Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Yuk kita tanya pada wakil rakyat, bupati, gubernur dan presiden, “Kapan ada transportasi yang baik di negeri ini?”

2 Comments

CIRI TUKANG OJEK

CIRI TUKANG OJEK

Pagi hari, seorang lelaki yang tak muda lagi duduk di atas motornya yang parkir di depan rumah seseorang d Cipinang Muara, menunggu perempuan yang setiap pagi selalu diantar untuk berjualan di pasar Jatinegara yang masih di kecamatan yang sama. Sesungguhnya jarak rumah ibu itu ke pasar tak terlalu jauh, tetapi tak ada transportasi yang nyaman dan cepat untuk mencapai pasar sehingga ojek motor menjadi pilihan ibu itu setiap hari.

Anda mungkin sering melihat atau mengalami hal yang sama, mobilisasi rakyat sangat sulit, sehingga untuk mempermudah rakyat bepergian mereka berusaha membeli sepeda motor karena menggunakan ojek membutuhkan biaya yang mahal. Tak memiliki dana yang cukup, rakyat membeli sepeda motor atau mobil dengan cara kredit yang harganya jauh lebih mahal. Ada hal yang lucu, seorang teman ingin membeli sepeda motor secara cash di sebuah agen yang besar harus menunggu hingga dua minggu, sementara jika membeli secara kredit motornya telah tersedia dan pada hari itu juga sudah bisa dibawa pulang.

Mwmiliki kendaraan bermotor seolah kemewahan, padahal itu bentuk kepasrahan pada situasi dimana angkutan umum tak tersedia dengan baik, kita tak protes pada Pemerintah Daerah maupun pemerintah pusat yang tak mampu sediakan sarana transportasi massal yang baik, sekian banyak bupati, gubernur hingga presiden, ribuan wakil rakyat dipilih berganti-ganti tapi belum ada yang mampu menyediakan layanan transportasi yang baik buat rakyatnya.

Tak perlu jauh ke Jepang atau ke Korea, lihatlah negeri tetangga kita Singapur dan Malaysia, disana jarang sekali penduduknya mengendarai sepeda motor, karena naik motor itu bikin pantat panas, pegal, punggung sakit, terpanggang matahari, dingin terguyur hujan, rakyat di negeri tetangga gemar bepergian dengan kereta bawah tanah atau monorail yang dibangun pemerintahnya.

Wajar saja para pemotor itu selalu ngebut di jalan kaena ingin segera sampai di tujuan dan mengakhiri penderitaanya di atas jok motor … sementara para pejabat, naik sedan ber-AC dikawal polisi pembuka jalan gunakan motor besar bersirine. Yuk kita tanya pada wakil rakyat, bupati, gubernur dan presiden, “Kapan ada transportasi yang baik di negeri ini?”.

DINGIN

DINGIN

Saya berharap adegan di foto bakal makin jarang terlihat, potensi bahaya jalan yang licin, badan sakit akibat kehujanan, dan berbagai penderitaan lainnya.

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

2 thoughts on “Yuk kita tanya pada wakil rakyat, bupati, gubernur dan presiden, “Kapan ada transportasi yang baik di negeri ini?”

  1. Di lihat saja Pak 2014 ini, apakah pemimpin yg selanjutnya ini akan membawa perubahan positif untuk bangsa dan negara ini.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s