Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Rekonstruksi Sekolah; MENGAJARKAN KEGAGALAN

4 Comments

how-to-turn-a-failure-into-a-wild-success

Perhatikan di sekolah anda, ketika diadakan suatu kompetisi tentang apa saja … berapa persen murid yang ikut serta berkompetisi? Mengapa begitu sedikit murid yang berani berkompetisi, alasannya bisa beragam; tidak siap, belum latihan, tidak bisa, tidak menguasai, dan masih banyak lagi … apakah hanya itu? Kadang sekolah menerapkan sedikit unsur paksaan dimana setiap kelas harus ada perwakilan dan jika tak ikut mendapat sangsi tertentu … kompetisi yang berubah jadi kegiatan formalitas, hal ini jadi sulit berharap mendapat kader yang baik dari bidang yang dikompetisikan tersebut.

Berapa puluh tahun anda sekolah? apa yang anda kenang selama belajar di sekolah? di sekolah seolah menanamkan keberhasilan, kesuksesan, kebaikan, keindahan … berbagai hal positif yang selalu ditanamkan. Setiap tahun diakhiri dengan sukses berupa naik kelas, rangking, hadiah, liburan dan hal-hal menyenangkan. Perhatikan orang-orang disekitar anda, berpendidikan sarjana tetapi tak memiliki pekerjaan yang baik, berpenghasilan tak jelas dan seperti tak punya gairah untuk hidup, apalagi mereka yang berpendidikan lebih rendah, mengapa? Padahal dalam kehidupan yang sebenarnya bertebaran berjuta kegagalan.

Ketika suatu saat merasakan kegagalan, seseorang sangat terkejut, sangat terpukul dan down atau seolah jatuh tak bisa bangun lagi karena begitu sedih dengan kegagalan yang dialami, karena dia tak biasa gagal, hampir tak pernah gagal, karena saat disekolah ada remedial, hingga selalu naik kelas dan lulus pada setiap jenjang pendidikan.

Orang-orang yang sukses dan berhasil dalam berbagai bidang adalah mereka yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan tetapi selalu bangkit lagi untuk melakukan kerjanya sehingga kegagalan yang terjadi menjadi bahan pembelajaran menemukan strategi yang tepat untuk mencapai sukses.

Sekolah seharusnya memberikan kesempatan kepada murid-muridnya untuk melakukan berbagai hal yang tidak berorientasi pada hasil tetapi murid diberi pengalaman merasakan kegagalan, dan mencoba lagi memperbaiki kegagalan hingga menghasilkan sesuatu, sebuah pencapaian sukses yang bisa diterapkan dalam kehidupan nyata di masyarakat setelah lulus sekolah.

Kegiatan-kegiatan intra dan ekstra kurikuler harus bisa memberi pelajaran kepada murid bahwa kegagalan ada jalan menuju keberhasilan atau sukses, sehingga saat dia gagal tidak langsung terpukul dan segera bangkit memulai kerja lagi, menggunakan kegagalannya untuk merubah strategi dan kerjanya hingga mencapai sukses.

Pada pelajaran Bahasa Indonesia misalnya, murid dapat didorong untuk membuat skenario drama yang diposting di blog mereka, lalu dramanya dipentaskan dan direkam dalam bentuk foto untuk diunggah ke instagram dan video yang diunggah ke youtube, antar kelompok di kelas atau satu sekolah saling membandingkan atau dibuat kompetisi foto siapa dan video siapa yang mendapat jumlah kunjungan atau “like” terbanyak.

Penugasan itu dilakukan beberpa kali dalam satu semester sehingga ada yang gagal pada produk yang pertama, bisa saja mendapat sukses pada penugasan yang kedua, atau yang pernah juara pada tugas pertama bisa saja terpuruk pada tugas kedua. Budaya berkompetisi dan bersaing sehat menjadi hal yang biasa tanpa harus terpuruk jika kalah atau jadi sombong jika menang.

Pelajaran Olahraga bisa mendorong murid sesuai hobbynya untuk berlatih secara serius dan secara rutin mengikuti kompetisi yang diadakan di lingkungan internal sekolah maupun luar sekolah, sehingga terbiasa menerapkan karakter orientasi masa depan, kerjasama, kepemimpinan, berprestasi, dsb. Kekalahan yang diderita jadi bahan evaluasi dan merubah strategi latihan, dsb hingga pada saatnya akan memperoleh kemenangan. suasana latihan dan kompetisi serta kemenangan didokumentasikan dalam bentuk foto dan video kemudian diunggah ke instagram dan youtube.

Orientasi sekolah seharusnya tak hanya mendorong murid untuk berhasil, tetapi memberikan pengalaman gagal dalam hidup, kepada murid ditanamkan bahwa untuk mencapai sesuatu harus bersiap mengalami kegagalan, mencoba lagi dengan memperbaiki kesalahan yang membuat gagal, berulang-ulang hingga berhasil dan sukses. Sekolah mengajarkan kegagalan lewat kegiatan produktif yang didokumentasikan sehingga bisa dinikmati oleh murid-murid yang terlibat pada kegiatan tersebut dan generasi dibawahnya sebagai bahan pembanding untuk melakukan kerja atau pembelajaran yang lebih baik. Menurut anda?

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

4 thoughts on “Rekonstruksi Sekolah; MENGAJARKAN KEGAGALAN

  1. saya sangat setuju pernyataan Bapak “Orientasi sekolah seharusnya tak hanya mendorong murid untuk berhasil, tetapi memberikan pengalaman gagal dalam hidup”. Blog Bapak, trimakasih atas pencerahannya.. kalau Bapak berkenan kunjungi blog saya http://www.gurunuman.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s