Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Sekolah  pasrah generasi bubrah di Negeri Paman Besut

Leave a comment

image

Seorang alumni sekolah menengah yang sudah sarjana dan sudah bekerja datang berkunjung ke sekolah menengah almamaternya, saat berbincang dengan gurunya di teras sekolah di bertanya:

“Maaf ya Pak, Saya merasa motivasi belajar anak-anak sekarang kelihatan berkurang dibanding generasi Saya dulu?”

Saya cuma bilang bahwa penyebab ya kompleks, karena waktu kami tak lama, dia punya banyak keperluan yang harus dilakukan hari itu.

Di sekolah dasar negeri paman besut, penerimaan murid berlangsung bulan Juni sangat transparan, murid diterima berdasarkan kategori umur, murid yang tertua punya potensi lebih besar untuk diterima di sekolah negeri, sekolah tidak bisa menolak siapapun yang mendaftar ke sekolahnya jika usia pendaftar telah memenuhi syarat dan daya tampung di sekolah itu mencukupi. Pendaftaran dan biaya sekolah di negeri itu gratis. Kepala Sekolah atau Guru sekolah negeri yang melakukan pungutan kepada orang tua diberi sangsi oleh Dinas Pendidikan, diantaranya dengan pemberhentian tugasnya sebagai kepala sekolah atau dipindah tempat tugasnya.

Di sekolah dasar swasta negeri itu proses penerimaan sudah berlangsung sejak bulan Januari, calon murid harus melewati beberapa tahapan tes dan wawancara, termasuk wawancara dengan calon orang tua murid. Tahapan seleksi dan jenis seleksi sangat beragam tergantung kreatifitas dan kebutuhan sekolah. Biaya tes dan biaya masuk sekolah swasta beragam, dari ratusan ribu kepeng hingga puluhan juta kepeng. Sekolah dasar swasta hanya menerima murid yang sesuai dengan kriteria yang ditentukan sekolah.

Bisa dibayangkan suasana kelas pertama di sekolah dasar negeri yang kemampuan dasar muridnya amat beragam atau heterogen dan di sekolah swasta yang muridnya sudah terkondisi pada level yang sama. Guru-guru di sekolah negeri harus bekerja keras untuk membuat muridnya punya dasar kemampuan yang sama dan bergerak menggapai target pembelajaran di kelas hingga lulus sekolah dasar.

Sementara di sekolah dasar swasta, murid sudah dipetakan pada level yang hampir sama, sekolah dasar swasta bisa menentukan karakteristik anak, type orang tua, kemampuan ekonomi, atau apapun yang diinginkan sekolah.

Sekolah negeri pasrah, sekolah swasta terserah.

Bagaimana di sekolah menengah? tunggu posting blog saya berikutnya.

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s