Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Percakapan Guru sikapi TAWURAN

8 Comments

20131018-142212.jpg

Merespon tawuran hungga menelan korban, dimana salah satu pelakunya pelajar kelas tiga sebuah sekolah menengah:

Guru 1: murid itu sudah dua kali ketangkep polisi karena tawuran, membajak bis … seharusnya murid itu sudah dikeluarkan dari sekolah karena tidak ada motivasi belajar… dia merasa jumawa karena sekolah tak berani mengeluarkan diriya, sehingga kenakalannya semakin gila.

Jika di keluarkan, mungkin dia sudah bekerja mencari uang untuk menghidupi diri sendiri dan makin banyak pengalaman di masyarakat, dalam kondisi tak berseragam niat untuk tawuran dan anarki jadi tak ada karena resikonya akan ditanggung sendiri.

Guru 2: guru tak boleh mengeluarkan anak murid, sekolah harus berusaha membentuk perilaku yang baik … Berbagai upaya harus dilakukan untuk merubah anak yang nakal menjadi baik.

Guru 3: bagaimana jika dikeluarkan, murid itu pindah sekolah, dan bersama teman-teman di sekolah barunya mengancam murid-murid sekolah terdahulu, sehingga tawuran terus terjadi.

Guru 4: saya sih tak peduli apa yg mereka lakukan di luar, yang penting saat saya mengajardi kelasnya mereka baik-baik aja

Guru 5: kenapa kalian sibuk-sibuk urusin anak murid, sementara ayah ibu yang melahirkannya tak peduli dengan kelakuan anaknya, sebagai guru yang penting kita masuk kelas saat jam mengajar, keluar setelah selesai, kelakuan atau moral anak itu urusan orang tuanya.

Guru 6: waduuuh … Saya harus bersikap bagaimana?

Sementara di ruang kelas, di tempat nongkrong anak-anak sekolah, mereka terus merancang strategi menghajar pelajar sekolah lain, persiapkan senjata tajam, atur strategi kelompok, jadwal tanggal yang bisajadi momentum berita di media … dan para orang tua makin takut, was-was setiap melepas anaknya ke sekolah, apakah bakal mati jadi korban tawuran hari ini?

Jika anda sebagai guru? Bagaimana sikap anda?

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

8 thoughts on “Percakapan Guru sikapi TAWURAN

  1. aslm pak dedi (sy orang tua Lanjar SMKn29 JKT ug dulu sempat bertemu bapak , sekarang lanjar sdh di kls XI dan alhamdulillah baik2 saja ) jika komentar para guru seperti tsb diatas , kalau boleh pendapat saya ” perilaku anak di luar seharusnya juga tanggtung jawab orang tua di rumah (apalagi kalo orang tuanya di rumah) komunikasi dgn anak sangat penting walau anak kita sdh usia SMK/SMA bahkan sampai Perguruan Tinggi , di sekolah bukan hanya akademik tapi juga attitude, ahlak kalo bisa semua guru di Indonesia pake deh..attitude, ahlak setiap pagi beri siraman rohani , seperti waktu pak Dedi di SMKN 29 JKT ….Good Luck….

  2. Saya sependapat dengan Guru 1, Pa… seorang siswa yang sudah ditangkap oleh polisi sampai 2 kali lebih baik dikeluarkan saja dari sekolah. Hendaknya sekolah jangan takut mengeluarkan muridnya jika murid tersebut sudah lebih dari sekali melakukan tindakan kriminal / meresahkan kenyamanan masyarakat, diberi kesempatan berubah tapi tidak mau berubah & tidak memiliki motivasi belajar. Kecuali jika sekolah menyediakan tenaga profesional yang bisa khusus menangani anak2 bermasalah atau kerja sama sekolah dengan lembaga / tenaga profesional dari luar. 1 hal lagi, jangan sampai putus komunikasi antara guru & orang tua untuk memberi perhatian kepada siswanya. Jangan sampai orang tua lepas tangan & melemparkan tanggung jawab pada sekolah/ guru saja. Banyak orang tua jaman sekarang yang melemparkan tanggung jawab pada sekolah / guru saja, saat anaknya kena masalah, akademik atau perilaku, maka sekolah / guru yang dituding sebagai penyebabnya. Padahal mereka yang akan dimintai pertanggung jawaban atas anak mereka oleh Allah SWT, bukan begitu Pa Dedi?

  3. Itu dia permaslahan pendidikan kita, boro-boro meningkatkan mutu pendidikan ….. asal jangan menyalahkan guru saja. Perlu kita renungkan pelayanan Pendidikan di Indonesia melalui3 jalur: Formal, Informal, dan non formal yang secara sinergi membentuk karakter anak.
    Yah saya sendiri pusing Pak Dedi,mikirin hal itu, yang susah dicari ujung pangkalnya berawal dari mana? Ada awalnya pada jalur yang benar tapi di akhir korupsi juga, ada awalnya seakan tidak benar di akhir dia menjandi pengabdi Masyarakat. SEMOGA SAJA ANAK-ANAK KITA MENDAPATKAN HIDAYAH DARI ALLAH SWT, AGAR SEGERA KEMBALI PADA JALUR YANG BENAR, SAYA YAKIN seleksi ALAM SUDAH MENGATURNYA?

  4. perlu pembinaan intenship sih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s