Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Membina satu murid rusak atau delapan ratus murid baik?

Leave a comment

ILLUSTRASI

Seorang pembaca blog saya berkomentar pada tulisan saya seperti ini:

Jangan dibinasakan, ehmmm, pernah nonton GTO (great teacher onizuka, lagi-lagi terinspirasi komik), ehm, seadnainya murid2 seperti itu bisa di binna, saya sendiri belom ada ide sih, tapi sepertinya harus ada yang bisa sabaaar banget dan kasih kepercayaan, ngayomi, special kali yah gurunya. heheheheh
*maap ngawur

Saya menjawabnya begini:

Seorang murid sudah dibina melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

– Konseling individu 10 kali dengan wali kelas selama satu semester,

– Dipanggil orang tuanya 3 kali oleh wali kelas dan konseling bersama murid dan ortu,

– 3 kali konseling individu oleh Guru BK dan 3 kali konseling bersama orang tuanya,

– 1 kali konseling individu dan konseling bersama orang tua dengan Tim Kesiswaan,

Jumlah totalnya 21 kali pembinaan … anak itu masih gemar membawa senjata tajam dan tawuran … sementara berbagai pilihan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah tak menarik minatnya, tawaran bikin kegiatan ekskul yang baru tak diambilnya …

Jika satu siswa diurus menggerus energi, delapan ratus lebih siswa yang baik menunggu untuk disentuh, dibina, disapa dan diberikan apresiasi atas kebaikan dan komitmen baiknya agar mereka lebih cepat mencapai target-target hidupnya buat jadi orang yang lebih baik dan bermanfaat buat sesama.

seperti yg anda tulis di akhir komment … mungkin anda ngawur (saya maafkan) karena anda tak mengalami langsung situasinya.

Pada tulisan lain beliau juga berkomentar, begini:

Sedihnya, hal yang sia-sia berujung suram. semoga yang lain gak ikutan begitu

Saya menjawab ini:

mungkin jika “dia” dibinasakan lebih awal dan tidak berada ditempat itu … kemudian dia memilih sekolah yang lebih sesuai dengan minatnya, barangkali “dia” lebih serius sekolah dan tak berniat bawa senjata apalagi membunuh … atau jika sudah tak berminat belajar atau sekolah, dia bisa bisnis atau jadi pengusaha yang kaya sejak muda dan bisa bersenang-senang dengan hasil kerjanya tanpa lelah lari-larian di jalan, bikin repot guru, sekolah, Dinas Pendidikan, PEMDA, Polisi, hingga membunuh atau dibunuh … terima kasih

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s