Blog Penv4x3333didikc g

@dwitagama: ter tumbuh dar i pemgt6. Vgbiasaan

MEMBAYANGKAN SEKOLAH JAKARTA

2 Comments

20130313-140951.jpg
BANGGA SETELAH LULUS, LALU ….?

Anda bersekolah di Jakarta? Coba kita amati adakah perbedaan alumni Sekolah Dasar di Jakarta dan kota lainnya di Indonesia? Demikian juga dengan alumni Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas? Tampaknya hampir tak ada perbedaan penampakan seseorang hingga kualitas seseorang dimana dia pernah sekolah.

Apakah ini sebuah keberhasilan?
Menarik untuk diamati alumni Pendidikan Pesantren dari berbagai daerah, walau sama tingkatannya, mereka memiliki kekhususan dari penampilan luar maupun kompetensi dalam dirinya, yang berujung pada kebanggan terhadap almamater yang pernah mendidiknya.
Coba perhatikan alumi Perguruan Tinggi Jurusan Teknik beberapa perguruan tinggi di Indonesia, kita bisa melihat dari penampilan dan kompetensi yang dimiliki, mereka juga memiliki kebanggan pada almamater diman mereka pernah kuliah.

Saya bayangkan pendidikan di Jakarta bukan hanya fokus pada Ujian Nasional, biarkan sekolah merancang program bagaimana agar muridnya lulus ujian nasional 100 prosen, tapi pelanggran terhadap komitmen pendidikan, dimana dari data jawaban ujian nasional bisa dilihat sekolah yang curang, harus diberi sangsi peringatan hingga pencabutan izin sekolah … karena sesungguhnya untuk ujian nasional itu tak terlalu sulit, cukup di drill murid selama beberapa bulan maka luluslah dia.

Sekolah harus didorong memiliki keunikan yang berujung kebanggan murid pada identitas sekolah, kalau perlu hapuskan seragam sekolah, biarkan warga sekolah menentukan brand image sendiri seseuai kesepakatannya yang bisa menarik perhatian maupun minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya. Anak-anak didorong untuk berorganisi dan menghasilkan produk-produk yang unik dari kegiatan yang disukainya hingga mampu berkompetisi hingga tingkat dunia.

Saya bayangkan … Nanti ada sekolah di Jakarta yang muridnya jago olah raga hingga tingkat dunia, jago seni, jago ngaji, juara sains, sinematografi, aeromodelling, dan masih banyak lagi … Karena sekolah secara suka cita menentukan bidang peminatan berdasarkan sumberdaya yang tersedia.

Soal biaya, dikaitkan dengan sekolah gratis di Jakarta, saya bayangkan Sekolah seperti Hotel, ada kamar standartyang murah, deluxe, super deluxe hingga suite room yang harganya selangit.

Nanti di Jakarta, di satu sekolah ada anak yang gratis tak bayaran, ada yang harus bayar murah, dan ada yang harus bayar mahal sesuai target yang disepakati antara orang tua dan sekolah. Orang tua yang sekedar ingin anaknya lulus sekolah dan dapatkan ijazah bisa pilih paket yang gratis, sementara orang tua yang ingin anaknya juara olimpiade sains tingkat dunia harus berani bayar mahal buat pelayanan khusus jalur prestasi. Buat yang berprestasi gemilang tapi benar-benar tak mampu Pemerintah Daerah harus memberi beasiswa agar rakyat gemilang tetap cemerlang.

Mungkin orang tua lebih realistis antara kemampuan dan keinginan … Seperti saat ini, orang tua memasukkan anaknya ke Pondok Pesantren yang mutunya sesuai keinginan dan siap membayar biaya yang disepakati, atau anda bermalam di hotel yang kualitas dan pelayanan kamarnya sesuai dengan biaya yang anda bayarkan. Pemikiran menyeragamkan sekolah atau murid hingga guru sebaiknya juga dihentikan, karena sesungguhnya keindahan mahluk hidup itu ada pada perbedaannya.

Selamat pagi pembaca, dulu anda sekolah dimana? Banggakah anda pada sekolah anda?

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

2 thoughts on “MEMBAYANGKAN SEKOLAH JAKARTA

  1. Saya alumnus SMAN 6, Jakarta. saya bangga pada sekolah saya karena pada saat saya bersekolah di sana, banyak sekali siswa yang bisa berhasil masuk ke Universitas Negeri, baik itu lewat PMDK maupun UMPTN. (itu sistem penerimaan mahasiswa jaman saya, tempo dulu, he he he…) Tapi ada yang membuat saya tidak bangga pada sekolah saya karena sekolah saya itu sering terlibat “tawuran” meskipun posisinya “diserang” Maklum… dari dulu ada tetangga yang cemburu🙂
    Yang selalu saya impikan tentang pendidikan di Jakarta adalah perdamaian antar sekolah & persaingan sehat yang bisa menimbulkan prestasi sampai ke tingkat internasional. Cara mewujudkannya, buanyak… salah satunya mungkin seperti yang Pa Dedi utarakan yaa…
    Semoga akan banyak siswa khususnya di Jakarta yang lebih sadar pada tanggung jawab atas masa depan bangsa & diri mereka sendiri di hadapan Sang Pencipta kelak.
    Kita sama2 berjuang & mendoakan ya, Pa Dedi….:)

    • Goood, bangga pada sekolah itu harus …. Ditrima di universitas lebih pada faktor usaha murid …. seharusnya dua sekolah berdekatan mudah didamaikan, kalo mauuu …. Katanya pancasilaaaa …. Mana buktinaaa? Kalo org kaya danberpendidikan ga bisa diatur, gimana yg miskiiin … Mari kita terus berbuat sebisa kita and happy aja slalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s