Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Anak anda bawa sepeda motor ke sekolah? Itu artinya anda sedang bersiap segera antar anak anda ke pemakaman, maaf

Leave a comment

20141222-090719.jpg
Karena jarak rumah ke sekolah cukup jauh dan tak tersedianya angkutan umum dari rumah ke sekolah banyak orang tua di Negeri Paman Besut yang membiafkan anak-anaknya mengendarai sepeda motor untuk pergi dan pulang dari sekolah, tak sedikit otang tua yang bangga anaknya sudah bisa mengendarai sepeda motor sejak di sekolah dasar.

Mungkin orang tua belum tahu atau lupa bahwa negara memiliki atauran hukum yang mengizinkan warganya mengendarai kendaraan bermotor setelah berusia 17 tahun dan memiliki SIM – Surat Izin Mengemudi. Guru, Kepala Sekolah, Satpam, Dinas Pendidikan mestinya mengambil peran untuk mencegah murid sekolahmembawakendaraan bermotor. Kepolisian negara harus mengambil sikap melakukan pencegahan dan penindakan peraturan negara. Kepala Daerah harus menyediakan alat angkutan umum yang bisa melayani rakyatnya dengan baik dan menegakkan aturan lalu lintas.

Di ibukota negeri sepeda motor dilarang melewati jalan protokol dengan alasan tingkat kecelakaan yang tinggi, sementara kecelakaan anak sekolah yang berkendara pasti tidak sedikit, kenapa anak sekolah dibiarkan berkendara?

Rakyat seharusnya berani menuntut pemerintah, kepala daerahnya untuk menyediakan angkutan umum di wilayah yang dikelolanya, sayang rakyat negeri paman besut terlalu takut atau bodoh sehingga tak berani menuntut pemerintahnya untuk menyediakan angkutan umum penduduknya, atau karena sudah puluhan tahun merasa tak dipedulikan atau tak diurus pemerintah daerahnya, maka rakyat terbiasa mengurus dirinya sendiri dengan memaksakan diri membeli sepeda motor dengan cara kredit yang harganya jauh lebih tinggi dibanding membeli kontan, perasaan jadi lebih kaya atau sejahtera punya kendaraan membuat mereka lupa ada kewajiban pemerintah daerahnya.

Jika di ibukota negeri paman besut angkutan umumnya tak dikelola dengan baik, bagaimana di daerah pedalaman yang jauh dari istana presiden atau kantor gubernur? tapi rakyat sepertinya tak berdaya atau terlalu bodoh dan diam saja tak diurus oleh orang-orang yang berteriak-teriak kampanye saat pemilihan umum atau pilkada.

Yang jadi korban adalah anak sekolah, dididik terbiasa melanggar aturan atau hukum, hingga kondisi lalu lintas jalan raya seperti hutan belantara yang isinya binatang-binatang tak paham aturan dan mau menang sendiri, macet, tak tertib, saling tabrak jadi peristiwa yang biasa, asuransi jadi jalan keluar, rakyat harus mengeluarkan biaya lagi.

Mau sampai kapan angkutan umum negeri bisa dinikmati sehingga anak-anak sekolah bisa bergembira di perjalanan menuju tempat belajar, sambil dididik mentaati hukum negeri. Anak anda bawa sepeda motor ke sekolah? Itu artinya anda sedang bersiap segera antar anak anda ke pemakaman, maaf.

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s