Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan

Masih berapa anak muda yang bakal mati sia-sia di jalan akibat sepeda motor?

4 Comments

20130621-112618.jpg
Saya punya tetangga, anaknya empat orang terdiri dari 3 perempuan, dan yang bungsu lelaki. Karena mendapat anak lelaki setelah lama menginginkan, kedua orangtuanya sangat memanjakan anak lelaki satu-satunya,

Sejak kecil dibelikan sepeda roda tiga, berlanjut berbagai model sepeda roda dua, saat SD sudah diperbolehkan mengendarai sepeda motor, saat SMP berganti benerapa merk sepeda motor, dan mulai terbiasa adu balap hingga beberapa kali alami kecelakaan.

Saat bersekolah di SLTA, masuk rumah sakit akibat kecelakaan jadi hal biasa … hingga koma dan berpulang ke alam baka, mati tak pernah kembali.

Bahwa ada peraturan kendarai sepeda motor harus memiliki SIM dan telah berusia lebih dari 17 tahun adalah karena kematangan kepribadian & emosi seseorang dinilai mampu merespon berbagai situasi saat berkendara.

Masih berapa anak muda yang balal mati sia-sia di jalan akibat sepeda motor?

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

4 thoughts on “Masih berapa anak muda yang bakal mati sia-sia di jalan akibat sepeda motor?

  1. Betul Pa Dedi, banyak sekali saya bertemu anak-anak yang masih berseragam putih biru bahkan putih merah membawa motor sampai ke jalan raya. Sering saya berpikir, apakah orang tuanya tidak memikirkan resiko anak yang belum cukup umur membawa kendaraan ke jalan raya? Atau justru bangga anaknya yang masih kecil sudah “pintar” membawa motor?
    Terkadang orang tua juga perlu belajar ya, Pa Dedi, kasih sayang seperti apa yang seharusnya diberikan kepada anak, apakah harus dengan mengikuti semua kemauan anak?
    Semoga banyak orang tua yang membaca tulisan Pa Dedi ini & menyadarkan mereka jika mereka termasuk orang tua yang melakukan hal sama seperti cerita Pa Dedi di atas….

  2. Sekarang tuh yang namanya prinsip “Safety First” udah susah diterapin, apalagi di kampung-kampung dan secara tidak sadar kalo sekarang mah prinsip itu berubah jadi “Quickly First”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s