Blog Penv4x3333didikc g

@dwitagama: ter tumbuh dar i pemgt6. Vgbiasaan

Bangsa yang mudah lupa

6 Comments

20130123-084245.jpg
Banjir beberapa hari kemarin di Jakarta dikabarkan bikin rugi Rp. 20 triliyun …. WoW banyak bangeeet … Tapi sayang … Baru saja kering, kita sudah lupa akan penderitaan yang dirasa: tidur di pengungsian, dingin air, makanan yang sulit …. atau karena dimanjakan oleh bantuan makanan dan minuman yang berlimpah, juga pakaian bekas, … tak sedikit yang menikmati air berenang kesana-kemari atau peroleh uang dari korban banjir lainnya dengan mendorong gerobak, dan lainnya.

Banjir lewat, rumah kering, kebiasaan lama tetap saja berlangsung, seperti buang sampah sembarangan, membiarkan selokan atau saluran air tersumbat, … aparat Kelurahan sebagai satuan unit Pemda yang terbawah kembali tak peduli terhadap lingkungan sekitarnya seperti sampah yang menumpuk diman-mana, kali, sungai yang jadi lokasi pembuangan sampah, saluran air yang tersumbat, dan lainnya …. Sepertinya semua tak peduli … dan lupaaa

Tak ada upaya pencegahan banjir … semua seperti tak ingat … sibuk lagi dengan kerja rutin, berantem, tawuran, kebakaran, …. dan banyak lagi deh …. lalu rame lagi ketika air kembali menggenangi lingkungan … Tahun 2007 Istana Negara dihampiri air, tahun 2013 terjadi lagi …. selama enam tahun apa yang sudah dilakukan negara untuk lindungi Istananya? … kalo istana presiden aja tak dipedulikan, gimana terhadap rakyat keciiiil? Trus masih harus bilang WoW sambil nusuk di Pemilu gituh?

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

6 thoughts on “Bangsa yang mudah lupa

  1. Bahkan di saat msh merasakan susahnya banjir seorang Ibu dengan tegasnya menolak u/ direlokasi. Begini si Ibu bilang,”Kami punya kontrak politik dg Pak Jokowi – Ahok waktu kampanye bhw buat yg sdh tinggal di sini 20 th akan diksh sertipikat tanah di sini”. Padahal tanah itu adalah bantaran sungai yg harus bebas dr bangunan, atau mungkin malah tinggal di situ menurut mereka praktis kalau buang sampah (baca: kasur, furnitur dll = sampah) tinggal lempar ke sungai? Kontrak politik yg merugikan orang banyak masihkah akan terulang di Pemilu selanjutnya?

  2. lupa itu enak, gak usah ingat. lupa bayar utang, lupa janji, lupa…………………

  3. I’m agree with you, Pa Dedi… Bangsa ini rupanya bangsa yang malas belajar ya… Maunya mimpi terus tanpa usaha… Kalau ada musibah, cepat sekali menyalahkan pemimpin, padahal menjaga kenyamanan & kebersihan lingkungan, tanggung jawab kita sendiri kan, Pa? Para aparat yang diberi amanah juga seringnya mau kerja kalau sudah “digetok” palagi kalau “ada amplop” Padahal musibah banjir kan, hasil dari manusia… Sedih ya Pa, melihat kondisi bangsa ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s