Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan


Leave a comment

Sekolah sukses mendidik karakter penduduk negeri; jadi pelanggar hukum dan berani membunuh diri sendiri

sd-motor

Murid Sekolah Dasar mengendarai sepeda motor ke sekolah,  ayah bilang mereka harus bekerja, tak ada angkutan umum dari rumah ke sekolah, atau harus berganti beberpa kali angkutan umum plus berjalan kaki hingga membutuhkan waktu yang lama untuk pergi dan pulang dari sekolah dan ibunya bilang mereka harus mengurus rumah tangga, menyiapkan sarapan, membersihkan rumah, mengurus anak balitanya, siapkan makan siang buat keluarga, membantu suami di sawah, ladang atau kebun, agar anaknya bisa cepat sampai di sekolah dan kembali di rumah maka dibiarkanlah anaknya membawa motor ke sekolah yang ternyata juga dilakukan oleh banyak teman-temannya di sekolah.

anak-sekolah-merokok

Saat di sekolah lanjutan anak-anak mulai bersosialisasi dan mengamati tingkah laku orang dewasa, terdorong ingin mencoba hal-hal baru, gempuran iklan produsen motor dan rokok serta tekanan sosial kelompok atau peer group membuat mereka berkumpul dengan teman seusianya sebelum atau sesudah pulang sekolah, saling bertukar kabar, cerita, sambil menikmati makanan, minuman dan berbagai merek rokok dan mereka kecaanduan rokok, menghisapnya setiap hari, saat berangkat ke sekolah, mengendarai sepeda motor sambil menjepit benda putih di jari dan menghisap rokok diantara deru asap knalpot yang juga dihisapnya.

Guru-guru di sekolah tak mengetahui hal itu? Sesungguhnya guru-guru tahu bahwa muridnya ke sekolah menggunakan sepeda motor atau menghisap rokok, karena kadang mereka parkir motornya di sekolah atau di sekitar sekolah, dan ketika berbicara dengan guru pagi hari, aroma rokok dari mulut murid bisa dihirup oleh guru.

Mungkin guru-guru merasa itu bukan urusan mereka, urusan mereka cuma mengajar mata pelajaran di kelas, tak perlu pedulikan kelakuan murid di jalan, mungkin karena anak guru itu yang seusia dengan muridnya juga melakukan hal yang sama, berangkat ke seklah berkendara motor sambil merokok sehingga itu jadi hal yang biasa, atau kalaupun guru mau menegur muridnya, menerapkan tata tertib atau memberikan sangsi yang bisa berujung pada penambahan jumlah poin atau pelanggaran hingga harus dikeluarkan dari sekolah pun akhirnya membuat guru kecewa, karena kepala sekolah tak berkenan mengeluarkan murid yang berkali-kali melanggar tata tertib dan kembali menugaskan guru-guru untuk membina lagi, hingga waktu terus berjalan dan murid itu lulus, bahkan kadang guru menjemput muridnya ke rumah agar ikut ujian di sekolah. Atau guru-guru takut dilaporkan polisi ketika memberi sangsi kepada muridnya?

Pendidikan menjadi tanggung jawab orang tua, sekolah, pemerintah dan masyarakat.

1. Andai orang tua sadar bahwa syarat seseorang boleh mengendarai motor adalah sudah berusia 17 tahun dan memiliki SIM, jika tak ada angkutan umum dari rumah ke sekolah orang tua bisa mendorong anaknya menggunakan sepeda untuk ke sekolah yang bisa sekaligus berolah raga dan mengurangi polusi serta mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

2. Sekolah harus melakukan berbagai hal yang mendorong murid menggunakan sepeda ke sekolah dengan berbagai kegiatan, seperti menyiapkan tempat parkir sepeda yang representatif, mengundang polisi lalu lintas untuk memberi penyuluhan tentang peraturan lalu lintas, mengundang polisi untuk melakukan razia pagi hari di lokasi dimana murid menitipkan motornya, memberi sangsi kepada murid yang membawa kendaraan dan belum memiliki SIM.

3. Pemerintah harus menyediakan angkutan umum yang bisa melayani kebutuhan masyarakat untuk menuju ke sekolah dari rumah mereka. Puluhan tahun negeri merdeka, kenapa angkutan umum masih saja tak nyaman dan belum menjangkau pemukiman warga di kota maupun desa. berapa rezim pemerintah sudah berganti, tetapi tetap saja angkutan umum negeri ini tak baik sehingga rakyat berusaha menyelesaikan masalah sendiri dengan memaksakan membeli sepeda motor atau kredit dengan bunga yang tak kecil karena merasa sangat butuh kendaraan untuk aktifitasnya.

Polisi harus menerapkan Undang-undang Lalu Lintas yang melarang anak berusia dibawah 17 tahun dan tak memiliki SIM mengendari kendaraan bermotor, polisi harus menindak, menilang pelajar yang melanggar aturan lalu lintas. Pembuatan SIM harus dilakukan secara baik, tak bisa “nembak” atau menyogok dengan membayar sejumlah uang untuk memperoleh SIM tanpa proses test yang benar. Masyarakat yang menyogok polisi atau mengajak berdamai dengan membayar sejumlah uang bisa dikenakan hukuman penyuapan, polisi yang disgok pun harus mendapat sangsi yang sesuai dengan peraturan.

4. Masyarakat harus secara keras menuntut kepala daerah yang selalu berjanji saat kampanye sebelum dipilih yang akan mensejahterakan rakyatnya, tetapi kenapa angkutan umum tak kunjung baik pelayanannya hingga kini dan membuat penduduk mengambil jalan pintas membeli motor untuk bisa berpindah lokasi melakukan aktifitas, termasuk ketika menuju ke sekolah.

sma-perokok

Merokok adalah pembiasaan yang faktor pencetusnya beragam, bermusik juga pembiasaan lewat proses latihan berkali-kali, keduanya sama-sama memunculkan karakter rasa percaya melakukan sesuatu hingga tak peduli apa kata orang di sekitarnya. Hal itu ada dalam fikiran para perokok, juga ada ada fikiran grup musik senyawa yang berkali-kali latihan hingga percaya diri tampil dengan pilihan musiknya hingga mendapatkan undangan pentas keliling dunia. 

Pembiaran muris sekolah membawa motor dan merokok membuat penduduk negeri terbiasa melanggar hukum dan membunuh diri sendiri (seperti yang tertulis di bungkus rokok). 

Menurut kamu?


Leave a comment

Guru, Doktor dan Grup Musik Senyawa

Siang ini saya menemukan banyak berita dan video grup musik SENYAWA yang berdomisili di Jogjakarta audah sering pentas di mancanegara seperti Australia, Asia, Eropa hingga Amerika Serikat tapi tak terkenal di Indonesia.

Saya teringat beberapa tahun lalu, pada suatu seminar, seorang rekan guru bertanya bagaimana cara untuk bisa eksis, bisa berkiprah lebih banyak memberi manfaat buat kehidupan, beliau menyatakan sebagai guru Sekolah Dasar yang bergelar Doktor, niat untuk memberi warna kehidupan sekitarnya belum juga terwujud.

Waktu itu saya bilang pada beliau agar bekerjalah dengan serius, lakukan kebaikan-kebaikan, inovasi, kerjasama dengan banyak fihak dan mempublikasikan karya, ide atau kegiatan di media sosial, nikmati semua proses yang dijalani dengan ikhlas, maka akan terwujud apa yang beliau inginkan.

Seperti grup SENYAWA itu, mereka membuat alat musik dari bambu, mengeksplorasi bunyi, berlatih terus dan berkolaborasi dengan banyak fihak hingga mendapat undangan tampil di benua lain. Bagaimana dengan kamu?


2 Comments

Tips Mengelola Piala dan Medali di Sekolah

piala

Ada berapa jumlah piala di sekolah anda?
puluhan, ratusan atau ribuan?
dimanakah disimpan?
di dalam rak di teras sekolah?
di ruang guru dan ruang kepala sekolah?
di berbagai sudut karena jumlahnya sangat banyak

Piala itu pasti diperoleh dengan perjuangan yang susah payah, apalagi prestasi tingkat Nasional atau Internasional, pasti perjuangannya sangat luar biasa, energi yang dihabiskan untuk berlatih, biaya yang dikeluarkan, tenaga yang dikerahkan luar biasa, apalagi jika kompetisi atau pertandingan berlangsung di luar kota atau hingga ke luar negeri.

Setelah piala atau medali itu tiba di sekolah kemudian berubah jadi benda bisu yang seolah tak punya arti, yang bisa merasakan nilai, arti atau bangganya melihat benda itu hanyalah mereka yang terlibat langsung merebut prestasi, sementara warga sekolah yang lainnya tak merasakan arti benda itu. Ketika murid-murid yang berprestasi telah lulus atau guru yang terlibat sudah pensiun dan pindah ke lain sekolah maka piala dan medali seperti kumpulan sampah, yang suatu ketika karena berbagai sebab jatuh, patah, hancur, dsb, benda tersebut akan menjadi penghuni tempat sampah … hilang tak berbekas.

Bagaimana mengelola piala dan medali di sekolah agar tetap hidup dan bisa dikenang dalam waktu yang lama? Silahkan lakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Dokumentsikan suasana latihan kelompok ekskul yang akan mengikuti lomba atau kompetisi dalam bentuk foto-foto dan video, upload di blog sekolah dan youtube.

2. Dokumentsikan suasana pelaksanaan lomba kelompok ekskul langsung di lokasi lomba atau kompetisi dalam bentuk foto-foto dan video, upload di blog sekolah dan youtube.

3. Dokumentsikan suasana penyerahan piala atau medali dari kelompok ekskul yang telah mengikuti lomba atau kompetisi kepada sekolah saat upacara di hadapan semua warga sekolah dalam bentuk foto-foto dan video, upload di blog sekolah dan youtube, jangan lupa sertakan nama-nama yang memberi andil meraih prestasi, foto dan wajah mereka pun harus terlihat di blog dan youtube.

Di bawah ini contoh video yang mendokumentasikan piala di SMKN 50 Jakarta.

Contoh reportase atau cerita prestasi yang menyertai piala dan medali juga bisa di simak disini.

Suatu saat, murid-murid yang ad dalam foto dan video di atas akan menjumpai wajahnya dan melihat piala yang diraihnya, murid-murid adik kelasnya yang bersekolah saat ini pun dapat melihat piala dan seniornya yang berprestasi mengharumkan nama sekolah, propinsi atau bangsa dan negara, bagaimana di sekolah kamu?


Leave a comment

Ada-ada ajaaah

ada

ada demonstran,
ada perampokan,
ada laporan,
ada pengadilan,
ada kebakaran,
ada apa lagi?

ada yang buruh dirinya,
ada yang benci dirinya,
ada yang berlutut memintanya,
ada pula yang kejam menyiksa dirinya
ada kau pernah dengar lagi ini?

entah kenapa saya sedang suka menulis “ada”
ada kamu,
ada saya,
ada dia,
ada mereka,
ada siapa lagi?

ada generasi masyarakat atas,
ada generasi masyarakat tengah,
ada generasi masyarakat bawah,
ada dirimu dimana?

ada orang yang bilang “saya akan selesaikan”
ada kesempatan dia tinggalkan
ada yang tanya kenapa dia tak jawab
ada yang ramai-rmai datang, dia tinggalkan
ada yang tahu siapa dia?

ah
ada
ada
ajaaaa

#stopnarkoba aja yuuuuuk


Leave a comment

IBU KOTA, KOTA IBU; Puisi Remi Sylado

Sekitar akhir tahun 80-an dan awal tahun 90-an Saya aktif di dunia sastra, sebagai penikmat, pembaca dan pemburu lomba baca puisi di Jabotabek, level kecamatan hingga level Nasional … entah kenapa tiba-tiba saya kangen puisi Om Remy Sylado yang dulu sering saya baca dan dibaca teman-teman yang ikut lomba, judulnya Ibu Kota, Kota Ibu … terkenang banyak teman yang selalu ketemu di arena lomba dan jadi teman akrab: Olo Tahe Sinaga (OTE) yang skarang jadi Guru di SMAN 36 Jakarta, Defri Maulana (pernah ngetop di Bandung bareng Padhyangan Group), Denny Maulana, Dian Samudra (mereka adik-kakak), ada juga Tabah Penemuan, Tahta Perlawanan (dua bersaudara yang hijrah ke sinetron), Tria, Titut, Dewi (yang jadi dubber Doraemon), Lia Yulianingsih, Fery Iskandar, dsb. Saya juga terkenang seniman yang bisa jadi juri: Abdul Hadi WM, Sutardji Colzum Bachri, Leon Agusta, Merit Hendra, WS. Rendra, Jose Rizal Manua, Sapardi Joko Damono,  Remy Sylado, Toto Sudarto Bachtiar, … dsb, semoga semua dalam sehat selalu.

remi-sylado

IBU KOTA, KOTA IBU

kalau aku makmur
kubeli jakarta, kucelup jadi putih

kau bisa bayangkan
kalau jakarta tiba – tiba putih semua
mas di puncak monas : putih
patung selamat datang : putih
pohon taman surapati : putih
lapangan sepakbola istora : putih
air ciliwung : putih

barangkali dengan putih
dosa – dosa jakarta akan tersamar
penjambretan, ponodongan, pemerkosaan
perjudian, pelacuran, pembunuhan :
putih !

putih kau tau warna kesucian
tapi putih kau pun tau, warna kekalahan
bagaimana orang bisa dipercaya bicara
jika ia berada dalam kelas yang kalah
seperti kini jakarta disesaki olehnya

kalau aku kalah
kumau kalah dengan kesucian
tapi aku tidak persis dalam kalau – ku
kunyanyikan ode ini untukmu
betapapun tak merdu, sediakanlah kupingmu

ini kota, kau tau, bukan sekedar ibu kota
tapi kota ibu
dengan sejumlah kalau

REMY SYLADO

“KETIKA KATA KETIKA WARNA”
( YAYASAN ANANDAYA JAKARTA – 1995 )

Puisi ini Saya dapat dari: https://ainulcentre999.wordpress.com/2009/03/06/puisi-remy-sylado/


Leave a comment

Tak ada yang bisa berbuat apa-apa Hak azazi manusia

Ilustrasi


Kakek, nenek merokok di rumah
Ketua RT tak bisa berbuat apa-apa
Hak azazi manusia

Bapak, Ibu merokok di rumah
Ketua RT tak bisa berbuat apa-apa
Hak azazi manusia

Anak-anak merokok di rumah
Orang tuanya tak bisa berbuat apa-apa
Hak azazi manusia

Pengendara merokok di jalan
Satpol PP dan Polisi tak bisa berbuat apa-apa
Hak azazi manusia

Anak SD berseragam sekolah merokok di jalan
Semua orang tak bisa berbuat apa-apa
Hak azazi manusia

Anak SMP berseragam sekolah merokok di jalan
Semua orang tak bisa berbuat apa-apa
Hak azazi manusia

Anak SMA – SMK berseragam sekolah merokok di jalan
Semua orang tak bisa berbuat apa-apa
Hak azazi manusia

Anak sekolah merokok di kelas
Guru tak bisa berbuat apa-apa
Hak azazi manusia

Guru merokok di sekolah
Kepala Sekolah tak bisa berbuat apa-apa
Hak azazi manusia

Pemulung merokok sambil manggul karung
Semua orang tak bisa berbuat apa-apa
Hak azazi manusia

Semua orang merokok dimana saja
tak ada yang bisa berbuat apa-apa
Hak azazi manusia

Ada rokok khusus di istana
tak ada yang bisa berbuat apa-apa
Hak azazi manusia

Ada karyawan merokok di ruang ber AC
tak ada yang bisa berbuat apa-apa
Hak azazi manusia

Tukang rokok jualan rokok sambil merokok
tak ada yang bisa berbuat apa-apa
Hak azazi manusia

Kamu merokok dimanapun
tak ada yang bisa berbuat apa-apa
Hak azazi manusia

Apa arti Undang-undang larangan merokok di tempat umum
dan tulisan “ROKOK MEMBUNUHMU”
Mungkin negeri ini sedang mengurangi jumlah penduduk?