Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan

Anak nakal dan bodoh itu milik siapa; Sekolah Anda masuk jenis yang mana?

Leave a comment

Sekolah negeri yang bagus, pada sekitar bulan Juni setiap tahunnya terima murid lewat tes berdasarkan nilai yang diperoleh anak pada jenjang pendidikan yang sebelumnya. Kapasitas sekolah negeri yang terbatas membuat tak semua anak lulusan jenjang pendidikan yang lebih rendah bisa diterima di tingkat yang lebih tinggi.

Sekolah swasta yang bagus menerima murid sejak Januari atau ada yang sejak November dan Desember melalui serangkaian tes dan wawancara dengan anak dan orang tua. Diawali dengan potensi akadmik atau bahasa sederhananya kepandaian anak itu di tes, yang dinilai bodoh atau agak kurang tak diterima. Proses berikutnya tes psikologi atau wawancara yang mereview kejiwaan anak murid, yang punya potensi nakal atau bermasalah tak diterima. Setelah intelektual dan psikologi lulus, orang tua diwawancara untuk mengetahui kemampuan saya dukung kepada sekolah atau kemampuan ekonominya, setelah semua tes lulus, maka anak murid diterima di sekolah swasta yang bagus.

Anak yang bodoh tak diterima di sekolah swasta yang bagus, apalagi dia miskin, karena biaya sekolah swasta tidak murah. Anak yang bodoh itu mendaftar di sekolah swasta kelas rendah yang menerima murid baru tanpa proses tes atau seleksi, alasannya beragam sehingga sekolah itu langsung menerima setiap murid yang mendaftar asal sanggup memenuhi kewajiban mambayar uang pangkal dan iuran bulanan.

Pada proses perjalanannya, ada anak yang diterima di sekolah negeri memiliki temperamen atau perilaku yang tak baik, gemar berkelahi atau tawuran dengan teman satu sekolah atau sekolah lain dengan berbagai alasan, bahkan ada yang berani melakukan kekerasan terhadap guru yang berakibat murid itu dikeluarkan sesuai peraturan sekolah. Karena kasusnya heboh dan diberitakan di mass media, maka tak ada sekolah negeri dan swasta yang bersedia menerima anak nakal itu dengan berbagai alasan.

Di Sekolah bagus berbasis agama peraturan disiplin sangat ketat dilaksanakan, anak yang nakal melanggar aturan lembaga dikembalikan kepada orang tua, menyontek saat ulangan harian pun mendapat sangsi dikembalikan kepada orang tua atau dikeluarkan dari Sekolah. Memang kemudian mereka menghasilkan alumni yang hebat dan melanjutkan ke jenjang pendidikan hebat di dalam dan luar negeri berkarya mandiri di masyarakat.

Anak bodoh dan nakal di sekolah negeri atau swasta kelas rendah tetap dengan perilaku yang bodoh dan nakal tak berubah hingga lulus, karena sekolah sangat takut memberi sangsi atau mengeluarkan anak murid dari sekolah dengan berbagai alasan misalnya; kasihan, bakal sepi peminat tahun berikutnya,

Menurut aktifis HAM, sekolah yang mengeluarkan atau tak menerima murid adalah pelanggar HAM karena anak murid adalah manusia yang harus dijamin haknya memperoleh pendidikan. Sementara Lembaga Pendidikan berusaha menjaga mutu dan image Lembaganya agar bisa tetap bertahan di era persaingan yang luar biasa. Apakah aktifis HAM atau Negara bisa memaksa Lembaga Pendidikan menerapkan budaya atau aturan tegas yang sering sudah menjadi image atau trade mark Lembaga tersebut. Bisakah Aktifis HAM atau Negara memaksa Sekolah Swasta menerima orang yang tidak mampu dalam hal intelektual maupun ekonomi diterima?

miskin

Positioning.

Anda sebagai Guru atau Manajemen di Sekolah Negeri atau Swasta, apakah bersepakat untuk memposisikan diri anda dan sekolah anda sebagai tempat belajar anak-anak murid yang pintar dan mampu secara ekonomi, pintar dan miskin, bodoh tapi kaya, bodoh dan miskin … itu adalah pilihan dan kesepakatan anda dengan Lembaga Pendidikan dimana Anda bekerja. Sebuah pilihan yang harus disertakan program dan kerja keras menju image yang ditargetkan yang akhirnya membuat masyarakat berduyun-duyun menyekolahkan anaknya di sekolah anda.

Tahukah Anda banyak Sekolah Negeri dan Swasta yang tak ada peminatnya dan mereka tutup tak beroperasi  karena masyarakat tak ingin menyekolahkan anaknya di sekolah itu dengan berbagai alasan seperti; mutu sekolah, mutu guru, kegiatan ekskul, disiplin, dsb. Tak sedikit Sekolah Negeri yang pendaftarnya sangat sedikit atau sekedar pas memenuhi kuota daya tampung yang ditetapkan dengan nilai atau kemampuan intelktual dan ekonomi yang rendah.

Sementara ada Sekolah Swasta yang biaya uang pangkalnya puluhan juta, dengan iuran bulanan jutaan rupiah selalu kelebihan peminat, tak pernah kekurangan murid dengan cabang sekolah belasan di berbagai daerah seantero negeri, misalnya Pondok Modern Gontor, Kanisius, dsb. Masih ada pula Sekolah Negeri yang disupport oleh orang tua murid karena rencana pencapaian targetnya memerlukan biaya melebihi budget yang disediakan Pemda, maka orang tua masih bersedia membayar iuran berlabel sumbangan sukarela, dsb.

Harus sekolah dimanakah anak-anak bodoh yang miskin?
Kenapa mereka miskin?
Kenapa mereka bodoh?
Apa yang harus dilakukan oleh Negara?
Menurut Anda?

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s