Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

SEKOLAH GRATIS BIKIN PENDUDUK ASLI TERSINGKIR & MAKIN MISKIN

2 Comments

miskin

miskin

Di Ibukota Negeri Paman Besut penduduk asli gembira luar biasa
karena sekolah di SD hingga SLTA semua gratis
masih ditambah pemberian beasiswa ini itu
sehingga orang tua hampir tak mengeluarkan biaya buat sekolah anaknya

Para orang tua penduduk asli Ibukota Negeri
jadi enggan berusaha, mereka bekerja serabutan,
menjadi tukang ojek, buruh bangunan, parkir liar, dagang rokok, koran, dll
para orang tua merasa tak perlu cari penghasilan yang cukup,
menabung juga dipandang tak perlu
karena anaknya masuk SD negeri gratis, SMP negeri gratis, hingga SLTA

Sekolah-sekolah terengah-engah mengatur biaya operasional
Dana Pemerintah turun hampir selalu terlambat
sementara kebutuhan operasional sekolah tak pernah henti
masyarakat kini enggan peduli dan tak mau support sekolah
Guru mengajar seperti sambil lalu karena banyak yang belum PNS
dan tak ada biaya untuk membayar honor mereka
jadilah sekolah seperti tak mengolah anak didiknya
anak-anak asik bermain bersama teman, membuat video takseronok di kelas,
menjadikan tawuran seperti pesta rutin bertaruh nyawa
lulus ujian nasional tak sulit karena di sekolah ada tim sukses yang ulet

Setelah lulus SLTA anak-anak penduduk asli tak bisa lanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi
karena jadi mahasiswa perlu biaya mahal
orang tua tak memiliki tabungan
penghasilan yang sedikit selalu habis untuk makan, kontrak rumah, merokok & beli pulsa
Mereka kemudian bekerja di sektor informal yang berpenghasilan minim

Para pendatang dari luar Ibukota Negeri
berusaha sekuat tenaga sekolahkan anaknya di sekolah yang bagus
walau tak gratis, ada biaya yang harus dibayarkan
tapi kualitas pendidikan disana bisa dipercaya
untuk membayar biaya sekolah anaknya para pendatang kerja keras
perbanyak tabungan buat kuliahkan anaknya
hingga anak-anak mereka lulus perguruan tinggi negeri
mereka kemudian bekerja di sektor yang memberi penghasilan besar

Generasi penduduk asli hidupnya makin sulit
para pendatang menempati posisi yang makin elit
anak-anak penduduk asli cuma jadi pekerja di pabrik
anak-anak para pendatang jadi manajer dan pimpinan
anak-anak penduduk asli yang tak kerja cuma jadi penarik ojek atau kerja serabutan
anak-anak para pendatang peroleh jabatan tinggi karena pendidikan tinggi

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

2 thoughts on “SEKOLAH GRATIS BIKIN PENDUDUK ASLI TERSINGKIR & MAKIN MISKIN

  1. entah pemikiran saya dan bapak sama , atau hanya kebetulan. Yang jelas beberapa postingan bapak sering kali mirip dengan apa yang saya fikirkan. Saya seorang pendatang yang sekolah di jakarta tidak gratis dan harus bayar ini itu.
    Memang benar semua yang bapak tulis diatas, penduduk asli jakarta itu semakin miskin pak, saya banyak menemukan penduduk asli jakarta hidup semakin MADESU. Bahkan teman SMP saya yang asli penduduk disini, tidak melanjutkan ke SLTA. Alasannya tidak ada uang, padahal orang tuanya punya rumah 2 dan beberapa tanah.

    Kebanyakan penduduk asli yang memiliki rumah dan tanah milik sendiri memang berfikir seperti itu pak, Katanya ‘Harta yang ad sudah cukup’ untuk apa sekolah lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s