Guru yang memalukan

Sahabat

“Memalukan jika guru berhenti belajar, malas mengembangkan kompetensi dan keprofesionalitasnya. Pekerjaan guru sekarang tidak mamalukan tapi jika selalu pesimis akan memilukan. Guru yang memalukan adalah guru yang malas datang kerja, sekali datang marah-marah kepada komunitas sekolah, tidak belajar untuk hal-hal yang baru dan bertanya.”

Awalnya saya ingin berterima kasih atas kunjungan dan komentar Ibu Komariyah, Guru SMKN 8 Jakarta di blog Saya (Trainer Kita) yang kembali Saya launching dengan mengimport semua posting di alamat yang sama pada blogspot … saat saya kunjungi blog beliau, ada tulisan yang sangat bagus … tentang guru yang seharusnya di negeri ini … silahkan nikmati

“Masa orde baru yang lalu kuliah di IKIP atau lembaga keguruan bukan pilihan pertama melainkan pilihan ke dua, ke tiga dan kesekian bagi mahasiswa bahkan ada yang berpandangan daripada mengganggur. Kuliah di IKIP kurang bergengsi dan tidak menjanjikan. Tragisnya pandangan saat itu diakibatkan dari kurangnya apresiasi masyarakat dan pemerintah terhadap pekerjaan guru. Guru tidak mengajar sesuai prinsip-prinsip pedagogik hanya sebatas kewajiban saja. Bahkan guru bisa mengajar lebih dari satu sekolah. Juga bisa bekerja sambilan selesai kewajiban mengajar ditunaikan, misalnya jadi tukang ojek. Semua itu terjadi demi tuntutan kebutuhan hidup yang melambung ketimbang gaji guru yang kecil. Ada lagi hal yang menimpa orang jika memilih pekerjaan guru, seorang pria akan ragu meminang perempuan karena bekerja sebagai guru sebaliknya seorang perempuan ragu memilih pria yang bekerja sebagai guru. Orang tua pun tidak akan mengijinkan anak perempuannya jika dipinang oleh pria yang bekerja sebagai guru. Boleh dibilang masa orde baru yang lalu memilih kuliah di IKIP dan bekerja sebagai guru adalah hal yang sangat memalukan dan memilukan.

Usai masa orde baru kemudian guru diberikan apresiasi yang luas oleh pemerintah dengan keputusan presiden bahwa guru merupakan pekerjaan mulia yang harus disejajarkan dengan profesi lainnya seperti dokter dan lainnya, maka pekerjaan guru kini merupakan sebuah profesi. Apresiasi guru merupakan sebuah profesi bukan cuma diucapkan saja melainkan ada kelanjutannya yakni seabrek tugas diemban kepada pemerintah melalui departemen pendidikan untuk menggodok regulasi agar guru lebih bermakna. Regulasi yang dikeluarkan pun bergulir dengan menggandeng lembaga LPTK untuk menyusun langkah-langkah progres yang sekarang dikenal dengan nama sertifikasi guru. Seorang guru akan memperoleh sertifikat pendidik setelah melalui rangkaian tahapan baik secara administrasi atau pun pelatiahan. Pada awalnya pelaksaan sertifikasi ini menimbulkan kontradisi karena proses seleksi saat itu ada guru yang menyertakan protofolio palsu lagi-lagi cuma mengejar sertifikat dan sejumlah tunjangan yang besarnya satu kali gaji pokok per bulan. Kepada guru yang melakukan kepalsuan itu sangat memalukan tapi tidak memilukan bagi pelakunya. Pemerintah pun tanggap atas hal ini maka instrument pun diperketat dengan menyertakan keaslian dari semua sertifikat atau bukti belajar dan karya ilmiah yang ditempuh guru selama mengemban tugasnya.

Republik Indonesia yang kita cintai, sudah memberikan apresiasi terhadap guru meski belum semuanya dan maksimal. Tidak meratanya sertifiaksi guru dan permasalahan pengangkatan pegawai PNS terhadap guru bantu merupakan pekerjaan rumah bagi Institusi pemerintah pusat dan daerah. Berbicara pemerintah daerah, DKI Jakarta, salah satu provinsi yang memberikan kontribusi besar terhadap kesejahteraan guru dan dunia pendidikan. Bangga menjadi guru di DKI Jakarta.

Wahai para guru, ketika apresiasi sudah diterima dan peraturan sudah digulirkan yakni UU.No.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, apakah kita akan apriori terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia?

Sejatinya saat ini guru dituntut bekerja secara berkualitas dan mau belajar agar selalu inovatif. Guru sebagai agen perubahan sudah selayaknya bukan berpangku tangan atau pesimis atas segala persoalan pendidikan khususnya di sekolah pada satuan pendidikan. Guru harus mengejar ketertinggalan pengetahuan teknologi dan informasi yang akan terus berkembang dan melesat. Kita akan terpuruk kalau semua apresiasi yang diterima dari pemerintah pusat dan daerah cuma dihitung secara nominal. Guru harus belajar lagi dan berkarya tiada henti Bukankah belajar sepanjang hayat selama dikandung badan? Memalukan jika guru berhenti belajar, malas mengembangkan kompetensi dan keprofesionalitasnya. Pekerjaan guru sekarang tidak mamalukan tapi jika selalu pesimis akan memilukan. Guru yang memalukan adalah guru yang malas datang kerja, sekali datang marah-marah kepada komunitas sekolah, tidak belajar untuk hal-hal yang baru dan bertanya. Salam dan selamat kepada seluruh guru di Republik Indonesia.”

Maaf ya bunda, Saya posting di blog saya.

One thought on “Guru yang memalukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.