Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Kecelakaan lalu lintas direspon jam malam: Negeri yg masih kurang mampu bernalar

4 Comments

“Di Tokyo, Singapura, Seoul, masyarakat enggan berpergian gunakan speda motor atau mobil, mereka lebih suka gunakan kereta bawah tanah yang murah, cepat dan aman, ribuan hingga jutaan orang bergerak di bawah tanah untuk berpindah tempat … pemerintah mereka melengkapi dengan pertokoan, restoran dan fasilitas publik lainnya.”

ILUSTRASI

ILUSTRASI

Di Negeri Paman Besut ada kejadian baru, kecelakaan di jalan tol yang melibatkan anak kecil menimbulkan korban banyak nyawa itu adalah karena ada budaya-budaya sebagai berikut:

1. Pola didik orang tua yang salah, orang tua mengajarkan anak mengendarai kendaraan bermotor saat masih kecil dan membiarkan anak-anak mengendarai kendaraan bermotor sebelum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM)

2. Pemerintah belum mampu menyediakan layanan transportasi yang menjangkau banyak lokasi dan fasilitas yang murah, aman, nyaman tepat waktu.

3. Polisi belum mampu bersikap tegas dan konsisten dalam penegakkan hukum dan undang-undang yang berlaku dengan membiarkan banyak pelanggaran hukum yang kadang berlangsung di depan matanya … sepertinya polisi keberatan beban atau kekurangan personil sehingga kinerjanya belum bisa dibanggakan.

Saat hendak bekerja atau pergi ke sekolah pagi hari, karena transportasi yang langka dan kondisi kendaraannya tak layak, penduduk negeri harus berdesakkan, pengap, berkeringat, panas, dikemacetan lalu lintas yang parah, ditambah kriminalitas pencopet, rampok, penodong, … mereka harus membayar biaya yang mahal dan berganti alat transportasi lainnya untuk menuju ke suatu lokasi.

Masyarakat butuh sarana untuk bepergian, berpindah tempat dalam waktu yang sesingkat mungkin dan kondisi yang nyaman serta murah biayanya, pilihan mereka adalah sepeda motor buat yang ekonominya kurang baik dan mobil buat mereka yang berkecukupan, … Masyarakat menyelesaikan sendiri masalah yang dihadapinya.

Demi pertimbangan waktu, biaya, kenyamanan dan keamanan, orang tua membiarkan anak-anak berkendara ke sekolah, atau bepergian kemana saja karena lebih murah, lebih nyaman, lebih efisien dalam hal waktu dan aspek-aspek lainnya.

Kejadian kecelakaan di jalan tol seharusnya disikapi dengan:

1. Memberikan edukasi kepada orang tua untuk tidak mengajarkan anak mengendarai kendaraan bermotor saat masih kecil dan melarang anak-anak mengendarai kendaraan bermotor sebelum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), jika perlu ada undang-undang yang memberikan hukuman bagi orang tua yang lalai, membiarkan anaknya melanggar peraturan lalu lintas, apalagi hingga mengorbankan nyawa orang lain.

2. Pemerintah harus segera menyediakan layanan transportasi yang menjangkau banyak lokasi dan fasilitas yang murah, aman, nyaman tepat waktu.

3. Polisi harus bersikap tegas dan konsisten dalam penegakkan hukum dan undang-undang yang berlaku dengan tidak membiarkan banyak pelanggaran hukum, tak hanya melalui operasi-operasi secara temporer, tapi berlangsung secara kontinyu dan berkelanjutan.

Saya sedang berfikir keras apa kaitannya antara jam malam dengan kecelakaan lalu lintas; tampaknya seperti pada situasi negeri yang rusuh karena demontrasi anak muda yang berlangsung lama dan memakan korban banyak hingga melumpuhkan aktifitas umum negeri, biasanya pada kondisi itu diberlakukan aturan jam malam … agar penduduk negeri bisa beristirahat malam hari tak terganggu demonstrasi atau kerusuhan … apakah di Ibukota Negeri Paman Besut sedang berlangsung keadaan darurat sehingga penduduk dilarang keluar malam? yaoloh!!!😦

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

4 thoughts on “Kecelakaan lalu lintas direspon jam malam: Negeri yg masih kurang mampu bernalar

  1. Lho bukannya di negeri Paman Besut selalu terjadi begitu, Pak? Membunuh nyamuk dan lalat dilakukan dengan kanon.

  2. Setujuu, Pa Dedi… Apa yang saya pikirkan sama dengan yang Pa Dedi tuliskan. Miris sekali jika melihat anak belum cukup umur mengendarai kendaraan & ortunya cuma diam bahkan bangga. “Hebat euy, anak saya…” Nanti, jika si anak ada apa2 di jalan, baru panik, teriak atau komentar “Kenapa atuh bisa begini?” Gemeeezzz… saya jadinya…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s