Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan

Beda orang tua murid dulu dan sekarang

2 Comments

Beberpa hari yll saya bertemu dengan Guru-guru Agama dan PPKn SMP se Jakarta Utara, ngobrol tentang pencegahan kekerasan di sekolah.

Ada fakta lucu yang saya catata dari ngobrol-ngobrol itu, diantaranya adalah dalam hal penanganan anak yang nakalndi sekolah.

Dua puluh tahun yll, jika ada guru yang emosi lalu memberi hukuman atau sangsi fisik, misalnya menjewer (mencubit telinga), memukul, dsb. Ketika peristiwa itu diberitahu kepada orang tua murid, umumnya mereka marah kepada anaknya bahkan ada yang memberi tambahan hukuman atas kenakalan yang dilakukan anaknya.

Sementara sekarang, orang tua yang tahu anaknya mendapat kekerasan bersikap marah, tak terima, lapor ke polisi hingga komnas HAM, dsb.

Mungkin akibat perubahan situasi ini guru-guru enggan mendidik dg serius yg bisa menyulut emosi atau tindak kekerasan, hingga seolah ada pembiaran terhadap sikap atau perilaku murid yang tak pantas di lingkungan sekolah, yang dalam jangka panjang akhirnya murid menjadi warga negara yang tak memiliki etika atau karakter baik.

Pantas jika di mass media bertebaran berita pelanggaran etika, korupsi, kekerasan, perampasan, pembunuhan, dsb karena sejak kecil penduduk negeri merasa bebas melakukan apa saja tak ada yang mengingatkan, mengentikan, atau menghukum, dan kemudian dia mendapat hukuman dari negara, hukuman dihajar masa, hukuman mati sndiri akibat pelanggaran yg dilakukan (balap liar, narkoba) atau hukum karma (jika percaya).

Kamu pernah ketemu si Karma?

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

2 thoughts on “Beda orang tua murid dulu dan sekarang

  1. Betul pak, paling susah itu mendidik karakter…. kalo cuma buat pinter aja ga cukup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s