Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Sekolah harus berani keluarkan murid yang bullying, berkelahi atau tawuran

Leave a comment

tawuran

Jika Gubernurnya sudah mengatakan hal itu, kenapa pula Kepala Sekolah atau Guru-guru di Jakarta takut mengeluarkan murid yang terlibat bullying, berkelahi atau tawuran?.  Orang tua kadang berusaha membela anaknya agar tidak dikeluarkan dengan berbagai upaha bahkan bersedia membayar pengacara untuk membela anaknya.

Bagaimana strategi sekolah agar percaya diri menangani masalah bullying, berkelahi atau tawuran di sekolahnya?

  1. Pada saat awal tahun pelajaran setia[ murid harus memuat perjanjian, pernyataan atau komitmen untuk tidak melakukan bullying, berkelahi atau tawuran, mungkin bisa juga ditambahkan dengan mencuri, hamil, dsb. Perjanjian di buat setiap awal tahun pelajaran dimaksudkan untuk kembali mengingatkan tentang hal-hal penting yang harus dipatuhi di sekolah sebagai bagian dari pendidikan karakter murid. Tuliskan pada perjanjian atau komitmen itu bahwa jika dilanggar, sangsinya adalah dikeluarkan atau dikembalikan kepada orang tua.
  2. Penandatangan perjanjian atau komitmen pada awal tahun ajaran dilakukan sambil melakukan rapat atau perkenalan wali kelas dengan murid dan orang tuanya. Orang tua dan wali kelas harus saling bertukar nomor handphone agar mudah dalam hal berkoordinasi untuk keperluan pembinaan murid selama proses belajar berlangsung.
  3. Jika terjadi peristiwa bullying, berkelahi atau tawuran, dsb, wali kelas membuat berita acara kejadian berisi kronologis kejadian, tanggal, waktu, peristiwa, penyebab, saksi-saksi, dsb, disertai foto-foto pelaku, korban, saksi, dsb.
  4. Murid membuat surat pernyataan berisi tentang kronologis kejadian, tanggal, waktu, peristiwa, penyebab, saksi-saksi, dsb, ditandatangani oleh murid dan orang tua dengan dibubuhi materai.
  5. Segera eksekusi. Jika terjadi peristiwa yang sudah dirinci dalam perjanjian atau komitmen di awal tahun pelajaran, sekolah harus segera mengambil tindakan dengan memanggil orang tua, menuliskan berita acara kejadian dan memutuskan tindakan sesuai perjanjian atau komitmen yang sudah ditandatangani. Kepala Sekolah membuat surat keputusan memberhentikan atau mengembalikan anak ke orang tua disebabkan pelanggaran terhadap perjanjian atau komitmen yang dibuat setiap awal tahun ajaran
  6. Orang tua murid biasanya mencoba menawar atau berupaya agar anaknya tidak dikeluarkan. Manajemen sekolah harus konsisten pada perjanjian atau komitmen yang telah dibuat, bahwa murid harus meninggalkan sekolah. Oran tua bisa diberi penawaran surat keputusan sekolah yang menuliskan peristiwa ullying, berkelahi atau tawuran memang bisa mengakibatkan murid susah pindah atau mencari sekolah baru. Alternatif penyelesainya bisa dilakukan dengan cara orang tua murid mengajukan surat permohonan pindah sekolah untuk anaknya dengan alasan tertentu, misalnya untuk lebih mendekatkan dengan rumah atau mengikuti orang tua, dsb. Sehingga sekolah mengeluarkan surat keterangan pindah karena permintaan orang tua bukan surat keputusan mengeluarkan murid karena melakukan bullying, berkelahi atau tawuran, dsb.

Menghukum murid memang sebaiknya dihindarkan, dan cuma bisa jadi jalan terakhir, oleh sebab itu berbagai upaya perlu dilakukan agar murid merasa nyaman di sekolah dan tak melakukan tindakan bullying, berkelahi atau tawuran serta hal-hal lain yang melanggar perjanjian atau komitmen.

Sekolah yang peduli pada pembinaan karakter murid akan sangat disukai dan diminati orang tua, ada sekolah yang biaya masuknya puluhan juta rupiah dan iuran bulanannya jutaan rupiah selalu diminati orang tua hingga harus berebut masuk dan seleksi sejak bulan Januari setiap tahun, sekolah seperti itu tak pernah kekurangan murid bahkan selalu menolak banyak sekali calon murid yang hasil tesnya tidak memenuhi syarat.

Ada sekolah yang gratis tak ada pungutan kepada murid selama murid bersekolah disana, tetapi masyarakat tak menu mendaftarkan anaknya di sekolah itu sehingga membuat sekolah gratis itu digabung dengan sekolah gratis terdekat, penyebabnya bisa berbagai hal, yang utamanya adalah kepedulian guru dan warga sekolah terhadap pendidikan karakter muridnya, bagaimana di sekolah kamu?

Simak berita selengkapnya disini.

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s