Blog Pendidik

Reportase Akademi Berbagi di SMKN 29 Penerbangan Jakarta:Belajar Radio Broadcasting Bareng Komunitas Tuna Netra

Leave a comment

20120612-072927.jpg
Ilmu itu harus didatangi bukan mendatangi. (Imam Syafi’i)

Semangat belajar, semangat hidup, perjuangan tak ada henti. Panorama paling indah di dunia ini, menyaksikan lukisan nyata kehidupan manusia yang tak kenal menyerah. Dari merekalah inspirasi, pelajaran yang berharga. Hebat, bermain makna yang memukau rasa. Ingin lebih, lebih, dan lebih, bertemu dengan orang-orang seperti ini, berbincang, bertukar cerita, berbagi arti, belajar.

Sabtu , 9 Juni 2012

Pagi sekali, jalanan Jakarta tak padat seperti biasa. Lengang, asyik. Depok-Senen yang memakan kurang lebih 80 menit waktu tempuh, hari ini diet menjadi 30 menit saja. Coba kalo Jakarta tak ada yang namanya macet, beuuh mantaap!

Di kawasan Cat Duko, tepatnya di depan gang Lontar, sudah menunggu sahabat saya, Andri, fans berat Kangen Band_karena kebetulan satu daerah_ mengenakan kaos bertema amplop surat buatan Hello Motion. Dia berjalan menghampiri, menenteng helm_yang sebenarnya lebih pas buat Vespa daripada motor bebek_sambil cengar-cengir, senang karena akhirnya jemputan datang.

Destinasi kita adalah SMK N 29, lebih dikenal dengan nama STM Penerbangan, sekolah yang beberapa waktu lalu masuk teve terkait dengan proyek Jabiru-nya yang memperkenalkan pesawat asli karya anak bangsa.

Tak tahu letak lokasi pasti acara yang akan kita datangi, Andri sudah mengantisipasi dengan sebuah teknologi terkini bernama Google Maps, yang nongol dari hape Android canggihnya. Layar menampilkan jalur-jalur yang disarankan untuk mencapai tempat tujuan. Terbaca di sana: Matraman, Tebet, Gatsu, Kebayoran Baru.

Sempat terpikir juga sih, ngapain muter ke Tebet terus ke Gatsu, padahal bisa shortcut ke Senayan via Sudirman. Haha, tapi ya sudahlah, kebetulan gak macet ini, lewat manapun bisa lebih santai. Jalan-jalan a la Google. Lagipula, si Andri memang lagi kepingin lewat Gatsu, belum pernah, dan takjub begitu melihat Patung Dirgantara alias Pancoran untuk pertama kalinya. Sadar masuk kawasan Kebayoran Baru, kita tertawa karena ternyata lokasi berjarak begitu dekat dengan Blok M (padahal sudah muter-muter)

Di sudut blok, bangunan hijau khas sekolah itu, akhirnya ditemukan. SMK N 29 Jakarta Selatan. Wah, jarum pendek jam masih jauh dari angka 10, kira-kira 45 menit lagi acara baru dimulai. Tepat di depan bangunan, ada kedai KFC. Kompak kita setuju untuk mampir dulu ke sana. Berlagak kaya pun dimulai, haha.

Cari paket yang paling murah deh #deepthinking. Melihat dompet yang lagi kurus #miris. Paket breakfast 15ribu akhirnya jadi pilihan, di gambar sih terlihat gedhe, menggiurkan, tapi…hehehe, enaklah, lumayan, 15 rupiahku, T.T.

Oke, 5 menit menjelang acara, menuju ke ruang Multimedia_sebenarnya sih ke toilet dulu. Masih sepi ternyata, hanya ada 5 orang di sana, itupun termasuk panitia. Karena memang acara ini hanya dihadiri 10 peserta saja. Sederhana. Tapi tunggu dulu, nantinya bakal luar biasa kok.

Eh, iya, lupa ngasih info. Acara ini tentang dunia penyiaran Radio. Diadakan oleh Akademi Berbagi Jakarta yang udah malang melintang mengadakan event-event belajar/seminar/roadshow gratis. So, sangat recommended untuk diikuti.

Setelah registrasi singkat, waktunya duduk nyante nunggu acara dimulai. Mbak Nun (terkenalnya mbak @pasarsapi), yang menghandle acara ini bilang kalau acara akan dimulai setelah teman-teman dari Kartunet datang, dan sekarang mereka sedang di taksi dalam perjalanan. Eh, Kartunet apaan sih? #mulaipenasaran.

Selang beberapa waktu, ada peserta lagi masuk. Di belakangnya, menyusul dua orang wanita datang. Wanita yang lebih tua usianya terlihat merangkul bahu wanita muda di sebelahnya. Mmm, manis (keharmonisannya!). Rupanya pasangan Bunda dan anak gadisnya. Eits, tapi ada yang lain, berbeda.

Sampai di mulut pintu, keduanya disambut hangat oleh mbak Nun dan panitia lain. Si Bunda say goodbye kepada buah hatinya,”Nanti Mama jemput ya Adira!” sambil senyum. Adira pun membalas dengan senyum dan kata iya kepada bundanya.

Mata yang jernih, tatapan yang sejuk itu ternyata hanya bisa melihat kegelapan saja. Adira bukan gadis seperti kebanyakan gadis lain. Dia tuna netra. Tapi, saya maupun Andri terpukau takjub, tak melihat sedikitpun wajah sedih atau lemah pada Adira. Hanya terbaca senyum dan semangat. Inspirasi.

Mbak Nun membantu Adira untuk duduk, memberi tahu Adira untuk sabar menunggu dulu teman-teman lain yang belum datang.

Gak cuma kita yang awas ini yang merasa bosan menunggu, lalu beralih ke dunia maia untuk obat suntuk, Adira pun, dengan keunikannya juga tak mau kalah. Dari dalam tasnya, sebuah smartphone ia ambil dan langsung ia mainkan. WOOOW! Kok bisa? #tambahtakjub

Laki-laki berkaos hijau yang sedang duduk di pojok depan menghampiri Adira, menyapanya.”Hai, Adira, kamu lagi ngapain dengan i-Phone itu?”

“Oh, ini, lagi foursquare,”tak ketinggalan senyumnya. Alat itu ia pegang dengan tangan kirinya, ia dekatkan dengan telinga sedang jari tangan kanannya dengan lincah memainkan layar sentuh. Amazing.

“Wow, ada aplikasinya ya di i-Phone,”lanjut laki-laki itu.”Jadi kamu bedainnya pake suara yang muncul ya, Adira?”

“Iya.”

That’s it! Adira memiliki kepekaan pendengaran yang mungkin jauh lebih tinggi dibanding kita. Dan tentunya, kemampuan rasa untuk membedakan jenis bunyi yang sudah terlatih dengan sendirinya. Mau tak mau, orang-orang seperti Adira memang harus menajamkan indera pendengaran untuk membantu menjalankan aktivitas mereka.

Tiga puluh menit berlalu, rombongan yang dinanti datang juga. Mbak Nun dan lainnya menyambut mereka dengan gembira. “Nah, akhirnya teman-teman kita dari Kartunet datang!”

Pelan-pelan, hati-hati, mereka duduk di jajaran kursi paling depan, sedang, kami ada di belakang mereka. Acara pun segara dimulai.

Laki-laki tadi, yang berkaos hijau, memosisikan diri di depan ruang, sebagai pengisi acara.

Ternyata beliau adalah Paman Gery. Bagi penikmat radio, utamanya Female Radio tiap pagi, pasti tak asing lagi dengan penyiarnya yang sering disapa Paman Gery. Dan sekarang, ia sudah ada dihadapan kami untuk berbagi ilmu! Beruntungnya…. #happy

Setelah memperkenalkan diri, Paman Gery satu per satu menyapa kami, berkenalan. Teman-teman istimewa di barisan depan sangat jelas terpancar semangat mereka, sekali lagi saya takjub.

Kartunet ternyata Karya Tuna Netra, sebuah organisasi kepemudaan yang berfokus pada penggunaan teknologi informasi untuk pemberdayaan pemuda dengan disabilitas di Indonesia. #barutau

Dua jam ke depan itu rasanya begitu singkat, saking serunya berdiskusi dan belajar bersama tentang Radio Broadcasting. Kita tenggelam dalam suasana belajar yang menyenangkan. Tahu bagaimana sejarah perkembangan radio, uniknya radio dari media yang lain.

Walau pernah ada orang yang mengatakan, setelah era kemunculan TV maka radio didapuk bakal mati, nyatanya, radio makin eksis sampai kini. Radio memberikan sensasi yang tak bisa media lain berikan, bernama emosi. Ya, benar sekali. Bermain emosi, inilah nilai sesungguhnya dari radio, yang juga dirasakan sepenuhnya oleh teman-teman istimewa kita, Adira dan kawan-kawan. Tak lupa, imajinasi.

Radio itu menyentuh secara personal, touching the deepest heart #tsaaah. Cocok ketika kita sedang bete, saat butuh informasi cepat, untuk menemani bersantai. Macam-macam!

Untuk itulah dalam dunia radio ada yang namanya segmen. Bahasa gampangnya, tema dari radio itu, atau bisa juga dikatakan marketing target pendengar, apakah untuk orang tua, anak-anak, atau anak muda.

Gak segampang yang kita kira! Bayangan pertama mungkin radio hanya butuh alat, lalu ada orang ngomong, terus disiarkan. But itu gak cukup bro! Radio juga perlu manajemen, dan ini beraaaat dan tak mudah kalau bukan profesional yang melakukannya. Serius!

Saat broadcast misalnya, harus ada harmonisasi antara voice, sound effect dan song yang pas dan tepat. Timing management! Persiapan juga harus dilakukan terlebih dahulu. Bahannya, daftar lagu, pembagian waktu, nyiapin narasumber kalo sedang wawancara. Bahkan, tiap hari Rabu, di Female Radio selalu diadakan rapat untuk persiapan satu minggu ke depan! #manteeeep

Paman Gery sendiri mengaku, dia harus sudah nongol di tempat kerjanya jam setengah lima pagi setiap hari untuk melakukan persiapan terlebih dahulu. Untung saja ini radio, yang orang tak harus tahu kalau-kalau penyiarnya masih memakai roll rambut atau baju tidur ketika siaran, hehe. #asiik

Ada lagi? Banyaaaak!

Paman Gery menceritakan, dulu ketika bencana Tsunami Aceh terjadi, komunikasi melalui jaringan telekomunikasi mati, dan orang-orang di Jakarta maupun belahan Indonesia lain belum tahu kondisi yang sebenarnya terjadi di Aceh. Kita baru tahu kalau di Aceh terjadi gempa dengan kekuatan besar.

Nah, di radio, Paman Gery mendapat kabar justru dari jaringan radio dari Thailand yang mengabarkan bahwa Pattaya hancur tersapu gelombang tsunami akibat gempa yang berasal dari Samudera Hindia. Tersadar, bahwa itu adalah gempa Aceh, maka lantas Paman berpikir, pasti di Aceh juga terjadi hal yang sama bahkan lebih dahsyat dampaknya. Dan ternyata benar, Aceh kala itu luluh lantak diterjang tsunami raksasa. Inilah radio, keren bukan. Bahkan dari jaringan radio lah pertama kali informasi tsunami Aceh diketahui jauh sebelum media lain termasuk media elektronik. Kok bisa? Inget perang kan? Dulu, komunikasi antarpasukan itu dilakukan melalui radio. Jadi radio memang sebagai media jjitu untuk menyampaikan informasi secara cepat.

Hal unik lain adalah tentang iklan di radio. Lucu gak sih dengerinnya? Karena gak bisa dilihat secara langsung, maka iklan di radio wajib memperhatikan gaya bahasa dan jenis suara pendukungnya. Harus diperhatikan juga sasaran produknya itu untuk siapa. Serius, santai, atau ceria, lepas, konyol, dsb. Meski hanya berdurasi satu menit, bahkan kurang, proses pembuatan iklan di radio itu membutuhkan waktu yang bisa mencapai 6 bulan!

Lagi! Lagi!

Oia, penyiar radio (broadcaster) itu kok kayaknya mudah banget ya bawain acara? Kata Paman Gery, bisa itu karena sudah biasa. Banyak belajar dan rajin berlatih. Tidak mudah sebenarnya, apalagi jika membawakan acara anak-anak, harus bisa menirukan banyak gaya bicara dan menemukan kata-kata pas agar bisa menyenangkan anak-anak.

“Kalau suaranya datar aja, boleh gak jadi penyiar?”tanya Adira semangat.

“Kenapa tidak? Jika memang cocok untuk segmen yang diminta, pas dengan konten acaranya, tentu gaya datar pun bisa kok buat penyiar. Contohnya, ketika sedang membaca berita. Kita pastinya tidak membawakannya dengan gaya seperti kita sedang memandu acara musik, curhat, atau dunia remaja.”begitu kira-kira jawaban Paman Gery, tetap dengan gaya ramahnya.

Tambahan yang lebih penting bagi penyiar radio. Pasti, ia harus memiliki suara yang cocok dengan segmen, kemampuan bicara, pengetahuan yang luas, artikulasi, dan pilihan kata/bahasa. Tak cukup itu, ia harus punya EMPATI. Jadi tak hanya sekadar bagus-bagusan suara aja. Karena, bayaran termahal yang diperoleh seorang broadcaster adalah kedekatan dan kepercayaan dari para pendengarnya. Bisa dibilang, karakter radio itu ditentukan oleh penyiarnya.

Penyiar radio juga dituntut untuk bisa smiling voice, sebagai salah satu bentuk profesionalisme mereka dengan tetap menjaga kualitas suara walaupun saat siaran lagi bete atau terkena musibah sekalipun. Bahkan ketika ayahanda Paman Gery meninggal, ia harus tetap terdengar ceria dan bersemangat saat membawakan acara. #hebaat!

Dunia radio memang unik kan ya…

Oia, sepanjang pembelajaran ini, kelas tak pernah sepi lho dari pertanyaan. Walau hanya belasan orang saja di situ, tapi antusiasmenya begitu tinggi. Apalagi teman-teman dari Kartunet, mereka tertawa, berekspresi, rajin bertanya dan selalu ceria! #terkesan

Makin bertambah terpukaunya kami ketika tahu, bahwa Adira saat ini sedang menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum UI dan Dimas, kawan besar kita dari Kartunet, telah menjadi Sarjana Sastra Inggris dari UI. Woooow! Luar biasa!

Sungguh, hari yang sangat berharga, penuh inspirasi. Dari mereka semua, saya belajar betapa ilmu itu sangat bernilai, bagi siapa saja, termasuk orang-orang dengan difabilitas seperti Adira dan kawan-kawan. Menjadi pengingat, bahwa ilmu itu harus kita datangi, bukan menunggu ia yang datang sendiri kepada kita.

Saya harus meniru semangat mereka, yang tak kenal menyerah karena keterbatasan. Mereka orang-orang hebat!

Saya bersama teman-teman Kartunet. Kaos ijo itu Paman Gery, disampingnya ada Adira, nah yang baju coklat itu Andri. Mbak @pasarsapi (mbak Nun) yang pake kaos merah. Trus didepannya itu saya!

Dan, acara akhirnya ditutup dengan foto bersama dan makan ayam! (hah, KFC lagi…@.@)

Belajar Radio Broadcasting Bareng Komunitas Tuna Netra
Ilmu itu harus didatangi bukan mendatangi. (Imam Syafi’i)

Semangat belajar, semangat hidup, perjuangan tak ada henti. Panorama paling indah di dunia ini, menyaksikan lukisan nyata kehidupan manusia yang tak kenal menyerah. Dari merekalah inspirasi, pelajaran yang berharga. Hebat, bermain makna yang memukau rasa. Ingin lebih, lebih, dan lebih, bertemu dengan orang-orang seperti ini, berbincang, bertukar cerita, berbagi arti, belajar.

Sabtu , 9 Juni 2012

Pagi sekali, jalanan Jakarta tak padat seperti biasa. Lengang, asyik. Depok-Senen yang memakan kurang lebih 80 menit waktu tempuh, hari ini diet menjadi 30 menit saja. Coba kalo Jakarta tak ada yang namanya macet, beuuh mantaap!

Di kawasan Cat Duko, tepatnya di depan gang Lontar, sudah menunggu sahabat saya, Andri, fans berat Kangen Band_karena kebetulan satu daerah_ mengenakan kaos bertema amplop surat buatan Hello Motion. Dia berjalan menghampiri, menenteng helm_yang sebenarnya lebih pas buat Vespa daripada motor bebek_sambil cengar-cengir, senang karena akhirnya jemputan datang.

Destinasi kita adalah SMK N 29, lebih dikenal dengan nama STM Penerbangan, sekolah yang beberapa waktu lalu masuk teve terkait dengan proyek Jabiru-nya yang memperkenalkan pesawat asli karya anak bangsa.

Tak tahu letak lokasi pasti acara yang akan kita datangi, Andri sudah mengantisipasi dengan sebuah teknologi terkini bernama Google Maps, yang nongol dari hape Android canggihnya. Layar menampilkan jalur-jalur yang disarankan untuk mencapai tempat tujuan. Terbaca di sana: Matraman, Tebet, Gatsu, Kebayoran Baru.

Sempat terpikir juga sih, ngapain muter ke Tebet terus ke Gatsu, padahal bisa shortcut ke Senayan via Sudirman. Haha, tapi ya sudahlah, kebetulan gak macet ini, lewat manapun bisa lebih santai. Jalan-jalan a la Google. Lagipula, si Andri memang lagi kepingin lewat Gatsu, belum pernah, dan takjub begitu melihat Patung Dirgantara alias Pancoran untuk pertama kalinya. Sadar masuk kawasan Kebayoran Baru, kita tertawa karena ternyata lokasi berjarak begitu dekat dengan Blok M (padahal sudah muter-muter)

Di sudut blok, bangunan hijau khas sekolah itu, akhirnya ditemukan. SMK N 29 Jakarta Selatan. Wah, jarum pendek jam masih jauh dari angka 10, kira-kira 45 menit lagi acara baru dimulai. Tepat di depan bangunan, ada kedai KFC. Kompak kita setuju untuk mampir dulu ke sana. Berlagak kaya pun dimulai, haha.

Cari paket yang paling murah deh #deepthinking. Melihat dompet yang lagi kurus #miris. Paket breakfast 15ribu akhirnya jadi pilihan, di gambar sih terlihat gedhe, menggiurkan, tapi…hehehe, enaklah, lumayan, 15 rupiahku, T.T.

Oke, 5 menit menjelang acara, menuju ke ruang Multimedia_sebenarnya sih ke toilet dulu. Masih sepi ternyata, hanya ada 5 orang di sana, itupun termasuk panitia. Karena memang acara ini hanya dihadiri 10 peserta saja. Sederhana. Tapi tunggu dulu, nantinya bakal luar biasa kok.

Eh, iya, lupa ngasih info. Acara ini tentang dunia penyiaran Radio. Diadakan oleh Akademi Berbagi Jakarta yang udah malang melintang mengadakan event-event belajar/seminar/roadshow gratis. So, sangat recommended untuk diikuti.

Setelah registrasi singkat, waktunya duduk nyante nunggu acara dimulai. Mbak Nun (terkenalnya mbak @pasarsapi), yang menghandle acara ini bilang kalau acara akan dimulai setelah teman-teman dari Kartunet datang, dan sekarang mereka sedang di taksi dalam perjalanan. Eh, Kartunet apaan sih? #mulaipenasaran.

Selang beberapa waktu, ada peserta lagi masuk. Di belakangnya, menyusul dua orang wanita datang. Wanita yang lebih tua usianya terlihat merangkul bahu wanita muda di sebelahnya. Mmm, manis (keharmonisannya!). Rupanya pasangan Bunda dan anak gadisnya. Eits, tapi ada yang lain, berbeda.

Sampai di mulut pintu, keduanya disambut hangat oleh mbak Nun dan panitia lain. Si Bunda say goodbye kepada buah hatinya,”Nanti Mama jemput ya Adira!” sambil senyum. Adira pun membalas dengan senyum dan kata iya kepada bundanya.

Mata yang jernih, tatapan yang sejuk itu ternyata hanya bisa melihat kegelapan saja. Adira bukan gadis seperti kebanyakan gadis lain. Dia tuna netra. Tapi, saya maupun Andri terpukau takjub, tak melihat sedikitpun wajah sedih atau lemah pada Adira. Hanya terbaca senyum dan semangat. Inspirasi.

Mbak Nun membantu Adira untuk duduk, memberi tahu Adira untuk sabar menunggu dulu teman-teman lain yang belum datang.

Gak cuma kita yang awas ini yang merasa bosan menunggu, lalu beralih ke dunia maia untuk obat suntuk, Adira pun, dengan keunikannya juga tak mau kalah. Dari dalam tasnya, sebuah smartphone ia ambil dan langsung ia mainkan. WOOOW! Kok bisa? #tambahtakjub

Laki-laki berkaos hijau yang sedang duduk di pojok depan menghampiri Adira, menyapanya.”Hai, Adira, kamu lagi ngapain dengan i-Phone itu?”

“Oh, ini, lagi foursquare,”tak ketinggalan senyumnya. Alat itu ia pegang dengan tangan kirinya, ia dekatkan dengan telinga sedang jari tangan kanannya dengan lincah memainkan layar sentuh. Amazing.

“Wow, ada aplikasinya ya di i-Phone,”lanjut laki-laki itu.”Jadi kamu bedainnya pake suara yang muncul ya, Adira?”

“Iya.”

That’s it! Adira memiliki kepekaan pendengaran yang mungkin jauh lebih tinggi dibanding kita. Dan tentunya, kemampuan rasa untuk membedakan jenis bunyi yang sudah terlatih dengan sendirinya. Mau tak mau, orang-orang seperti Adira memang harus menajamkan indera pendengaran untuk membantu menjalankan aktivitas mereka.

Tiga puluh menit berlalu, rombongan yang dinanti datang juga. Mbak Nun dan lainnya menyambut mereka dengan gembira. “Nah, akhirnya teman-teman kita dari Kartunet datang!”

Pelan-pelan, hati-hati, mereka duduk di jajaran kursi paling depan, sedang, kami ada di belakang mereka. Acara pun segara dimulai.

Laki-laki tadi, yang berkaos hijau, memosisikan diri di depan ruang, sebagai pengisi acara.

Ternyata beliau adalah Paman Gery. Bagi penikmat radio, utamanya Female Radio tiap pagi, pasti tak asing lagi dengan penyiarnya yang sering disapa Paman Gery. Dan sekarang, ia sudah ada dihadapan kami untuk berbagi ilmu! Beruntungnya…. #happy

Setelah memperkenalkan diri, Paman Gery satu per satu menyapa kami, berkenalan. Teman-teman istimewa di barisan depan sangat jelas terpancar semangat mereka, sekali lagi saya takjub.

Kartunet ternyata Karya Tuna Netra, sebuah organisasi kepemudaan yang berfokus pada penggunaan teknologi informasi untuk pemberdayaan pemuda dengan disabilitas di Indonesia. #barutau

Dua jam ke depan itu rasanya begitu singkat, saking serunya berdiskusi dan belajar bersama tentang Radio Broadcasting. Kita tenggelam dalam suasana belajar yang menyenangkan. Tahu bagaimana sejarah perkembangan radio, uniknya radio dari media yang lain.

Walau pernah ada orang yang mengatakan, setelah era kemunculan TV maka radio didapuk bakal mati, nyatanya, radio makin eksis sampai kini. Radio memberikan sensasi yang tak bisa media lain berikan, bernama emosi. Ya, benar sekali. Bermain emosi, inilah nilai sesungguhnya dari radio, yang juga dirasakan sepenuhnya oleh teman-teman istimewa kita, Adira dan kawan-kawan. Tak lupa, imajinasi.

Radio itu menyentuh secara personal, touching the deepest heart #tsaaah. Cocok ketika kita sedang bete, saat butuh informasi cepat, untuk menemani bersantai. Macam-macam!

Untuk itulah dalam dunia radio ada yang namanya segmen. Bahasa gampangnya, tema dari radio itu, atau bisa juga dikatakan marketing target pendengar, apakah untuk orang tua, anak-anak, atau anak muda.

Gak segampang yang kita kira! Bayangan pertama mungkin radio hanya butuh alat, lalu ada orang ngomong, terus disiarkan. But itu gak cukup bro! Radio juga perlu manajemen, dan ini beraaaat dan tak mudah kalau bukan profesional yang melakukannya. Serius!

Saat broadcast misalnya, harus ada harmonisasi antara voice, sound effect dan song yang pas dan tepat. Timing management! Persiapan juga harus dilakukan terlebih dahulu. Bahannya, daftar lagu, pembagian waktu, nyiapin narasumber kalo sedang wawancara. Bahkan, tiap hari Rabu, di Female Radio selalu diadakan rapat untuk persiapan satu minggu ke depan! #manteeeep

Paman Gery sendiri mengaku, dia harus sudah nongol di tempat kerjanya jam setengah lima pagi setiap hari untuk melakukan persiapan terlebih dahulu. Untung saja ini radio, yang orang tak harus tahu kalau-kalau penyiarnya masih memakai roll rambut atau baju tidur ketika siaran, hehe. #asiik

Ada lagi? Banyaaaak!

Paman Gery menceritakan, dulu ketika bencana Tsunami Aceh terjadi, komunikasi melalui jaringan telekomunikasi mati, dan orang-orang di Jakarta maupun belahan Indonesia lain belum tahu kondisi yang sebenarnya terjadi di Aceh. Kita baru tahu kalau di Aceh terjadi gempa dengan kekuatan besar.

Nah, di radio, Paman Gery mendapat kabar justru dari jaringan radio dari Thailand yang mengabarkan bahwa Pattaya hancur tersapu gelombang tsunami akibat gempa yang berasal dari Samudera Hindia. Tersadar, bahwa itu adalah gempa Aceh, maka lantas Paman berpikir, pasti di Aceh juga terjadi hal yang sama bahkan lebih dahsyat dampaknya. Dan ternyata benar, Aceh kala itu luluh lantak diterjang tsunami raksasa. Inilah radio, keren bukan. Bahkan dari jaringan radio lah pertama kali informasi tsunami Aceh diketahui jauh sebelum media lain termasuk media elektronik. Kok bisa? Inget perang kan? Dulu, komunikasi antarpasukan itu dilakukan melalui radio. Jadi radio memang sebagai media jjitu untuk menyampaikan informasi secara cepat.

Hal unik lain adalah tentang iklan di radio. Lucu gak sih dengerinnya? Karena gak bisa dilihat secara langsung, maka iklan di radio wajib memperhatikan gaya bahasa dan jenis suara pendukungnya. Harus diperhatikan juga sasaran produknya itu untuk siapa. Serius, santai, atau ceria, lepas, konyol, dsb. Meski hanya berdurasi satu menit, bahkan kurang, proses pembuatan iklan di radio itu membutuhkan waktu yang bisa mencapai 6 bulan!

Lagi! Lagi!

Oia, penyiar radio (broadcaster) itu kok kayaknya mudah banget ya bawain acara? Kata Paman Gery, bisa itu karena sudah biasa. Banyak belajar dan rajin berlatih. Tidak mudah sebenarnya, apalagi jika membawakan acara anak-anak, harus bisa menirukan banyak gaya bicara dan menemukan kata-kata pas agar bisa menyenangkan anak-anak.

“Kalau suaranya datar aja, boleh gak jadi penyiar?”tanya Adira semangat.

“Kenapa tidak? Jika memang cocok untuk segmen yang diminta, pas dengan konten acaranya, tentu gaya datar pun bisa kok buat penyiar. Contohnya, ketika sedang membaca berita. Kita pastinya tidak membawakannya dengan gaya seperti kita sedang memandu acara musik, curhat, atau dunia remaja.”begitu kira-kira jawaban Paman Gery, tetap dengan gaya ramahnya.

Tambahan yang lebih penting bagi penyiar radio. Pasti, ia harus memiliki suara yang cocok dengan segmen, kemampuan bicara, pengetahuan yang luas, artikulasi, dan pilihan kata/bahasa. Tak cukup itu, ia harus punya EMPATI. Jadi tak hanya sekadar bagus-bagusan suara aja. Karena, bayaran termahal yang diperoleh seorang broadcaster adalah kedekatan dan kepercayaan dari para pendengarnya. Bisa dibilang, karakter radio itu ditentukan oleh penyiarnya.

Penyiar radio juga dituntut untuk bisa smiling voice, sebagai salah satu bentuk profesionalisme mereka dengan tetap menjaga kualitas suara walaupun saat siaran lagi bete atau terkena musibah sekalipun. Bahkan ketika ayahanda Paman Gery meninggal, ia harus tetap terdengar ceria dan bersemangat saat membawakan acara. #hebaat!

Dunia radio memang unik kan ya…

Oia, sepanjang pembelajaran ini, kelas tak pernah sepi lho dari pertanyaan. Walau hanya belasan orang saja di situ, tapi antusiasmenya begitu tinggi. Apalagi teman-teman dari Kartunet, mereka tertawa, berekspresi, rajin bertanya dan selalu ceria! #terkesan

Makin bertambah terpukaunya kami ketika tahu, bahwa Adira saat ini sedang menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum UI dan Dimas, kawan besar kita dari Kartunet, telah menjadi Sarjana Sastra Inggris dari UI. Woooow! Luar biasa!

Sungguh, hari yang sangat berharga, penuh inspirasi. Dari mereka semua, saya belajar betapa ilmu itu sangat bernilai, bagi siapa saja, termasuk orang-orang dengan difabilitas seperti Adira dan kawan-kawan. Menjadi pengingat, bahwa ilmu itu harus kita datangi, bukan menunggu ia yang datang sendiri kepada kita.

Saya harus meniru semangat mereka, yang tak kenal menyerah karena keterbatasan. Mereka orang-orang hebat!

Saya bersama teman-teman Kartunet. Kaos ijo itu Paman Gery, disampingnya ada Adira, nah yang baju coklat itu Andri. Mbak @pasarsapi (mbak Nun) yang pake kaos merah. Trus didepannya itu saya!

Dan, acara akhirnya ditutup dengan foto bersama dan makan ayam! (hah, KFC lagi…@.@)

dikopi dari tulisan Muhammad Amin di http://thekeyisyou.wordpress.com/2012/06/11/belajar-radio-broadcasting-bareng-komunitas-tuna-netra/

Advertisements

Author: Dedi Dwitagama

Pendidik yang bermimpi makin banyak anak negeri berani berkompetisi, silahkan mampir ke; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com dan https://dedidwitagama.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.