Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

selamat jadi guru yang bukan asal-asalan

3 Comments

20121206-182445.jpg
Pernah ketemu Guru asal-asalan? Dia datangnya selalu pagi, jarang terlambat, pakaian seragam selalu dikenakan, atribut lengkap terpasang di tubuh, … saat jam mengajar dia masuk kelas tepat waktu, cuma dia sekedar penuhi kurikulum sesuai standar minimal … ga pernah mengganti buku pegangan sesua situasi terkini, tak peduli terhadap perkembangan terikini di luar sekolah …tak membaca koran, majalah, dan terapkan di mata pelajarannya … Tak suka belanja buku untuk tambah wawasan, … teknologi informasi cuma sekedar supaya orang lain bilang ga ketinggalan zaman, … fokusnya cuma gimana murid lulus Ujian Nasional, ga peduli selanjutnya kerja atau kuliah, … baju anak tak dimasukin atau pelanggaran tata tertib dia tak peduli (itu tugas bidang kesiswaan, katanya), murid tak ada di kelas tak hirau, … murid tawuran dia seolah tak tahu, … sekolah ada kegiatan dia tak peduli (bukan panitia, katanya), jika jadi panitia dia hanya bekerja sekedarnya buat gugurkan kewajiban, … tentang pembagian jatah atau honor ini itu ributnya bukan kepalang dan selalu ingin lebih walau tak kerja, …

Saat sudah peroleh status Guru Tetap atau PNS, di fikir dia sudah hebat, tak perlu lahi membaca, tak perlu lagi tingkatkankualitas diri, ga usah juga kerja keras karena sulit buat dipecat … Berseragam, datang & pulang tepat waktu, santai aja di sekolah sudah cukup dan merasa berhak terima tunjangan ini itu …. di sekolah guru asal-asalan itu akhirnya tersingkir … tak dihormati teman, termasuk murid-muridnya … dia hanya terdengar namanya di kelas yang di ajarnya, tak semua murid atau guru di sekolah mengenalnya, apalagi guru yang berasal dari lain sekolah tak mengenalnya, dikenak guru hanya dari seragamnya saja.

Kalau saja seorang guru mau serius sedikit saja saat mengajar di kelas, peduli pada penanaman etika, estetika dan karakter murid, ikutan membina kegiatan ekstra kurikuler, maka sekolah akan selalu membutuhkan dirinya, sekolah lain di kotanya akan memanggil, bahkan sekolah dari negeri lain juga memanggilnya … karena sesungguhnya sangat sedikit guru yang bermutu di negeri berpenduduk hampir dua ratus enam puluh juta …

Dari sekitar tiga juta guru di Indonesia coba sebut nama guru yang bermutu … Hampir tak ada? Artinya kalo anda mau masuki wilayah itu hampir tak ada pesaingnya dan sangat mudah buat jadi guru bermutu … selamat jadi guru yang bukan asal-asalan…

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

3 thoughts on “selamat jadi guru yang bukan asal-asalan

  1. Reblogged this on Ronald Fernanda~ and commented:
    Guru seperti ini pasti banyak sekali kita jumpai dari jenjang pendidikan terendah sampai jenjang pendidikan tertinggi. Jadi tidak semua orang pintar bisa menjadi guru, karna belum tentu ilmu yang di ajarkan kepada muridnya dapat di mengerti. So? Guru harusnya di nilai dari mutu mengajarnya/ metode mengajarnya.

  2. Banyak sekali pak guru seperti ini, saya setuju dengan post bapak ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s