Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Kekerasan tak kunjung usai di sekolah usang yang dulu pernah cemerlang

Leave a comment

bullying
Di ibukota Negeri Paman Besut, sebuah Kota Mega-megapolitan, pernah ada sekolah lanjutan tingkat atas yang sangat terkenal, puluhan tahun sekolah yang terletak di pusat kota itu menjadi favorit incaran anak-anak pintar, anak-anak pejabat, artis, selebritis, dan kaum berpunya.

Setelah puluhan tahun, kini hanya tinggal kenangan, sekolah di tengah kota itu tak lagi favorit, murid banyak yang enggan masuk ke sekolah itu karena tahu bahwa di sekolah itu masih terjadi kekerasan yang dilakukan senior kepada yuniornya, hal itu terjadi hingga saat ini.

Salah satu tindak kekerasan yang terjadi adalah setiap murid harus menyetorkan sejumlah uang seminggu sekali dalam jumlah tertentu yang nilainya ditentukan oleh seniornya, yang jika dijumlahkan nilainya bisa mencapai jutaan kepeng. Terlambat menyerahkan uang yang diperintahkan senior berbuah denda yang membuat setoran akan makin banyak jumlahnya.

Kekerasan lainnya, murid senior memerintahkan yuniornya untuk mencucikan sepatu yang sudah dikenakan selama seminggu, jika pada hari senin sepatu itu masih kotor maka senior akan memerintahkan yuniornya untuk mengulangi membersihkan sepatunya, itu berlangsung berulang-ulang.

Saat istirahat, dimana murid makan siang atau jajan di koperasi sekolah, Yunior harus membayar makanan yang dikonsumsi oleh seniornya, bahkan senior memerintahkan juniornya membawa ransum kue atau makan siang untuk seniornya. Yunior sering juga diminta untuk membelikan pulsa telepon untuk seniornya.

Puluhan tahun kekerasan ekonomi, kekerasan emosi dan lainnya berlangsung di sekolah itu dan seolah guru-guru, kepala sekolah hingga pejabat di dinas pendidikan tak mampu menghentikan tindak kekerasa yang sudah lama berlangsung, ada kabar kepala sekolah dan guru diancam oleh alumni jika diketahui akana melakukan tindakan menghentikan tindak kekerasan, ada kabar yang menyatakan pelaku kekerasan dan alumni adalah anak petinggi negeri yang memiliki benda logam berbentuk bintang di pundaknya dan berbagai kabar yang berujung ketakberdayaan guru-guru dan stakeholder pendidikan menghentikan kekerasan sistematis di sekolah yang pernah berjaya puluhan tahun lalu.

Guru-guru sekolah itu berpendidikan sarjana, pasca sarjana, S1, S2 hingga S3, tapi seolah enggan menggunakan kemampuan berfikir untuk menyelesaikan masalah yang berlangsung puluhan tahun dan seolah tak peduli dengan apa yang terjadi di sekolahnya, tempat mereka bekerja, seolah tak mengetahui penderitaan murid-murid yunior atas perlakuan seniornya, atau masa bodo?

Menurut Anda?

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s