Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Sekolah gratis, murid tak berhak menuntut kualitas, “Maunya gratis koq pengen bagus.”

2 Comments

Di Negeri Paman Besut, sekolah negeri gratis sejk SD hingga SLTA, orang tuan yang keadaan ekonomi terbatas sangat senang dengan kebijakan pemerintah daerahnya, karena bisa menyekolahkan anaknya di sekolah negeri tanpa merisaukan biaya, terlebih lagi ada pemberian beasiswa kepada murid berupa kartu pintar atau nama lainnya, murid yang bersekolah seperti sudah bekerja memperoleh penghasilan. menurut peraturan, dana yang diberikan untuk mendukung berbagai kegiatan sekolah anak, tetapi orang tua sering ikut menggunakan uang untuk keperluan keluarga yang tak berhubungan dengan sekolah.

Di beberapa sekolah negeri mayoritas gurunya adalah pegawai honor alias belum menjadi Pegawai Negeri Sipil – PNS, karena guru-guru yang PNS sudah pensiun dan belum ada droping guru baru PNS dari Pemerintah, karena tak boleh menerima sumbangan dari masyarakat atau orang tua murid, maka sekolah hanya mengandalkan dana operasional dari pemerintah daerah dan pusat, naasnya hingga bulan Mei anggaran tak kunjung turun ke sekolah. Untuk guru yang PNS tak masalah karena penghasilan atau gaji dari pemerintah tetap turun seperti biasa, sayangnya sekolah jadi kesulitan untuk membayar honor guru yang belum PNS, sementara para guru itu memiliki keluarga.

Untuk operasional sekolah seperti kebersihan, perawatan, listrik, air dan lain-lain kepala sekolah melakukan berbagai upaya untuk menutupi dana, bahkan ada yang harus meminjam uang ke Bank agar cukup dana untuk operasional sekolah dan membayar honor guru, karena proses belajar tak boleh berhenti seharipun. Kegiatan kurikuler maupun ekstra kurikuler jadi terhambat pelaksanaannya, jika ada murid atau orang tua murid yang melihat ada penurunan pelayanan secara kuantitas maupun kualitas dan menuntut kepada guru atau kepala sekolah agar memberi pelayanan yang bermutu bisa dijawab begini: “Maunya gratis koq pengen bagus.”

Akhirnya, orang tua yang berpendidikan dan mampu menyekolahkan anaknya di sekolah swasta yang bagus meskipun biaya yang harus dikeluarkan tak sedikit, dan sekolah-sekolah negeri makin kekurangan murid karena masyarakat makin sadar pentingnya pendidikan bermutu buat anak-anaknya.

Sekolah-sekolah negeri yang masih mengedepankan mutu, para orang tuanya kompak memberi dukungan dengan memberi donasi uang utntuk berbagai kegiatan sekolah yang bermanfaat buat anak-anaknya yang dititipkan di sekolah itu, walaupun Gubernur atau Kepala Dinas marah kepada Kepala Sekolahnya, para orang tua marah kepada Gubernur & Kepala Dinas; “Kami ingin Sekolah yang lebih bermutu sesuai keinginan kami, kalian tak perlu melarang kami menyumbang sekolah anak kami.”

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

2 thoughts on “Sekolah gratis, murid tak berhak menuntut kualitas, “Maunya gratis koq pengen bagus.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s