Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Andai Full Day School diterapkan, siapkan biaya instruktur kegiatan & kompetisi

Leave a comment

Membaca keterangan Mendikbud tentang Full Day School (FDS) di detik.com, tampaknya Pak Menteri berharap Negeri ini bisa menjadikan Sekolah sebagai rumah kedua, dimana setelah belajar anak-anak didorong untuk membentuk karakter dengan berbagai kegiatan seperti beladiri, olahraga, seni, dsb.

Mengamati fakta di banyak sekolah negeri di Jakarta, kegiatan di luar pembelajaran seringkali hanya menjadi formalitas tanpa format yang jelas, dan sulit diharapkan bisa membentuk karakter anak didik. Bahkan tak sedikit sekolah yang mendorong semua muridnya untuk segera meninggalkan sekolah setelah jam pelajaran usai, sehingga menyulitkan anak yang ingin menyalurkan hobby atau kegiatan ko kurikuler hingga ekstra kurikuler.

290125_ekstrakurikuler-akrobat-di-sekolah_663_382

Siswa SD Ngadirgo 1 berlatih mengendarai sepeda roda satu (unicycle) di Mijen, Semarang, Jateng, Rabu (14/1). Olah raga tersebut menjadi kegiatan tambahan siswa (ekstrakurikuler) sejak 1980-an dan menjadi andalan sekolah tersebut di lingkup Semarang maupun nasional. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

Agar keinginan Pak Menteri bisa terwujud, beberapa hal di bawah ini perlu mendapat perhatian:

  1. Komitmen Kepala Sekolah.
    Jika kegiatan ko kurikuler atau ekstra kurikuler masih berjalan di suatu sekolah negeri biasanya karena kepedulian kepala sekolah yang mungkin dahulu menjadi aktifis ketika bersekolah atau kuliah di perguruan tinggi.
  2. Budaya Sekolah.
    Sekolah yang memilki sejarah berprestasi pada bidang tertentu biasanya punya strategi untuk melakukan kaderasisasi merekrut murid baru untuk aktif di kegiatan di luar pelajaran sekolah, termasuk dalam hal supporting pembiayaannya, orang tua murid yang anak-anaknya memiliki hobby sejenis bisasanya dengan senang hati meberi dukungan ketika organisasi ekskul anaknya memerlukan biaya untuk latihan, festival, atau kompetisi.
  3. Biaya Operasional Kegiatan. Sekolah Negeri sering mengalami kesulitan dalam hal anggaran untuk kegiatan diluar pembelajaran, sehingga enggan mengaktifkan kegiatan ekskul, apalagi sekolah yang punya karakter gemar tawuran. Adanya resiko saat melakukan kegiatan membuat sekolah hanya fokus pada kegiatan belajar di kelas, indikasi sekolah jenis ini adalah minimnya prestasi atau juara-juara kegiatan diluar pembelajaran di kelas.
  4. Memilih Instruktur yang hebat. Jika di Sekolah Negeri ada Guru yang memiliki prestasi tingkat nasional atau internasional, bahkan telah berhasil memperoleh sertifikat pelatih untuk bidang kegiatan yang ditekuni dan bersedia melatih murid di sekolahnya. Sesuai peraturan, seskolah tidak boleh memberi honor, transport atau gaji di luar dari berbagai tunjangan yang sudah dia terima sebagai guru, walaupun Guru itu melatih murid-muridnya di luar jam belajar sekolah. Memilih instruktur yang tepat akan membuat murid bersemangat mengikuti kegiatan ekstra sesuai hobbynyda dan mempermudah pencapain prestasi, biaya mendatangkan instruktur atau pelatih dari luar butuh biaya yang tidak murah.
  5. Ikut serta Kompetisi atau Festival. Ukuran keberhasilan kegiatan di luar jam belajar adalah keikutsertaan dalam kompetisi atau festival yang diselenggarakan di masyarakat. Saat mengikuti kompetisi atau festival itu banyak karakter yang ditumbuhkan pada pribadi murid, dari mulai merencanakan kegiatan, orientasi pada proses menuju hasil yang ditargetkan, kerjasama, leadership, percaya diri, menghormati orang lain yang akhirnya membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik.

Prestasi, jadi salah satu indikator pendidikan karakter di sekolah, sementara negeri ini belum terbiasa mengelola kegiatan yang fokusnya prestasi, kegiatan Olimpiade yang sudah berlangsung ratusan tahun lalu, seperti tak dilihat ada atau diperlukan untuk pembinaan kegiatan olahraga di negeri ini, walau faktanya atlit kita telah berhasil memperoleh medali di beberapa cabang olahraga, tapi pembinaan olahraga selalu saja terseok-seok dan minim biaya.

Mungkin Pak Menteri sedang membantu negara yang masih gagap mengelola prestasi dengan mendorong sekolah untuk mendidik karakter anak negeri lewat FDS.

Bagaimana di sekolah Anda?

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s