Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

POLLING: Sangsi untuk Pelajar yang Tawuran, kasih pendapat yuu

8 Comments

Metrotvnews.com, Jakarta: Petugas Polsek Metro Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menangkap puluhan pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri 46 Jakarta, karena membajak sebuah bus, Kamis (17/10) malam.

Puluhan pelajar ini ditangkap di kawasan Taman Puring, Jakarta Selatan, karena membajak sebuah bus yang akan digunakan untuk melakukan tawuran. Dari tangan para pelajar polisi menyita beberapa ikat pinggang berkepala besi.

Warga yang kesal dengan tingkah para pelajar ini merusak puluhan motor para pelajar yang diparkir di dekat sekolah mereka.

Polisi masih menyelidiki kasus ini. Jika di antara para pelajar ada yang terbukti  melakukan tindakan kriminal maka polisi akan melakukan proses hukum lebih lanjut.

TEMPO.COJakarta – Sebanyak 36 pelajar SMA 46 Jakarta Selatan dikeluarkan dari sekolah karena membajak bus untuk tawuran. Koordinator Koalisi Pendidikan, Lody Paat, berpendapat mereka dikeluarkan karena dinilai telah melakukan pelanggaran berat.

“Tindakan sudah kriminal,” kata Lody ketika dihubungi Tempo, Rabu, 13 November 2013. Agar kejadian tak kembali terulang, Lody meminta pihak sekolah mencari penyebabnya. “Sekolah jangan hanya membuat aturan dan hukuman.”

Menurut Lody, membuat aturan dan hukuman sekolah itu mudah. Namun, yang terpenting adalah sekolah memecahkan persoalan kenapa pembajakan bus bisa terjadi. “Mereka harus memikirkannya. Bagaimana agar hal ini tidak terjadi ke depannya,” ujar Lody.

Ke-36 orang tua siswa ternyata tidak setuju dengan keputusan pihak sekolah. Mereka akhirnya melaporkan kasus ini ke KPAI (Komnas Perlindungan Anak Indonesia). “Saya pikir orang tua siswa mempunyai hak melakukan itu,” ujar Lody.

Anggota Koalisi Pendidikan, Jimmy Paat, mempertanyakan apakah kepala sekolah mengambil keputusan sesuai prodesur, dengan mengadakan rapat bersama guru dan perwakilan orang tua. “Bila dilakukan secara sepihak itu menjadi masalah,” ucap Jimmy.

Ke-36 pelajar itu membajak bus pada 17 Oktober lalu. Pembajakan terjadi pada siang hari. Pelajar tersebut ditangkap kepolisian dari Polsek Kebayoran Baru di Taman Puring, Jakarta Selatan. Polisi pun menyita beberapa ikat pinggang berkepala besi.

TAWURAN PELAJAR DI SUKABUMI
Korban Tewas Pelajar SMKN
Tambah Jadi 4, Masih Hilang 2

Selasa, 12 Nopember 2013

SUKABUMI (Suara Karya): Jumlah pelajar SMK Negeri I Cibadak, Kabupaten Sukabumi, yang tewas ketika mencoba menghindari tawuran di Jalan Raya Sukabumi-Bogor, Desa Karangtengah, bertambah menjadi empat orang.

“Keempat pelajar yang tewas itu terpeleset ke sungai saat menghindari tawuran dan aksi pencegatan dari SMK swasta yang berada di Kecamatan Cibadak,” kata Kapolres Sukabumi AKBP Asep Edi Suheri kepada Antara, Senin.

Mereka adalah Muhamad Rizki Fadilah (17), Dimas Faizi Akbar (16), Indrianto (17), dan Randika Febriansyah (15). Jasad para pelajar itu ditemukan oleh warga sekitar Sungai Cimahi. Jasad terakhir yang ditemukan adalah Randika.

“Kami terus menyelidiki kasus ini dan saksi pun sudah kami periksa. Selain itu, petugas dari Polsek Cibadak pun terus mengembangkan kasus ini, namun kami belum menetapkan tersangka,” kata Kapolres Sukabumi AKBP Asep Edi Suheri kepada Antara, Senin.

Menurut Asep, sampai saat ini pihaknya melakukan pemeriksaan terhadap para saksi baik dari sekolah korban maupun SMK swasta yang melakukan aksi pencegatan kepada puluhan pelajar dari SMK Negeri I Cibadak. Pemeriksaan saksi sampai hari ini terus dilakukan pihaknya secara maraton.

Selain pelajar, saksi yang diperiksa untuk mengungkap kasus tersebut juga ada yang berasal dari warga sekitar yang melihat kejadian itu.

Kesimpulan sementara pihak kepolisian, kasus itu bukan merupakan aksi tawuran karena tidak ada kontak fisik sebab para korban menghindari aksi itu.

“Kami juga telah memanggil pihak dari kedua sekolah tersebut untuk meminta keterangan perihal peristiwa ini. Untuk jasad para korban, sudah dikembalikan kepada keluarganya masing-masing,” ucapnya.

Sementara itu, dua pelajar SMK Negeri Cibadak yang menghindari aksi penyerangan dari SMK swasta Kecamatan Cibadak sampai saat ini masih hilang dan belum ditemukan.

“Diduga, kedua pelajar kami juga ikut menceburkan diri ke Sungai Cimahi pada peristiwa tersebut bersama empat rekannya yang sudah ditemukan, tetapi dalam keadaan tewas,” kata guru bidang kesiswaan SMK Negeri Cibadak, Idris, kepada Antara, Senin.

Menurut Idris, kedua pelajarnya yang hilang itu adalah Ismatulloh (16) dan M Ramdani (16). Mereka adalah pelajar kelas X. Diketahui hilangnya kedua pelajar itu setelah orangtuanya datang ke sekolah dan menyebutkan bahwa sampai hari kemarin sejak Sabtu (9/11) lalu anak mereka belum juga pulang ke rumah.

Oleh karena itu, pihaknya langsung berkoordinasi dengan petugas dari kepolisian untuk mencari dua pelajarnya yang diduga ikut tenggelam bersama empat pelajar lainnya yang ditemukan tewas.

“Kami masih melakukan pencarian jasad korban yang diduga tenggelam di aliran Sungai Cimahi. Selain itu, kami juga meminta kepada pihak kepolisian untuk segera mengungkap siapa pelaku utama yang melakukan pencegatan kepada pelajar kami ini, sehingga mencoba melarikan diri dengan cara menyebrangi sungai yang akhirnya terseret arus yang pada saat itu tengah deras,” katanya.

Idris menyerahkan penanganan seluruh kasus itu kepada pihak kepolisian agar menangkap siapa pelaku yang menyebabkan tewasnya pelajar dari sekolah itu.

Menurut dia, kasus itu merupakan kejadian luar biasa dan menjadi perhatian berbagai pihak. Selain itu, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan kepolisian baik dari Polsek Cibadak maupun Polres Sukabumi.

Ia mengatakan, urusan mengungkap kasus itu bukan ranah SMKN Cibadak. Karena itu, pihaknya berharap polisi bisa mengungkap kasus yang membuat pelajar di sekolahnya itu menjadi trauma.

Selain itu, pihaknya juga meminta sekolah yang pelajarnya terlibat pencegatan terhadap pelajar SMKN Cibadak yang menyebabkan empat siswa tewas untuk bertanggung jawab dan mencari solusi agar kasus serupa tidak terjadi lagi. “Kami sangat prihatin dengan kejadian ini, padahal pelajar di sekolah ini tidak pernah ikut tawuran karena mereka dididik menjadi pelajar terbaik. Bahkan, kami juga selalu tegas kepada pelajar yang ikut tawuran seperti memberikan skors bahkan bisa dikeluarkan,” ujarnya. 

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

8 thoughts on “POLLING: Sangsi untuk Pelajar yang Tawuran, kasih pendapat yuu

  1. menurutku sih dinasehattin panggil orang tua ma jadi pekerja sosial

  2. Boleh juga idenya …. kerja sosial bersihkan sampah di kali atau bersihkan tulisan di jembatan, pinggir jalan, dll … bermanfaat banget tuuu😀

  3. Saya lebih setuju jika, anak-anak dari kedua sekolah dibina secara bersama-sama oleh sekolah dengan melibatkan kyai atau tokoh spiritual dan motivator yg dapat membina secara khusus agar siswa tersebut memiliki kesadaran yg dilatarbelakangi agama.

  4. kalau menurut saya, siswa yg ikut tawuran itu jangan dikeluarkan dari sklh dulu. soalnya kalau dia sdh gak sklh lagi, gimana mau memperbaiki perilakunya. Kalau dia sdh gak sklh, berarti untuk memperoleh pendidikan pun juga gak bisa. Orang tua dan anak harus dihadapkanscr lngsung dan diberi pengarahan oleh pihak sekolah dan pihak-pihak yang terkait.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s