Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan


6 Comments

Video mesum, ekskul dicurigai, … , tawuran bertambah, ada yang mati lagi?

TAK BOLEH LAGI?

TAK BOLEH LAGI?

Kejadian anak SMP membuat video mesum di ruang kelas disikapi beragam, diantaranya dengan melarang sekolah berada di sekolah setelah jam pelajaran usai. Pernahkan Anda amati lingkungan tempat tinggal anak-anak Jakarta? Mereka hampir tak memiliki ruang terbuka buat bermain, rumahnya kecil, di dalam gang, ruangan sangat terbatas, sering tidur berhimpit jika malam … sulit sekali mencari tempat bermain … tak ada lapangan di sekitar rumah, hampir semua berubah jadi bangunan tepat tinggal atau ruang usaha.

Saya khawatir, larangan berada di sekolah setelah jam pelajaran usai membuat murid enggan melakukan kegiatan ekskul karena rasa dicurigai oleh para guru … ini berbahaya: mereka akan bertebaran di jalan dan tempat-tempat umum lainnya … tawuran bakal makin banyak, karena mereka bertemu di jalan .. semoga kekhawatiran saya tak terjadi, bagaimana menurut Anda?


Leave a comment

Percakapan Guru menyikapi video mesum SMP E Jakarta, komment Anda: _______________

Heboh pembuatan video mesum di kelas setelah jam pelajaran selesai, berawal dari laporan polisi dari orang tua salah satu pelaku, dilanjutkan dengan peredaran video lewat jejaring sosial media jadi topik perbincangan beberapa guru di ruang kerja saat jam istirahat:

Guru 1: Kita bikin peraturan murid dilarang membawa handphone ke sekolah,
Guru 2: Kita minta semua murid segera meninggalkan sekolah setelah bel pulang,
Guru 3: Kita tugaskan satpam mengunci semua ruang kelas setelah bel pulang,
Guru 4: Kita revisi tata tertib sekolah, masukan pasal pembuatan video mesum dan sangsinya,
Guru 5: Kita undang sexolog buat kasih penyuluhan tentang sex buat siswa baru,
Guru 6: Kita cuekin aja, nanti juga hilang lagi isunya, ganti isu baru,
Guru 7: Kita ucapkan selamat menikmati hasil perbuatan yang tak seharusnya kepada anak-anak itu agar jadi pelajaran,
Guru 8: Kita tugaskan murid membuat video beberapa kali dalam satu semester agar memori handphone nya terisi penuh dengan video-video yang baik,
Guru 9: Kita undang orang tua murid untuk diberi penyuluhan pemanfaatan teknologi & biasakan periksa isi memori handphone anak-anaknya,
Guru 10: Kita bikin perlombaan produksi video di sekolah trus upload di youtube satu semester 3 kali dg hadiah yg dahsyat,
Guru 11: Kita bikin tugas Guru Piket setelah pulang sekolah, hingga semua anak meninggalkan sekolah,
Guru 12: Au ah glaaap
Guru 13: Ada yang punya videonya ngga? Saya mau lihat dooong!!!
Anda: ………………


3 Comments

Kesadaran berkendara, bisakah diperbaik? Supaya ga ada lagi anak kecil mematikan banyak orang


Berbagai alasan yang seolah membiarkan pelanggran hukum:
– Angkutan umum sulit
– Angkutan umum sering ngetem/berhenti
– Jarak tempuh terlalu dekat atau terlalu jauh
– Jam sekolah terlalu pagi
– Orang tua tak bisa mengantar anaknya
– Lebih boros biaya dengan angkutan umum
– …

Berharap tak ada lagi kecelakaan lalu lintas karena kelakuan anak-anak yang tak seharusnya berada di jalan …


Leave a comment

banyak pelajar yang hamil di sekolah, dan guru seperti dapat tugas tambahan sebagai bidan atau perawat wanita hamil …. tahun berapakah terjadinya di Imdonesaa?

Ini berita di detikcom 3 Sept 2013:

Tiap tahun sekitar 180 ribu siswa di Afsel hamil saat belajar di sekolah

Persoalan kehamilan remaja pada siswi sekolah masih menjadi masalah besar di Afrika Selatan meski menurut keputusan Mahkamah Konstitusi baru-baru ini sekolah tak boleh mengeluarkan murid karena tengah mengandung.

Gejala pelajar hamil yang menuntut bisa ikut ujian sudah banyak muncul di Imdonesaa, lemahnya bargaining sekolah membuat para kepala sekolah enggan menghadapi masalh hukum, karena biasanya melelahkan, menyakitkan, memalukan, mengesalkan , atau berbagai hal yang tak mengenakan deh,

Sementara itu, bebasnya pergaulan dan lemahnya pengawasan orang atau ketidakmampuan orang tua mendidik anak membuat makin sering terjadi kehamilan di kalangan pelajar.

Saya sedang berfikir, akankah negeri yg katanya beragama ini bakal banyak pelajar yang hamil di sekolah, dan guru seperti dapat tugas tambahan sebagai bidan atau perawat wanita hamil …. tahun berapakah terjadinya di Imdonesaa?


8 Comments

Percakapan Guru sikapi TAWURAN

20131018-142212.jpg

Merespon tawuran hungga menelan korban, dimana salah satu pelakunya pelajar kelas tiga sebuah sekolah menengah:

Guru 1: murid itu sudah dua kali ketangkep polisi karena tawuran, membajak bis … seharusnya murid itu sudah dikeluarkan dari sekolah karena tidak ada motivasi belajar… dia merasa jumawa karena sekolah tak berani mengeluarkan diriya, sehingga kenakalannya semakin gila.

Jika di keluarkan, mungkin dia sudah bekerja mencari uang untuk menghidupi diri sendiri dan makin banyak pengalaman di masyarakat, dalam kondisi tak berseragam niat untuk tawuran dan anarki jadi tak ada karena resikonya akan ditanggung sendiri.

Guru 2: guru tak boleh mengeluarkan anak murid, sekolah harus berusaha membentuk perilaku yang baik … Berbagai upaya harus dilakukan untuk merubah anak yang nakal menjadi baik.

Guru 3: bagaimana jika dikeluarkan, murid itu pindah sekolah, dan bersama teman-teman di sekolah barunya mengancam murid-murid sekolah terdahulu, sehingga tawuran terus terjadi.

Guru 4: saya sih tak peduli apa yg mereka lakukan di luar, yang penting saat saya mengajardi kelasnya mereka baik-baik aja

Guru 5: kenapa kalian sibuk-sibuk urusin anak murid, sementara ayah ibu yang melahirkannya tak peduli dengan kelakuan anaknya, sebagai guru yang penting kita masuk kelas saat jam mengajar, keluar setelah selesai, kelakuan atau moral anak itu urusan orang tuanya.

Guru 6: waduuuh … Saya harus bersikap bagaimana?

Sementara di ruang kelas, di tempat nongkrong anak-anak sekolah, mereka terus merancang strategi menghajar pelajar sekolah lain, persiapkan senjata tajam, atur strategi kelompok, jadwal tanggal yang bisajadi momentum berita di media … dan para orang tua makin takut, was-was setiap melepas anaknya ke sekolah, apakah bakal mati jadi korban tawuran hari ini?

Jika anda sebagai guru? Bagaimana sikap anda?