Cerita tentang Ibu Betti Alisjahbana; Juri e-Learning Award 2008

setelah penjurian
setelah penjurian

Kata-kata yang keluar dari bibirnya menunjukkan dia adalah sosok perempuan yang memiliki wawasan yang luas tentang teknologi serta mengerti benar visi dan misi yang diembannya. Sebagai perempuan pertama yang menduduki jabatan Presiden Direktur IBM di kawasan Asia Pasifik, Betti Alisjahbana mengatakan bahwa kunci keberhasilannya adalah tiga hal yaitu kejujuran, integritas, dan motivasi yang tinggi.

Perempuan kelahiran Bandung, 2 Agustus 1960 ini dibesarkan dalam keluarga yang memahami benar pentingnya pendidikan. Semenjak kecil Betti sudah rajin mengikuti kursus tambahan untuk mengasah keterampilannya.

Ibunya, mantan seorang guru, yang memilih berhenti menjadi guru agar bisa mempunyai waktu lebih banyak, mendidik Betti dan ketiga saudara laki-lakinya agar menjadi orang yang berguna bagi orang lain suatu saat nanti. Ibunya berperan besar dalam melatih kecerdasan emosional anak-anaknya. Sedangkan ayahnya, seorang-pegawai negeri yang juga dosen ITB dan Unpar banyak memberikan bekal dalam hal pembentukan kemampuan intelektual.

Sejak SD, Betti sudah mengikuti kursus Bahasa Inggris. Tidaklah mengherankan bila kelak ketika menjadi mahasiswa di Jurusan Arsitektur ITB, ia aktif di Student English Forum mengasah kemampuan berbahasa Inggris baik aktif maupun pasif. Di samping kursus yang berkaitan dengan sekolah, Betti juga mengikuti kursus di luar kepentingan sekolah seperti kursus menjahit dan kursus kecantikan. Makanya, semenjak SMP ia sudah bisa menerima jahitan. Berbagai kursus yang diikutinya turut membantu meningkatkan kemampuan interpersonal dan rasa percaya dirinya.

Kiprahnya di IBM dimulai setelah lulus dari dari Institut Teknologi Bandung jurusan Arsitektur tahun 1994. Setelah lulus test, ia memotivasi diri dan bekerja sebaik-baiknya agar bisa menyelesaikan program pendidikan yang harus dijalaninya di Jakarta dan Hongkong selama setahun sebagai marketing trainee.

Begitu selesai mengikuti program ini, ia menjalani berbagai posisi di bidang sales dan marketing selama enam tahun. Kesabarannya dalam menjalani pekerjaannya tidaklah sia-sia. Ia mendapat penugasan internasional tahun 1996 hingga 1998 sebagai General Manager, Generah Business, Marketing untuk IBM ASEAN dan Asia Selatan dan berkantor di Singapura selama dua tahun.

Tinggal di Singapura membawa berkah tersendiri bagi keluarganya. Meskipun suaminya, Mario Alisjahbana, seorang pengusaha di bidang media dan percetakan yang juga putra pujangga besar Sutan Takdir Alisjahbana, datang dua minggu sekali ke Singapura bertemu dengan Betti dan kedua anaknya, di saat-saat itulah keluarganya menghargai benar arti kebersamaan, keharmonisan dan nilai suatu keluarga.

Suaminya bersyukur karena Betti dan kedua anaknya tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi bangsa Indonesia yang saat itu sedang bergejolak dipenuhi dengan aksi demonstrasi dan kerusuhan. Selain itu, kedua anaknya bisa mendapat pengalaman internasional dengan bersekolah di Singapura.
Pengalamannya bertugas di luar negeri dan menangani orang dari berbagai macam latar belakang memberikan nilai tambah dalam karirnya. Ketika kembali ke Indonesia setelah sukses menjalankan tugas di Singapura, ia mendapat promosi sebagai Direktur Sales dan Marketing, PT USI Jaya/IBM Indonesia tahun 1998-1999.

Tidak lama kemudian, berkat persiapan yang matang, Betti dipercaya memimpin IBM Indonesia tahun 1999 sampai sekarang, sebuah cita-cita yang sudah lama ingin diraihnya. Ia kini memimpin 300 orang, serta bertanggung jawab kepada lebih banyak orang lagi karena IBM Indonesia menjalin kerjasama dengan network partner, distributor, dealer, dan perusahan-perusahaan lainnya.

Alumni Asia Pacific Global Leadership Development, Tokyo, Japan (2001), ini mengatakan bahwa dalam menekuni profesinya hingga meraih berbagai prestasi tidak lepas dari tiga prinsip yang selama ini dipegangnya yaitu kejujuran, integritas, dan motivasi yang tinggi. Betti melihat kenyataan bahwa kemampuan seseorang tidak ada batasnya. Bila seseorang mengatakan bahwa dia mampu, maka ia mampu. Bila ia berkata tidak mampu, maka ia tidak mampu. Bila seseorang memiliki motivasi yang tinggi dan percaya bahwa ia bisa melakukan sesuatu serta berusaha semaksimal mungkin untuk meraihnya, maka kemampuan seseorang menjadi tidak ada batasnya.

Bagi Betti, kejujuran dan integritas sangat diperlukan karena kedua hal ini menumbuhkan kepercayaan terhadap orang di sekitarnya termasuk pelanggan, atasan, rekan kerja, dan tim yang dipimpinnya. Kepercayaan membuat kerjasama melakukan suatu pekerjaan menjadi lebih mudah. Kepercayaan akan melahirkan dukungan, meskipun situasi sedang sulit dan penuh dengan tantangan.

Dengan prinsip yang dipegangnya ini, karir Betti terus menanjak. Betti tidak takut mengambil risiko dan berani mencoba hal-hal yang baru. Semakin tinggi posisi seseorang maka semakin besar pula risikonya. Betti mengenang masa-masa ketika ia ditugaskan di Singapura untuk menangani bisnis pemasaran ke perusahaan-perusahaan menengah, sebuah bidang pekerjaan yang dikuasainya. Awalnya ia menanganinya di Indonesia dan setelah sukses ia diminta untuk menggantikan atasannya menangani bisnis itu di negara-negara ASEAN dan Asia Selatan. Kesempatan ini merupakan tantangan baginya.

Tidak lama kemudian, Betti diminta untuk menangani bisnis di bidang e-business yang baginya merupakan hal baru. Pada saat itu, e-business masih pada tahap awal dan ia diminta untuk menangani e-business untuk kawasan regional. Saat itu, Betti berpikir hati-hati dalam memutuskan karena ia diminta menangani bidang yang belum dikuasainya dengan cakupan yang wilayah yang luas secara regional. Namun, akhirnya ia memutuskan bahwa jika ia berusaha, ia pasti bisa memegang tanggung jawab tersebut sehingga tahun 1998 ia menjabat sebagai General Manager, e-business, untuk IBM ASEAN/ Asia Selatan.

Sebagai pemimpin IBM Indonesia, Betti berusaha membawa IBM tumbuh lebih cepat daripada marketnya serta mengubah persepsi orang yang selama ini menganggap IBM sebagai perusahaan hardware saja. IBM saat ini merupakan solution provider yang memberikan layanan konsultasi bisnis, sistem integrasi, perangkat keras dan perangkat lunak kepada pelanggan sehingga mereka bisa memperoleh manfaat secara maksimal dari teknologi.

Berbagai penghargaan diperoleh karena kerja kerasnya sebagai pemimpin, di antaranya Outstanding Achievement Award di tahun 1999, Country General Manager Excellence Award 2000, yaitu penghargaan yang diberikan pada lima negara terbaik dari 170 negara di mana IBM beroperasi.
Dalam hubungannya dengan karyawan, Betti membuka lebar pintu ruang kerjanya dan mempersilakan karyawan masuk dan bertukar pikiran dengannya. Dalam waktu-waktu tertentu ia mengadakan diskusi terbatas dengan lapisan-lapisan karyawan. Ia tidak ingin menjadi pemimpin di atas menara gading yang tidak mengenal siapa sebenarnya orang-orang yang dipimpinnya. Betti harus bisa memposisikan dirinya dengan tepat di antara para karyawannya. Suatu saat ia harus bersikap keras dan tegas, di waktu yang lain ia harus bersikap luwes, fleksibel dan penuh tenggang rasa.

Itulah makanya ia tidak segan-segan berpanas terik berbaur dengan karyawan setiap kali diadakan family gathering. Ia tidak canggung mengambil bagian ikut dalam lomba lari bakiak, tarik tambang dan tulus berbagi canda dan tawa bersama mereka.

Dalam setiap langkah hidupnya, Betti selalu berusaha tetap rendah hati dan menggunakan energinya untuk menuntut suatu perbaikan kualitas kehidupan dengan berbagi pengalaman yang didapatnya, pengetahuan ataupun harta yang dimilikinya secara pribadi. Ia memberikan perhatian yang besar terhadap program-program kemasyarakatan IBM dan dunia pendidikan. Ia menilai bahwa perbaikan-perbaikan terhadap pemanfaatan IT dimulai dari dunia pendidikan.

Betti juga selalu menekankan pentingnya menjalankan bisnis dengan standar etika yang tinggi dan sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Ia melihat bahwa masalah korupsi lebih besar tantangannya dibandingkan dengan masalah birokrasi di Indonesia. Sebagai pemimpin ia berusaha mengajak semua pihak untuk melakukan sesuatu dengan cara yang benar.

Dalam kapasitas pribadi, Betti berusaha membawa perubahan dan perbaikan dengan menyumbangkan apa yang dimilikinya, sekecil apapun kontribusinya itu. Secara finansial, Betti memberikan beasiswa kepada orang-orang kecil seperti anak supir dan anak pembantu serta orang-orang yang membutuhkan di lingkungan terdekatnya. Ia merasa bahwa apa yang diberikannya itu belumlah seberapa dibandingkan dengan perubahan dan perbaikan yang akan terjadi nantinya. Ia juga aktif memberikan beasiswa melalui organisasi-organisasi yang ia percaya dapat menyalurkan dana tersebut dengan baik dan bertanggung jawab.

Di sela-sela kesibukannya, Betti menyumbangkan pengalaman dan ilmu yang ia miliki dengan memenuhi undangan untuk berbicara di berbagai seminar yang mengangkat tema seperti teknologi, kepemimpinan, dan good corporate governance. Ia juga terlibat di bidang-bidang yang positif, salah satunya menjadi Ketua Tim Dewan Juri Bung Hatta Anti Corruption Award yang setahun sekali memberikan penghargaan kepada mereka yang dikenal sebagai pribadi yang bersih dari praktik korupsi termasuk mereka yang berperan aktif memberikan inspirasi dan mempengaruhi masyarakat dan lingkungannya memberantas korupsi.

Mewakili kaum perempuan, Betti menjadi pemimpin dalam suatu wadah yang dinamakan Women Council untuk kawasan ASEAN dan Asia Selatan. Tujuan Women Council adalah membantu para perempuan agar bisa berhasil dalam karirnya dan mampu membagi waktunya dengan bijaksana sebagai ibu, isteri, menantu, dan wanita karir. Ia juga kerap diminta untuk berbicara membagikan pengalaman tentang bagaimana mengatasi masalah-masalah yang biasa dihadapi oleh perempuan.

Betti berpendapat bahwa kesempatan perempuan untuk berkarya dan berkarir sangat banyak. Perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat dunia teknologi semakin terbuka bagi pria dan perempuan. Tantangannya adalah bagaimana membuat teknologi menarik bagi para perempuan. Kenyataan yang ada sekarang adalah sedikitnya lulusan perempuan jurusan IT karena kebanyakan perempuan masuk ke bidang-bidang yang lebih feminim yang biasanya diasosiasikan sudah menjadi bidang perempuan. Paradigma ini sedang berusaha diubah sehingga kaum perempuan juga dapat terlibat penuh di dunia teknologi.

Betti mengakui bahwa ia harus pandai-pandai mengatur waktunya. Ia harus dapat memutuskan pekerjaan apa saja yang perlu didelegasikan dan pekerjaan apa saja yang harus dikerjakannya sendiri entah itu di kantor atau di rumah. Khusus untuk pekerjaan yang nilai emosionalnya tinggi, Betti memilih mengerjakannya sendiri.

Pekerjaan di rumah seperti memasak dan membersihkan rumah biasanya dilakukan oleh pembantu. Meskipun begitu, Betti tetap sekali-sekali meluangkan waktu untuk memasak bagi keluarga terutama masakan-masakan tertentu yang memang ingin ia masak sendiri. Kebiasaannya ini membuat ia mendapat julukan si ‘jago masak’ dari anak-anaknya karena masakan yang ia masak itu-itu saja sehingga ia makin ‘ahli’ memasak makanan itu. Khusus masakan tertentu itu, masakan Betti menjadi primadona di rumah, meskipun sebenarnya pembantu bisa memasak makanan itu.

Seringkali, kedua anaknya yang beranjak remaja, Aslan dan Nadia, memprotes kesibukan Betti. Mereka meminta perhatiannya sehingga untuk ‘mencuri’ waktu ibunya, Nadia pernah mengubah kalender kerja Betti dan memasukkan jadwal ‘menjemput Nadia sekolah’ ke dalam timetable di laptopnya.

Akibat perbuatan ‘mencari perhatian’ Nadia, sekretaris Betti menjadi sibuk menjadwal ulang kegiatan Betti sementara Betti sendiri pun dibuat bingung. Karena itu, Betti berusaha menanamkan pengertian kepada Nadia untuk memahami kesibukan ibunya dan tidak boleh mengubah jadwal dengan mendadak. Bila memungkinkan, Betti selalu berupaya menjemput Nadia dan hadir ketika ia tampil di sekolahnya.

Sedangkan Aslan yang sudah lebih dewasa sangat suka berdiskusi dengan Betti. Mereka suka berdiskusi tentang upaya mencapai sukses. Betti menanamkan ke dalam diri anak-anaknya bahwa segala sesuatu harus dijalani dengan penuh kesungguhan, kejujuran, integritas, dan motivasi yang tinggi. Ia percaya bahwa keteguhan memegang prinsip dan dukungan dari keluarga adalah faktor penentu yang menghantarkan seseorang meraih kesuksesan dan berguna bagi orang lain, bangsa dan negara.

Perubahan yang cepat, dinamis dan tidak dapat diprediksi dalam dunia bisnis menuntut berbagai perusahaan untuk memperbaiki bahkan bila perlu merombak mekanisme responsifitas proses bisnisnya. Salah satu solusi terbaiknya adalah dengan mengadopsi kemampuan teknologi yang terbukti mampu mengantisipasi berbagai perubahan baik dari dalam atau luar perusahaan.

Itulah sebabnya IBM dengan gencar menjual konsep on-demand ke berbagai perusahaan. Dengan konsep ini, perusahaan berbasis on-demand dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi baik yang positif maupun negatif serta terus meningkatkan kinerja perusahaan baik dari segi perolehan laba, produktivitas, dan sebagainya.

Perusahaan berbasis on-demand berusaha meminimalkanfixed cost dan lebih mengaju pada variable cost dalam melakukan aktivitas bisnisnya. Bila keadaan bisnis sedang baik dan permintaan meningkat, cost yang dikeluarkan sebanding dengan peningkatan itu. Bila keadaan bisnis kurang baik dan permintaan menurun, cost yang dikeluarkan sebanding dengan penurunan itu. Jadi, perusahaan terhindar dari biaya-biaya yang tidak produktif. Kenyataan yang ada sekarang adalah masih banyak perusahaan bersandar padafixed cost sehingga bila keadaan ekonomi sedang sulit, biaya tetap tinggi. Oleh karena itu, IBM membantu pelanggan-pelanggannya menjadi perusahaan yang berbasis on-demand, responsif, fleksibel dan variabel sehingga mereka bisa sukses dengan pendapatan yang terus tumbuh berkembang.

Dalam membantu pelanggannya menjadi perusahaan berbasis on-demand, IBM mempunyai 3 pendekatan. Pendekatan pertama adalah menyediakan jasa konsultasi transformasi bisinis. IBM membantu pelanggannya mendefinisikan on-demand strategy dan business model yang diperlukan supaya perusahaan mempunyai dasar yang benar dan kuat untuk menjadi sebuah perusahaan berbasis on-demand.

Pendekatan kedua adalah menyediakan teknologi yang menunjang dimana perusahaan berbasis on-demandmemiliki karakteristik khusus seperti terbuka, artinya, perusahaan berbasis on-demand perlu mengintegrasikan proses bisnisnya mulai dari internal perusahaan hingga ke supplier dan konsumen. Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi yang mengikuti standar, memungkinkan integrasi dari berbagai aplikasi, software dan hardware, mempunyai utilisasi yang tinggi sehingga terhindar dari computing resources yang menganggur, autonomic, yaitu berusaha sebanyak mungkin membuat system management-nya menjadi sederhana dan otomatis serta resiliency, yaitu ketahanan terhadap berbagai perubahan.

Pendekatan ketiga adalah fleksibilitas pengadaan teknologi itu sendiri. Dengan adanya fleksibilitas dalam pengadaan teknologi, perusahaan bisa menikmati teknologi dan support tanpa harus memiliki secara langsung teknologi itu sendiri, inilah yang dinamakan outsourcing. IBM juga memberikan fleksibilitas dari segi on-demand capacity. Artinya, biaya pemakaian dapat disesuaikan dengan jumlah pemakaian computing resources.. Bila perusahaan membutuhkan lebih banyak penggunaan, maka yang dibayarkan sesuai dengan tambahan jumlah pemakaian yang dilakukan.

Untuk mendukung bisnisnya, tahun 2002 lalu, IBM membeli PricewaterhouseCoopers Consulting sekitar 3,5 milyar dolar AS dalam bentuk dana tunai maupun saham. Bila dulu IBM lebih ke arah teknologi saja, sekarang IBM turut pula menangani business transformation suatu perusahaan yang tentu saja sangat membutuhkan konsultan-konsultan bisnis yang profesional.

Mengkomunikasikan dan menjual konsep on-demand kepada berbagai perusahaan menuntut IBM mengubah pendekatannya. Komunikasi harus dimulai dengan orang yang tepat. Bila dulu penawaran teknologi IT dibicarakan dengan IT manager saja, sekarang dengan konsep ini, komunikasi juga dilakukan dengan pemilik atau pemimpin perusahaan dimana mereka lebih mengerti tentang model bisnis dan prioritas bisnis perusahaannya.

Pendekatan yang dilakukan pun harus relevan dan berbeda. Pendekatan kepada pemimpin perusahaan lebih kepada bagaimana teknologi itu bisa mempengaruhi bisnisnya sedangkan dengan IT manager lebih kepada sisi teknologinya itu sendiri. Misalkan saja, untuk mendukung fokus bisnisnya ini, IBM mensosialisasikan konsep on demand kepada para pelanggan, di Darmawangsa Hotel, 17 Januari 2003 yang lalu.

Sebelum gencar menjual konsep on-demand ke berbagai perusahaan, IBM sudah menggeluti dunia e-business, dimana internet dan IT dimanfaatkan untuk menunjang bisnis pelanggan. Ada tiga tahap yang IBM lalui dalam menerapkane-business dalam suatu perusahaan. Tahap pertama adalah perusahaan memiliki situs di internet. Tahap kedua adalah integrasi. Selain tampil di web, pengunjung juga dapat melakukan transaksi online, misalkan membeli barang, transfer uang antar account, dan sebagainya.

Tahap ini implementasinya lebih kompleks karena memerlukan integrasi yang menyeluruh terhadap proses bisnis dalam perusahaan itu. Mulai dari integrasi penjualan, proses delivery, proses penagihan. Tahap ketiga adalah e-business on-demand. Bila pada tahap kedua integrasi hanya terbatas pada perusahaan itu sendiri, sedangkan pada tahap ketiga, integrasi yang dilakukan sudah termasuk partner, customer dan supplier-nya. Integrasi pada tahap ketiga ini jauh lebih lengkap.

Semenjak tahun lalu, IBM mulai fokus pada on-demand dan secara agresif masuk pada tahap ketiga dengan menyediakan jasa transformasi bisnis. Berkaitan dengan kondisi pasar, IBM masih harus berhadapan dengan kenyataan bahwa 65% perusahaan di dunia masih berada pada tahap pertama, 28% tahap kedua, dan sisanya mulai masuk ke tahap ketiga.

Perusahaan Berbasis on-demand
Perubahan yang cepat, dinamis dan tidak dapat diprediksi dalam dunia bisnis menuntut berbagai perusahaan untuk memperbaiki bahkan bila perlu merombak mekanisme responsifitas proses bisnisnya. Salah satu solusi terbaiknya adalah dengan mengadopsi kemampuan teknologi yang terbukti mampu mengantisipasi berbagai perubahan baik dari dalam atau luar perusahaan.

Itulah sebabnya IBM dengan gencar menjual konsep on-demand ke berbagai perusahaan. Dengan konsep ini, perusahaan berbasis on-demand dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi baik yang positif maupun negatif serta terus meningkatkan kinerja perusahaan baik dari segi perolehan laba, produktivitas, dan sebagainya.

Perusahaan berbasis on-demand berusaha meminimalkanfixed cost dan lebih mengaju pada variable cost dalam melakukan aktivitas bisnisnya. Bila keadaan bisnis sedang baik dan permintaan meningkat, cost yang dikeluarkan sebanding dengan peningkatan itu. Bila keadaan bisnis kurang baik dan permintaan menurun, cost yang dikeluarkan sebanding dengan penurunan itu. Jadi, perusahaan terhindar dari biaya-biaya yang tidak produktif. Kenyataan yang ada sekarang adalah masih banyak perusahaan bersandar padafixed cost sehingga bila keadaan ekonomi sedang sulit, biaya tetap tinggi. Oleh karena itu, IBM membantu pelanggan-pelanggannya menjadi perusahaan yang berbasis on-demand, responsif, fleksibel dan variabel sehingga mereka bisa sukses dengan pendapatan yang terus tumbuh berkembang.

Dalam membantu pelanggannya menjadi perusahaan berbasis on-demand, IBM mempunyai 3 pendekatan. Pendekatan pertama adalah menyediakan jasa konsultasi transformasi bisinis. IBM membantu pelanggannya mendefinisikan on-demand strategy dan business model yang diperlukan supaya perusahaan mempunyai dasar yang benar dan kuat untuk menjadi sebuah perusahaan berbasis on-demand.

Pendekatan kedua adalah menyediakan teknologi yang menunjang dimana perusahaan berbasis on-demandmemiliki karakteristik khusus seperti terbuka, artinya, perusahaan berbasis on-demand perlu mengintegrasikan proses bisnisnya mulai dari internal perusahaan hingga ke supplier dan konsumen. Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi yang mengikuti standar, memungkinkan integrasi dari berbagai aplikasi, software dan hardware, mempunyai utilisasi yang tinggi sehingga terhindar dari computing resources yang menganggur, autonomic, yaitu berusaha sebanyak mungkin membuat system management-nya menjadi sederhana dan otomatis serta resiliency, yaitu ketahanan terhadap berbagai perubahan.

Pendekatan ketiga adalah fleksibilitas pengadaan teknologi itu sendiri. Dengan adanya fleksibilitas dalam pengadaan teknologi, perusahaan bisa menikmati teknologi dan support tanpa harus memiliki secara langsung teknologi itu sendiri, inilah yang dinamakan outsourcing. IBM juga memberikan fleksibilitas dari segi on-demand capacity. Artinya, biaya pemakaian dapat disesuaikan dengan jumlah pemakaian computing resources.. Bila perusahaan membutuhkan lebih banyak penggunaan, maka yang dibayarkan sesuai dengan tambahan jumlah pemakaian yang dilakukan.

Untuk mendukung bisnisnya, tahun 2002 lalu, IBM membeli PricewaterhouseCoopers Consulting sekitar 3,5 milyar dolar AS dalam bentuk dana tunai maupun saham. Bila dulu IBM lebih ke arah teknologi saja, sekarang IBM turut pula menangani business transformation suatu perusahaan yang tentu saja sangat membutuhkan konsultan-konsultan bisnis yang profesional.

Mengkomunikasikan dan menjual konsep on-demand kepada berbagai perusahaan menuntut IBM mengubah pendekatannya. Komunikasi harus dimulai dengan orang yang tepat. Bila dulu penawaran teknologi IT dibicarakan dengan IT manager saja, sekarang dengan konsep ini, komunikasi juga dilakukan dengan pemilik atau pemimpin perusahaan dimana mereka lebih mengerti tentang model bisnis dan prioritas bisnis perusahaannya.
Pendekatan yang dilakukan pun harus relevan dan berbeda. Pendekatan kepada pemimpin perusahaan lebih kepada bagaimana teknologi itu bisa mempengaruhi bisnisnya sedangkan dengan IT manager lebih kepada sisi teknologinya itu sendiri. Misalkan saja, untuk mendukung fokus bisnisnya ini, IBM mensosialisasikan konsep on demand kepada para pelanggan, di Darmawangsa Hotel, 17 Januari 2003 yang lalu.

Sebelum gencar menjual konsep on-demand ke berbagai perusahaan, IBM sudah menggeluti dunia e-business, dimana internet dan IT dimanfaatkan untuk menunjang bisnis pelanggan. Ada tiga tahap yang IBM lalui dalam menerapkane-business dalam suatu perusahaan. Tahap pertama adalah perusahaan memiliki situs di internet. Tahap kedua adalah integrasi. Selain tampil di web, pengunjung juga dapat melakukan transaksi online, misalkan membeli barang, transfer uang antar account, dan sebagainya.

Tahap ini implementasinya lebih kompleks karena memerlukan integrasi yang menyeluruh terhadap proses bisnis dalam perusahaan itu. Mulai dari integrasi penjualan, proses delivery, proses penagihan. Tahap ketiga adalah e-business on-demand. Bila pada tahap kedua integrasi hanya terbatas pada perusahaan itu sendiri, sedangkan pada tahap ketiga, integrasi yang dilakukan sudah termasuk partner, customer dan supplier-nya. Integrasi pada tahap ketiga ini jauh lebih lengkap.

Semenjak tahun lalu, IBM mulai fokus pada on-demand dan secara agresif masuk pada tahap ketiga dengan menyediakan jasa transformasi bisnis. Berkaitan dengan kondisi pasar, IBM masih harus berhadapan dengan kenyataan bahwa 65% perusahaan di dunia masih berada pada tahap pertama, 28% tahap kedua, dan sisanya mulai masuk ke tahap ketiga.

Indonesia jauh tertinggal dengan negara-negara lain seperti Singapura dan Malaysia dalam hal pemanfaatan teknologi informasi untuk menunjang berbagai sektor kehidupan. Menyadari kenyataan ini, IBM merasa perlu untuk turut berperan serta dalam memasyarakatkan IT melalui program-program yang sudah dicanangkannya.

Misalkan saja, IBM menyediakan jasa dan teknologi yang terjangkau dengan cara turut aktif mempromosikan Linux, sebuah open source operating system yang mulai banyak dilirik oleh para pelaku usaha. IBM berharap jika Linux sebagai sistem operasi yang murah berhasil diadopsi, banyak kalangan seperti perorangan, organisasi, perusahaan dan pemerintahan yang bisa memanfaatkan teknologi dengan biaya yang lebih murah.

IBM mencoba membentuk Linux Community dan bermitra dengan orang-orang yang bergerak di bidang Linux, baik itu penyedia perangkat lunak, penyedia tenaga ahli dalam hal implementasi, penyedia training di bidang linux, majalah di bidang linux, dan sebagainya. Bersama-sama dengan mereka, IBM mempromosikan Linux guna mendukung percepatan adopsi TI.

IBM juga mempunyai sebuah program kemasyarakatan yang disebut Technology for the Community. Lewat program ini IBM memberikan bantuan teknologi kepada Palang Merah Indonesia pada tahun 2002. Bantuannya berupa penyediaan komputer laptop agar tenaga-tenaga lapangan dapat lebih cepat menyebarkan informasi mengenai suatu musibah dan menggalang bantuan dengan cepat. Di samping itu, IBM juga menyediakan komputer dan scanner di daerah-daerah bencana sehingga PMI bisa lebih cepat dan lebih responsif dalam menangani masalah bencana.

Semenjak tahun lalu hingga sekarang, IBM terlibat dalam pengembangan pendidikan usia dini yang disebut dengan Program Kid’s Smart. Tahun 2003 IBM membantu 45 sekolah, jauh meningkat dibandingkan tahun 2002 sebanyak 30 sekolah. Program ini mencoba memperkenalkan teknologi sejak usia dini dengan pendekatan proses belajar yang menarik dan interaktif. Bantuannya berupa hardware dan software yang didisain semenarik mungkin sesuai dengan anak-anak usia dini. Para guru diberikan pelatihan khusus agar bisa mengkomunikasikan dengan baik proses belajar itu kepada anak-anak. Ketika IBM meluncurkan Kid’s Smart tahap kedua, dua orang anak diminta mendemonstrasikan kemampuan mereka di hadapan banyak orang. Terlihat sekali, anak-anak itu menyukai apa yang mereka lakukan dan mereka sudah bisa mengerti bahasa Inggris sejak usia dini. Bagi IBM, hal ini sudah menjadi prestasi yang membanggakan.

Di lingkungan pendidikan SMA, IBM mengadakan workshop untuk memperkenalkan teknologi kepada para siswa dengan cara yang sangat menarik. Workshop ini mengajarkan bagaimana menggunakan komputer, mendisain website, bereksperimen, menganalisa DNA, dan sebagainya. Tujuannya adalah membangkitkan minat mereka terhadap teknologi sehingga mereka bisa terjun ke dunia teknologi nantinya.

Tidak ketinggalan pula, IBM mempunyai program untuk para mahasiswa, yang disebut Student at Work, sebuah program magang yang terbagi dalam dua pendekatan, program satu hari penuh dan program yang memakan waktu beberapa bulan. Program satu hari penuh biasanya hanya memperkenalkan IBM dan teknologinya namun tidak mendalam. Sedangkan program yang memakan waktu beberapa bulan, para mahasiswa diberikan pekerjaan yang sesungguhnya.

Menurut rencana, sekitar bulan Oktober, IBM akan menempatkan kios-kios komputer di tempat-tempat yang strategis seperti mall terutama museum teknologi yang banyak dikunjungi orang. Melalui kios ini, pengguna dapat melakukan eksplorasi ke museum-museum teknologi yang terkenal di dunia dan belajar lebih banyak tentang teknologi. Satu kendala terbesar dalam mengimplementasikan program ini adalah adanya kekhawatiran bahwa kios-kios tersebut akan bernasib sama seperti telepon umum yang kebanyakan rusak atau hilang dicuri.

Melalui berbagai program yang sudah dan akan dilakukan, IBM juga berusaha menumbuhkan loyalitas para pegawainya dan menciptakan suasana kerja yang menyenangkan karena mereka mendapati bekerja di suatu perusahaan yang memberikan kontribusi kepada masyarakat.

SDM di IBM
Ada dua faktor yang menyebabkan IBM sanggup bertahan di tengah-tengah krisis nasional maupun global yang sedang terjadi di dunia. Faktor pertama adalah fokus. IBM terus fokus pada kepuasan pelanggan dengan memberikan pelayanan yang terbaik jauh lebih baik dari pesaing-pesaingnya. Faktor kedua adalah IBM terus berusaha menjadikan pegawainya terampil dan memiliki motivasi yang tinggi. Oleh karena itu, IBM membuka kesempatan untuk belajar bagi semua pegawainya melalui program IBM Global Campus yang merupakan kombinasi dari e-learning. Dalam situs IBM Global Campus Site, ada ribuan kelas dengan berbagai bidang ilmu. Melalui program ini, selain mempelajari teknologi dan industri, para pegawainya dapat mengembangkan kemampuan pribadinya seperti memimpin orang, mengatur waktu, dan sebagainya.

Metode e-learning memberikan keuntungan kepada penggunanya karena setiap orang dapat belajar sesuai dengan waktu, kecepatan, dan gaya belajarnya masing-masing. Di samping itu, setiap orang dapat belajar tentang topik apapun, kapan saja, seandainya diperlukan. Metode e-learning berusaha mengatasi kebosanan dan kejenuhan dalam belajar dengan menggunakan model belajar yang interaktif dan sistematis. Para pengguna juga didukung oleh expert yang sudah berpengalaman di bidangnya. Untuk mendukung program ini, IBM mengadakan learning day setiap tiga bulan sekali, yang bertujuan mengingatkan para pegawainya bahwa belajar adalah suatu kebutuhan.

IBM juga memiliki program yang disebut Individual Development Program (IDP). Program ini akan mengevaluasi sejauh mana gap antara skill dengan posisi yang sedang dipegang oleh seseorang. Bila ternyata untuk profesi tersebut didapati skill yang diperlukan belum memadai, maka orang tersebut akan dididik dan dilatih melalui e-learning, project assignment atau mentoring. IBM selalu menghimbau semua pegawainya untuk terbuka membantu orang lain dengan menjadi mentor. “Semakin kita berbagi maka kita semakin kaya, “ kata Betti yakin. Dengan cara ini, diharapkan proses transfer ilmu bisa lebih cepat dan semakin mengasah keterampilan mereka yang menjadi mentor.

Di samping itu, IBM dalam meningkatkan keterampilan pegawainya juga memberikan kesempatan kepada mereka untuk menangani proyek-proyek di luar negeri. Para pegawainya tidak hanya menangani proyek-proyek Indonesia saja, tetapi juga terjun menangani proyek luar negeri dengan ketentuan skill profile-nya memenuhi persyaratan. Untuk mempermudah proses pengerjaan proyek, IBM menerapkan knowledge management. Setiap proyek yang pernah dilakukan dibuat dokumentasinya sehingga sewaktu-sewaktu dapat dijadikan referensi atau bahan rujukan bagi mereka yang secara kebetulan sedang mengerjakan proyek yang hampir sama dengan proyek sebelumnya.

Prospek IT di Masa Depan
Menanggapi soal kebijakan pemerintah tentang UU hak Cipta, Betty memandangnya sebagai sesuatu yang positif. Menurutnya, UU Hak Cipta akan melindungi orang-orang yang memiliki ide dan memberikan mereka motivasi untuk membuat hal-hal yang baru. Walaupun banyak kalangan yang meragukan keseriusan pemerintah terhadap UU ini, Betti berharap bahwa dengan diberlakukannya Undang-undang ini, semua perangkat penegakan hukum dan promosi dapat dipacu persiapan dan implementasinya.

Betti juga mengatakan bahwa pemerintah perlu melakukan deregulasi terhadap pajak barang mewah yang masih diberlakukan terhadap berbagai perangkat komputer karena komputer bukanlah barang mewah. Orang-orang yang mempunyai perusahaan IT atau membuka perusahaan IT juga diberikan keringanan dari segi pajak, sehingga mempermudah mereka masuk ke dunia IT. Pemerintah juga diharapkan dapat turut berperan serta dalam menyediakan tenaga-tenaga ahli di bidang IT dengan memberikan beasiswa atau membangun sekolah-sekolah berbasis IT.

Betti percaya bahwa setiap orang dapat mempengaruhi dan memberikan kontribusi terhadap dunia IT di Indonesia, entah itu besar atau kecil. Sebagai seorang pemimpin di IBM, prospek IT di masa depan juga ditentukan oleh kontribusinya, sejauh mana ia mengembangkan bisnis serta meyakinkan orang bahwa investasi di dunia IT itu penting. Oleh karena itu, Betti melihat prospek IT di Indonesia secara positif dan terus berusaha menyediakan solusi IT dengan biaya yang terjangkau dan memuaskan bagi para pelanggan.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia),

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia),
Mangatur Lorielcide Paniroy – Marjuka

***

Betty Alisjahbana
Anak Jalanan

Kompas Sabtu, 28 Juni 2008: Betty Alisjahbana (48) punya cara mencari dana sosial untuk anak-anak jalanan di Jakarta. Dalam dua tahun terakhir, setiap menjelang acara ulang tahun dia meluncurkan album rekaman produksi sendiri.

Mantan Presiden Direktur IBM Indonesia ini punya sekolah khusus untuk anak jalanan di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat. ”Ada 175 anak jalanan yang bersekolah di sini. Kalau waktunya sekolah, mereka belajar tekun,” katanya.

Untuk mendanai pengoperasian sekolah anak jalanan itu, Betty membuat album rekaman. ”Album itu saya edarkan kepada teman-teman saat ulang tahun, 2 Agustus. Tapi, dari sekarang saya sudah informasikan kepada mereka untuk membantu anak jalanan dengan membeli album ini,” katanya tentang album yang belum berjudul dan khusus dijual di kalangan terbatas ini.

Selepas dari IBM Indonesia (2000-2008), ia meluangkan waktu untuk kegiatan sosial, di samping membangun bisnis barunya yang bergerak di bidang industri kreatif dan arsitektur.

”Dalam http://www.qbheadline.com (situs perusahaannya), ada berita-berita online yang singkat, kurang dari 500 karakter. Di tempat ini juga ada ruang untuk berbagi cerita dan ruang dialog,” kata lulusan Arsitek ITB ini. (KSP)

Sumber: Tokoh Indonesia

2 thoughts on “Cerita tentang Ibu Betti Alisjahbana; Juri e-Learning Award 2008

  1. wah… paska kekalahannya di pemilu itb taun lalu baru denger lagi kabarnya nih, tapi saia kok ga mudeng dimana hubungannya cerita diatas dg Juri e-Learning Award 2008 😕 hihihi…


    Posting ini bermaksud mendokumentasikan profil Juri yang menilai Saya saat final e-learning award 2008, thx 4 visit and comment

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.