Blog Pendidik


2 Comments

Pesan Bunda Iffet untuk Slankers

Ada yang menarik di konser 35 tahun group band Slank semalam 23 Desember 2018, Ibunda Bimbim yang biasa dipanggil Bunda Iffet berpesan buat Slankers, yang intinya:

  • Bekerjalah serius untuk menjadi hidup sejahtera hingga ke negeri yang jauh.
  • Jangan korupsi.
  • Jangan nongkrong-nongkrong di pinggir jalan, diujung gang, dsb.
  • Hindarkan diri dari penyalahgunaan narkoba.
  • Tak minum minuman keras yang memabukkan dan miras oplosan.
  • Hormati dan bahagiakan ibu yang sembilan bulan mengandung dan melahirkan dengan perjuangan antara hidup dan mati.

Saya tidak bisa menyaksikan siaran langsung konser slank itu sehingga mungkin saya tak sempat menyaksikan Bunda Iffet berpesan tentang:

  • Jangan merokok karena terlalu banyak racun yang terkandung dalam asap rokok.
  • Jangan corat-coret tubuh dengan tato karena Tuhan menciptakan tubuh yang bersih.
  • Jangan begadang setiap malam, karena tubuh butuh istirahat dan kualitas tidur di malam hari jauh lebih baik dibanding tidur di siang hari.
  • Jaga isi celana dalam dari predator yang nafsunya bejat dan tak bertanggung jawab.

Apakah kamu slangkers?


5 Comments

Liputan Murid: Kegiatan Open House & Launching Techno Park SMKN 29 Jakarta


Acara Open House & Launching Techno Park SMKN 29 Jakarta yang berlangsung di SMKN 29 Jakarta 15 Desember 2018, sudah tayang di channelnya di youtube.

Apakah yang dimaksud dengan Techno Park?

Berikut ini adalah tulisan Pande Made Parwatha Guru SMKN 1 Abang, Karangasem yang dimuat di Baliexpert.jawapos.com

SALAH satu faktor utama keberhasilan pembangunan di suatu negara adalah tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi sesuai dengan perkembangan industri modern berbasis informasi yang berubah dengan cepat. Oleh karena itu kualitas pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam pembangunan suatu negara, termasuk Indonesia.

Pendidikan Kejuruan adalah pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Dalam menghadapi keterbukaan ekonomi, sosial, dan budaya antarnegara secara global, khususnya dalam penerapan masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) , lndonesia dihadapkan pada persaingan yang makin ketat, termasuk dalam penyediaan tenaga kerja yang akan mengisi kebutuhan tenaga kerja di bidang industri, perdagangan, pariwisata, dan lapangan kerja lain di negara-negara anggota MEA.

Apabila lndonesia tidak menyiapkan penyediaan tenaga kerja terampil menengah hingga profesional, dapat dipastikan lndonesia hanya akan menjadi penampungan tenaga kerja terampil menengah hingga profesional dari negara-negara anggota MEA.

Untuk mengantisipasi tuntutan dan tantangan di atas, dan sebagai kelanjutan dari Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun (Wajar Dikdas), yang secara nasional telah tuntas, melalui Peraturan Presiden Nomor 41 Tahun 2015 tentang 2 Grand Design Pengembangan Teaching Factory dan Technopark di SMK . Program Teaching Factory adalah suatu konsep pembelajaran di SMK berbasis produksi/jasa yang mengacu kepada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri. Implementasi Teaching Factory di SMK dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri dan kompetensi yang dihasilkan oleh sekolah.

Pelaksanaan Teaching Factory menuntut keterlibatan mutlak pihak industri sebagai pihak yang relevan menilai kualitas hasil pendidikan dari SMK. Teaching Factory juga harus melibatkan Pemda/Pemkot/provinsi maupun orang tua dan masyarakat dalam perencanaan, regulasi maupun implementasinya. Dalam proses pendidikan di SMK, keterlibatan pihak industri dalam proses pembelajaran sangatlah penting, karena perkembangan teknologi maupun proses dalam produksi/jasa yang sangat pesat. Penerapan Teaching Factory di SMK akan mendorong mekanisme kerja sama antar sekolah dan industri yang saling menguntungkan, sehingga SMK akan selalu mengikuti perkembangan industri secara otomatis (teknologi transfer, manajerial, pengembangan kurikulum, prakerin, dan sebagainya.

Program Technopark di SMK dicanangkan sebagai pusat dari beberapa Teaching Factory di SMK yang menghubungkan dunia pendidikan (SMK) dengan dunia industri dan instansi yang relevan untuk bekerja sama dengan Teaching Factory di SMK. Technopark akan menjadi “Think-Thank” SMK dalam pengembangan Teaching Factory yang harus mampu menyesuaikan perkembangan industri yang pesat.Technopark juga akan mempromosikan potensi daerah yang relevan untuk pengembangan ekonomi daerah dan sekaligus mempermudah komunikasi dengan dunia industri. Salah satu tujuan utama program Teaching Factory dan Technopark di SMK adalah untuk meningkatkan kompetensi lulusan SMK yang relevan dengan kebutuhan industri, sehingga berdampak kepada penguatan daya saing industri di Indonesia.

Kompetensi yang dihantarkan secara integratif melalui penerapan Teaching Factory adalah kompetensi yang “comphrehensive” meliputi keahlian di ranah psikomotorik, afektif/sikap (“attitude”) dan kemampuan berpikir/mental (cognitive) “Higher-Order Thinking Skills” (HOTS) yang mampu berpikir kritis dan memecahkan masalah (“critical thinking/evaluation” dan “problem solving”). Sehingga pendidikan di SMK akan menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten dari sisi keterampilan (hard skill), namun juga produktif dan bersikap baik (produktif dan tahan banting).

Oleh karena itu, penerapan program Teaching Factory dan Technopark di SMK harus ditindaklanjuti secepatnya oleh instansi teknis terkait. Grand Design ini juga diharapkan bisa dipahami serta dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat, khususnya para pemangku kepentingan. Dengan demikian, banyak pihak dapat terlibat aktif secara efektif dan konstruktif, termasuk memberi kritik, evaluasi, dan rekomendasi. Pelibatan publik secara lebih aktif dan terintegrasi diharapkan mampu meningkatkan hasil pembangunan pendidikan, khususnya SMK.

Harus ada upaya untuk memberikan tambahan sentuhan teknologi baru yang dilakukan terus menerus. Sehingga jika sudah berhasil, yang keluar dari Techno Park ini benar-benar produk unggulan dan berbeda dengan produk sebelumnya atau yang ada di daerah lain.Techno Park juga bisa memberikan branding terhadap suatu sekolah atau daerah. Penciptaan teknologi baru bisa disesuaikan dengan potensi dan kondisi daerah sehingga menunjang sektor andalan daerah tersebut. (*)

Bikin liputan apa kamu hari ini?


Leave a comment

Kreatif di Open House & Launching Techno Park SMKN 29 Jakarta

Bertemu dengan anak kapal, ide kreatif saya sering muncul tak terkendali hingga waktu terasa begitu cepat berlalu, salah satunya adalah mewawancarai anak kapal SMKN 29 Penerbangan Jakarta tentang sekolah mereka di Open House & Launching Techno Park SMKN 29 Jakarta 15 DESEMBER 2018.

Video di atas adalah produk kreatifitas bersama anak kapal saat mereka sedang sibuk merakit pesawat yang sudah diterbangkan, kini murid jago karate yang menjadi host itu sudah jadi sarjana dan bekerja di industri kreatif, well done Friska.

Apakah yang dimaksud dengan Techno Park?

Berikut ini adalah tulisan Pande Made Parwatha Guru SMKN 1 Abang, Karangasem yang dimuat di Baliexpert.jawapos.com

SALAH satu faktor utama keberhasilan pembangunan di suatu negara adalah tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi sesuai dengan perkembangan industri modern berbasis informasi yang berubah dengan cepat. Oleh karena itu kualitas pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam pembangunan suatu negara, termasuk Indonesia.

Pendidikan Kejuruan adalah pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Dalam menghadapi keterbukaan ekonomi, sosial, dan budaya antarnegara secara global, khususnya dalam penerapan masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) , lndonesia dihadapkan pada persaingan yang makin ketat, termasuk dalam penyediaan tenaga kerja yang akan mengisi kebutuhan tenaga kerja di bidang industri, perdagangan, pariwisata, dan lapangan kerja lain di negara-negara anggota MEA.

Apabila lndonesia tidak menyiapkan penyediaan tenaga kerja terampil menengah hingga profesional, dapat dipastikan lndonesia hanya akan menjadi penampungan tenaga kerja terampil menengah hingga profesional dari negara-negara anggota MEA.

Untuk mengantisipasi tuntutan dan tantangan di atas, dan sebagai kelanjutan dari Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun (Wajar Dikdas), yang secara nasional telah tuntas, melalui Peraturan Presiden Nomor 41 Tahun 2015 tentang 2 Grand Design Pengembangan Teaching Factory dan Technopark di SMK . Program Teaching Factory adalah suatu konsep pembelajaran di SMK berbasis produksi/jasa yang mengacu kepada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri. Implementasi Teaching Factory di SMK dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri dan kompetensi yang dihasilkan oleh sekolah.

Pelaksanaan Teaching Factory menuntut keterlibatan mutlak pihak industri sebagai pihak yang relevan menilai kualitas hasil pendidikan dari SMK. Teaching Factory juga harus melibatkan Pemda/Pemkot/provinsi maupun orang tua dan masyarakat dalam perencanaan, regulasi maupun implementasinya. Dalam proses pendidikan di SMK, keterlibatan pihak industri dalam proses pembelajaran sangatlah penting, karena perkembangan teknologi maupun proses dalam produksi/jasa yang sangat pesat. Penerapan Teaching Factory di SMK akan mendorong mekanisme kerja sama antar sekolah dan industri yang saling menguntungkan, sehingga SMK akan selalu mengikuti perkembangan industri secara otomatis (teknologi transfer, manajerial, pengembangan kurikulum, prakerin, dan sebagainya.

Program Technopark di SMK dicanangkan sebagai pusat dari beberapa Teaching Factory di SMK yang menghubungkan dunia pendidikan (SMK) dengan dunia industri dan instansi yang relevan untuk bekerja sama dengan Teaching Factory di SMK. Technopark akan menjadi “Think-Thank” SMK dalam pengembangan Teaching Factory yang harus mampu menyesuaikan perkembangan industri yang pesat.Technopark juga akan mempromosikan potensi daerah yang relevan untuk pengembangan ekonomi daerah dan sekaligus mempermudah komunikasi dengan dunia industri. Salah satu tujuan utama program Teaching Factory dan Technopark di SMK adalah untuk meningkatkan kompetensi lulusan SMK yang relevan dengan kebutuhan industri, sehingga berdampak kepada penguatan daya saing industri di Indonesia.

Kompetensi yang dihantarkan secara integratif melalui penerapan Teaching Factory adalah kompetensi yang “comphrehensive” meliputi keahlian di ranah psikomotorik, afektif/sikap (“attitude”) dan kemampuan berpikir/mental (cognitive) “Higher-Order Thinking Skills” (HOTS) yang mampu berpikir kritis dan memecahkan masalah (“critical thinking/evaluation” dan “problem solving”). Sehingga pendidikan di SMK akan menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten dari sisi keterampilan (hard skill), namun juga produktif dan bersikap baik (produktif dan tahan banting).

Oleh karena itu, penerapan program Teaching Factory dan Technopark di SMK harus ditindaklanjuti secepatnya oleh instansi teknis terkait. Grand Design ini juga diharapkan bisa dipahami serta dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat, khususnya para pemangku kepentingan. Dengan demikian, banyak pihak dapat terlibat aktif secara efektif dan konstruktif, termasuk memberi kritik, evaluasi, dan rekomendasi. Pelibatan publik secara lebih aktif dan terintegrasi diharapkan mampu meningkatkan hasil pembangunan pendidikan, khususnya SMK.

Harus ada upaya untuk memberikan tambahan sentuhan teknologi baru yang dilakukan terus menerus. Sehingga jika sudah berhasil, yang keluar dari Techno Park ini benar-benar produk unggulan dan berbeda dengan produk sebelumnya atau yang ada di daerah lain.Techno Park juga bisa memberikan branding terhadap suatu sekolah atau daerah. Penciptaan teknologi baru bisa disesuaikan dengan potensi dan kondisi daerah sehingga menunjang sektor andalan daerah tersebut. (*)

Apa produk kreatif kamu hari ini?


Leave a comment

PASKIBRA DUA SEMBILAN di Open House & Launching Techno Park SMKN 29 Jakarta


Pernah mendapat piala yang tingginga jauh melebihi tinggi kamu? perhatikan video di atas, aktifis ekskul Paskibra SMKN 29 Jakarta sudah sering menerima hadiah piala yabg tingginya melebihi tinggi mereka sebagai hasil dari kerja keras latihan dan mengikuti kejuaraan lomba paskibra di berbagai tempat.

Saya menjumpai mereka pada acara Open House & Launching Techno Park SMKN 29 Jakarta yang berlangsung di SMKN 29 Jakarta 15 Desember 2018.


Dokumentasi aksi Paskibra SMKN 29 Jakarta diacara XCOOL RCTI tahun 2015.

Apakah yang dimaksud dengan Techno Park?

Berikut ini adalah tulisan Pande Made Parwatha Guru SMKN 1 Abang, Karangasem yang dimuat di Baliexpert.jawapos.com

SALAH satu faktor utama keberhasilan pembangunan di suatu negara adalah tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi sesuai dengan perkembangan industri modern berbasis informasi yang berubah dengan cepat. Oleh karena itu kualitas pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam pembangunan suatu negara, termasuk Indonesia.

Pendidikan Kejuruan adalah pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Dalam menghadapi keterbukaan ekonomi, sosial, dan budaya antarnegara secara global, khususnya dalam penerapan masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) , lndonesia dihadapkan pada persaingan yang makin ketat, termasuk dalam penyediaan tenaga kerja yang akan mengisi kebutuhan tenaga kerja di bidang industri, perdagangan, pariwisata, dan lapangan kerja lain di negara-negara anggota MEA.

Apabila lndonesia tidak menyiapkan penyediaan tenaga kerja terampil menengah hingga profesional, dapat dipastikan lndonesia hanya akan menjadi penampungan tenaga kerja terampil menengah hingga profesional dari negara-negara anggota MEA.

Untuk mengantisipasi tuntutan dan tantangan di atas, dan sebagai kelanjutan dari Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun (Wajar Dikdas), yang secara nasional telah tuntas, melalui Peraturan Presiden Nomor 41 Tahun 2015 tentang 2 Grand Design Pengembangan Teaching Factory dan Technopark di SMK . Program Teaching Factory adalah suatu konsep pembelajaran di SMK berbasis produksi/jasa yang mengacu kepada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri. Implementasi Teaching Factory di SMK dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri dan kompetensi yang dihasilkan oleh sekolah.

Pelaksanaan Teaching Factory menuntut keterlibatan mutlak pihak industri sebagai pihak yang relevan menilai kualitas hasil pendidikan dari SMK. Teaching Factory juga harus melibatkan Pemda/Pemkot/provinsi maupun orang tua dan masyarakat dalam perencanaan, regulasi maupun implementasinya. Dalam proses pendidikan di SMK, keterlibatan pihak industri dalam proses pembelajaran sangatlah penting, karena perkembangan teknologi maupun proses dalam produksi/jasa yang sangat pesat. Penerapan Teaching Factory di SMK akan mendorong mekanisme kerja sama antar sekolah dan industri yang saling menguntungkan, sehingga SMK akan selalu mengikuti perkembangan industri secara otomatis (teknologi transfer, manajerial, pengembangan kurikulum, prakerin, dan sebagainya.

Program Technopark di SMK dicanangkan sebagai pusat dari beberapa Teaching Factory di SMK yang menghubungkan dunia pendidikan (SMK) dengan dunia industri dan instansi yang relevan untuk bekerja sama dengan Teaching Factory di SMK. Technopark akan menjadi “Think-Thank” SMK dalam pengembangan Teaching Factory yang harus mampu menyesuaikan perkembangan industri yang pesat.Technopark juga akan mempromosikan potensi daerah yang relevan untuk pengembangan ekonomi daerah dan sekaligus mempermudah komunikasi dengan dunia industri. Salah satu tujuan utama program Teaching Factory dan Technopark di SMK adalah untuk meningkatkan kompetensi lulusan SMK yang relevan dengan kebutuhan industri, sehingga berdampak kepada penguatan daya saing industri di Indonesia.

Kompetensi yang dihantarkan secara integratif melalui penerapan Teaching Factory adalah kompetensi yang “comphrehensive” meliputi keahlian di ranah psikomotorik, afektif/sikap (“attitude”) dan kemampuan berpikir/mental (cognitive) “Higher-Order Thinking Skills” (HOTS) yang mampu berpikir kritis dan memecahkan masalah (“critical thinking/evaluation” dan “problem solving”). Sehingga pendidikan di SMK akan menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten dari sisi keterampilan (hard skill), namun juga produktif dan bersikap baik (produktif dan tahan banting).

Oleh karena itu, penerapan program Teaching Factory dan Technopark di SMK harus ditindaklanjuti secepatnya oleh instansi teknis terkait. Grand Design ini juga diharapkan bisa dipahami serta dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat, khususnya para pemangku kepentingan. Dengan demikian, banyak pihak dapat terlibat aktif secara efektif dan konstruktif, termasuk memberi kritik, evaluasi, dan rekomendasi. Pelibatan publik secara lebih aktif dan terintegrasi diharapkan mampu meningkatkan hasil pembangunan pendidikan, khususnya SMK.

Harus ada upaya untuk memberikan tambahan sentuhan teknologi baru yang dilakukan terus menerus. Sehingga jika sudah berhasil, yang keluar dari Techno Park ini benar-benar produk unggulan dan berbeda dengan produk sebelumnya atau yang ada di daerah lain.Techno Park juga bisa memberikan branding terhadap suatu sekolah atau daerah. Penciptaan teknologi baru bisa disesuaikan dengan potensi dan kondisi daerah sehingga menunjang sektor andalan daerah tersebut. (*)

 

Seberapa tinggi piala yang pernah kamu dapatkan?


Leave a comment

Ekskul Aeromodelling di Open House & Launching Techno Park SMKN 29 Jakarta

Mereka serius latihan dan sudah sering menjuarai kejuaraan Lomba Aeromodelling tingkat Nasional, jika mau lihat produk pesawat yang dihasilkan oleh aktifis aeromodelling dan piala hasil kejuaraan, silahkan datang ke SMKN 29 Jakarta.


Leave a comment

Open House & Launching Techno Park SMKN 29 Jakarta

Menikmati Pesawat Jabiru hasil rakitan murid-murid SMKN 29 Jakarta tahun 2011 membangkitkan kenangan semangat kerja keras anak-anak kapal yang hebat berusaha mewujudkan target pencapaian menerbangkan pesawat yang dirakit murid-murid kapal bersama guru-guru dan ekspert dari FASI, pesawat tersebut sudah diterbangkan pada 12 April 2012 di sekitar Bandara Pondok Cabe Pamulang Tangerang Selatan.

Pesawat itu kembali ditampilkan pada kegiatan Open House & Launching Techno Park SMKN 29 Jakarta yang berlangsung di SMKN 29 Jakarta, Sabtu 15 Desember 2018. Acara yang menampilkan berbagai produk SMKN 29 Jakarta dan ekspos kegiatan ekstra kurikuler murid-murid disana, mengundang murid, orang tua murid, alumni, industri, Dinas Pendidikan, Kemendikbud RI, murid SMP. Selain pameran, demo ekskul, display produk, juga diadakan lomba-lomba untuk murid SMP.

Saat ini anak-anak hebat yang ikut merakit pesawat sudah sarjana dan bekerja di berbagai bidang seperti maskapai penerbangan, otomotif, rumah sakit, militer, dsb. Proud of you guys.


49 Comments

Mau Bagus atau Bejat itu Kamu yang Mau

Screen Shot 2018-12-13 at 8.43.50 AMSaat kamu sekolah, kamu pilih berteman dengan anak-anak yang baik, bergabung dengan kegiatan-kegiatan yang baik, ikut belajar kelompok atau bimbingan belajar, rutin sholat berjamaah di masjid sekolah, pulang tepat waktu, ngerjain tugas dengan semangat dan ga pernah bolos sekolah.

Ada murid yang berteman dengan anak-anak yang gemar nongkrong di ujung gang, di persimpangan jalan sambil ngerokok atau main games bareng, kalo ada tugas dari guru nungguin contekan dari teman yang sudah mengerjakan lebih dulu, minta dikirim fotonya lewat media sosial untuk disalin pagi hari sebelum bel masuk sekolah berbunyi, malas gabung dengan kegiatan ekskul, nongki (nongkrong-nongkrong) sampai larut malam, hingga sering terlambat sekolah.

Ada murid yang seperti piala bergilir, selalu berusaha bahwa dirinya “laris-manis”, yang perempuan selalu show off pacaran dengan lelaki yang dibilang ganteng di sekolah, jika putus atau bubaran segera berganti hinggap di lelaki ganteng lainnya. Kalau yang lelaki selalu show off pacaran dengan perempuan yang dibilang cantik di sekolah dan gonta ganti hinggap di perempuan berlabel cantik. Beberapa diantara mereka keblabasan hingga berbadan dua hingga tak lanjut sekolah.

Ada murid yang berteman dengan anak-anak yang gemar berkendara motor, nongkrong di ujung gang sambil menjejerkan sepeda motornya dengan spanduk atau banner nama kelompok di persimpangan jalan sambil ngerokok atau main games bareng, kalo ada tugas dari guru nungguin contekan dari teman yang sudah mengerjakan lebih dulu, minta dikirim fotonya lewat media sosial untuk disalin pagi hari sebelum bel masuk sekolah berbunyi, malas gabung dengan kegiatan ekskul, nongki (nongkrong-nongkrong) sampai larut malam, hingga sering terlambat sekolah. Suasana dingin malam hari mendorong mereka mencoba miras oplosan yang memberi rasa “panas” dan mengantarnya ke liang kubur karena otak dan jantungnya tak mampu kalahkan racun dan alkohol dari miras oplosan.

Ada murid yang sibuk sendiri, berangkat sekolah sendiri, di sekolah asik sendirian terus, terlihat pendiam, jarang ngomong sama teman-temannya, pulang sekolah sendirian aja, mengerjakan tugas-tugas sekolah sendiri, sering pake handsfree di sekolah dan luar sekolah.

Kamu termasuk yang mana?


86 Comments

Elo Bisa Jadi seperti yang Elo Mau

Screen Shot 2018-12-13 at 8.43.50 AM

Di Sekolah saat jam istirahat, beberapa murid mojok di sekolah merokok, ngisep ganja, minum miras oplosan, dengan strategi tertentu mereka keluar sekolah kebut-kebutan menggunakan sepeda motor dan terjadi tabrakan tak jauh dari sekolahnya.

Guru diberi tahu, berdasarkan data sekolah, jenazah diantar ke rumah orang tuanya dan langsung dimakamkan sore harinya. Tempat duduk kosong yang ditinggalkan dalam beberapa hari sudah terisi oleh murid baru.

Sekelompok murid sibuk berkegiatan ekskul, setalah itu mengerjakan tugas kerja kelompok bersama teman-temannya, dilanjutkan dengan mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah, membuat mereka tiba di rumah setelah matahari terbenam.

Setelah lulus SLTA mereka lulus tes masuk perguruan tinggi dan mendapat pekerjaan yang memberi penghasilan untuk menopang hidupnya jadi penduduk yang sejahtera.

Guru diberi tahu saat reuni, bahwa murid yang dulu serius itu kini sudah menjadi pengusaha, ada yang jadi pejabat, ada yang jadi ulama, tentara dan menekuni berbagai profesi lainnya.

Apakah sekolah rusak nama baiknya karena murid-muridnya nakal? suka merokok, menyalahgunakan narkoba? kebut-kebutan? Enggak tuh Guys, masih banyak penduduk yang butuh sekolah, sehingga kalau kamu udah ga mau sekolah pasti langsung datang murid baru yang masuk ke sekolah kamu.

Kalaupun kamu jadi orang sukses, sekolah tetap saja menjalankan misinya mendidik anak negeri yang mau dididik jadi orang baik. Jadi terserah kamu aja deh, mau penyakitan, cepet mati atau kamu mau hidup bahagia dan sejahtera saat dewasa adalah pilihan kamu … kalo kata orang zaman now mah, hak azasi.

Kalo mau sehat dan hidup bahagia, berkumpullah dengan orang-orang yang menjalankan pola hidup sehat dan suka kerja keras. Kalo mau penyakitan dn cepat mati, silahan kumpul dengan orang-orang yang doyan asap, minum miras oplosan, ngeganja, narkobaan, ngebut-ngebutan … siapa yang bisa larang? Atau langsung aja kamu gali kuburan kamu buat istirahat selamanya daripada ngerepotin orang tua, guru dan masyarakat.

Mo jadi apa guys? Maap ni yee, sekedar mengingatkan.


35 Comments

Menjaga Nama Baik Sekolah? Siapa yang Bisa?

 

Screen Shot 2018-12-11 at 11.15.22 AM

Hampir semua yang pernah sekolah pasti pernah mendengar Guru dan Kepala Sekolah bilang:

“Jaga nama baik sekolah kita …” Saat upacara di lapangan sekolah atau pengarahan di kelas.

Jika masih ada guru atau kepala sekolah yang masih bicara seperti itu, artinya mereka terganggu daya nalarnya, karena di era zaman now menjaga nama baik sekolah itu luar biasa sangat berat atau hampir bisa dibilang tak mungkin kenapa? Karena luas area sekolah saat ini bisa sangat luas hingga ribuan meter persegi dengan jumlah murid ratusan hingga ribuan orang, ditambah guru dan karyawan yang jumlahnya bisa puluhan hingga ratusan. Adakah yang bisa menjaga nama baik sekolah?.

Guru yang masih honor bilang, “Ah, Saya mah santai aja, cukup kerja sebaik mungkin karena belum tentu diangkat sebagai aparur sipil negara dan andai diangkat bisa jadi saya ditempatkan di sekolah lain.”

Guru yang sudah ASN bilang, “Yang penting datang dan pulang tepat waktu, masuk ke kelas sesuai jadwal mengajar, tak perlu kerja keras karena setia saat bisa saja saya dirotasi atau dipindahkan ke lain sekolah.”

Kepala Sekolah bilang, “Saya cuma harus memastikan bahwa sekolah ini bisa memberikan pelayanan terbaik buat guru, murid dan masyarakat, menjaga nama baik apalagi merubah image sekolah menjadi lebih baik sangat sulit dan butuh waktu yang lama karena masa kerja saya terbatas dan kapan saja saya bisa dipindahkan ke lain sekolah.”

Murid yang tertangkap Polisi ketika melakukan tawuran, dinilai merusak nama baik sekolah oleh guru-gurunya, dia bilang begini:

“Kami sedang di bis tiba-tiba diprofokasi oleh sekelompok pelajar di bis lain dan dilempari batu, kami hanya melawan dan mempertahankan diri, kami justru sedang mempertahankan nama baik sekolah.”

Buat anak-anak zaman now tak usah lagi diminta mereka menjaga nama baik sekolah, lebih baik minta mereka untuk menjaga nama baik diri sendiri
dan akan menjaddi lebih baik jika bisa meraih prestasi lewat perjuangan diri sendiri atau bersama teman, maka nama baik yang diperoleh oleh seorang murid kemudian akan menjadi kebanggan dirinya. Keluarga bakal bangga juga, semua teman di sekolah termasuk sekolahnya jadi dapat nama baik, bahkan kota dimana tempat tinggal dan negeri dimana dia berada ikut merasa bangga, jadilah kebanggan seorang murid menyebar menjadi kebanggan negara

Bagaimana anda menjaga nama baik diri sendiri? Berapa kali anda berprestasi yang membanggakan diri, membuat nama anda semakin baik dan mengharumkan sekolah anda? Kalau anda belum pernah mengharumkan nama sekolah anda, apakah anda belum menjaga nama baik sekolah anda

Jaga nama baik diri sendiri aja yuu, happy deh


93 Comments

GURU MAGER

MAGER

Ani dan Lela kuliah seangkatan di jurusan yang sama di Universitas Negeri Jakarta, UNJ yang pada zaman dulu tahun delapan puluhan masih bernama IKIP Jakarta, sempat bertugas sebagai ASN di sekolah yang berbeda, kini mereka berdua bertugas di tempat yang sama.

“Mengawas ujian dimana Bu Ani?”. Tanya Bu Lela pada hari pertama ujian akhir semester di sekolahnya.

“Saya senang sekali, selama seminggu selalu mengawas di lantai satu, tak perlu naik hingga ke lantai tiga, mungkin panitianya tahu beberapa waktu yang lalu Saya sakit.” Jawab Bu Ani dengan ekspresi gembira.

Bu Lela merespon begini:

“Kalau Saya mah tersinggung dan tak mau dijadwalkan mengawas di lantai satu terus, karena dianggap sudah jompo dan penyakitan. Saya lebih suka mendapat kelas di lantai tiga agar bisa sekaligus olah raga yang menyehatkan badan.”

Bu Ani berlalu dengan ekspresi kecu, sambi berkata:

“Maaf, Saya mau ke toilet.”

Apakah anda termasuk anggota group “Mager” (malas gerak)?


5 Comments

Tawuran Anak SMP yang Mematikan

Screen Shot 2018-11-22 at 7.34.45 AM.png

Dua kelompok masyarakat yang kebanyakan pemuda dan remaja saling serang dengan melempar batu, kayu, botol berisi minyak tanah yang diberi sumbu dan api, atau ada yang saling meluncurkan petasan atau kembang api yang bisa meluncur jauh hingga membuat jendela dan atap rumah pecah, polisi datang untuk melerai. Korban jiwa sering tak bisa dihindarkan dan hal ini bisa menimbulkan dendam yang suatu saat bisa memunculkan tawuran lagi dua kampung yang dipisahkan oleh gang atau jalan raya.

Mahasiswa dua kampus yang bertetangga baku hantam, saling lempar berbagai benda yang ada di sekitarnya hingga saling bunuh. Tawuran berhenti, usaha didamaikan oleh aparat keamanan dan pengelola kampus membawa hasil hingga tawuran berhenti, sementara dendam masih membara tak nampak yang suatu saat bisa menyala lagi dan menimbulkan tawuran yang berulang dengan penyebab yang sama atau berbeda.

Pelajar SMA dan SMK yang gedung sekolahnya bertetangga, atau menggunakan angkutan bis melalui route yang sama bertemu di jalur, saling ejak, saling lempar hingga saling bunuh.

Itu zaman dulu.

Sekarang anak sekolah yang berseragam putih biru, berumur sepuluh tahun lebih sedikit sudah terbiasa tawuran, bahkan dengan mode masa kini, menggunakan sepeda motor dan tongkat golf hingga menimbulkan kematian.

Orang tua mengijinkan anaknya yang bersekolah di SMP membawa sepeda motor ke sekolah, alasannya karena tak ada angkutan umum dengan route dari rumah ke sekolahnya, alasan lain adalah untuk penghematan biaya transportasi harian yang lebih murah dengan sepeda motor dibanding menggunakan angkutan umum atau angkutan online, maka setiap hari banyak anak SMP yang mengendarai sepeda motor ke sekolah.

Sekolah tahu bahwa muridnya membawa sepeda motor tetapi membiarkan dengan alasan karena jarak rumah dan sekolah yang jauh dan sulitnya transportasi atau angkutan umum di sekitar sekolah.

Dinas pendidikan sudah mengeluarkan peraturan larangan murid membawa sepeda motor dan mobil ke sekolah. Murid-murid dilarang untuk memarkir kendaraannya di sekolah, sehingga muncul kantong-kantong parkir di sekitar sekolah menampung sepeda motor dan mobil pelajar yang berkendara ke sekolah.

Kalau zaman dulu tawuran terjadi di daerah simpul-simpul pertemuan jalur bis yang mengangkut pelajar, kini lokasi tawuran bisa terjadi dimana saja di jalur yang mereka lewati, atau diduga mereka telah mengkomunikasikan lokasi pertemuan untuk melakukan tawuran melalui sosial media.

Pelajar membawa senjata tajam? Anak-anak itu hebat, bisa menyembunyikan barang berbahaya sehingga tak diketahui orang tuanya, guru, seharusnya aparat yang mendapati pelajar membawa senjata tajam harus langsung diproses dan dihukum sesuai KUHAP, yang berujung di penjara, hal ini akan memberi efek jera buat pelaku dan pelajar lain yang melakukan hal yang sama. Penjarakan saja, karena dia telah membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.

Sekarang tawuran udah jadi milk anak SMP, mereka ga mau kalah sama yang lebih tua, mereka sudah berani mati korbankan nyawa demi nama baik sekolahnya, orang tua, mahasiswa dan anak SLTA yang masih tawuran mah mending berhenti aja, malu sama anak kecil berseragam biru, yang sudah pada bisa mikir mah mending belajar yang serius trus produktif ngerjain sesuatu yang bermanfaat buat orang banyak, menghasilkan banyak fulus, cari calon ibu dan suami yang bisa produksi anak-anak bagus ga tawuran saat pake seragam.

Sekolah dikelola oleh orang dewasa yang berpendidikan Sarjana, Magister dan Doktor seharusnya mampu melakukan strategi yang tepat mengatasai masalah tawuran pelajar di Jakarta sehingga korban jiwa tak terulang terus. Strategi yang dibuat seharusnya bisa mengalahkan strategi anak-anak kecil berusia belasan tahun sehingga mereka tak mengayunkan senjata tajam itu buat teman seusianya di jalan raya disaksikan masyarakat yang berada di sekitar lokasi kejadian, atau akankah kita tunggu pelajar SD saling berkelahi ayunkan clurit, pedang, tongkat golf dan lempar batu untuk mematikan pelajar SD lawannya, masihkah kita boleh disebut Bangsa yang bermoral?


Leave a comment

Membangun Ekosistem TIK di Sekolah akan Membentuk Karakter Siswa

Screen Shot 2018-12-03 at 4.29.04 PM

Selamat sore sahabat, saat saya menulis ini Jakarta sedang diguyur hujan lebat sejak siang tadi, bagaimana di sekitar anda? semoga tak ada banjir yang terlalu besar hingga menyulitkan penduduk yang hidupnya sudah sulit.

Baru saja saya menerima link aktifitas saya minggu yang lalu bersama PUSTEKKOM KEMENDIKBU RI menjumpai teman-yeman guru dari daerah 3T, yang bertajuk MEMBANGUN EKOSITEM TIK DI SEKOLAH AKAN MEMBENTUK KARAKTER SISWA, begini liputannya:

Membangun ekosistem TIK di sekolah merupakan sebuah hal yang diwajibkan dalam era industri 4.0 saat ini. Hal ini dikarenakan para peserta didik yang merupakan kaum milenial sangat dekat dengan pemanfaatan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Bapak Dedi Dwitagama yang dikenal sebagai pakar dan motivator pendidikan dari PB. PGRI menyampaikan materi Pengembangan Ekosistem TIK di Sekolah dalam kegiatan Peningkatan Kemampuan TIK bagi Sekolah Garis Depan (3T) di Jakarta 27-30 Nopember 2018 yang lalu.

Menurutnya materi yang ia berikan berdasarkan pengalaman yang ia lakukan dalam menciptakan lingkungan pembelajaran digital di sekolah. Untuk itu, ia menginatkan kepada 26 peserta kegiatan ini  akan pentingnya membangun lingkungan pembelajaran digital di sekolah dengan memanfaatkan internet agar dapat menciptakan konten positif tentang pendidikan di Indonesia khususnya bagi sekolah. Hal ini akan mempengaruhi guru dan siswa untuk melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah.     

Oleh karenanya, para guru dan pihak sekolah hendaknya mulai mengikuti kebiasaan para siswa dalam menjadikan media sosial sebagai media pembelajaran bagi siswa di sekolah. Berikut beberapa tips membangun ekositem TIK di sekolah yang dirangkum oleh penulis :

Pertama, Membuat Akun Resmi

Dedi mengajak peserta membuat website dan akun email resmi yang dikelola oleh pihak sekolah. Menurtnya website sekolah merupakan hal yang diperlukan sekolah pada saat ini. Website akan menjadi sarana bagi sekolah untuk memberikan informasi seputar kegiatan pendidikan yang berlangsung di sekolah kepada masyarakat secara efektif dan efisien.

Kedua, Terhubung dengan Media Sosial

Media sosial juga memiliki peran yang signifikan dalam menyampaikan gagasan dan informasi saat ini. Maka setiap sekolah harus aktif pada semua akun media sosial mulai dari blog,  facebook, twitter, instagram, youtube dan sebagainya agar lebih dekat dengan masyarakat. Sehingga sekolah perlu  menugaskan seorang admin khusus yang mengelolah medsos dan  juga membentuk tim kreatif guru.

Ketiga, Memotivasi Siswa

Mengajak siswa untuk berpartisipasi dalam membangun ekositem TIK di sekolah merupakan hal yang mudah. Karena hampir setiap siswa menggunakan media sosial dalam kehidupan sehari-hari sehingga para siswa akan dengan senang hati jika diminta ikut terlibat dalam membuat konten positif bagi sekolah. Hal ini diperlukan sebagai dokumentasi kebaikan bagi sekolah dan membangun citra positif sekolah di internet. Jika siswa ikut terlibat secara tidak langsung sekolah juga mendidik karakter bagi siswa sehingga timbul rasa memiliki sekolah dan termotivasi untuk terus menjaga citra positif sekolah.

“Jika kita tidak mulai membangun konten positif di sekolah maka ketika ada hal yang negatif yang terjadi di sekolah. Maka hanya konten negatif itulah yang akan muncul di internet. Kan sayang, padahal setiap hari banyak konten positif di sekolah kita yang dapat kita sebar di media sosial,” kata Pak Dedi.

Ia sangat berharap jika para peserta kegiatan ini dapat mengoptimalkan bantuan internet USO untuk membuat konten-konten positif di beragam media sosial mulai dari website, blog, facebook, instagram dan youtube yang berisi apa saja yang positif di sekolah kita.

Salah satu peserta kegiatan ini Bapak Taufik Purwana Putra yang berasal dari SMK Negeri 1 Mesuji Sumatera Selatang mengatakan kegiatan ini diharapkan agar peserta kegiatan ini dapat membangun ekosistem TIK di sekolah dengan memanfaatkan internet dengan konten positif untuk mengubah paradigma sebagian orang tua dan pendidik jika gawai (gadget) merupakan hal yang negatif.

Sumber: Sekolah Jardiknas KEMENDIKBUD RI

 


Leave a comment

Tiang Listrik

Screen Shot 2018-11-14 at 9.44.36 AM.png

Foto: Dedi Dwitagama

Dia ditempel nomor telepon sedot tinja.
Dia diikat kawat iklan badut dan sulap.
Dia diikat kawat penyedia layanan asisten rumah tangga dan baby sitter.
Dia ditempel kertas bimbingan belajar.

Dia disangkutkan kabel televisi banyak channel dan internet.
Dia diikat kawat dipasang kayu untuk menjajajak jas hujan plastik.
Dia diikatkan dengan kompresor tambal ban.
Dia diikat untuk memasang spanduk.

Dia jadi sasaran coretan pilox orang belajar nulis.
Dia ditabrak buronan sambil makan bakpao.
Dia dipasangi wajah orang hilang.
Dia dipasangi wajah calon legislatif.

Dia diikatkan spanduk penerimaan murid baru.
Dia diikatkan spanduk mendukung Asian Games.
Dia dipasangi wajah calon presiden.
Dia dikencingin kucing, anjing, manusia.

Dia bertanya: “Adakah yang lebih menderita dari Aku?”