Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Pencitraan Sekolah (School Branding) itu harus, atau sekolah Anda bakal tak ada peminat

Leave a comment

image

Pencitraan Sekolah atau School Branding adalah suatu cara seseorang membedakan satu sekolah dengan sekolah lainnya, adalah citra visual dan pesan yang masuk atau terekam di memori seseorang ketika mendengar nama sebuah sekolah disebut dalam percaturan sekolah yang massal, banyak sekali. Jika Adalah Guru atau karyawan sekolah, ini adalah janji apa yang menawarkan sekolah Anda. Ini adalah harapan yang ada di benak pelanggan utama, orang tua murid Sekolah Anda. Ini adalah kesempatan untuk terhubung secara emosional dengan orang tua murid Sekolah Anda.

Pencitraan Sekolah serupa dengan Pencitraan Manusia, ada sekolah yang dibangun di tepi jalan utama kota sehingga sejak pertama kali menerima murid baru sudah menjadi rebutan masyarakat sehingga yang diterima di sekolah itu memiliki nilai bagus dan dengan pembinaan yang biasa-biasa saja, alumni sekolah itu bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi atau merebut peluang kerja.

Sekolah di atas seperti seorang bayi yang dilahirkan sebagai keturunan keluarga bergenetik unggul, penampilannya bagus, intelegensinya bagus sehingga orang-orang disekitarnya tertarik padanya.

Bagaimana sekolah Anda? Apakah bergenetik baik disebabkan berbagai faktor seperti lokasi, konsep pendirian sejak awal (ada sekolah yang dibangun untuk jadi unggulan)?

Apakah sekolah Anda mewah? Sehingga orang-orang kaya senang bersekolah di tempat Anda, atau letak sekolah Anda mepet sawah (di pinggir sawah), mungkin sekolah Anda di perkampungan atau pedalaman yang tak bisa dicapai kendaraan selain berjalan kaki.

Apakah citra sekolah bisa dibentuk? Bagaimana membentuk citra sekolah?, bagaimana merubah citra sekolah?

Tujuan Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Setiap jenjang pendidikan memiliki tujuan yang khas, misalnya tujuan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan, sbb:

Tujuan khusus pendidikan menengah kejuruan adalah sebagai berikut: (a) menyiapkan peserta didik agar menjadi manusia produktif, mampu bekerja mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang ada sebagai tenaga kerja tingkat menengah sesuai dengan kompetensi dalam program keahlian yang dipilihnya; (b) menyiapkan peserta didik agar mampu memilih karir, ulet dan gigih dalam berkompetensi, beradaptasi di lingkungan kerja dan mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang diminatinya; (c) membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni agar mampu mengembangkan diri di kemudian hari baik secara mandiri maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi; dan (d) membekali peserta didik dengan kompetensi-kompetensi yang sesuai dengan program keahlian yang dipilih.

Sekolah yang punya citra bagus secara genetika hanya butuh perawatan, memelihara tradisi baik dan terus menunjukkan citra baik sesuai tuntutan masyarakat, jika hanya berdiam diri dan puas dengan keunggulan yang given, misalnya letak sekolah di tepi jalan utama, suatu saat bakal ditinggalkan masyarakat karena perkembangan wilayah pemukiman yang cenderung melebar ke pinggir kota.

Ada sekolah yang terletak di pusat kota, nomor sekolahnya sangat kecil, dahulu mendapat tambahan teladan atau bertaraf internasional kini makin tak diminati, hal ini terlihat dari jumlah dan level nilai murid yang masuk ke sekolah itu, makin menurun.

Anda bekerja di Sekolah Negeri?, merasa tak peduli dengan pencitraan? Karena walau semua guru bekerja santai, asal-asalan tanpa motivasi ke arah tujuan pendidikan, murid baru tak pernah berkurang, bahkan selalu berlebih karena gratis tak berbiaya dan semua fasilitas dipenuhi oleh Pemerintah.

Perhatikan banyak Sekolah Dasar di Negeri ini yang mengalami kesulitan sehingga melakukan berbagai cara agar masyarakat mau menyekolahkan anaknya di sekolahnya, bahkan ada sekolah yang guru-gurunya merelakan sebagian tunjangan sertifikasinya dikumpulkan untuk dibelikan seragam sekolah yang akan dihadiahkan kepada murid baru yang mendaftar di sekolah itu, karena masyarakat enggan menyekolahkan anaknya di sekolah itu.

Tak sedikit pula sekolah yang tak memperoleh murid baru sehingga sekolahnya dimerger atau digabung dengan sekolah lain yang masih ada peminat, ada yang bilang Program Keluarga Berencana (KB) berhasil sehingga jumlah penduduk berkurang, faktanya sekolah tetangga tetap banyak muridnya.

Bagaimana langkah-langkah melakukan pencitraan sekolah atau school branding?

1. Buatlah Logo atau Seragam Sekolah yang paling menarik, keren atau eye catching istilah anak sekarang, jika logo atau seragam sekolah anda yang sekarang dirasa sudah ketinggalam zaman, libatkan murid dalam bentuk sayembara untuk mendisain logo atau seragam sekolah dengan berbagai filosofi sesuai dengan misi sekolah. Logo atau seragam yang lama menjadi dokumentasi yang bisa dilihat, dikenang lewat display di dinding-dinding sekolah, kelas, website, blog, cerita sejarah sekolah, dsb.

2. Fokus pada tujuan pendidikan nasional & tujuan yang sesuai dengan jenjang pendidikan sekolah anda, usahakan semua sumberdaya berjalan ke arah tujuan, jika ada warga sekolah seperti kepala sekolah, guru, karyawan, orang tua dan murid.

Ada contoh sekolah yang menyatakan Ketuhanan dan Kejujuran adalah nilai-nilai yang diterapkan sekolah, ketika ada murid yang menyontek saat ulangan harian atau diketahui mencuri di sekolah mendapat sangsi dikeluarkan dari sekolah. Sekolah-sekolah seperti itu selalu banyak yang berminat walau harus membayar biaya yang mahal untuk diterima di sekolah itu.

3. Pembeda atau Ciri Khas. Orang tua memasukkan anaknya ke sekolah yang punya kelebihan atau pembeda dari sekolah lain, pembeda itu bisa berupa nilai-nilai atau skill yang diajar atau terus dilaksanakan selama murid bersekolah disana. Terlalu berat untuk melaksanakan atau memperlihatkan output semua tujuan pendidikan di Sekolah, pilih saja satu atau sedikit karakter unggulan sebagai pembeda yang bisa dilihat orang tua murid.

Sebagai contoh sekolah yang menyatakan menanamkan nilai ketaqwaan melakukan berbagai kegiatan yang pada akhirnya memperlihatkan sikap taqwa murid sekolah itu lebih baik dari murid sekolah lain, hal ini membuat masyarakat senang menyekolahkan anaknya disana karena merasakan perbedaan tingkah laku anaknya sebelum dan setelah bersekolah disana.

Ada contoh sebaliknya, sekolah yang menyatakan menanamkan nilai KOMPETITIF, tetapi kenyataannya murid di sekolah itu tak dibiasakan menekuni bidang-bidang tertentu yang bisa membuat nurid memiliki skill tertentu untuk memenangkan kompetisi, murid jarang diikutkan kompetisi di berbagai bidang, sehingga jarang menjadi juara memenangkan kompetisi, penekanan proses belajar hanya berfokus pada kompetisi mendapatkan nilai Ujian Nasional (UN) yang terbaik, hal ini tak cukup karena banyak orang tua yang sudah menyadari bahwa nilai UN saja tak cukup buat persiapan anaknya menghadapi masa depan.

4. Menyenangkan. Suasana sekolah harus memberi rasa senang dan membuat betah semua warganya, tak ada rasa takut atau cemas. Menjadikan murid, orang tua, guru & karyawan betah berada di sekolah karena teduh, nyaman serta keramahan warga sekolah.

5. Tak punya pembeda atau Ciri Khas. Sekolah yang biasa-biasa saja tanpa ciri khas mungkin masih banyak muridnya karena terletak di pemukiman, tapi coba perhatikan murid di sekolah itu, apakah berasal dari pemukiman terdekat atau dari luar lingkungan.

Saya pernah menjumpai sebuah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) yang berada di sebuah kompleks pemukiman kelas atas dengan mayoritas penduduknya dari golongan tertentu, ternyata murid sekolah itu yang berasal dari lingkungan terdekat hanya sedikit sekali, mayoritas berasal dari luar kompleks dalam kategori latar belakang sosial ekonomi yang jauh lebih rendah.

Manusia itu unik, dan manusia menyukai hal-hal unik yang berbeda yang bisa memberi nilai lebih, jika hal itu sesuai dengan harapan mereka, maka masyarakat bersedia membayar biaya walau mahal sekalipun secara sukarela, karena yakin bakal mendapat nilai tambah keunggulan yang khas pada anaknya.

Membiarkan Sekolah Anda tak memiliki Pembeda atau Ciri Khas akan membuat fihak luar memberi tekanan-tekanan sesuai kepentingan dan menjadikan manajemen Sekolah Anda semakin gagal fokus menuju kebesaran sekolah dan hanya sibuk menyelesaikan target-target rutin yang diminta lingkungan, tunggu saja saat sekolah Anda makin sepi peminat atau dipilih oleh murid-murid yang dekat tempat tinggalnya atau dengan level nilai rendah dan tak diterima di tempat lain.

6. Mengabarkan. Sekolah harus secara sadar merekam atau mendokumentasikan berbagai aktifitas sekolah, keunikan peserta didik, guru, karyawan, prestasi, proses latihan dan semua hal yang ada di Sekolah dalam bentuk Foto, Video dan menyeleksi foto-foto dan video terbaik untuk dipublikasikan dalam bentuk brosur, website, blog, instagram, youtube dan berbagai platform media sosial.

Guru bisa memberikan tugas belajar, yang pada zaman dulu harus di cetak, kini bisa dirubah dengan meminta murid mempublikasikan di blog, youtube atau media sosial lainnya yang bisa menjadi memory atau kenangan serta materi promosi pencitraan yang alami tentang apa yang dilakukan di dalam Sekolah Anda.

7. ATM sekolah yang bagus. Amati berbagai hal dari sekolah yang bagus memurut Anda, Tiru hal-hal bagus, Modifikasi cara melakukan hal-hal bagus disesuaikan dengan kondisi sekolah Anda.

Melakukan ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi) bisa dilakukan dengan berkunjung ke sekokah bagus yang terdekat, tak perlu studi banding hingga naik pesawat.

8. Budaya menghargai prestasi. Prestasi apapun yang diperoleh murid, guru, karyawan sekolah harus selalu mendapat apresiasi dari semua warga sekolah, sehingga muncul semangat berprestasi dan budaya membicarakan prestasi di sekolah jadi kebahagian bersama.

Jika sekolah tak terbiasa dengan budaya prestasi maka yang terjadi adalah pembiasaan membicarakan keburukan, kelemahan, kecelakaan fihak lain. Akhirnya, sekolah jadi terbiasa dengan keributan antar murid, antar guru, tawuran dengan sekolah lain, bolos, hamil di luar nikah, urusan polisi, dsb.

9. Pembiasaan evaluasi, introspeksi dan berubah.

Salah, keliru, gagal, benar, dan sukses adalah proses hidup yang selalu kita jumpai, apapun yang diperoleh harus dievaluasi, untuk jadi bahan perbaikan yang akan dilakukan di masa depan, sehingga perubahan selalu tak bisa dihindari, agar bisa terus bertahan di dunia yang terus berubah.

Di Negeri Paman Besut ada sekolah yang melakukan berbagai rekayasa, dari yang positif seperti mamotivasi murid agar serius belajar, memberi pengayaan materi, latihan soal-soal hingga memberi strategi menyontek atau bekerja sama saat ujian, memberi kunci jawaban, dsb …. sekolah-sekolah itu hanya jadi statistik negara, bahwa sekolah itu ada, tapi guru-guru & murid tak bangga pada sekolahnya hingga makin sepi peminatnya dan ditutup, dimerger atau dialih fungsikan gedungnya untuk keperluan lain, walau sekolah itu tak memungut biaya atau gratis.

Sementara, ada sekolah yang menyeleksi murid baru sangat ketat, menerapkan nilai karakter baik di sekolah, murid yang menyontek saat ulangan harian dikeluarkan dari sekolah, dsb …. umur sekolahnya hampir seratus tahun, tak pernah kekurangan murid, bahkan selalu menolak murid walau orang tua harus membayar uang masuk puluhan juta kepeng dan iuran bulanan jutaan kepeng.

Bagaimana citra sekolahmu?

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s