SEPEDA MOTOR, Penyumbang Kecelakaan Terbesar

Sepeda motor merupakan penyumbang kecelakaan terbesar di jalan raya. Data Departemen Perhubungan menyebutkan, dari 17.732 kecelakaan di seluruh Indonesia pada tahun 2004, 14.223 di antaranya melibatkan sepeda motor. Uniknya, pertumbuhan sepeda motor justru makin tinggi menyusul semakin macetnya jalan raya dan (saat ini) kenaikan tarif angkutan umum.

“Regulasi soal sepeda motor ini belum ada, termasuk ojek. Pertumbuhan sepeda motor luar biasa dan mengkhawatirkan karena bisa naik ke trotoar, ke jembatan penyeberangan, dan menguasai jalanan,” ujar aktivis konsumen Agus Pambagio di sela-sela peluncuran buku 1-2-3 Langkah-langkah Kecil yang Kita Lakukan Menuju Transportasi yang Berkelanjutan yang diterbitkan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Rabu (9/3).

Buku itu dibahas Agus Pambagio, Ketua Komisi V DPR Sofhian Mile, Ketua Masyarakat Profesional Madani Irwan Adi Ekaputra, dan Sekretaris Jenderal MTI Danang Parikesit.

Menurut Kepala Subdit Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Ditjen Perhubungan Darat JA Barata, data tahun 2003 juga menunjukkan, dari 13.399 kecelakaan, 9.386 melibatkan sepeda motor.

Dalam buku disebutkan, dari 26 juta kendaraan yang terdaftar di Indonesia tahun 2003, 19 juta atau 72 persen di antaranya adalah sepeda motor. “Dirlantas Polda Metro Jaya pernah mengatakan akan memperketat pembuatan SIM, tetapi di sisi lain pihak industri berbangga jika hasil penjualan sepeda motor tinggi,” kata Agus.

Ketua Umum MTI Bambang Susantono mengatakan, keselamatan lalu lintas merupakan landasan penyelenggaraan transportasi. Di Indonesia, menurut data kepolisian, sekitar 10.000 orang meninggal dan hampir 30.000 terluka karena kecelakaan setiap tahunnya. Bahkan, data ADB tahun 2004 menyebutkan, 30.000 orang meninggal dan 1,2 juta luka-luka.

Dorong angkutan umum

Sepeda motor dipercaya tidak layak digunakan sebagai angkutan masa depan, salah satunya karena tingkat risiko kecelakaannya tinggi. Untuk itu, pemerintah seharusnya didorong untuk memperbaiki angkutan umum. Dengan catatan, angkutan umum itu harganya terjangkau masyarakat.

Menurut Danang, pangsa angkutan umum di Indonesia turun satu persen setiap tahun karena beralih ke moda lain, terutama kendaraan pribadi dan sepeda motor.

Saat ini, dengan naiknya harga BBM, biaya transportasi makin mahal. Catatan MTI, di beberapa kota menengah di Indonesia, terutama Jakarta, biaya transportasi sudah mencapai 40 persen dari pengeluaran rumah tangga. Biaya transportasi darat yang dikeluarkan masyarakat Rp 1,55 triliun per hari. Untuk itu, angkutan massal harus ada meski pada awalnya harus disubsidi.

Source: Kompas 10 Maret 2005

7 thoughts on “SEPEDA MOTOR, Penyumbang Kecelakaan Terbesar

  1. assalamualaikum bpk dedi
    saya telah mengunjungi blog bapak sangat bagus dan bermanfaat saya jyga ingin menitip tulisan di sini
    terimakasih

    Pendidikan Butuh Model Bukan Khotbah

    Oleh : Marjohan

    Guru SMAN 3 Batusangkar

    Ternyata masyarakat, dari sudut pandang sosiologi, terkotak-kotak menurut tingkat pendidikan, keuangan dan status sosial lainnya. Dibandingkan dengan negara yang sudah maju dengan warga negaranya yang banyak tamatan sarjana dan pascasarjana, maka rata-rata tingkat pendidikan bangsa kita baru tingkat sekolah menengah, SMP dan SLTA.

    Kalau begitu bahwa umumnya orang tua siswa kita baru berpendidikan SMP dan SMA atau SLTA. Masyarakat yang dianggap sebagai orang terdidik sekarang cendrung untuk memiliki satu atau dua orang anak. Mereka juga sangat peduli dengan pendidikan anak/keluarga, mereka ikuut mempersiapkan masa depan anak sebaik mungkin. Sebahagian dari mereka menerapkan atau memilih strategi atau pola yang sesuai dengan selera dan pendapat berbeda. Ada yang mendidik keluarga berdasarkan konsep pendidikan yang mereka peroleh lewat sekolah, seminar, pelatihan. Ada yang memperolehnya dari buku, majalah dan sumber-sumber elektronik (internet) dan ada yang mendidik anak dengan cara meniru pola pendidikan orangtua mereka atau pengalaman rekan-rekan mereka. Selanjutnya, juga ada yang tidak begitu peduli- tidak banyak memikirkan tentang pendidikan anak (cukup asal jadi orang yang berguna saja) dan punya moto “biarkan hidup ini mengalir seperti air”.

    Prilaku orangtua terhadap kehadiran anak juga cukup bervariasi. Sebagian bersikap bisaa-bisaa saja dan yang lain sangat peduli. Mereka mengikuti perkembangan anak dan aktif memberiikan stimulus- rangsangan pengalaman- untuk pertumbuhan dan perkembangan mereka. Orang tua juga meluangkan waktu untuk menemani generasi barunya- mengendong, bermain dan melepaskan anak untuk main-main di taman atau playground yang aman. Sebagian orang tua muda sengaja menyisakan uang- namun konsep mendidik belum cukup- dan cendrung menghujani anak dengan sarana hiburan- game multi dimensi dan tontonan audio visual seperti memutarkan film-film kartun atau memilihkan program anak-anak dari berbagai stasiun televisi. Sering permainan dan tontonan ini disuguhkan agar anak tidak rewel dan tidak mengganggu orang tua. Namun umumnya anak punya kebisaaan cepat bosan, mereka cendrung beralih ke hiburan , kegiatan dan dan melakukan gerakan lain. Mereka senang melompat, berlari, memanjat dan melempar-lempar.

    Gerakan fisik yang dilakukan oleh anak sangat penting untuk pertumbuhan jasmani atau fisik- yaitu untuk menguatkam otot dan tulang. Namuntas keselamatan anak. Kekhawatiran dan kecemasan orang tua terhadap gerakan yang berlebihan ini membuat mereka secara refleksi melontarkan kata-kata serba melarang “jangan atau awas nanti kamu terjatuh”.

    Kesadaran anggota masyarakat sebahagian cukup bagus. Gaya hidup bersih perlu untuk dilestarikan. Umumnya kaum wanita lebih peduli dalam memperhatikan kebersihan anggota keluarga, barangkali karena rumah mungkin lebih dekat kepada kaum perempuan daripada kaum laki-laki. Maka seorang ibu akan sangat malu kalau kebetulan, apalagi dilihat oleh orang lain, perabot rumah sembraut, lantai penuh debu dan berpasir. Begitu pula terhadap anak, mereka harus selalu dalam keadaan bersih. Orang tua beranggapan kalau anak bertubuh kotor akan dikatakan sebagai anak yang kurang terurus. Lagi-lagi dalam tahap ini- tahap bermain bagi anak, kaum ibu akan berteriak sambil memberiikan warning “bermainlah tapi awas ya kalau celana mu kotor, kalau kakimu kotor, telingamu akan ibu jewer”. Kata-kata “jangan atau awas” yang banyak diucapkan pada anak berarti memberi mereka ancaman. Akhirnya kondisi penuh mengancam akan membuat dorongan untuk melakukan eksplorasi tidak berkembang dan anak cenderung tidak kreatif dan tidak punya inisiatif. Siswa yang kurang iniasiatif dan kurang kreatif di sekolah bisa jadi akibat korban banyak larangan di rumah.

    Punya anak kecil- balita atau di bawah usia lima tahun- memang merupakan masa masa yang sulit bagi orang tua karena mereka cenderung rewel apalagi bila mereka menangis saat malam tiba. Rasa kasihan muncul untuk menenangkan emosi anak- si buah hati. Biasanya cara yang praktis dilakukan orang tua bila anak rewel-agar berhenti menangis- adalah dengan cara menakut- nakutinya “jangan menangis nanti digendong hantu, jangan menangis nanti datang pocong, kuntilanak, jailangkung…!” Menakuti anak memang cara yang ampuh agar mereka tenang dan sekaligus juga berpotensi dalam melahirkan generasi yang penakut. Kelak kalau mereka diganggu atau menghadapi masalah, maka mereka akan cemas dan sulit untuk mencari solusi, karena sejak kecil pikiran mereka sudah dibelenggu oleh ketakutan.

    Banyak orang di dunia mengatakan bahwa bangsa kita sebagai bangsa yang ramah tamah, suka bertegur sapa dan mudah senyum. Fenomena dalam pergaulan sosial tertangkap kesan bahwa dalam rumah tangga anak-anak atau anggota keluarga jarang terdengar mengekspresikan kata-kata “terima kasih, maafkan saya, itu bagus, kamu memang hebat- sebagai terjemah dari thank you, I am sorry, that’s good, you are great” sebagai ungkapan sehari- hari mereka. Dalam pergaulan umum orang hanya mengungkapkan kata-kata ini bila perlu saja. Membaca “assalamualaikum” saja seakan-akan hanya khusus bila hendak masuk rumah, mengetuk rumah orang, atau untuk membuka dan menutup ceramah. Pada hal penggunaan ucapan salam ini sama luasnya dengan penggunaan “good morning, good night, selamat pagi, selamat malam, dan lain-lain”.

    Ucapan ucapan mulia seperti disebutkan di atas juga jarang disosialisakan di kalangan anak-anak, sehingga sebagian anak juga sulit untuk mengekspresikan kata-kata “maaf, terima kasih, dan lain-lain” secara spontan. Sehingga kata-kata toleransi mereka dalam pergaulan belum terlihat dengan sempurna. Anak- anak di daerah lain (di Negara yang maju dan ditinjau dari segi positifnya), karena taraf pendidikan dan pola berfikir maju maka mereka hidup dengan budaya tolerans yang tinggi pula. Kalau kebetulan salah seorang teman bermainnya jatuh dari sepeda maka mereka spontan datang dan memberi pertolongan serta simpati. Namun dalam pengalaman kita, sebahagian anak-anak ada yang terpantau bahwa bila melihat teman jatuh dari sepeda, mereka bukan mengatan “I am sorry to see you” atau ungkapan penyesalan lain malah disorakin ramai-ramai “malu lalu in ,baru naik sepeda udah jatuh”.

    Anak anak yang masih berusia kecil dapat diibaratkan dengan pohon kecil, batangnya masih lemah dan lunak, masih bisa diarahkan ke posisi tumbuh yang tepat. Demikian pula dengan anak, pribadinya masih bisa diarahkan untuk tumbuh dan berkembang- diberi model- kea rah yang baik. Maka sebelum anak terlanjur salah tumbuh dan salah berkembang, makaorang tua perlu mengkaji ulang dan menganalisa kesalahan-kesalan yang sering terlanjur dilakukan dalam mendidik dan segera melakukan cara-cara mendidik yang benar.

    Ditambahkan bahwa pola pendidikan yang dilakukan oleh keluarga yang maju pendidikan, se perti di di Eropa, infonya dapat dicari dari internet – cukup bagus untuk diadopsi. Orang tua di sana tidak membiasakan anak untuk banyak digendong. Anak ditempatkan dalam stroller, mereka membisaakan anak/ mengajak anak untuk jalan-jalan ke luar rumah dan mencari udara bersih, bila anak sudah kuat berjalan maka mereka membiasakan anak untuk banyak jalan kaki agar tubuh jadi sehat dan kuat. Tentu saja saat di malam hari tidur anak lebih nyenyak. Sebelum tidur anak anak terbisaa diberi/dibacakan dongeng.

    Kebutuhan gerak anak-seperti melompak, berlari dan memanjat- seharusnya perlu untuk disalurkan agar mereka juga tidak mengalami obesitas. Sekarang banyak anak mengalami obesitas karena gerakan mereka dilarang dan perut mereka dimanja. Namun orang tua sering cemas kalau anak cedera dan terjatuh. Ini sudah instingk atau fitrahnya orang tua, tetapi tidak perlu takut dan cemas yang berlebihan bila tempat bermain anak masih aman. Namun andai kata anak terjatuh, tidak perlu memperlihatkan rasa bersalah yang berlebihan, membela anak/ terlalu bersimpati dan memukul mukul penyebab anak terjatuh. Perilaku enteng ini bias menjadi penyebab karakter anak untuk suka menyalahkan orang lain. Langkah yang tepat adalah meniup-niup saja bagian tubuh anak yang sakit tadi- “tidak apa apa nak tandanya kau akan cepat besar”. Ini adalah cara yang tepat untuk menumbhkan karakter anak yag gentlemen dan menghindari mereka sebagai manusia yang suka mencari-cari kambing hitam.

    Kewajiban dan tanggung jawab orang tua yang lain dalam menumbuh kembangkan kepribadian anak adalah memberi mereka kesempatan untuk melakukan banyak pengalaman langsung seperti membiarkan anak untuk makan sendiri, tidak masalah kalau makanannya bertaburan ibarat itik makan. Juga perlu bagi orangtua untuk menyediakan peralatan serba kecil untuk anak seperti sapu kecil, cangkul kecil, pisau tumpul kecil, dan mengizinkan mereka untuk bermain serta melakukan aktivitas dengan alat-alat ini Pengalaman dalam menggunakan alat-alat tadi bisa membuat anak menjadi generasi yang memiliki life skill- pengalaman hidup. Sebagian sarjana ada yang memiliki otak yang pintar namun mungkin minim dengan life skill .sehingga begitu lulus dari dari perguruan tinggi, walau indeks prrstasi tinggi, ada yang pusing tujuah keliling atau stress karena memikirkan dimana kelak mau bekerja. Penyebabnya mungkin karena mereka minim dengan life skill , barangkali juga karena minim pengalaman sosial dan pengalaman menggunakan faslitas bekerja di waktu kecil.

    Sekali lagi bahwa Barat ada yang patut dicontoh terutama untuk mendidik kemandirian anak. Misalnya orang tua di sana tidak terlalu banyak melarang anak dalam berkreatifitas. Mereka membiarkan anak-anak duduk dan bermain dengan rumput, pasir dan tanah- tidak begitu masalah kalau anak jadi kotor, mereka kan bisa dimandikan dan dibersihkan, mereka butuh untuk ber eksplorasi atau menjelajah. Maka diharapkan bahwa kelak setelah besar anak juga senang melakukan eksplorasi – dan mereka mungkin jadi ahli geologi, ahli ilmu alam, ahli pertanian. Tidak menjadi ahli yang suka memakai kerah putih- tahu teori tetapi miskin keterampilan untuk mempraktekannya.

    Apakah ada orang tua yang berkarakter shopping minded, terlalu suka mengajak anak untuk shopping ke plaza ? Memang banyak orang tua yang nerbuat demikian. Mereka senang memanjakan anak dengan cara pergi ke plaza- sopping centre (ini tidak salah, tetapi kenapa juga tidak mengajak mereka ke museum, ke pelabuhan, atau ke learning centredengan porsi yang berimbang). Membuat anak untuk deman plaza, kadang-kadang membeli apa yang kurang bermanfaat, mengajak mereka ke pusat bermain yang mahal dan menyerbu pusat belanja yang memanjakan perut/selera- menyantap KFC, burger, donat, hotdog, dan fast food dengan harga mahal telah mendorong anak menjadi warga Negara yang berkarakter konsumerisme dan hedonism- mencari kesenangan duniawi semata-semata.

    Saat liburan tiba, banyak anak-anak yang hanya tinggal di rumah. Akibatnya anak jadi kurang tahu bahwa alam ini begitu indah dan begitu luas. Maka orang tua perlu untuk melowongkan waktu guna bias mengajak anggota keluarga untuk jalan-jalan ke daerah (tak perlu membuang uang yang banyak) cukup pergi saja ke pedesaan, perbukitan, hutan, atau pergi ke kebun di kampung atau ke kebun di belakang rumah. Ini adalah langkah yang tepat untuk mendorong anak melakukan ekslorasi dan beraktifitas, menjadi manusia yang kreatif dan punya iniasitif. Kemudian untuk memupuk kecerdasan sosial dan sopan santun anak pada orang lain, tentu mereka perlu uswatul hasanah atau model langsung dari orang tua. Sangat tepat bagi orang tua untuk terbiasa mengungkapkan kata-kata “terimakasih, kamu memang hebat, permisi” dalam konteks yang tepat terhadap anggota keluarga. Ungkapan ungkapan demikian akan membuat komunikasi anak terasa lebih santun. Kemudian orangtua juga perlu untuk menghindari kebisaaan menakut-nakuti anak dan bila anak bertanya agar berusaha untuk menjawab pertanyaan yang masuk akal dan tidak membuat anak kehilangan curiosity – keinginan tahu nya.

    Mendidik anak anak dengan cara memberi dorongan agar tumbuh mandiri memang memerlukan cara-cara yang benar. Orang tua dan anak perlu untk menjaga komunikasi dan interaksi, ini adalah sarana untuk menumbuh kembangkan prilaku yang positif. Mendidik anak memang membutuhkan model, sarana bermain, hiburan dan belajar , komunikasi yang berkualitas, melakukan interaksi lewat jembatan hati. Kenudian orangtua perlu tahu untuk mengurangi kecendrungan serba banyak melarang dan banyak berkhotbah (berceramah dan mendikte).

  2. Orang tua Tanpa Konsep Pendidikan Bisa Salah Didik
    Oleh. Marjohan, M.Pd
    Guru SMAN 3 Batusangkar

    Rata-rata pendidikan orang tua di Indonesia mungkin banyak yang tamatan SMP atau SLTA, namun pada beberapa daerah malah tamat SD atau ada yang tidak tamat SD sama sekali. Kemudian mereka memutuskan untuk belajar hidup. Fokus utama yang mereka kejar adalah bagaimana agar bisa mencari duit, mereka bisaanya belajar hidup- magang atau on the job training- dengan famili atau ikut orang-orang yang masih punya hubungan dekat. Profesi yang dipilih adalah sebagai pembantu dalam berdagang, atau jadi buruh dan karyawan toko atau kegiatan ekonomi skala kecil lainnya dengan cara membuka warung, bertani, beternak dan jadi nelayan. Kemudian bila takdir datang, bertemu jodoh yang sehati, senasib dan sekarakter maka mereka memutuskan pulang kampung untuk mencari restu orang tua , membentuk rumah tangga baru.

    Umumnya keluarga muda- junior family¬- tidak tahu banyak tentang hakekat menjadi orang tua. Mereka jarang memperoleh bekal tentang parenting (bagaimana menjadi orang tua) yang layak. Dari keluarga muda, yang miskin persiapan bagaimana menjadi orang tua, ini lahirlah ribuan atau jutaan bayi se Indonesia yang butuh pendidikan.

    Pada umunya orang tua junior hidup di daerah rantau (migrasi), bekerja jadi buruh pabrik, karyawan toko atau swasta sampai berwiraswasta dan syukur kalau bisa menjadi PNS, pegawai BUMN dan polisi/ABRI. Kecuali Polisi dan ABRI punya asrama, yang lain tinggal memgontrak satu kamar atau tinggal di rumah kecil seukuran perumnas dengan type RSS- rumah sangat sederhana. Di sinalah bayi dan anak-anak tumbuh dan berkembang dibawah bimbingan orang tua, apakah punya persiapan sebagai orang tua, atau mengikuti pola mendidik generasi tua (ayah ibu mereka) atau malah tidak ambil pusing tentang urusan mendidik anak. Pendidikan anak di rumah- beda dengan di sekolah yang dipandu oleh kurikulum dan sentuhan tangan guru-guru yang juga sesuai dengan gaya dan karakter mereka- yang ditandai dengan interaksi demi interaksi, stimulus (rangsangan), pengalaman langsung, pemodelan dari orang tua, dan pemberian pujian serta hukuman secara langsung siang dan malam.

    Masalah utama yang dialami oleh keluarga junior adalah, tentu saja tentang keuangan yang tak kunjung memberi kepuasan dan kecukupan, maka mulailah di sini timbul problema. Mereka harus tinggal di ruangan yang kecil sehingga susah membuat pola hidup yang pas untuk pendidikan. Kalau boleh memilih, lebih baik tidak punya televisi sebab si tabung elektronik ini punya potensi besar mengacaukan pola hidup keluarga. Gara-gara televisi yang menyala siang malam- kalau mati di rumah sendiri, anak hijrah untuk menonton ke rumah tetangga- mereka cendrung menjadi lengah dengan kewajiban belajar. Membuat PR, membaca buku dan menulis adalah menjadi beban yang membosankan bagi banyak anak di bangku SD sampai SMP. Di usia ini anak dan orang tua selalu bentrok gara-gara anak tidak tertarik untuk belajar. Kalau begitu merosotnya minat dan motivasi belajar sudah dimulai pada tahap ini.

    Pengalaman hidup dari tetangga, agaknya bisa dipetik sebagai pelajaran. Semua orang tahu bahwa lama waktu tidur anak-anak lebih banyak dari pada orang dewasa. Seorang bayi musti tidur 18 jam sehari-semalam dan waktu bangunnya digunakan untuk makan, minum susu dan belajar bersosial serta berkomunikasi. Anak anak yang sudah agak besar jumlah waktu tidurnya juga semakin berkurang. Mereka yang duduk di kelas satu atau kelas dua Sekolah Dasar (berumur 6 sampai 8 tahun) bisa jadi tidur jam 20.00 malam (pukul 8 malam) dan bangun jam 6 pagi. Itu sudah membuatnya tidur nyenyak dan pulas, maka ia tak perlu lagi tidur siang dan bisa menggunakan waktu siangnya untuk belajar bersosiasial/ berteman, mengerjakan hobi, melakukan permainan kreatif bersama teman dan anggota keluarga serta mengembangkan kebisaaan belajar. Anak yang kurang dicikaraui atau dibantu mengatur jadwal tidur (tidur sampai larut malam mengikuti pola tidur ayahnya) cendrung bermasalah dengan disiplin waktu. Rata-rata siswa yang tidak disiplin untuk tidur, cendrung mengantuk di sekolah dan bermasalah dengan guru selama PBM- ia dianggap sebagai siswa yang kurang tertarik untuk mengikuti PBM. Lagi- lagi masalah belajar berasal dari tidak disiplin waktu di rumah, dan orang tua tidak boleh berlepas tangan seenaknya.

    Ukuran atau besarnya ruangan rumah bisa menjadi sumber masalah dan merembes ke masalah di sekolah. Bayangkan sebuah keluarga dengan dua orang anak yang duduk di bangku sekolah SD, SMP atau SLTA menempati rumah berukuran kecil, tanpa punya ruang tidur dan ruang belajar yang memadai, ditambah lagi dengan suasana yang hiruk pikuk- acara sinetron televisi yang menarik datang silih berganti, hiburan dari CD player, dering ringtone dan clip film dari handphone, serta lantunan karaoke dari rumah tetangga, maka apakah masih ada mimpi untuk memiliki anak yang punya kecerdasan berganda. Apalagi suasana stress yang begini membuat orang tua kurang menarik dalam berbahasa- marah, memaki, mengumpat dan serba banyak melarang serta menyuruh. Suasan rumah seperti ini cukup mayoritas jumlahnya dan juga berpotensi melahirkan anak didik dengan minat dan motivasi belajar yang rendah.

    Cukup beruntung bagi kelurga junior bila bisa memiliki- membeli atau mengontrak- ruangan atau rumah dengan ukuran yang agak memadai. Namun bila mereka kurang memiliki konsep pendidikan maka mereka juga berpotensi menciptakan generasi yang salah didik. Di daerah perkotaan orang tua junior bisa jadi berkarakter plaza-oriented, apa saja yang dimakan, diminum dan dipakai anak musti dibeli dari plaza. Mereka, karena kurang punya ilmu mendidik dan kesehatan, cendrung memanjakan anak dengan makan dan minum berkaleng penuh dengan zat-zat kimia dan makanan fast food- cepat saji- yang juga menjanjikan penyakit generative dari pada mendatangkan manfaat kesehatan. Sajian sepiring rujak- makanan tradisionil- dan sekeping singkong bakar atau singkong rebus (yang cendrung dilihat sebelah mata bagi kalangan yang merasa separo selebriti) jauh lebih sehat dari pada makanan dan minuman yang sudah meluncur dari kaleng dan botol dengan pengawet kimia. Prilaku dan gaya hidup orang tua juga ikut menciptakan anak yang berkarakter konsumerisme dan rentan dengan penyakit.

    Kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak memang ditentukan oleh peranan dan campur tangan orang tua terhadap mereka. Secara awam agaknya ada beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak. Kesalahan ini disorot tentu sebagai langkah antisipasi agar tidak timbul malpraktek atau salah-asuhan dalam mendidik anak. Malpraktek dalam mendidik yang dilakukan oleh ibu-bapa dan anggota kelurga yang dewasa lainnya adalah seperti; kurang pengawasan, gagal menjadi pendengar, jarang bertemu muka dengan anak, bersikap terlalu suka berlebihan, suka bertengkar di depan anak, bersikap kurang konsisten, terlalu banyak nonton tv, mengukur segala sesuatu dengan materi, dan bersikap berat sebelah atau tidak adil.

    Kurang pengawasan adalah bentuk kesalahan orang tua yang pertama. Dari fenomena sosial terlihat bahwa anak-anak terlalu banyakbergaul dengan lingkungan semu di luar keluarga, dengan orang lain dan tokoh tokoh dalam kartun, film dan sinetron. Ini adalah tragedy yang membuat orang tua kehilangan teladan- apalagi kalau pribadi orang tua kurang menarik, misal karena terlalu cerewet atau terlalu banyak mencampuri anak terlalu detailk. Idealnya adalah agar tidak membiarkan anak berkeliaraan sendirian. Anak butuh perhatian orang tua, maka rumah perlu dikondisikan, ada sarana belajar, bermain, hiburan- undang teman temannya agar anak tidak kuper (Kurang pergaulan)- dan orang tua pun melowongkan waktu untuk berbagi rasa dan berbagi cerita- berinteraksi dan berbagi pengalaman hidup.

    Anak-anak dapat dikatakan sebagai kelompok manusia yang paling sibuk di dunia. Mereka punya segudang mimpi untuk diceritakan pada teman dan termasuk pada orang tua. Namun banyak orangua terlalu lelah memberikan perhatian, mereka cendrung untuk mengabaikan apa yang mau diungkapkan oleh anak. Tanpa disadari karakter orang tua yang begini melahirkan anak menjadi orang yang juga segan mendengar orang lain, termasuk mendengar gurunya di sekolah.

    Adalah bijaksana menjadi orang tua yang tidak terlalu detail mencampuri dan mengarahkan anak. Juga tidak salah kalau orang tua membiarkan anak melakukan kesalahan- memainkan perangkap nyamuk sehingga ia kena sentrum lemah, misalnya. Dari hal ini ia akan jera untuk melakukan kesalahan yang sama. Namun adalah sangat tepat kalau orang tua ikut membantu anak untuk mengatasi masalahnya sendiri.

    Sebahagian orang ada yang bersikap terlalu berlebihan. Itulah ruginya menjadi orang tua dengan keluarga kecil- Keluarga Berencana- dibandingkan dengan orang tua dulu yang mempunyai banyak anak. Mereka hampir-hampir tidak punya waktu untuk mendikte dan mengurus anak, anak banyak mencoba dan akan kaya dengan penglaman hidup. Orang tua sekarang dengan satu atau dua anak terlalu banyak khawatir, takut anak diganggu orang, takut anak mendapat kecelakaan, takut anak sakit dan akhirnya anak serba dibantu dan dilindungi. Akhirnya ia menjadi tumpul- miskin perngalaman hidup. Wajar bukan kalau anak sekarang serba tidak mandiri- tidak pandai mencuci kaus kaki sepatu, merapikan pakaian dan kamar sendiri, tidak tahu cara menanam biji pohon sampai kepada tidak terampil memasak goreng ikan. Kerjanya belajar sampai pintar, tetapi setelah dewasa berpotensi menjadi sarjana bengong yang hanya pintar membuat lamaran dan menjadi buruh pabrik.

    Perilaku orang tua yang paling berpengaruh dalam merusak mental anak adalah “bertengkar” dihadapan anak. Saat orang tua bertengkar di depan anak, khususnya anak laki-laki, maka hasilnya adalah akan menciptakan seorang calon pria dewasa yang tidak sensitive- yang mungkin juga kasar pada wanita- kelak ia kurang bisa berhubungan dengan wanita secara sehat. Bertengkar di depan anak perempuan, akan membuatnya berfikir bahwa susah mencari pria yang baik dan romantis. Kemudian, mungkin siswa yang kurang sensitive di sekolah bisa jadi berasal dari orang tua yang gemar bertengkar di depan mereka di rumah. Orang tua seharusnya menghangatkan diskusi di antara mereka. Wajar saja bila orang tua berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan ciptakan perasaan tidak aman dan ketakutan pada anak.

    Anak merupakan anggota keluarga yang bisa mengukur isi hati ayah-ibu nya. Anak juga perlu merasakan bahwa orang tua mempunyai peran- leader, supervisor, motivator dan educator. Jangan biarkan mereka memohon dan merengek menjadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua harus tegas dan berwibawa di hadapan anak.

    Kemudian, sekali lagi, apakah perlu menghadirkan pesawat televisi di rumah. Menonton televisi akan membuat anak malas belajar. Orang tua cenderung membiarkan anak menonton berlama-lama di depan tv dibandingkan mengganggu aktifitas mereka Orang tua sangat tidak mungkin dapat menyaring iklan negative dan tokoh tokoh sinetron yang tidak mendidik. Sekarang terserah mereka, lebih baik tidak punya televisi atau membiarka pesawat televisi tidak menyala lagi atau dibuat aturan baru.

    Tidak perlu bersikap berat sebelah, beberapa orang tua kadang kala lebih mendukung anak dan bersikap memihak anak sambil menjelekan pasangannya di depan anak. Mereka akan kehilangan persepsi dan cenderung terpola untuk bersikap berat sebelah. Orang tua perlu meluangkan waktu bersama anak minimal setengah jam di sela-sela kesibukannya.

    Malpraktek di rumah tangga, karena menjadi orang tua yang miskin dengan konsep pendidikan perlu untuk dicegah sedini mungkin. Orangtua perlu mengusahakan memilih rumah yang bisa memberi tempat bagi anak untuk beristirahat, belajar dan berkreasi. Tidak perlu menyediakan home theater-membuat bising suasana rumah oleh tv dan sarana hiburan lain. Orang tua perlu menjadi model dalam bergaul, beribadah, berkarya dan belajar. Beberapa kebiasaan yang bisa menjadi kesalahan dalam mendidik perlu untuk ditinggalkan, yakni seperti kurang pengwasan terhadap anak, malas menjadi pendengar, bersikap terlalu suka berlebihan, suka bertengkar di depan anak, membiarkan anak terlalu banyak nonton tv, dan bersikap berat sebelah atau tidak adil.

  3. Gaya Hidup Guru: Lebih Mengejar Penampilan Daripada Kompetensi Profesi

    Oleh. Marjohan, M.Pd

    (Guru SMAN 3 Batusangkar)

    Professi guru adalah professi yang sudah tua, sama halnya dengan professi berdagang, bertani, menjadi nelayan, bertukang, dan lain-lain. Professi guru memegang peranan yang sangat penting untuk mencerdaskan generasi muda bangsa ini agar bisa memiliki sumber daya manusia (SDM) yang handal. Apalagi untuk negara yang cukup luas dan kaya dengan sumberdaya alam yang memerlukan manusia terampil dan mempunyai SDM tinggi untuk mengelolanya.

    Anehnya dan sudah menjadi fenomena pada banyak sekolah bahwa umumnya siswa siswa cerdas enggan untuk memilih professi menjadi guru. Malah ada guru sendiri yang mengajurkan anak didik mereka yang cerdas agar memilih karir selain guru. “Wah kamu cerdas, rugi kalau kalau kamu jadi guru, ambil saja kedokteran, tekhnik, ekonomi, psiklogi, atau HI (Hubungan Internasional) nanti bisa jadi Diplomat atau Duta Besar….”. Ada ribuan kalimat persuasive yang diekspresikan oleh guru SLTA (mungkin oleh guru SMA, MAN atau guru SMK) pada anak didik mereka di dalam kelas- selama PBM- atau saat senggang di luar kelas. Maka sepakatlah banyak siswa yang cerdas untuk memilih universitas dan Institut favorite di Pulau Jawa, bila kurang berhasil, karena alasan keuangan dan kemampuan otak, maka mereka baru sudi untuk memilih fakultas atau Perguruan Tinggi di Pulau Sumatra atau di Sumatra Barat bagi mereka yang berada di Sumatra Barat. Juga menjadi fenomena bahwa kalau otak dan level keuangan mereka kurang memadai maka baru memilih profesi guru- memutuskan untuk studi pada fakultas keguruan.

    Banyak pemuda atau sarjana cerdas ketika di SLTA, setelah tamat dari jurusan favorite di universitas terkemuka mengalami kesulitan dalam mencari kerja. Mimpi dan iming- iming hidup indah yang dinina-bobokan oleh guru-guru saat di SLTA dulu hanyalah isapan jempol dan tidak terwujud. Takut menjadi PTT atau pengangguran tingkat tinggi, maka mereka memutuskan untuk menjadi tenaga guru honorer pada SMP, SMA, MAN dan SMK, kemudian kuliah lagi untuk mencari/ mendapatkan selembar sertifikat (AKTA mengajar) guna untuk bisa ikut test PNS pada kesempatan berikutnya- moga moga bisa lulus. Ini berarti profesi menjadi guru sebagai karir yang dipungut ditengah jalan.

    Profesi jadi guru sebagai karir yang dipungut di tengah jalan ? Ada orang yang telah memutuskan menjadi guru sejak dari dini- di SMP, SLTA dan saat saat masuk Perguruan Tinggi. Namun cukup banyak orang yang terpaksa, karena berbagai pertimbangan, ikut-ikutan, iseng-iseng, memasuki profesi guru dan cukup banyak orang yang banting stir karena takut menganggur maka memungut profesi sebagai guru di tengah jalan. Karakter-karakter calon guru/ guru yang demikian tentu bisa memberikan dampak terhadap gaya mengajar dan pelayanan dalam mendidik kelak. Namun sebagai manusia tentu setiap orang bisa berubah menuju posisi yang baik dan terhormat.

    Semenjak adanya fenomena bahwa mencari kerja yang mapan, pekerjaan yang bisa menjamin kehidupan adalah sulit, dan ketatnya persaingan menjadi guru atau PNS- apalagi dengan adanya kebijakan pemerintah dalam memberikan sertifikasi guru dan manfaatnya serta janji pemerintah dalam mengucurkan tunjangan sertifikasi yang sudah terbukti- maka banyak lulusan SLTA memilih/ memutuskan menjadi guru kelak. Kini populasi mahasiswa keguruan- calon bapak dan ibu guru- termasuk cukup banyak/ mayoritas di Indonesia.

    Menjadi mahasiswa adalah masa yang indah, mereka belajar banyak teori tentang paedagogik atau ilmu mendidik, psikologi, memahami bidang ilmu yang mereka tekuni dan mengikuti banyak kegiatan di kampus dan dalam sosial. Pada umumnya mahasiswa memiliki semangat belajar dan rasa idealis yang tinggi. Setelah menyelesaikan sejumlah mata kuliah atau SKS (satuan kredit semester) dalam jumlah tertentu dan tugas akhir maka mereka punya hak untuk wisuda dan menyandang predikat sebagai sarjana pendidikan dan berkarir pada sekolah sesuai SK (surat keputusan) yang mereka peroleh dari pemerintah.

    Setelah menjadi guru dan meleburkan diri dalam kehidupan masyarakat, dari fenomena di lapangan, banyak ditemukan pemunduran kualitas- quality deterioration- pada pribadi guru. Cukup banyak guru-guru mengaminkan- mengatakan “ya”- bahwa setelah menjadi guru ilmu mereka sudah karatan, terjadi kristalisasi fikiran, pembekuan fikiran, karena mereka terhenti untuk belajar dan puas dengan ijazah keguruan yang telah mereka sandang.

    Cukup banyak guru- guru yang terbiasa tidak mengkonsumsi buku lagi, begitu juga dalam membaca Koran, majalah dan jurnal (Andaikata animo membaca guru tetap tinggi maka tentu sirkulasi penerbitan lebih bergairah lagi dan perpusatakaan serta took buku akan tetap ramai dikunjungi). Mereka mengajar hanya dengan mengandalkan buku-buku teks yang dipinjam dari perpustakaan sekolah dan buku catatan usang yang digunakan selama bertahun-tahun tanpa tertarik untuk melebarkan dan meluaskan wawasan keilmuan. Malah dalam menyambut kehadiran teknologi- seperti internet, e-mail, blogspot, dan menggunakan komputer, laptop, LCD (Laser Dish Cristal), dan lain-lain banyak guru kurang bergairah dan kurang tertarik untuk ikut mengaplikasikannya. Mereka bersembunyi dibalik kata-kata “sibuk dan tidak sempat” sehingga pada akhirnya mereka menjadi guru-guru yang gatek- gagap teknologi. Karakter sebagai guru yang gatek akan bias memberi citra negative- negatve image- pada diri anak didik- ketertarikan anak didik pada guru dan profesi guru bisa menjadi sirna, “Wah Pak guru dan buk guru itu ketinggalan zaman, menghidupin computer saja tidak ngerti”, gerutu seorang siswa dalam hatinya.

    Membiarkan diri jadi bodoh-tidak mengikuti perkembangan sains dan tekhnologi, bisa dikatakan menjadi karakter sebahagian guru yang statis. Karakter negative lain yang juga ada pada sebahagian oknum guru adalah “hilangnya idealism sebagai guru”. Praktek-praktek seperti mengajarkan atau membiarkan siswa mencontek saat UAN- ujian akhir nasional, sengaja pura-pura tidak melihat siswa mencontek dan saling mencontek dengan harapan agar nilai ujian akhirnya tinggi, atau bisa membantu mereka untuk lulus. Juga menjadi karakter sebahagian guru untuk malas mengajar/ datang ke sekolah lebih cepat, kecuali dating hanya bila ada jam mengajar- budaya ini bisa jadi karena terinspirasi oleh gaya mengajar dan prilaku dosen di Perguruan Tinggi yang memberi kuliah sesuai jadwalnya- telah membuat banyak guru menjadi enggan untuk berlama-lama berada di sekolah. Bila prilaku ini sudah menjadi budaya maka kapan peran guru sebagai konselor dan memberi pandangan hidup pada anak didik lewat interaksi di luar jam PBM bisa terlaksana. Miskinnya interaksi antara guru dengan anak didik telah membuat mereka tidak mengidolakan gurunya, malah cukup banyak anak didik yang juga tidak mengenal nama guru-guru mereka dan mereka hanya menyebut, “oh itu ibuk sejarah, itu bapak olah raga, itu itu ibu KWN, dan itu bapak matematika”, namun pada akhirnya tetap saja siswa disalahkan sebagai generasi yang kurang santun tidak pandai menghargai dan bertegur sapa pada guru- nama gurunya saja tidak kenal, pada hal ini tercipta karena gaya hidup guru itu sendiri.

    Karakter fundamental- mendasar- yang menyebabkan terjadinya pembodohan pada anak didik adalah karena kebisaaan atau kesenangan guru untuk menerapkan metode mengajar tradisionil atau konvensional. Prilaku sosial guru yang lazim terjadi di sekolah , tentu saja tidak semua guru yang demikian, adalah duduk berkelompok di seputar sekolah, berbagi gossip, mengepulkan asap rokok bagi guru perokok, masuk kelas diperlambat saat lonceng berdering, masuk kelas dengan lesu karena membayangkan wajah siswa yang pemalas, marah-marah, memberi segudang nasehat, mendiktekan pelajaran sebagai strategi CBSA (catat buku sampai habis), berceramah, atau menyuruh siswa menjadi mesin fotokopi- mencatat dan meringkas isi buku sampai pegal tangan siswa, dan mungkin ke luar kelas agak cepat.

    Tentu saja ada banyak guru yang melaksanakan tugas sebagai guru yang professional. Namun adalah tugas kepala sekolah dan pengawas sekolah untuk mengarahkan dan membina karakter guru seperti yang dibahas di atas. Namun fenomena yang dijumpai bahwa pendekatan atau strategi yang dilakukan oleh kepala sekolah hanya sebatas menanyakan dan menagih perangkat pengajaran-“Mana perangkat mengajar bapak/ibuk..?” Maka banyak guru membuat perangkat mengajar hanya untuk menyenangkan hati kepala sekolah dan pengawas sekolah saja. Pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam menjalankan fungsi sebagai supervisor , sebahagian, hanya dalam bentuk menggertak guru agar rajin, mendikte dan mencari kesalahan. Maka jadilah jadwal pelaksanaan supervisi sebagai periode yang menyebalkan, menegangkan dan menimbulkan permusuhan.

    Agaknya gaya hidup guru sekarang banyak yang juga senang untuk mengejar penampilan daripada meningkatkan kompetensi profesi sebagai guru. Menjadi kreditor dari sebuah bank atau took elektronik adalah juga prilaku hidup mereka. Mengambil pinjaman uang untuk membeli mobil- walaupun mobil second, adakalanya memiliki mobil belum jadi kebutuhan tetapi karena kompetisi penampilan maka mereka juga terdorong untuk memiliki. Perawatan mobil selama ber-jam jam telah menyita waktu yang seharusnya sebagai quota untuk tujuan pendidikan. Guru- guru perempuan juga berlomba untuk membeli assessories, pakaian, perhiasaan agar mereka bisa tampil menarik seperti figur-figur dalam televisi atau orang orang yang datang dari metropolitan- sebagai pembawa kultur baru, maka waktu yang dihabiskan untuk memenuhi nafsu konsumerisme juga telah menyita waktu atau quota yang seharusnya dibaktikan untuk pendidikan. Karena kesibukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kesenangan dunia, sebahagian guru cendrung kehilangan waktu untuk menyiapkan diri menjadi guru yang professional. Cukup banyak guru tak punya waktu untuk belajar, menyiapkan perangkat pengajaran, menyiapkan soal-soal ujian dan memeriksa ujian dan pekerjaan anak didik. Tetapi untuk berbagi gossip dan menonton tetap selalu ada waktu.

    Tidak ada salahnya kalau guru- guru juga mengerjar dan memenuhi kebutuhan penampilan. Bukankah guru adalah juga manusia biasa, mereka juga punya kebutuhan mulai dari kebutuhan primer, sekunder dan kebutuhan luks. Atau mereka juga perlu memenuhi kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, kebutuhan psikologi sampai kepada kebutuhan untuk aktualisasi diri. Tidak ada salahnya kalau guru juga bisa meluncur dengan mobil sedan, dan memiliki rumah cantik, karena guru tidak perlu lagi dipanggil dengan sebutan “Oemar Bakri” yang pergi mengajar dengan mendayung sepeda onta, seperti yang sempat dicitrakan oleh penulis naskah sinema atau telenovela dalam televisi. Namun, juga sangat tepat kalau mereka juga peduli untuk menajamkan kemampuan kompetensi mereka sebagai guru yang professional.

    Ada tiga bentuk dari standar kompetensi guru yang harus dikenal dan dimiliki oleh setiap guru, yaitu kompetensi pengolahan pembelajaran dan wawasan kependidikan, kompetensi akademik/ vokasional, dan kompetensi pengembangan diri. Memang setiap guru perlu untuk melowongkan waktu dan selalu belajar untuk menuju guru professional dan bermartabat- dengan cara menerapkan ke tiga kompetensi ini.

    Ada empat poin yang perlu dimiliki untuk kompetensi pengolahan pembelajaran, yaitu menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai prestasi belajar dan melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian. Namun sering ada beberapa aspek yang kurang dipahami dan diterapkan oleh sebahagian guru yaitu kurang mengaplikasikan metode pembelajaran yang sesuai, mengajar tanpa menggunakan media pembelajaran, membuka pelajaran dengan memberi ceramah dan marah-marah, miskin dengan sumber belajar, motivasi yang kurang mampu membangkitkan gairah belajar siswa, menjaga jarak sehingga miskin komunikasi dengan anak didik, melakukan penilaian tanpa memperhatikan indikator dan malas untuk memeriksa ujian secara detail.

    Kemudian ada enam poin untuk sub-kompetensi wawasan kependidikan, yaitu memahami landasan kependidikan, memahami kebijakan pendidikan, memahami tingkat perkembangan siswa, memahami pendekatan pembelajaran yang sesuai materi pembelajaran, menerapkan kerja sama dalam pekerjaan, dan memanfaatkan kemajuan IPTEK dalam pendidikan. Namun agaknya malpraktek- kesalahan dalam mendidik- bisa terejadi gara-gara sebahagian guru kurang memahami eksistensi kurikulum, kurang peduli bagaimana mengembangkan life skill, broad base education, competency based curriculum dan melakukan training. Hal lain yang miskin dimiliki guru adalah tentang ilmu psikologi- memahami tingkat perkembangan mental siswa, lemah dalam memanfaatkan IPTEK- tidak kenal dengan internet, e-mail, Microsoft word, excel / program komputer dan buta Bahasa Inggris untuk memahami bahasa Teknologi.

    Dua kompetensi lain adalah kompetensi akademik/ volasional, yaitu menguasai keilmuan dan keterampilan sesuai materi pembelajaran. Dan kompetensi pengembangan profesi, untuk ini dibutuhkan kecakapan guru untuk menulis dan meneliti. Namun selama guru guru terjebak dalam budaya oral- kebisaaan senang ngobrol, bergossip, tidak suka membaca/ menulis dan menonton maka menulis adalah sesuatu hal yang mahal bagi mereka. Dalam kenyataan bahwa banyak guru yang mengeluh kalau menulis apalagi untuk meneliti.

    Menuju guru sejati adalah tidak sulit. Begitu memutuskan mengambil karir guru sebagai profesi maka adalah tepat untuk selalu mengembangkan diri, selalu memelihara idealisme sebagai guru, melakukan longlife education, memahami dan menerapkan/ menyempurnakan kompetensi sebagai guru dan last but not least juga memberikan pelayanan prima pada anak didik. Ada resep untuk memberikan pelayanan prima yang telah dikenal dengan istilah “PAKEM”, singkatan dari “pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan”. Istilah ini kemudian mengalami penambahan menjadi “PAIKEM” yang juga merupakan singkatan dari “ pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan”. Guru musti bias menciptakan suasana pembelajaran yang bisa menimbulkan keaktifan dan kreatifitas anak didik, guru musti memahami keefektifan mengajar dan punya inovasi. Kini, sekali lagi, tidak masalah guru untuk juga mengejar performance, tetapi tidak melupakan competence sebagai guru dan memberikan pelayanan prima dalam PBM pada anak didik.

  4. Internet Diserbu dan Perpustakaan Ditinggalkan

    Oleh : Marjohan, M.Pd

    Guru SMAN 3 Batusangkar

    Perpustakaan mempunyai peran yang sangat penting dalam memajukan pendidikan suatu sekolah, institute, dan suatu negeri. Perpustakaan merupakan khazanah ilmu atau gudang ilmu, karena di sanalah ilmu-ilmu yang sudah ditulis dalam bentuk buku, jurnal, majalah dan Koran dikumpulkan. Kalau dibuat perumpamaan- ibarat tubuh manusia- maka perpustakaan adalah ibarat kepala atau otak. Maka perpustakaan adalah otak bagi suatu sekolah atau bagi suatu universitas.

    Perpustakaan juga mempunyai peranan penting dalam menumbuhkan kegemaran membaca masyarakat- reading society. Pemerintah dan masyarakat Indonesia sejak dulu berusaha keras untuk memajukan peradaban sosial melalui gerakan gemar membaca. Ini terwujud dalam pendirian banyak perpustakaan di berbagai tempat. Setiap orang mengenal bahwa ada beberapa jenis perpustakaan seperti; perpustakaan nasional, perpustakaan daerah, perpustakaan umum, perpustakaan universitas, perpustakaan sekolah, perpustakaan mesjid, perpustakaan anak jalanan sampai kepada perpustakaan mini atau perpustakaan keluarga.

    Sungguh hati akan senang melihat kebisaaan membaca masyarakat, seperti yang direpresentasikan oleh masyarakat Jepang dan masyarakat dari Negara maju -di Singapura, Eropa dan Amerika-, yang menjadikan kegiatan membaca sebagai kebutuhan mereka, sama halnya dengan kebutuhan makan, minum atau terhadap sandang, pangan dan papan. Orang Indonesia pasti senang mendengar cerita tentang kebisaaan membaca orang-orang dari Negara maju tersebut, yang mana mengisi waktu senggang mereka- sambil menunggu mobil atau sambil bergelantungan dalam mobil masih asyik membaca buku.

    Membaca agaknya juga sudah menjadi kesenangan bagi sebahagian orang kita, misalnya mereka membaca Koran sambil menikmati sarapan pagi. Namun membaca mungkin belum menjadi kebutuhan, kecuali hanya bagi segelintir orang saja- dan bagi orang secara umum, mereka membaca hanya sekedar pengisi waktu senggang saja.

    Di daerah perkotaan ada tempat membaca yang rilek dan orang menyebutnya dengan taman bacaan. Bisaanya taman bacaan menjadi tempat mangkalnya anak-anak sekolah yang membolos saat jam PBM (proses belajar mengajara) di sekolah. Mereka datang ke sini untuk membaca komik silat atau untuk menyewa novel-novel porno. Pemilik taman bacaan memungut uang sewa untuk komik dan novel porno tersebut- kalau tidak ada novel porno maka tentu taman bacaan ini tidak pernah laku.

    Sebagian siswa yang membolos- sebagai dorongan libido usia remaja- terbisaa merobek halaman novel yang berbau porno atau mencuri novel porno tersebut untuk dibahas- berbagi cerita seks- bersama teman sebaya di sekolah. Tetapi- dahulu- bila ketahuan oleh guru di sekolah maka mereka pasti akan diproses atau berurusan dengan guru. Karena ada kesepakatan bahwa sekolah harus bebas dari pornoaksi dan pornografi.

    Beberapa tahun lalu, perpustakaan sekolah, perpustakan umum dan perpustakaan daerah, dan sebagainya, masih merupakan tempat favorite untuk dikunjungi oleh pembacanya. Tempat ini menjadi pilihan utama bagi pelajar, mahasiswa, pengunjung umum dan orang-orang yang punya selera intelektual. Pemerintah merespon kebutuhan membaca mereka dengan menyediakan bermacam-macam bentuk dan judul bacaan untuk memenuhi kebutuhan kognitif, emosional dan spiritual pembaca. Mereka- pengunjung perpustakaan- juga tahu bahwa perpustakaan adalah tempat yang khidmat setelah tempat beribadah (mesjid) sehingga mereka sepakat untuk menjaga ketenangan- no speaking area- di dalam perpustakaan. Berbicaralah seperlunya agar pembaca yang lain tidak merasa terusik.

    Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan ICT (information communication technology) begitu pesat. Setiap orang sekarang sangat familiar dengan beberapa produk teknologi informatika. Sekaligus telah menambah kosakata mereka seperti computer, laptop, hand phone, voucher, internet, virus, hacker, dan lain- lain yang telah menambah kosakata mereka sebagai masyarakat modern. Namun sekarang kalau kita pergi ke lorong-lorong taman bacaan yang dulu pernah ramai sebagai tempat favorite untuk membaca novel porno dan komik silat, bagi siswa yang melarikan diri dari kebosanan di sekolah, kini telah menjadi sepi. Yang tinggal hanyalah komik silat dan novel porno yang sudah berdebu karena tidak disentuh lagi oleh pembacanya.

    Perpustakaan kini sedang mengalami nasib yang sama dengan taman bacaan- menjadi tempat yang sepi atau mati suri, ditinggalkan oleh pengunjungnya, kecuali yang terlihat adalah penjaga pustaka yang selalu menguap, mengantuk dan bosan karena kekurangan pekerjaan. Perpustakaan sekolah- pada banyak sekolah- kehilangan daya tarik. Kecuali menjadi tempat asylum –tempat singgah atau mengusir siswa pemalas dalam membuat PR agar bisa menyelesai PR di sana. Maka timbulah citra bagi mereka bahwa perpustakaan adalah sebagai penjara sekolah atau tempat rehabilitasi mental.

    Perpustakaan daerah atau perpustakaan umum-yang ada pada beberapa kota kecil yang didanai moleh pemerintah- juga cendrung sepi dengan pengunjung, atau lonceng kematian sudah bergema di sana. Bagaimana dengan perpustakaan fakultas atau perpustakaan universitas ? Pada beberapa universitas atau fakultas yang lupa mengurus perpustakaan juga dapat ditemui sudah tidak rapi lagi, tidak ada tambahan koleksi baru dan buku-buku usang hampir beserakan, karena pustakawan sudah segan/ malas untuk bekerja.

    Kalau begitu fenomen yang terjadi, maka perpustakaan sekarang telah menjadi tempat yang kehilangan daya tarik untuk dikunjungi. Mengapa ? Karena pengunjung perpustakaan telah memilih internet- warnet (warung internet) sebagai tempat yang menarik. Kehasdiran internet diserbu ramai-ramai. Sementara pengunjung taman bacaan- siswa yang membolos dari sekolah- mungkin memilih tempat bermain- play station- dan juga mencari game di warnet sebagai tempat pelarian dari sekolah yang mereka namai sebagai penjara.

    Terus terang bahwa perpustakaan dengan koleksi buku yang lengkap tetap lebih bermanfaat dan berkualitas dari pada internet. Sebab tidak semua tulisan yang ada dalam internet yang berkualitas- di upload oleh doctor dan professor. Sekarang siapa saja- mahasiswa, murid SD dan sampai kepada anak ingusan- bisa menulis catatan harian, sampai kepada artikel dengan kupasan yang enteng dapat mereka simpan- upload- ke dalam situs internet. Atau mereka sendiri bisa membuat website sendiri menggunakan fitur multiply, wordpress, blogspot, dan lain-lain. Pengguna internet yang kurang selektif bisa terjebak dan menggunakan tulisan yang kurang berkualitas- tulisan anak ingusan- sebagai referensi tulisan ilmiah mereka.

    Lebih Parah lagi, kehadiran warung internet dengan box berdinding tinggi telah memberi kesempatan bagi pengguna internet- termasuk yang ingusan/ baru akil balig sampai kepada pengguna internet puber ke dua- untuk melakukan cuci mata atau zina mata, mengakses situs porno- gambar porno dan tube porno yang tersedia dengan gratis dalam koleksi film atau clip yang berlimpah ruah. Pengguna internet dengan berbekal flasdisk, yang dicolokkan ke dalam CPU, bisa mendownload clip porno yang sangat ampuh untuk memanjakan libido mereka, merusak akhlak dan menyuburkan generasi amoral dan membutakan mata bathin/ spiritual bangsa Indonesia ini.

    Perpustakaan megah yang dibiarkan sepi oleh pengunjung telah memberikan dampak negatf. Buku-buku berkualitas jelas bakal tidak akan tersentuh. Tersus terang bahwa perpustakaan tetap mempunyai peran dalam menjaga minat baca masyarakat, andai tidak berfungsi lagi, tentu bisa keilangan peran- banyak masyarakat akan buta ilmu pengeahuan yang dalam. Mereka akan tidak tahu lagi dengan judul-judul buku best seller, tidak kenal penulis favorite di Indonesia dan di dunia. Ada kalanya mereka juga akan punya problema dengan penulisan proposal, skripsi, tesis dan disertasi- kesulitan mencari buku referensi. .

    Ada langkah tepat bagi penanggungjawab perpustakaan dan untuk mencegah agar tidak segera datangnya lonceng kematian bagi perpustakaan, yaitu melengkapi perpustakaan dengan sarana internet- menggabungkan internet dengan perpustakaan, untuk maju memang butuh biaya. Ini adalah cara yang tepat untuk menghidupkan perpustakaan. Dengan demikian pengunjung perpustakaan bisa mengases internet sebagai sarana untuk mencari informasi. Sekaligus mereka tentu akan menyentuh, membolak-balik dan membaca jurnal, majalah, Koran, dan buku-buku lain. Maka dengan cara begini minat baca masyarakat tetap terjaga. Mencegah agar perpustakaan tidak mati suri, ditinggalkan oleh pengunjung memang perlu alternative dan fikiran yang serius. Kini semua orang bertanggungjawab untuk menggerakan dan mengaktifan fungsi pustaka. Ini semua mempunyai tujuan untuk mencerdasan manusia- seluruh bangsa Indonesia.

  5. MEMBUDAYAKAN APPLAUSE dan MENCEGAH KEKERASAN DALAM MENDIDIK

    Oleh: Marjohan M.Pd

    (Guru SMAN 3 Batusangkar)

    Punishment dan reward- pemberian hukuman dan ganjaran- dalam ilmu paedagogi dipandang sebagai bagian dari proses pendidikan. Pemberian hukuman bertujuan untuk memberiikan efek jera dan mencegah berlanjutnya prilaku negatif dan ganjaran berguna untuk penguatan atas prilaku positif. Punishment dan reward juga dikenal dalam ajaran agama.

    Dalam Islam diajarkan tentang tentang adanya sorga dan neraka. Siapa saja yang melakukan amal buruk (negative) atau mengingkari ajaran Allah Swt adalah dosa (diberi punishment), dan siapa saja yang melakukan amal baik (positif) dan mematuhi perintah serta meninggalkan larangan Nya, maka akan diberi pahala atau reward. Hamba Allah yang memiliki banyak dosa akan dilemparkan kelak kedalam Jahanam (neraka) sebagai punishment, dan yang melakukan banyak kebajikan, memiliki banyak pahala maka bagi mereka adalah Sorga (reward) sebagai tempat yang layak, amiiin. Namun Allah Swt memiliki ampunan yang besar bagi mereka yang bertobat, meninggalkan kebisaaan negative atau dosa.

    Dalam pendidikan terhadap anak di rumah, orangtua juga memberiikan punishment dan reward pada prilaku anak. Bentuk dari reward adalah seperti menghargai, memuji, mencium, bertepuk tangan dan sampai pada memberii hadiah. Sementara bentuk dari punishment adalah seperti tidak acuh, membentak, menhardik, mencaci, sampai pada memukul atau hukuman fisik yang lain.

    Reward- dalam bentuk pujian dan penghargaan – lebih dominan diberikan pada anak sejak usia dini sampai mereka masuk Sekolah Dasar. Pujian demi pujian atas aktivitas dan pengalaman hidup yang dilakukan anak telah mendorong mereka untuk tumbuh dan berkembang. Apalagi dalam rentangan usia ini- usia balita- dengan proses pertumbuhan otak yang cepat yang juga disebut dengan masa emas (golden period) maka pemberian reward/ dalam bentuk pujian dan penghargaan akan membantu anak untuk tumbuh dan berkembang secara sempurna.

    Dalam usia ini hampir semua orang tua mengekspresikan tutur bahasa yang lembut sambil menyirami anak dengan perhatian, penghargaan dan pujian , “ayo anak manis, jangan suka ganggu mama, kalau sedang kerja. Kalau kamu bisa jalan, nanti mama kasih kue enak”. Atau sang ayah juga bertutur lembut dan ramah, “Eko, kalau kamu bisa pasang sepatu, nanti papa bawa ke kebun binatang…!”. Pemberian reward lebih dominan daripada pemberian punishment bukan ?. Malah anak yang tiba-tiba memukul wajah sang ayah, karena akalnya yang masih kecil, bisa jadi memperoleh maaf segera dari sang ayah.

    Pemberian pujian dan penghargaan (reward) cedrung berkurang saat usia anak beranjak semakin besar. Malah orangtua dalam masyarakat root grass level (masyarakat lapisan bawah yang jumlahnya sangat banyak ) juga jarang membiasakan mengatakan kata-kata “maaf dan terimakasih” sebagai model dalam pendidikan akhlak di rumah, akibatnya anak-anak juga tidak terbiasa dan mampu untuk mengucapkan ke dua kata tersebut dalam konteks yang tepat dalam pergaulan mereka. Pada akhirnya anak anak tumbuh menjadi generasi yang kikir untuk menuturkan kata-kata “I am sorry dan Thank you very much” dalam bahasa mereka.

    Seperti yang telah dikatakan bahwa pemberian ungkapan penghargaan pada anak sangat umum sejak usia dini sampai mereka menginjak usia Sekolah Dasar. Namun begitu saat anak mulai memasuki usia bersosialisasi di SD, SMP dan SLTA, maka pemberian kata-kata penghargaan (oh itu bagus, terimakasih, kamu memang hebat, dan lain-lain) langsung dari mulut orangtua secara tulus makin lama makin jarang mereka peroleh. Kalau anak melakukan suatu tindakan yang terpuji/ positif, itu dipandang sebagai suatu hal yang wajar dan tidak perlu lagi diberi pujian segala. Ada orang awam yang berkata bahwa anak-anak yang sudah besar tidak perlu pujian lagi karena mereka bisa menjadi besar kepala- demam pujian (prize oriented) kelak. Tetapi bila sang anak melakukan kesalahan maka mereka secara spontan- buru buru- memperoleh kutukan, cacian, sampai kepada corporal punishment (hukuman fisik) seperti – menjewer, memukul, menampar, membenturkan kepala dan sampai kepada bentuk yang lain, nauzubillah minzalik .

    Praktek pemberian reward yang kurang saat anak melakukan tindakan positif dan gampangnya memberiikan punishment bila anak melakukan tindakan negatif terasa seolah-olah sebagai fenomena sosial, terutama bagi kalangan masyarakat berpendidikan rendah dan mereka yang tinggal dalam rumah yang sangat padat. “wah kau dasar anak goblok…, senyum mu kok seperti nyengirnya kuda…!” ungkapan- ungkapan tadi sangat umum didengar ditengah masyarakat.

    Pembiasaan tidak banyak memberiikan pujian, penghargaan dan minta maaf dalam pendidikan keluarga dari generasi tua, telah ditiru (menjadi model) oleh generasi berikutnya. Pada akhirnya pembiasaan yang negatif ini seolah-olah telah menjadi fenomena demoralisasi karena tidak mampu mengungkapkan maaf dan terimakasih dalam konteks yang tepat. Sekarang cukup banyak terdengar keluhan di kalangan pendidikan yang mengatakan bahwa anak-anak sekarang sebagian cendrung berkarakter beringas, kurang sopan santun , kurang pandai bertegur sapa dengan orang tua dan guru kalau berpapasan di jalan. Pada-hal orang dari dunia Barat sudah terlanjur beranggapan positif bahwa kita adalah sebagai bangsa yang ramah, karena gampang senyum, walau dalam kenyataan bahwa kita adalah orang yang sulit dalam mengungkapkan “maaf kan saya atau terima kasih banyak”. Ketika anak tumbuh menjadi lebih besar, di rumah kurang memperoleh pujian, perhatian,, dan reward yang cukup dari proses pendidikan, dan di saat itu mereka membutuhkan hal hal ini untuk menghangatkan emosi mereka, maka muncullah kompensasi prilaku yang aneh-aneh seperti bertingkah agresif untuk mencari perhatian, haus pujian, suka mengganggu/ mengusik anggota keluarga, teman sebaya dan orang lain.

    Guru-guru yang mengajar mulai dari bangku SD, SMP, sampai SLTA, dan malah juga para dosen di Perguruan Tinggi adalah juga orangtua bagi anak-anak mereka di rumah. Sebagian dari mereka mungkin juga terkondisi melalui pendidikan sosial sebelumnya untuk tidak royal dalam memberii perhatian, penghargaan atau reward terhadap anak-anak didik mereka- tentu tidak semuanya yang begitu. Namun cukup banyak ditemui guru yang berprilaku keras, sampai memperlihatkan wajah bengis (atas nama mempertahankan suatu disiplin) pada anak kecil-kecil yang usianya masih berkisar 7 – 13 tahun. “Wah kau dasar bloon, mukamu dasar muka tembok, apa matamu buta…”, dan masih ada lusinan koleksi kata-kata emosional lainnya yang sering terucap dari mulut guru saat mereka lagi dalam keadaan bad mood di lingkungan sekolah atau saat PBM di kelas. Namun guru-guru yang selalu mampu mengontrol emosi, dan memberi maaf – mungkin adanya kesadaran- karena digaji Negara (juga oleh tunjangan sertifikasi) dan telah komit memilih profesi guru untuk banyak memberii maaf atas prilaku anak didik, maka sebutan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa sangat tepat buat mereka.

    Prilaku siswa di sekolah adalah prilaku bawaan dari rumah dimana mereka dibesarkan dalam lingkungan yang jarang memberiikan pujian dan perhatian, kecuali punishment/ cacian, cemooh dan ancaman telah tumbuh menjadi anak didik yang agressif, sulit berkosentrasi, haus perhatian, dan suka menganggu ketenangan teman. Dalam pandangan ilmu paedagogi lama bahwa anak didik yang demikian (melakukan kegaduhan/gangguan) perlu untuk diberi punishment- walau prilaku mereka terpola akibat dari kelebihan mis-punishment (mal-praktek punishment) di rumah, maka guru-guru di sekolah juga cendrung memberiikan punishment untuk memberiikan efek penjeraan seperti; mengharik, mencaci, menjewer, push-up, meloncat sambil jongkok, berdiri kaki itik/ sebelah kaki di depan kelas (agar supaya anak jadi jera atau supaya kelak tumbuh menjadi bangsa pemalu/ mental budak ?) menampar, menendang, dan sampai memberikan hukuman fisik yang lain.

    Pemberian punishment pada anak didik tampak makin intense/meningkat saat mereka berada pada usia pra-pubertas/puber awal sampai pada pubertas pertengahan, yaitu saat mereka duduk di kelas 5 dan 6 Sekolah Dasar sampai di penghujung kelas 12 di SMP. Ini adalah periode dimana anak memperlihatkan prilaku sangat agresif,yaitu banyak gerak dan banyak berteriak-teriak. Untuk meredam agressif mereka maka lagi-lagi sebagian guru-guru memilih cara-cara kasar dalam bertutur sampai pada melakukan kekerasan atau hukuman fisik.

    Kemajuan teknologi dan informasi, juga memaksa kemajuan dalam pelayanan pendidikan. Pendidikan yang diharapkan oleh public adalah pendidikan yang kaya dengan sentuhan kemanusiaan. Maka gencarlah harapan untuk member anak dengan pendidikan bernuansa sentuhan emosi, sentuhan kalbu, sentuhan humanistic yang tulus. Anak perlu didik dan dilindungi dan mereka harus diberi perlindungan hukum- alhamdullillah. Tuntutan untuk mewujudkan hal yang demikian tentu juga mengharapkan agar orang tua di rumah dan guru di sekolah mengubah sikap dan kepribadian untuk melaksanakan pelayanan mendidik mereka- melalui pelatihan, pembiasaan dan iktikad baik- agar mampu bersikap lembut, ramah, simpatik dan empatik , dan selalu menjadi model yang selalu sabar dan santun dalam mendidik anak.

    Adalah merupakan seruan yang positif agar orangtua dan guru mampu memberikan pendidikan dengan sentuhan kemanusiann- sentuhan kasih sayang yang tulus. Untuk perbaikan moral dan karakter anak, oleh sebab itu diharapkan agar tugas pendidikan yang paling utama musti ada pada orangtua. Namun guru juga perlu melakukan peubahan total dalam gaya mendidik. Mendidik dengan cara kekerasan dan penuh menekan atas nama mendisiplinkan anak adalah gaya mendidik guru-guru yang bergaya otoriter. Pendidik dengan model persuasive, mengayomi, dan pemodelan positif pasti selalu ada dan dapat dipelajari serta diadopsi.

    Kebisaaan yang dilakukan oleh instruktur pada pelatihan sosial bagi orang-orang dewasa dan remaja dan sampai kepada guru-guru TK, guru-guru pada PAUD (pendidikan anak usia dini), sampai kepada kebisaaan memberikan applause ( tepuk tangan) oleh presenter atau guru yang berpribadi hangat atas tindakan positif seorang aktor/ murid dalam suatu kegiatan patut untuk diteladani. Sekolah harus tahu (dan harus mengadopsi) bahwa kini banyak perusahaan meningkatkan pelayanan dengan menonjolkan unsur -unsur simpatik seperti semboyan mereka ; melayani dengan penuh ramah tamah, melayani anda dengan tegur sapa dan senyum. Anak-anak sekarang banyak yang merasakan bahwa sekolah atas nama mengejar kualitas dan disiplin penuh dengan tekanann ibarat penjara modern, dan mereka bertutur “wah bête belajar di sana”. Namun sekolah sekolah walau gedungnya sederhana tapi memberi pelayanan prima- tenaga pendidik mengajar dengan mengutamakan pemberian pujian, penghargaan, dan ungkapan maaf yang tinggi bisa menjadi tempat favorite dan sangat menyenangkan bagi anak-anak didik. Mendidik anak oleh guru dan orangtua dengan membudayakan applause dan mencegah untuk melakukan kekerasan fisik dan psikis adalah sangat tepat dan urgent (mendesak) untuk diterapkan demi memperoleh generasi yang rajin, cerdas, sholeh dan santun dalam hidup, amin.

  6. wawa

    Pnyebab kecelakaan paling banyak motor, dan hebat nya motor “tidak pernah salah” jika tabrakan dgn mobil 🙂

    Kampanye2 mengenai keselmatan lalu linta harus jd concern pemerintah dan swasta yg terkait, spt program kampanye “Shell Road Safety” perlu diperbanyak lg..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.