Blog Pendidik

Menjadi Guru Inspiratif melalui Budaya Literasi dan Teknologi Informasi

5 Comments

william-arthur-lawebdelestudiante-2

“Guru yang biasa-biasa, berbicara. Guru yang bagus, menerangkan. Guru yang hebat, mendemonstrasikan. Guru yang agung, memberi inspirasi”.– William Arthur Ward –

 

Berdasarkan data UNESCO, persentase minat baca Indonesia sebesar 0,01 persen. Sedangkan rata-rata indeks tingkat membaca di negara-negara maju berkisar antara 0,45 hingga 0,62. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan, hal ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Negara maju memiliki sumber daya manusia (SDM) yang kompeten. Manusia-manusia di dalamnya sangat gemar membaca buku. Budaya membaca mereka telah mendarah daging dan sudah menjadi kebutuhan mutlak dalam kehidupan sehari-harinya. Di masyarakat negara maju membaca sudah menjadi budaya yang diwariskan turun-temurun.

Pada Forum Pendidikan Dunia di Korea Selatan tahun 2015 dilaporkan oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) bahwa diantara negera-negara di Asia, Indonesia menempati urutan 10 terbawah. Laporan BBC menyatakan bahwa anak-anak Singapura berusia 15 tahun memimpin dalam bidang matematika dan ilmu pengetahuan, diikuti Hongkong, Korea Selatan dan Taiwan.

Guru memiliki peran penting memegang peranan yang sangat penting dalam merangsang murid untuk belajar, Guru harus menggunakan berbagai pendekatan yang mendorong murid terbiasa membaca buku-buku tyang berkualitas, menuliskan ide, pendapatnya tentang sesuatu dan memanfaatkan teknologi informasi.

Jadi, agar tidak semakin tertinggal sudah saatnya Indonesia berbenah. Kita harus menumbuhkan minat baca sejak dini terutama pada peserta didik di setiap tingkat satuan pendidikan dari sekolah dasar sampai sekolah menengah. Tanpa itu, kita akan hanya akan menjadi penonton berbagai kemajuan teknologi dan informasi modern.

Budaya suatu bangsa biasanya berjalan seiring dengan budaya literasi. Kemampuan berliterasi peserta didik berkaitan erat dengan tuntutan keterampilan membaca yang berujung pada kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Berdasarkan hal itulah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Literasi lebih dari sekedar membaca dan menulis.Literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang berkaitan dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya. (UNESCO 2003).

Literasi lebih dari sekedar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan itu disebut sebagai literasi informasi. Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/infoLit.pdf) menjabarkan komponen literasi informasi sebagai berikut;

1. Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung. Dalam literasi dasar, kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk menghitung (calculating), mempersiapkan informasi (perceiving), mengkomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan keputusan pribadi.

2. Literasi Perpustakaan (Library Literacy), yaitu kemampuan lanjutan untuk bisa mengoptimalkan Literasi Perpustakaan yang ada. Maksudnya, pemahaman tentang keberadaan perpustakaan sebagai salah satu akses mendapatkan informasi. Pada dasarnya literasi perpustakaan, antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dengan menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dengan pengideksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.

3. Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya. Secara gamblang saat ini dapat dilihat di masyarakat kita bahwa media lebih sebagai hiburan semata. Kita belum terlalu jauh memanfaatkan media sebagai alat untuk pemenuhan infomasi tentang pengetahuan dan memberikan persepsi positif dalam menambah pengetahuan.

4. Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti piranti keras (hardware), piranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, dapat memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta menjalankan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.

5. Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang setiap hari membanjiri kita, baik dalam bentuk tercetak, di televisi maupun internet, haruslah terkelola dengan baik.

Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan. Literasi yang komprehensif dan saling terkait memampukan seseorang untuk berkontribusi kepada masyarakatnya sesuai dengan kompetensi dan perannya sebagai warga negara global (global citizen). Dalam konteks Indonesia, kelima keterampilan di atas perlu diawali dengan literasi usia dini yang mencakup fenotik, alphabet, kosakata, sadar dan memaknai materi cetak (print awareness), dan kemampuan menggambarkan serta menceritakan kembali (narrative skills).

Pemahaman literasi dini sangat penting dipahami oleh masyarakat karena menjamurnya lembaga bimbingan belajar baca-tulis-hitung bagi batita dan balita dengan cara yang kurang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, perlu diberi perhatian terhadap keberlangsungan pendidikan literasi usia dini berlanjut ke literasi dasar. Dalam pendidikan formal, peran aktif para pemangku kepentingan, yaitu kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan pustakawan sangat berpengaruh untuk memfasilitasi pengembangan komponen literasi peserta didik.

Mendorong Budaya Produktif

Salah satu ciri bahwa seseorang memiliki pengetahuan melalui leterasi, adalah kemampuan menyampaikan pendapat secara lisan dan tulisan. Murid yang terbiasa membaca bisa menyampaikan pendapatnya secara runtut dan sistematis ketika berlangsung diskusi.

Pada proses belajar mengajar di kelas, Guru harus mendorong murid untuk menyerap berbagai informasi melalui buku bacaan dan menuliskan respon berupa ringkasan, resensi atau berkreasi membuat tulisan yang sejenis dengan didasarkan pada pengalaman dan latar belakang murid masing-masing. Tulisan murid harus dipubliksikan melalui sosil media seperti blog yang bisa dikerjakan murid memanfaatkan telepon genggam dengan mengunduh aplikasi android blog untuk mendokumentasikan dan mempublikasikan tugas literasi murid.

Tulisan-tulisan yang dihasilkan murid dalam proses literasi bisa jadi lebih menarik ketika dikemas dalam bentuk puisi, foto, musik, dan video. Murid didorong untuk produktif membuat pusi sesuai dengan kompetensi atau topik belajar, puisi bisa dikombinasikan dengan musik menjadi musikalisasi puisi, yang pementasannya harus direkam dalam bentuk video dan diunggah ke youtube. Foto-foto yang mendorong pemahaman literasi tentang suatu standar kompetensi atau permasalahan dalam hidup bisa dibuat murid dan diunggah ke instagram.

Musik juga bisa menjadi media literasi dengan membuat lirik lagu dan musik yang merespon situasi berasarkan standar kompetensi yang dibahs guru di kelas, hasil karya musik dibuat dalam bentuk video dan diunggah ke youtube, sehingga berbagai hasil karya selama proses literasi murid di sekolah bisa menghasilkan karya produktif murid yang bisa dinikmati masayarakat sedunia dalam waktu hingga puluhan tahun ke depan. Hal ini akan mendorong pembiasaan karakter terbiasa berkreasi dan produktif menghasilkan karya yang bermanfaat kehidupan manusia.

Diperlukan juga pendekatan cara belajar-mengajar yang keberpihakannya jelas tertuju kepada komponen-komponen literasi ini. Kesempatan peserta didik terpengaruh dengan kelima komponen literasi akan menentukan kesiapan peserta didik berinteraksi dengan literasi visual. Sebagai langkah awal, dapat disimpulkan bahwa diperlukan perubahan paradigma semua pemangku kepentingan untuk terciptanya lingkungan literasi pada setiap tingkat satuan pendidikan dalam membangun budaya literasi sekolah. Memulainya dengan segera akan memberi pengalaman dan kemampuan mengemas interaksi belajar di sekolah yang mendorong penguasaan literasi murid, semoga bermanfaat.

Pustaka:

• Dewi Utama Faizah, dkk. 2015. Panduan Umum Literasi untuk Mengembangkan Potensi Anak seutuhnya di Sekolah Dasar. Jakarta: Kemendikbud RI.
• Hari Prasetio, Gerakn Literasi Sekolah. Suara Guru, Banyumas, Jawa Tengah.
• _________, 2016, Panduan Gerakan Literasi di Sekolah Menengah atas, Jakarta: Kemendikbud RI.

Advertisements

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

5 thoughts on “Menjadi Guru Inspiratif melalui Budaya Literasi dan Teknologi Informasi

  1. Kerennn
    Inspiring omjay

  2. salah satu blog legendaris menginspirasi , salam manis kang 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s