Blog Pendidik


Leave a comment

Terima kasih Slideshare.net, Saya banyak titip slide presentasi Saya, semoga bermanfaat


Ini materi sharing Saya di BNNP Jawa Barat 27 Agustus 2015 untuk Guru-guru SMA – SMK di Hotel Sultan Raja Cirebon, info lebih lengkapnya disini.

Nikmati ribuan foto-foto training saya bisa disimak disana, ribuan foto saya lainnya di instagram, video saya di Youtube ada ratusan bisa dinikmati disini.

Advertisements


Leave a comment

Tips Mendisiplinkan Murid di Sekolah

“Sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Saya melihat sedikit sekali Guru yang mau ikut serta mendisilinkan murid di sekolah. Bagaimana caranya mendorong atau memotivasi Guru-guru di Sekolah agar turut serta membina disiplin murid.”

Demikian pertanyaan seorang peserta training Saya, jawaban saya begini:

Dalam posisi Bapak sebagai Wakil Kepala Sekolah saat ini, atau setelah nanti Bapak jadi Kepala Sekolah, Kepala Dinas Pendidikan hingga Menteri Pendidikan jangan pernah berharap semua guru peduli terhadap disiplin murid di Sekolah, itu cuma bikin lelah hingga frustasi, lebih baik kerja aja bersama tim kesiswaan di sekolah Bapak untuk menegakkan disiplin murid, jika ada guru yang membantu segera beri apresiasi atau ucapkan terima kasih sehingga mendorong giri itu untuk terus membantu sekolah mendisiplinkan murid, sementara yang tidak peduli tak perlu dilihat atau diambil hati, biarkan saja mereka berada di alam ketidakpeduliannya, karena mungkin mereka sedang mengalami masalah yang berat seperti soal keluarga, utang piutang, kesehatan, dsb. Atau mungkin mereka merasa dirinya belum berdisiplin baik sehingga tak percaya diri mendisiplinkan murid di sekolah. Mungkin juga mereka tak memiliki jiwa mendidik karena jadi guru hanya sebagai pelarian tak ada pekerjaan lain.

Ketika Tim Kesiswaan di sekolah berhasil mendisiplinkan murid di sekolah, sehingga suasana belajar berlangsung kondusif atau nama baik sekolah terangkat hingga mendapat predikat baik di masyarakat, semua guru di sekolah itu pasti senang, termasuk yang tidak berpartisipasi mendisiplinkan murid, kadang diantara mereka memberi apresiasi atau mengucapkan terima kasih kepada Tim Kesiswaan atas prestasi yang dicapai, sebagian dari mereka mungkin diam karena beranggapan bahwa itu sudah jadi tugas dan tanggung jawab tim kesiswaan.

Sesungguhnya, ada tiga atau lima orang guru yang bekerja sama mendisiplinkan anak di satu sekolah itu sudah cukup untuk membuat disiplin sekolah jadi baik, sementara guru-guru yang lain cukup mendisiplinkan kelas dimana dia mengajar pada jam tertentu, maka sekolah anda akan menjadi baik.

Jadi, mari kita kerja yang terbaik yang kita bisa, tak perlu berharap semua orang peduli atau membantu kerja kita, kita isi waktu kita dengan kebaikan, happy deh.


Leave a comment

Anak Berprestasi Kebanggaan Negeri

murid jagi masak dari SMKN 50 Jakarta

Marwah Leila

Hai guys.. Apa kabar semuanya? Alhamdulillah bila masih diberi kesehatan oleh Allah SWT. Hem.. Kalian pasti punya temen yg berprestasi kan? Atau mungkin kalian sendiri tuh yang berprestasi. Duh seneng yaa, berprestasi dalam bidang apapun yang menurut kalian itu “waw!!” gitu.. Disini, saya mau menceritakan tentang temen saya yg menurut saya “waw!!” nih di SMK Negeri 50 Jakarta Timur. Disimak yaaa:)

image

Nama : Umy Farida
TTL : Jakarta, 22 Februari 1999
Alamat : Jl. Rajiman WD, Kp. Pedurenan Rt. 8 Rw. 6, Jakarta Timur
Nama Bapak : Sahirin
Nama Ibu : Salma
Anak ke : 2 dari 3 bersaudara, yakni kakaknya bernama Miftahul Hasanah dan adiknya bernama Ridwan Yahya
Pendidikan :
●MI Alwathoniyah Alhamidiyah
●MTs Negeri 31 Jakarta
●SMK Negeri 50 Jakarta

Tau ga guys.. Dia ini memiliki prestasi yg “waw!!” loh. Pada tahun ini, tepatnya bulan juni 2015, ia memenangkan lomba Scouting Chef dengan meraih juara 3. Duh duh…

View original post 151 more words


2 Comments

Guru tak dikenal di sekolah

A: Eh, ada yg meninggal di erte kita,

B: Siapa?

A: Dia guru

B:Koq tahu kalau dia guru?

A: Karena sering pake baju biru

B: Namanya?

A: Ga tau?


Selamat pagi Bapak, Ibu Guru, sudah seberapa seriuskah kita mengajar dan mendidik murid?

Jika kita melakukan dua hal itu dengan baik, barangkali kejadian di atas tak terjadi pada kita.

Coba deh introspeksi diri, berapa murid di sekolah kita, berapa persen dari mereka yang menganal kita? Jika prosentasenya tinggi, maka anda boleh diacungi jempol, jika prosentasenya kecil, tanyakan kepada sahabat terdekat anda kenapa? atau anda makin tak dikenal murid di sekolah sendiri, karena ketidakpedulian guru akan dibalas oleh ketidakpedulian murid-muridnya, mau?


Leave a comment

Cita-citamu antarkan dirimu

cita%22

Seorang anak remaja, kurus, kecil tinggal di sebuah Kota di Sumatra, tepatnya di Riau, sejak kecil bercita-cita bekerja di perusahaan penerbangan, mungkin dia terpesona oleh kecanggihan teknologi dirgantara, sehingga dia meminta izin kepada orang tuanya untuk bersekolah di Jakarta, di STM Penerbangan dan tinggal di rumah keluarganya yang lumayan jauh dari sekolahnya di Kebayoran, yaitu di Depok.

Mungkin di Riau anak itu tak mendapat kabar bahwa STM Penerbangan Jakarta adalah sekolah yang dikenal kurang baik, muridnya terbiasa atau terkesan gemar tawuran di jalan-jalan Jakarta hingga sering menjadi objek berita di mass media.

Anak kecil kurus lulusan SMP di Riau itu diterima di STM Penerbangan Jakarta, tiga tahun dilaluinya dengan terus konsisten pada cita-cita bekerja di perusahana dirgantara, tak terhitung berapa puluh kali teman-temannya menghiasi berita mass media seolah berpesta melakukan tawuran, mencari perhatian orang di jalan, di ruang baca dan celah televisi, anak itu tetap tak bergeming ikut tawuran, dengan akalnya dia mengatur perjalanan pergi dan pulang dari depok ke kebayoran dan sebaliknya untuk bisa selalu aman dan selamat tiba di sekolah dan di rumah.

Tiga tahun tak terasa dia lalui, ternyata pada tahun ketiga image STM Penerbangan Jakarta telah berubah di mata Perusahan Dirgantara karena kerja keras Guru-guru, Karyawan dan Orang Tua yang membina anak Kapal (demikian mereka biasa dipanggil), lewat kerja keras dan kekompakan Guru-guru & karyawan, anak kapal makin jarang tawuran, sementara prestasi positif di bidang ekstra kurikuler, olah raga, kesenian, PMR, Paskibra, dsb makin sering didapat, aktifitas ekskul setelah pulang sekolah bergerak aktif, liputan mass media cetak dan televisi mengalir deras kabarkan perubahan luar biasa di kapal.

Menjelang lulus dari sekolah, Perusahaan Dirgantara terbesar di negeri ini datang ke kapal dan melakukan tes untuk merekrut calon teknisi yang akan dididik selama tiga tahun dan selanjutnya diangkat menjadi karyawan disana, anak Riau itu ikut serta seleksi dan lulus bersama beberapa teman di angkatannya.

Sekarang, saat posting ini dibuat, dia masih ikut pendidikan …

Sementara, seorang remaja yang tinggal tak jauh dari STM Penerbangan bercita-cita masuk sekolah itu karena ingin menikmati ketegangan berlari di jalan membawa senjata tajam, mengejar atau dikejar musuh yang berbeda nomor atau nama sekolah, bahan ngobrol dengan temannya adalah persoalan basis, musuh, menyerbu, diserbu, ke gep (tertangkap polisi), ziarah ke makam teman yang mati saat tawuran, dimana menyembunyikan senjata tajam, dimana berkumpul untuk menyerang, dsb. Dan remaja itu akhirnya tertangkap berkali-kali sehingga dikeluarkan dari sekolah.

Adakah diantara kamu yang kenal dengan anak Riau yang sekarang di Garuda?


Leave a comment

Sulit berhenti merokok?

              .

Anda tidak sendiri, jutaan orang yang masih hidup, sudah meninggal, bahkan binatang mengalami kesulitan berhenti merokok. Orang-orang yang berhasil berhenti merokok bercerita, ada yang sangat sulit, berlangsung bertahun-tahun, ada yang sangat mudah, kata mereka: kalau mau berhenti merokok, jangan pernah lagi menyentuh rokok, selesai.


Leave a comment

Kekerasan tak kunjung usai di sekolah usang yang dulu pernah cemerlang

bullying
Di ibukota Negeri Paman Besut, sebuah Kota Mega-megapolitan, pernah ada sekolah lanjutan tingkat atas yang sangat terkenal, puluhan tahun sekolah yang terletak di pusat kota itu menjadi favorit incaran anak-anak pintar, anak-anak pejabat, artis, selebritis, dan kaum berpunya.

Setelah puluhan tahun, kini hanya tinggal kenangan, sekolah di tengah kota itu tak lagi favorit, murid banyak yang enggan masuk ke sekolah itu karena tahu bahwa di sekolah itu masih terjadi kekerasan yang dilakukan senior kepada yuniornya, hal itu terjadi hingga saat ini.

Salah satu tindak kekerasan yang terjadi adalah setiap murid harus menyetorkan sejumlah uang seminggu sekali dalam jumlah tertentu yang nilainya ditentukan oleh seniornya, yang jika dijumlahkan nilainya bisa mencapai jutaan kepeng. Terlambat menyerahkan uang yang diperintahkan senior berbuah denda yang membuat setoran akan makin banyak jumlahnya.

Kekerasan lainnya, murid senior memerintahkan yuniornya untuk mencucikan sepatu yang sudah dikenakan selama seminggu, jika pada hari senin sepatu itu masih kotor maka senior akan memerintahkan yuniornya untuk mengulangi membersihkan sepatunya, itu berlangsung berulang-ulang.

Saat istirahat, dimana murid makan siang atau jajan di koperasi sekolah, Yunior harus membayar makanan yang dikonsumsi oleh seniornya, bahkan senior memerintahkan juniornya membawa ransum kue atau makan siang untuk seniornya. Yunior sering juga diminta untuk membelikan pulsa telepon untuk seniornya.

Puluhan tahun kekerasan ekonomi, kekerasan emosi dan lainnya berlangsung di sekolah itu dan seolah guru-guru, kepala sekolah hingga pejabat di dinas pendidikan tak mampu menghentikan tindak kekerasa yang sudah lama berlangsung, ada kabar kepala sekolah dan guru diancam oleh alumni jika diketahui akana melakukan tindakan menghentikan tindak kekerasan, ada kabar yang menyatakan pelaku kekerasan dan alumni adalah anak petinggi negeri yang memiliki benda logam berbentuk bintang di pundaknya dan berbagai kabar yang berujung ketakberdayaan guru-guru dan stakeholder pendidikan menghentikan kekerasan sistematis di sekolah yang pernah berjaya puluhan tahun lalu.

Guru-guru sekolah itu berpendidikan sarjana, pasca sarjana, S1, S2 hingga S3, tapi seolah enggan menggunakan kemampuan berfikir untuk menyelesaikan masalah yang berlangsung puluhan tahun dan seolah tak peduli dengan apa yang terjadi di sekolahnya, tempat mereka bekerja, seolah tak mengetahui penderitaan murid-murid yunior atas perlakuan seniornya, atau masa bodo?

Menurut Anda?