Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan

Negeri yang Selalu Berawan

Leave a comment

image

Anak kecil itu cuma meniru
Ingin tahu rasa asap yang diisap orang
Remaja itu cuma ikut bergaya
Ketika teman-temannya bersama isap asap

Saat jadi pemuda
Rokok sudah seperti teman
Diisap saat bersama teman
Diisap saat sendiri seolah jadi teman

Orang tua tak melarang merokok
Karena mereka juga perokok
Walau kadang ada perasaan tak nyaman
Mereka bergantian merokok di rumah
Jika setelah makan, anak & orang tua merokok bareng
Mungkin hal itu membuat makanan yang disantap lebih terasa nikmatnya

Sekolah sudah, bekerja belum tetapi asap selalu diisap
Orang tua tak keberatan memberi uang untuk membeli rokok

Anak muda itu sering bengong pagi hari
Sambil menghisap & menghembuskan asap dari mulutnya
Hari beranjak siang, makin banyak rokok yang dihisap
Pergi dari rumah menemui teman sambil merokok
Berharap ada yang mengajaknya bekerja untuk bisa membeli rokok
Karena kebutuhan rokoknya kini semakin banyak

Saat menganggur, merokok jadi seperti bekerja
Mereka yang bekerja, merokok jadi seperti penambah daya
Mereka tak tahu bahaya rokok?
Mereka tahu, tetapi sensasi & kenikmatan asap mengalahkan logika
Dokter merokok,
Tentara merokok,
Guru merokok,
Ulama merokok,
Menteri merokok,
Artis merokok,
Pilot merokok,
Arsitek merokok,
Profesor merokok,
Satpol PP merokok,
Satpam merokok,
Pemulung merokok,
Lelaki merokok,
Perempuan merokok,
Dewasa merokok,
Remaja merokok,
Anak-anak merokok,
Hampir semua orang di negeri ini merokok

Hebat sekali asap itu
Apakah yang dikandung rokok
Sehingga jutaan orang menyukainya
Berapa untung yang diperoleh pemilik pabrik asap setiap harinya?

Hebatnya lagi, rokok itu seperti bumbu masak
Yang bikin lezat apapun makanannya
Karena setelah selesai bersantap mereka isap asap
Mungkin itu sebabnya negeri ini selalu berawan di langitnya

Sekolah seolah tak peduli tentang asap
Razia murid yang membawa rokok cuma kadang-kadang
Hukuman buat pelanggar makin tak jelas, takut melanggar HAM
Warung depan sekolah menjual rokok tak peduli
Dinas kasih target Lulus UN 100 %
Tak ada pendataan berapa murid yang merokok
Ternyata Kepala Sekolahnya perokok,
Guru-gurunya perokok,
Karyawan sekolahnya perokok,
Mungkin itu sebabnya kenapa negeri ini selalu berawan

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s