Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Sekolah yang muridnya tawuran dilarang terima murid baru; BUPATI PURWAKARTA HEBAT

Leave a comment

20140218-144247.jpg
Coba perhatikan, tahun depan bakal terjadi penurunan yang tajam peristiwa tawuran pelajar di Purwakarta, hampir bisa dipastikan para Kepala Sekolah dan Guru akan lakukan berbagai upaya agar muridnya tak terlibat tawuran lagi. Argumentasi pengelola sekolah yang meminta keringanan sangsi dengan mengatakan bahwa pelajar yang terlibat tawuran hanya sekitar 5% kenapa jadi berimbas ke semua murid di sekolah? .

Bagaimana jika ditanya begini: Kenapa Sekolah tak mampu membina yang 5% agar tak melakukan tawuran?. Berkaitan hal ini Saya selalu menekankan kepada murid TAK PERLU MENJAGA NAMA BAIK SEKOLAH, karena sekolah kami bedar dan luas, SEMUA MURID CUKUP MENJAGA NAMA BAIK DIRI SENDIRI, jika masing-masing sudah jadi anak baik, maka baiklah sekolah kita.

Agar murid tak melakukan tawuran, ini beberapa alternatif yang bisa dilakukan di sekolah anda:

1. Rancang peraturan atau tata tertib berhubungan dengan tawuran secara bersama melibatkan Guru, karyawan, satpam, murid, orang tua,alumni, polisi, satpol PP, industri, perguruan tinggi, pengacara dan siapa saja yang bisa dilibatkan.

2. Tuliskan sangsi yang disepakayi di tata tertib itu, edarkan ke semua warga untuk dibaca, lalu setiam murid dan orang tua membuat surat pernyataan ditulis tangan bermaterai siap mematuhi aturan menerima sangsi atau konsekwensinya.

3. Adakan kegiatan-kegiatan yang mengakrabkan antara kelas 10,11 dan 12, karena katidakharmonisan antar kelas biasanya menjalar ke luar sekolah, sangsi terhadap kekerasan atau tawuran antar kelas di dalam sekolah juga harus diantisipasi dan mendapat sangsi yang tegas.

4. Akomodasi kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler yang digemari murid, dorong mereka untuk mengikuti kompetisi antar sekolah, apalagi jika kejuaraan diadakan oleh sekolah lain, hal ini akan mengakrabkan sekolah anda dengan sekolah lain.

5. Adakan kompetisi atau kejuaraan kegiatan ekskul di sekolah anda yang mengundang sekolah-sekolah lain, hal ini bisa jadi promosi buat sekolah anda dan ajang mengakrabkan murid anda dengan muridsekolah lain.

6. Secara reguler manajemen sekolah harus bertemu, mendengar pendapat murid melalui perwakilan kelas atau anggota kelas yang dipilih secara acak untuk mendengar aspirasi murid.

7. Kepala Sekolah dan manajemen sekolah harus mengetahui suasana kantin dan tempat-tempat lain di sekitar sekolah dimana murid sering berkumpul, berikan aksesno handphone manajemensekolah kepada pedagang di kantin atau di tempat nongkrong untuk mengantisipasi masalahyang bakal timbul.

8. Sangsi terhadap pelanggaran harus dijalankan secara tegas; membawa senjata tajam, memukul teman, mencuri, mengedarkan markoba adalah sebagian pelanggaran tata tertib yang berat yang sangsinya dikembalikan kepada orang tua atau dikeluarkan atau diserahkan ke Polisi.

9. Jika ada murid yang berprestasi, upayakan selalu memberi apresiasi, misalnya dengan memberi piagam plus hadiah hiburan yang diberikan saat upacara atau apel di hadapan semua warga sekolah. Sementara murid yang nakal atau melanggar aturan jangan dipajang di depan teman-temannya, proses di ruang tertutup, berikan sangsi sesuai aturan, saat murid dikembalikan kepada orang tuanya pasti semua temannya akhirnya tahu apa yang terjadi, tak perlu diumumkan atau diekspos.

Jika hal-hal di atas adalah suatu hal baru di sekolah anda, mungkin awalnya akan memakan korban, tapi tak akan terlalu banyak, karena sesungguhnya murid-muridpun bakal patuh dengan aturan yang mereka ikut membuatnya, selanjutnya anda lihat …. Murid batu anda akan makin baik kualitasnya, atau makin banyak murid yang mendaftar ke sekolah anda, karena orang tua senang menitipkan anaknya di sekolah yang baik.

Tahukan Anda, ada sekolah yang tak pernah sepi muridnya hingga kini karena salah satu aturan di sekolah itu NYONTEK, DIKELUARKAN DARI SEKOLAH.

Anda punya saran? Semoga aja tawuran makin berkurang di negeri ini, agar saya tak perlu melihat foto murid mati dengan clurit di kepala yang terjadi di Bogor minggu lalu.

20140218-151829.jpg

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s