Kreatifitas Bpk. H. A. Sholeh Dimyati

dwitagamasholeh.jpgSiang ini kami jumpa di SMK Negeri 57 Jakarta … seperti biasanya beliau memeluk Saya, tempelkan pipi dengan sapaan lembut di telinga,

“Apa kabar ….?” kalimat pembuka saat itu

“Saya baik Pak Haji, semoga Bapak juga demikian” jawab Saya

“Tolong beri Saya resep agar tetap kreatif menjelang pensiun” Pak Haji Soleh lanjutkan ucapan

“Wah, seharusnya Saya yang banyak belajar dengan Pak Haji, …”, setelah itu kami berpisah, karena beliau ada acara lainnya.

Pak H. A. Sholeh Dimyati, beliau Kepala SMK Negeri 56 Jakarta, banyak sekali predikat yang pernah diraih dan tak sedikit prestasi yang dicapai, diantaranya; Guru Berprestasi, Kepala Sekolah Berprestasi, Penulis Buku Pendidikan Agama Islam yang digunakan oleh ribuan murid diberbagai Propinsi di Indonesia, tokoh MGMP Pend Agama Islam tingkat Nasional, Nara Sumber Depag, Balitbang Depdiknas, Dinas Dikementi, Dinas Dikdas, dan masih banyak lagi.

Dari penulisan buku, beliau dan timnya bisa menjalankan umroh, jarang sekali aktifitas Dinas Dikmenti yang tak libatkan beliau, … intinya, beliau enslikopedi berjalan … Saya sering menikmati kebersamaan bersama beliau sambil menimba ilmu yang terus saya serap lewat dialog yang berkualitas, jadi …. Saya bingung apa yang bisa dipelajari dari Saya … yang perjalanan Saya tak seberapa dibanding asam garam yang telah dirasa Pak Haji Sholeh.

Selamat berjuang Pak Haji … semoga Bapak sehat senantiasa, banyak fihak yang masih membutuhkan karya Bapak … Saya yakin pensiun tak batasi kreatifitas … bahkan bisa lebih produktif karena beban kerja rutin sudah berkurang … keep fight Sir!

4 thoughts on “Kreatifitas Bpk. H. A. Sholeh Dimyati

  1. dedidudedo

    Waduh..saya knal banget sama pak aji satu ini..dah lama sekali…dulu sama ngajar jaman di pembangunan…dulu sih biasa aja……guru agama, spesialisasinya baca doa…….Tapi pas tahun 90-an …..ngaget-ngagetin..pak aji dapet juara tulis nasional….wah percaya gak percaya……terus denger denger lagi jadi Kepala Sekolah..denger lagi GUPRES..denger lagi jadi JUri..wah…nggak keudak rasanya…….
    pas terakhir pak aji di uji untuk ngebenahin sekolah yang kabarnya lagi nggak sehat….

    Salam buat Pak Aji..sehat sehat aja pak aji..ya…

    dedismk4

    Trm ksh Pak Dedi sdh berkunjung … ternyata guru yg biasa-biasa bisa jadi luar biasa kalau dia mau … Sy banyak belajar dari beliau, kemarin Sy jumpa beliau, sudah sehat koq

    Like

  2. Pepatah arab menyebutkan”al-Waktu Kassaifi fa illam taqtha’hu qatha’aka”, yang artinya, waktu bagaikan pedang apabila kamu tidak memotongnya,maka ia akan menebasmu. Maksud dari pepatah ini adalah anjuran agar senantiasa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya,karena waktu yang digunakan adalah kesempatan untuk mengadakan perubahan. Setiap kesempatan mengandung peluang. Hal ini harus dimanfaatkan dengan baik,dimana merupakan pemberian (mawahib) dari Allah SWT yang tak ternilai harganya. Peluang dan kesempatan bisa juga dimaknai sebagai rahmat Allah. Dalam pengertian lain,kalau tidak dimanfaatkan dengan baik,maka pintu rahmat akan tertutup.”JANGAN MENYIA-SIAKAN PELUANG, KARENA MENOLAK PELUANG BERARTI MENUTUP PINTU RAHMAT” Begitulah kira-kira filosofi yang menjadi landasan kenapa saya yanf faqir ini berbuat sesuatu. Sebenarnya tak seperti yang digambarkan oleh teman-teman, itu terlalu berlebihan,saya hanya seorang faqir yang lemah ingin memanfaatkan aset yang diberikan tuhan sebagai karuniNya dan disisi lain ada peluang untuk mencoba,karena tiada yang sulit jika kita mau belajar. Selamat kepada teman-teman untuk selalu memanfaatkan peluang dan jangan siasiakan peluang yang ada didepan anda dengan berpegang teguh pada tiga nilai; NILAI RABBANI,NILAI INSYANIYAH dan NILAI PROFESIONAL. Semoga sukses

    Aha … ternyata … setelah sekian lama posting tentang Pak Haji ditayangkan, akhirnya meluncur petuah panjang yang amat berharga … trm ksh Pak Haji … salam hormat Saya … kembali mendapat pelajaran, seperti disetiap jumpa kita selama ini … Saya selalu mencuri ilmu dari Pak Haji … selamat berjuang Pak Haji

    Like

  3. beliau pernah menjadi kepala smk negeri 20 jakarta hingga saya lulus tahun 2004. beliau seorang master filsafat, krn dibelakang namanya juga ada gelar MF. di masjid sekolah yaitu asy syubbaan beliau sering juga khutbah jum’at. waktu itu saya dkk yang bikin grup nasyid di skul pernah diundang tampil di acara maulid nabi muhammad saw di masjid komplek perumahannya di bekasi. ga tanggung2 peralatan band dibolehin juga dibawa kesana. waktu itu masjidnya masih belum terlalu jadi sepertinya. walau akhirnya cuma satu nasyid aja yang bisa ditampilkan mungkin karena ga da waktu. beliau waktu itu pernah sharing kalo beliau tuh pernah kerja di Hotel Indonesia waktu mudanya, tapi akhirnya beliau keluar karena ga tahan suasana syahwat disana. Beliau emang kuat imannya ‘n luas ilmunya ‘n insya Allah kuat ibadahnya ‘n banyak amalnya. Semoga Allah selalu memberikan beliau kesehatan dan umur panjang hingga bermanfaat untuk islam dan ummat. Tetep Semangat yo pa aji sholeh dimyathi…. sumbangsihmu amat dibutuhkan oleh islam untuk kembali menjadi yang terdepan di dunia menjadi peradaban paling unggul setelah peradaban rusak saat ini. Allahu Akbar.

    kapan2 boleh pak kami diundang tampil lagi di sana^__^

    Allahu Akbar … makin menambah info tentang Pak H.Sholeh yang hebat itu … thx

    Like

  4. Pemikiran,Konsep & Strategi Pribadi Berprestasi
    Drs. H. A. Sholeh Dimyati MF, MM.

    Manfaatkan Peluang yang ada, karena Peluang tidak akan datang untuk yang ke dua kalinya

    Menjadi seorang Pendidik merupakan suatu pekerjaan ataupun profesi yang sangat mulia.

    Sebagai seorang pendidik, Ia harus rela berkorban demi siapapun yang dididik agar bisa mencapai suatu keberhasilan dalam hidupnya. Harus berani dan kreatif dalam menciptakan strategi-strategi baru untuk membenahi sistem pendidikan yang menyimpang.

    Kendati demikian, seorang pendidik tidak akan berhasil apabila tidak didasarkan pada ketulusan hati.

    Profil Pendidik kali ini, sedikit berbeda dengan Pendidik pada umumnya. Ia adalah Kepala SMK Negeri 56 Jakarta.

    Sholeh merupakan Sarjana Pendidikan Agama Islam, namun baru benar-benar terjun dan serius menjadi Pendidik dan Pengajar setelah sempat menimba pengalaman bekerja di berbagai tempat dan menimba ilmu-ilmu yang justru tidak berkaitan dengan latar belakang pendidikannya.

    Kembalinya Sholeh dalam dunia pendidikan karena Ia merasa bidang-bidang yang telah dirasakan, kurang sesuai dengan hati dan nurani.

    Dalam dunia pendidikan ini, Sholeh menjadi pelopor dalam penggunaan strategi maupun sistem baru untuk membenahi dan lebih mengefektifkan proses pendidikan, khususnya pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

    Ia juga menggunakan strategi baru untuk mengelola sistem manajemen sekolah agar menjadi lebih baik.

    Latar Belakang

    Sholeh, begitu panggilan Bapak dengan nama lengkap Drs. H. Ahmad Sholeh Dimyathi MF, MM, lahir di Pati pada 17 Oktober 1954 sebagai sembilan bersaudara, dari pasangan H. Ahmad Dimyathi dan Hj. Marfuatun (Almh).

    Adapun latar belakang pendidikan dasar yang ditempuhnya, di Sekolah Dasar Ibtidaiyah, SMTP PGANU, SMTA PGAN, serta memperoleh gelar Sarjananya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam.

    Pada tahun 2004, Sholeh meraih gelar Pasca Sarjana SDM dari STIM-LPMI Jakarta.

    Selain mengenyam pendidikan formal, pria dengan hobi membaca dan menulis ini pun dipercaya untuk mengikuti berbagai pendidikan maupun pelatihan guna menunjang kegiatan dan karirnya, sebelum maupun setelah menjadi seorang pendidik.

    Pelatihan-pelatihan seperti Latihan jabatan Ilmu Administrasi Bidang Administrasi Umum dan Efisiensi di BPA-UGM, Latihan Pengelolaan Arsip di Fakultas Sosial Politik UGM Yogyakarta, Kursus Pertamanan, Latihan Perencanaan Konstruksi di ATPU Bandung, Penataran Guru PAI, Pelatihan Pengembangan Kurikulum, Penataran Peningkatan Kemampuan Guru SMK, Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala SMK, dan lainnya yang jumlah keseluruhannya 46 pelatihan bahkan lebih.

    Pelatihan tersebut diatas belum termasuk seminar, diskusi, lokakarya, nara sumber maupun workshop yang diikutinya, dengan jumlah yang tidak sedikit.

    Langkah Seorang Sholeh sebagai Pendidik

    Sejak Sholeh resmi menjadi seorang Sarjana pada tahun 1980, berbagai pekerjaan dalam bidang yang justru bukan spesialisasinya, Ia kerjakan.

    Ia memulai karir di LSPK UGM selama 6 bulan. Lalu, Ia mengikuti seleksi untuk turut dalam program UNDP dan akan dikirim ke Manila dan lulus. Namun rencana yang telah siap dengan matang, bahkan sampai mengikuti kursus bahasa Inggris, harus kandas karena Ia harus menikah mengikuti saran orang tuanya.

    Tanpa merasa kecewa, Ia melanjutkan hidupnya. Menurutnya, “Yang terpenting bagi saya adalah berbakti pada orangtua. Yang penting di balik itu ada maslahatnya.”

    Ia pun ditugaskan untuk mengikuti pelatihan di Akademi Teknik Pekerjaan Umum (ATPU) di Bandung. Disana, Sholeh belajar mengenai ilmu Konstruksi.

    “Bisa dibayangkan, saya dari background pendidikan agama, yang belajar teknik. Namun prinsip, tidak ada peluang yang terulang kembali. Akhirnya saya benar-benar belajar,” ujarnya.

    Lulus dari pelatihan di ATPU, Sholeh mendapat tanggungjawab sebagai Petugas Lapangan Proyek (PLP) padat karya dengan tugas membuka jalan-jalan baru di Jakarta seperti Jalan di Kelurahan Pinang ranti di TMII, Kelurahan Bambu Apus dan d Kelurahan Makassar.

    Karena dinilai berhasil, pria dengan berbagai prestasi ini diberi tugas untuk menjadi PLP khusus. Sebuah proyek padat karya khusus yang mempekerjakan sebanyak 80 lulusan SMA. dimasa Menakertrans Sudomo

    Saat menjadi PLP khusus ini, jiwa Sholeh sebagai seorang pendidik, muncul. Ia berhadapan dengan anak-anak kota yang belum pernah memegang pacul atau pengki, namun harus mereka lakukan untuk membuka jalan baru.

    “Satu minggu, alat-alat itu sudah rusak. Padahal alat-alat itu masih diperlukan untuk membuka 2,5 kilometer jalan di Kelurahan Pondok Kelapa. Mereka yang seharusnya bekerja, malah berleha-leha sambil bermain gitar,” cerita Sholeh.

    Dengan demikian, Ia pun mengeluarkan strategi, mereka boleh pulang bila telah menggali tanah ½ meter untuk membuat saluran. Yang tidak mengerjakan, tidak dibayar. Minggu-minggu berikut, standarnya dinaikkan hingga akhirnya pekerjaan tersebut dapat selesai lebih cepat dari jadwal.

    “Jadi prinsipnya, berusah-susah dulu senang-senang kemudian. Oleh karena itu, setiap pekerjaan harus ada target waktu dan juga standar kualitasnya. Seorang yang professional.harus memahami hal itu,” tambahnya.

    Dari pekerjaan itu, Sholeh terpilih untuk mengikuti Pelatihan Teknisi Proyek, di Semarang. Walau bukan berlatar belakang teknik, pelatihan itu diikuti dengan baik. Ia berhasil lulus, dan mengalahkan rekan lain yang justru berlatar belakang dari teknik.

    Menurutnya, “Justru karena persaingan, saya harus benar-benar fokus. Jadi 3F, fun, fresh, tapi focus. Harus menjadi bagian dari kita biar tidak stress.”

    Sholeh pun menjadi teknisi proyek padat karya. Sebagai seorang teknisi, Ia merasakan suatu kenikmatan dari sisi pendapatan, tapi tidak dari sisi nurani karena terdapat berbagai hal yang tidak sesuai standar seperti tidak sesuainya kiriman pesanan barang kebutuhan proyek.

    Karena bertentangan dengan hatinya, pekerjaan sebagai teknisi pun ditinggalkan

    Lepas dari teknisi, Sholeh mendapat tawaran untuk menjadi Supervisor KOPKAR di Hotel Indonesia.

    “Saya mau, karena tugas itu banyak tantangannya, banyak kerugian atau korupsinya. Sehingga, bagaimana caranya untuk menyehatkan kembali. Saya melakukan diskusi dengan pihak manager, lalu saya berikan alternatif-alternatif. Alhamdulillah, setahap demi setahap bisa dikelola dengan baik,” tuturnya.

    Akhirnya pada tahun 1985, pria beristrikan Hj. Fitriyah Zaini ini, kembali ke habitat asalnya sebagai seorang guru Agama.

    Sholeh mulai meniti karir di STM Pembangunan, Rawamangun (sekarang SMK Negeri 26) sebagai seorang Guru Agama.

    Dalam mengajar, Ia mengakui dirinya sebagai tipe yang praktis, namun target tetap tercapai dan terlaksana, dengan waktu tatap muka mungkin boleh berkurang, tapi hasil dan mutu kompetensinya tidak berkurang.

    Lalu, menurut pandangannya, pada umumnya mata pelajaran dasar yang diberikan, seperti Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila, tidak ditanggapi dengan serius oleh siswa. Hasilnya, nilai yang diperoleh pun rendah, namun karena ada batasan harus nilai 6, maka banyak yang dikatrol nilainya

    Ia mencoba mengembangkan dan menerapkan sebuah Sistem Penilaian pada proses belajar-mengajarnya, agar hasilnya lebih baik. Selain itu, sistem tersebut dapat melatih kejujuran dan tanggung jawab siswa pada dirinya sendiri.

    “Saya terapkan pada anak-anak, sistem menilai diri sendiri mengenai agamanya yang dikenal dengan Dakwah Sistem Langsung (DSL). Kita hanya memberikan instrumen, mereka harus mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas, harus mengamalkan agama di sekolah, rumah, dan di masyarakat. Kita beri mereka target dan harus dibuktikan. Kalau tidak ada bukti, tidak mendapat nilai. Begitu juga dengan sistem penilaian. Kalau ada tugas, bisa menyelesaikan lebih awal dapat A, dan seterusnya. Tinggal memilih. Jadi mereka yang mengumpulkan nilai, bukan kami,” jelas Sholeh.

    Pada tahun 1997, Sistem Penilaian itu Sholeh tulis serta diikutkan dalam Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran Tingkat Nasional, yang mendatangkan Juara Pertama Tingkat Nasional.

    Sistem yang diberi nama Dakwah Sistem Langsung (DSL) itu sejak awal proyek yang dilakukan secara individual, diikuti oleh lima hingga sepuluh sekolah lainnya.

    Sekitar tahun 1997-1998 DSL diajukan ke Diknas dan memperolah respon positif untuk dikembangkan, sehingga menjadi salah satu bentuk alternatif pendekatan ajaran agama dalam menangani tawuran pelajar di DKI Jakarta.

    “Penilaian agama tidak hanya berlaku dua jam saat bertemu di kelas, tetapi berlaku 24 jam. Ada kegiatan di luar sekolah namanya KBM, kegiatan mentoring, kegiatan mandiri,” Sholeh menambahkan mengenai program yang ada dalam DSL.

    Tahun 1998 Sholeh beserta empat rekan dari STM Pembangunan mengikuti program Seleksi Kepala Sekolah, dan mengikuti pendidikan Calon Kepala Sekolah di Malang. Walau belum berpengalaman untuk mengelola sekolah, dalam pendidikan tersebut Sholeh meraih peringkat Terbaik I.

    Tahun 2000, Sholeh ditugaskan menjadi Kepala Sekolah SMK 20 Fatmawati. Disana, bapak tiga anak ini mencoba mengembangkan sekolah dengan membuka program baru Perbankan Syari’ah dan meningkatkanSDM para siswanya dengan sebuah metode baru.

    “Saya coba kembangkan SKKS (Sistem Kredit Kegiatan Siswa). Disana kita aplikasikan. Pada 2001, saya coba tulis kembali untuk mengikuti Lomba Keberhasilan Guru Tingkat Nasional, dan menang juara I,” ungkapnya.

    Kala berikutnya, Sholeh mendapat ide tentang replica, Replikasi Usaha. Dengan sistem itu Ia coba mendidik siswa untuk belajar berwira usaha, yang bekerja sama dengan beberapa perusahaan dan industri dalam bentuk produk. Sistemnya adalah, bagaimana siswa mampu memberikan, menawarkan, hingga menjual produk terkait kepada orang lain.

    “ Sistemnya, hari pertama ke saudara, hari kedua ke teman-teman, begitu seterusnya hingga akhirnya melebar. Dari lima hari belajar di sekolah, ada satu hari khusus untuk kegiatan replica. Dalam setahun, omzet kita mencapai ½ miliar dari kegiatan itu. Jadi produktif,” jelas Guru Berprestasi Tingkat Nasional ini.

    Mengenai sistem Replica, Ia tulis untuk diikutkan dalam Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran Tk. Nasional pada tahun 2002, dan berhasil meraih juara II.

    Pada tahun 2004 Ia ditunjuk untuk menjadi tim penilai lomba yang sama, dan berlangsung hingga sekarang.

    Atas dedikasinya, pada tahun 2005 Sholeh mendapat penghargaan Satya Lancana Pendidikan sebagai Guru Berprestasi dan Berdedikasi Tinggi Tingkat Nasional pada Hari Guru Nasional ke XII

    Sukses dengan SMK 20, Sholeh dimutasikan ke SMK 56. Di sekolah itu, Ia punya misi mendoakan besi-besi yang bengkok agar kembali lurus.

    Langkah awal di 56 dimulai dengan pemetaan SDM pendidiknya. Ia berpendapat bahwa bagaimanapun berubahnya sistem, program, dan kurikulum yang ada, kalau SDM-nya tidak terlebih dulu dibenahi, tidak akan ada gunanya.

    Pemetaan dilakukan dengan tes AMT untuk memilah-milah dan memetakan mana yang kelompok introvert maupun ekstrovert, mana yang termasuk kelompok berpikiran yang modern dan yang berpikiran tradisional. Mana yang punya kemampuan manajerial, mana yang konseptor, mana yg pelaksana, dan seterusnya. Setelah itu, mereka ditempatkan pada posisi yang sesuai.

    Sholeh menjelaskan, “Kita menyusun Standar Operasional Prosedur Pengembangan (SOPP) Guru Berprestasi, untuk menduduki jabatan-jabatan internal seperti Asisten Kepala Sekolah, Ketua Program, dan lainnya. Kita lakukan audit, sehingga ada standarisasi. Masing-masing divisi kita beri ruang gerak. Alhamdulillah, strategi itu berjalan dengan baik.”

    Karena keberhasilannya, sekolah lain turut menggunakan tes AMT untuk membenahi sistem mereka.

    Selain pemetaan SDM, Sholeh juga memberikan dorongan dan dukungan kepada rekan-rekan pengajar agar mulai mau menulis Modul Bahan Ajar, untuk meningkatkan standar tingkat golongan mereka dan profesionalismenya sebagai guru

    Program lain yang Sholeh kembangkan yaitu Information System Electronic Education (ISEE).

    ISEE dilakukan dengan sistem layanan pesan singkat (sms). Sebagai contoh, para orangtua bisa bertanya perihal kehadiran anaknya di sekolah. Mengenai sikap-sikap mereka, nilai-nilai yang mereka peroleh, hingga masalah iuran sekolah.

    SMK 56 pun dalam tahap pembuatan web-site sendiri.

    “Alhamdulillah, itu merupakan titik awal yang baik. Siswa kami mengikuti lomba IT, dan mendapat anugrah sekolah terbaik untuk penggunaan IT, di DKI. Hampir semua juara kami borong,” ucap Sholeh.

    Dalam mengelola sekolah, Sholeh berani mengambil tindakan yang berbeda. Hasilnya, sekolah yang tadinya merupakan sekolah yang banyak menyimpan masalah, sekarang mendapat nama dan pengakuan yang baik dari masyarakat.

    Demikian jalan panjang seorang Sholeh dalam melaksanakan tugas sebagai seorang pendidik yang professional.

    Sebagai seorang guru, seorang pendidik, Sholeh secara pribadi ingin menghapus konotasi guru agama hanya sebagai pembaca doa.

    Hal itu ditunjukkan dengan menggunakan latar belakang pendidikan agama, dalam memecahkan suatu masalah.

    Sholeh menganggap bahwa apapun agamanya, asal ajaran itu diaplikasikan dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan, maka kehidupan akan berjalan dengan baik.

    Pandangan serta Harapan

    Sholeh melihat bahwa kebanyakan lembaga pendidikan itu menjadikan anak semakin bodoh.dan tidak berdaya untuk mengembangkan potensi diri

    Bila orientasinya adalah untuk mempersiapkan tenaga siap kerja, harus dibangun sasaran yang jelas.
    Sasaran yang dimaksud seperti, Pertama, kehidupan yang harus ditempuh adalah hidup yang berarti, yang bermakna. Manakala seorang tamat dari suatu lembaga pendidikan, Dia bisa memanfaatkan ilmu serta potensi dirinya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak ada gunanya dia tamat tetapi justru menjadi beban org lain. Itu yg hrs dibangun.

    Kedua, kehidupan yang berbudaya. Budaya itu terdiri dari cipta rasa dan karsa yang berkembang secara seimbang. Dengan demikian, dia memiliki kehidupan yang stabil, mampu melakukan adaptasi terhadap perubahan-perubahan global dengan tetap berprinsip pada etika moral.

    Yang ketiga, kehidupan yang beraklak, berbudi pekerti yang baik, dan santun.

    Lalu, kehidupan Hayyatan Thayyibah, hidup yang baik. Seperti, dalam mencari rezeki lakukan secara halal. Selalu merasa cukup dan bersyukur dengan rezeki yang diperoleh.
    Sholeh mengungkapkan tiga nilai yang harus dipegang bagi seorang pendidik dalam mengajar, yaitu :
    1.Nilai Robani / ke-Tuhanan. Tugas yang dikerjakan hendaklah karena Allah.
    2.Nilai kepedulian terhadap sesama, simpati kita. Jangan menilai hanya karena latarbelakang siswa, misalnya.
    3.Nilai professional. Melakukan tugas dengan suatu standar.

    Selanjutnya, Sholeh memberikan opini mengenai kesuksesan, yang berarti proses perjuangan untuk mencari lebih. Sukses dinilai setiap kali, dari waktu ke waktu, ada sebuah peningkatan. Hari ini harus lebih baik dari yang kemarin.

    Kiat untuk mendapatkannya, pria bergelar Kepala SMK ME Terbaik tingkat Propinsi DKI Jakarta ini memberikan beberapa input :

    Pertama, raih dan cari pertolongan Allah dengan pandai bersyukur dan selalu ingat bahwa Tuhan ada dimana-mana. Ingat koridor, karena banyak orang yang beragama tapi tidak beragama. Ritual agama dijalankan, namun Imannya tidak ada.

    Manfaatkan potensi yang diberikan oleh Allah, semaksimal mungkin. Dalam diri kita ada prinsip manajemen modern. Dalam teori, satu faktor akan berhasil baik bila masing-masing satuan melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.
    Sholeh menambahkan, “Dalam diri kita terdapat teori tersebut. Satuan pimpinan dalam diri kita ada di otak, satuan penunjang di hati, operasional di perut dan kelamin. Sayangnya, apapun yang kita kerjakan, orientasinya hanya untuk perut dan kelamin. Kita selesai sekolah, cari kerja untuk makan, setelah itu melamar anak orang.”
    Intinya, kalau fungsi satuan tadi tidak berjalan sesuai dengan tugas masing-masing akibatnya akan buruk.

    Kiat selanjutnya, perbanyak membaca. Dalam konsep Islam, ayat pertama bukan Qul yang berarti makan, tetapi Iqra yang artinya baca.
    Sholeh menyatakan, “Orang kita, kalau dalam perjalanan jauh, kalau tidak makan, tidur. Orang barat, kalau tidak baca, melihat-liha alam atau pemandangan. Ini bedanya kita. Oleh karena itu, kalau ingin sukses, baca. Tidak hanya tekstual, namun baca juga bagaimana pengalaman orang, abaca apa yng ada di sekitar kita.

    Lalu, perbanyak melakukan eksperimen tanpa merasa putus asa bila gagal. Islam mengajarkan, ‘Bagi orang yang melakukan eksperimen tetapi gagal, berarti satu pahala. Kalau benar atau berhasil, dua pahala.’ Jangan mudah putus asa bila menemui kegagalan.

    Memiliki kepribadian yang baik. Inti kepribadian itu adalah kejujuran. Jangan ada dusta, karena dampak akan panjang.

    Jangan sia-siakan peluang. Peluang itu digerakkan atau diberikan oleh Tuhan, karena kita punya potensi. Kalau kita sia-siakan, pada hakekatnya adalah menutup pintu rahmat Tuhan.

    Untuk SMK 56 itu sendiri, Sholeh berharap agar para siswa mampu bersaing dengan persaingan secara global, dan Sekolah ini dapat menjadi sekolah yang mandiri dan professional, menuju standar nasional bertaraf internasional.

    “Kita mencanangkan visi untuk SMK 56 secara jelas, yaitu Menjadikan SMK Negeri 56 Jakarta sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan yang professional dan mandiri dalam mewujudkan Tamatan yang COMPETENCE, CONSCIENCE, COMPASSION,” ucapnya.

    Sedangkan Misi sekolah itu yakni :
    Melalui keterbukaan, kemitraan dan pelayanan prima, SMK Negeri 56 Jakarta ;
    1.Mengembangkan keunggulan KETERAMPILAN, KETELITIAN, DAN KREATIFITAS
    2.Menerapkan KEDISIPLINAN dan KEJUJURANA yang dilandasi oleh jiwa dan semangat KEIMANAN DAN KETAQWAAN
    3.Mengembangkan KEPEDULIAN terhadap sesama dan lingkungan dalam Kegiatan Diklat
    4.Membentuk Pribadi yang mandiri, teguh dalam kebenaran dan pejuang-pejuang pembela bangsa
    5.Menghasilkan TAMATAN yang memenuhi harapan STAKEHOLDERS

    Pesan Untuk Generasi Penerus

    Sholeh berpesan, “Nilai-nilai yang diajarkan Tuhan, di impelementasikan dalam arti yang benar. Jangan beragama hanya pada tataran ritual saja, tapi di implementasikan dalam sikap hidup, dalam kehidupan.”

    Selain itu, Ia berharap agar para generasi penerus memiliki nilai-nilai kepribaian dengan tiga prinsip :
    1.Jadilah penyuluh, bukan hakim. Sekarang banyak orang menjadi hakim, orang yang hanya bisa memutuskan salah atau benar. Bukan sebagai penyuluh yang menyejukkan.
    2.Jadilah Model buka pengecam. Aplikasikan nilai-nilai agama dengan memberikan contoh yang benar, dan tidak perlu mengecam orang lain.
    3.Jadilah bagian dari solusi, bukan bagian masalah.

    Jadi, “Prinsip itu harus ada dalam diri kita, bila ingin meraih sukses. Khususnya dalam kondisi masyarakat kita yang sedang mencari bentuk. Dalam teori, perubahan masyarakat dari agraris ke industrialis terdapat tiga perubahan yaitu ketidak pastian nilai moral, keanekaragaman budaya, kompleksitas kebutuhan dan masalah manusia. Tiga hal itu terjadi melalui proses : imitasi (meniru), proses identifikasi/mencari bentuk, dan yang paling bahaya adalah proses dehumanisasi(hilangnya jati diri kita sebagai manusia).

    “Kalau sudah menghadapi seperti itu, apa solusi terbaiknya? Yang waras mengalah. Yang sehat akalnya, yang mengalah. Karena realitas disekitar kita, dari lima orang, yang gak waras ada satu. Jadi, banyak orang tidak waras disekitar kita. Kalau kita mengalah, kita menjadi tidak waras juga. Kalau begitu, tidak akan selesai, kita stress sendiri, dan justru akan menzolimi diri sendiri sehingga akan jadi penyakit,” tutup Sholeh. (PPBI/Tundunsekar)

    Wow …. tambahan posting yang mencerahkan … bermanfaat sekali buat semua … thx so much

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.