Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Kepala Sekolah era Digital

Leave a comment

Seorang Guru sangat terinspirasi oleh Kepala Sekolah saat dia bersekolah di SMP Negeri di kotanya, karisma kepala sekolah dia begitu hebat, kemampuan bicara saat upacara di lapangan sekolah amat mempesona, kegiatan belajar terasa bergairah saat itu, kegiatan ekskul sangat giat, banyak sekali prestasi, sekolah sering diundang untuk kompetisi atau demonstrasi serta pentas-pentas di tingkat kabupaten, propinsi hingga nasional, guru-guru sangat respek pada beliau, murid sangat akrab dan selalu berebut jabat tangannya ketika berjumpa beliau.

Akhir-akhir ini, murid SMP yang telah jadi guru itu kangen sosok kepala sekolahnya, saat ada kesempatan dia berkunjung ke SMP almamaternya dan bertanya tentang kepala sekolahnya dulu kepada guru dan karyawan yang dia jumpai di sekolahnya, tapi sayang sekali … tak ada yang tahu dimana kini kepala sekolah hebat yang pernah memimpin sekolahnya.

Dengan telepon genggam dia browsing di google nama kepala sekolahnya, berharap ada jejak informasi, foto dan video kepala sekolah yang hebat itu … tapi ternyata guru itu tak menjumpai info, foto atau video orang yang menginapirasinya, kemanakah beliau?

Ketika ada kesempatan mengikuti seleksi calon kepala sekolah, Guru itu  mendaftarkan diri dan ternyata lulus, hingga dilantik menjadi kepala SMP Negeri di daerahnya.

Bercermin pada kehilangan dirinya tak bisa menemukan jejak kepala sekolahnya yang hebat dahulu, sejak awal menjadi kepala sekolah dia menugaskan guru dan karyawan untuk memberitakan kebaikan yang terjadi di sekolah, anak dan guru yang berprestasi, kegiatan ekatra dan intra kurikuler, profil guru, murid, karyawan dan segala sesuatu tentang SMP yang dia pimpin.

Berita di posting di website sekolah, blog sekolah, blog pribadi, blog guru, foto-foto diunggah di instagram, video diunggah di youtube. Pada hari-hari tertentu semua murid dipersilahkan membawa telepon genggam dan secara bersama-sama mengunggah foto, cerita, video di berbagai platform media sosial.

Ada murid yang membuat tulisan hasil wawancara dengan temannya, guru karyawan hingga kepala sekolah dan pedagang kantin, kemudian diunggah di website, blog, instagram, youtube, dsb. Tak sampai satu tahun dia memimpin sekolah, namanya sudah bisa dicari di google.

Sebagai Kepala sekolah beliau menugaskan kepada semua guru agar memberi tugas KBM kepada muridnya dan diunggah ke dunia maya, lewat blog. Instagram, facebook, twitter, youtube, dsb.

Jika murid di sekolahnya berjumlah 500 orang, dan setiap guru memberi satu tugas pada setiap semester yang diunggah ke dunia maya, andai 10 guru di setiap kelas melakukan hal itu, maka dalam setahun ada 500 x 2 x 10 = 10.000 informasi yang diproduksi oleh murid di sekolahnya. Jika terus berulang, silahkan hitung sendiri.

Dia berharap, kelak saat muridnya dewasa dan ingin berjumpa atau sekedar menyapa, dirinya bisa diketemukan di mesin pencari.

Pernah search nama anda di google? Bagaimana hasilnya? 

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s