Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan

Saya telah melanggar HAM

4 Comments

Tadi pagi saya menamani putra Saya berusia 9 tahun belajar mengendarai sepeda di Perumahan Pesona Sindang Laut Cirebon tak jauh dari pabrik gula sambil menikmati serabi plus tempe goreng tepung.

Tiba-tiba saya dikejutkan oleh seorang anak laki-laki yang badannya lebih kecil dari anak Saya, mungkin umurnya tak berselisih banyak, dia menghisap rokok sambil matanya menengok kiri kanan seolah melihat sekitar untuk waspada, rokoknya sudah dihisap seperempat.

“Bapakmu membolehkan kamu merokok?” Tanya Saya kepada anak itu.

“Iya Pak,  gapapa.” Dia menjawab.

Saya berfikir apa iya orang tua anak ini membiarkan anaknya yang sekecil itu merokok.

“Kamu sekolah?” Sambil menatap matanya.

“Iya Pak, Saya sekolah”, jawab dia sambil kembali menghisap rokoknya.

“Maaf ya, jika benar orang tua kamu membolehkan kamu merokok, tapi saya tak tahan melihat anak sekolah tak memakai otaknya untuk berfikir yang benar,” suara saya meninggi karena emosi.

“Matikan rokok kamu dan pulanglah ke rumah lalu merokok di depan orang tuamu!”, bentak saya kepada anak kecil itu.

Dia menjatuhkan rokoknya, saya mendekat sambil melanjutkan menghancurkan rokok yang tersisi dengan menggesekkan kaki ke lantai.

Saya telah melanggar HAM, Hak Azasi Manusia anak itu yang punya hak untuk merokok?.

Apakah undang-undang menuliskan anak berhak merokok kapanpun dia mau dan orang lain tak bisa melarangnya.

Menurut anda?

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

4 thoughts on “Saya telah melanggar HAM

  1. Keren pak, saya akan coba ah bisa ga ya melarang seorang anak sast berada di lingkungan masyarakat untuk tidak meroko.

  2. Hal yang patut diacungkan jempol atas tindakan Pak Dedi terhadap anak itu, bahwa Bapak peduli terhadap anak bangsa penerus generasi bangsa.
    Ooohhh …. ya pak Dedi saya mau sekalian tanya… bagaimana cara meliahat review laporan blog saya tahun 2015, saya kok lupa ya cara mengaksesnya? terima kasih. selamat tahun baru 2016. semoga sukses selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s