sekolah kami sering menjadi tempat kegiatan MGMP level Kotamadya maupun Propinsi.

Saya terus berusaha untuk mendorong pengembangan kualitas pelayanan pendidikan, dimana kualitas pendidik dan tenaga kependidikan harus jadi fokus selain sarana, sistem dan lainnya…

Jayalah Indonesia

4 thoughts on “Mentalitas Guru

  1. Mungkin mereka merasa cukup dengan apa yang didapat selama ini. Kurang minat dan ketertarikan untuk lebih banyak belajar. Kenapa ya? Padahal sekolah tempat mereka mengajar sekolah yang sudah memberikan akses dan fasilitas yang mumpuni untuk bisa ke internet. Saya jadi ngiri deh.

    Mungkin karena mereka kurang terbiasa belajar sendiri, sejak kecil biasa menerima sesuatu dari orang lain … menunggu, sulit proaktif … ga perlu ngiri … datang aja dan nikmati hotspot di ruang kerja saya 😀

    Like

  2. panji

    terus semangat pak… disekolah saya aja guru2nya dah pada semangat semenjak jaringan di bikin…
    tadinya sih pas cuma jurusan saya doank yang belajar, mereka masih males, karena kalo mau browsing harus ke bengkel saya dulu. karna sekarang di ruang guru dah di pasang internet juga, jadi mereka kalo lagi ada waktu luang pada maen internet deh…

    semangat ya pak… cayo…..

    Bravo … tetap coyo, ha ha

    Like

  3. :), Btw Pak, saya bukan pengembang kurikulum IT lho. Jabatan terlalu berat itu, hehehe. Saya guru IT.

    No problemo, tak penting sebutannya … yg penting kiprahnya 😀

    Like

  4. willy 31

    memang ,itulah kondisinya pak.. tapi pernah ga bapak berfikir ada guru yang tadinya sangat inovatif teruss aktif berorganisasi kemasayarakatan.. cuma karena iklim sekolahnya kurang mendukung,,,eh tuh guru juga ngedrop semuanya pak…. banyak guru ditempat kami pak yang seperti ini…maksaih pak

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.