Blog Pendidik

Komentar sahabat

1 Comment

arie.jpgSaya biasa memanggilnya Arie, nama lengkapnya John F. Papilaya … 25 tahun yang lalu … kami sama-sama di SMA Negeri 35 Jakarta, tiba-tiba dia menyapa lewat blog dan kami terus berkomunikasi setelah itu. Saat ini beliau jadi desainer lanskap dalam negeri hingga manca negara.

Membaca komentarnya tentang manusia paku menunjukkan kejeliannya amati kinerja pegawai hingga pejabat di Jakarta atau negeri ini, begini komentarnya :

Hi… Ded trims udah mampir di blog saya, setelah membaca manusia paku, mereka sungguh kreatif bisa menciptakan alat tepat guna bagi menyokong pekerjaannya…, dan yang pasti mereka bukan ‘manusia-manusia paku’ yang harus di getok dulu, baru mau kerja karena di jakarta masih banyak manusia-manusia tidak mempunyai inisiatif untuk berkarya dan berusaha ,mereka bagi saya adalah manusia-manusia paku yang selalu menunggu digetok baru jalan.Bravo buat manusia-manusia pencari paku yang tidak pernah menjadi ‘manusia paku’.

Dijakarta memang banyak pembangunan infrastruktur hanya akan kelihatan bagus dan mengkilat pada saat baru dikerjakan, selebihnya anggaran biaya pemeliharaan entah lenyap entah kemana? Hak publik untuk mendapatkan pelayanan dari infrastruktur kota belum lagi maksimal,selain jalan long bolong masih banyak hak pejalan kaki yang jalur pedestriannya tidak nyaman untuk dilalui malah kadang berebut dengan pedagang kaki lima dan pengemudi sepeda motor….serem..seharusnya para pejabat yang terkait bisa cepat tanggap,tapi maklum ded….. tajutnya sudah jadi ‘manusia paku’ digetok baru jalan…. he he he

Saya meresponnya dengan ini:

Betul Rie … mereka tak tunggu instruksi untuk bekerja, tak harus diawasi atasan untuk berkarya … Anda rupanya sering jumpa dg “manusia paku” yang lebih sering diam, statis tak mau belajar dan berkembang, yang sering terucap dari mulutnya adalah “dulu, … biasanya, … ” akhirnya kita jadi selalu ketinggalan dalam banyak hal … ketika tersadar; wabah penyakit jadi epidemi, air sudah merendam, lobang menggelandang dimana-mana … bahkan sang MACAN sudah berdiri dihadapan … siap caplok kita … ach malang pisan Jakartaku, penduduknya dan Indonesia kita

Author: Dedi Dwitagama

Pendidik yang bermimpi makin banyak anak negeri berani berkompetisi, silahkan mampir ke; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com dan https://dedidwitagama.wordpress.com

One thought on “Komentar sahabat

  1. Pingback: dwitagama | Blog Pendidik | Page 2 - Marketing Kredit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.