Pengemis Metamorfosis

“Berikan Saya mentahnya saja …”

Foto: jakarta.tribunnews.com

Saya sering melihat pemulung dengan gerobak atau karung duduk berjajar di pinggir jalan seolah mereka punya jadawal mangkal di tempat tertentu, mungkin untuk menunggu dermawan yang biasa memberi uang, makanan, atau apa saja yang pemulung butuhkan.

Di komplek perumahan dekat rumah saya, setiap hari selalu ada pemulung yang sama mangkal di tempat yang sama menatap arah yang sama, dan jumlahnya makin banyak menjelang sholat jumat.

Pada suatu senja saya mendengar seorang pemulung mengatakan kalimat di atas, ketika seorang wanita muda menawarkan kepada pengemis itu untuk membelikannya dengan dibungkus kemudian dibawa pulang.

Dan ternyata masalah sosial fenomena pemulung yang menunggu belas kasihan tak hanya banyak di Jakarta, tetapi hampir di banyak kota besar di negeri ini ada masalah sosial seperti itu terjadi juga di banyak kota besar selain Pulau Jawa.

Menjelang puasa dan Lebaran, gejala itu makin banyak terlihat di Jakarta, momentum ibadah puasa dan hari raya dimanfaatkan hingga banyak penduduk desa berbondong-bondong ke kota, bahkan ada yang dikoordinir mencarter angkutan untuk dating ke kota dan pulang kembali ke desa.

Ahli masalah sosial sangat banyak di negeri ini, perjalanan mengelola negeri sejak kemerdekaan sudah mendekati usia uzur (jika dianalogikan pada umur manusia), mengapa masalah sosial pemulung yang bermetamorfosis  tak kunjung tuntas?

Razia Menteri, dinas sosial, satpol PP diikuti dengan pembinaan dan pengembalian pemulung ke desa asal telah terbukti tak berhasil hingga kini, tapi kenapa persoalan selalu terulang kembali.

Mungkin rakyat di desa-desa terlalu terpesona oleh kemolekkan kota dan kemudahan mencari remah-ramah ekonomi lewat bisnis belas kasih menyenangkan mereka karena tak perlu susah payah bekerja, cukup dengan berpenampilan lusuh, seolah piknik atau berwisata di kota besar dan mendapat banyak hasil untuk bisa dimanfaatkan di desa, bahkan tak sedikit yang rumahnya di desa lebih bagus di banding orang-orang kebanyak di kota yang memberikan sumbangan remah-remah ekonomi kepada mereka.

Saat saya membersihkan gudang di rumah atau ruang kerja, barang-barang yang masih bagus tak terpakai saya berikan kepada pemulung yang lewat di depan rumah saya, bahkan saya mempunyai nomor kontak telepon beberapa dari mereka untuk saya hubungi jika ada kertas, kardus, buku, barang elektronik atau apa saja yang tak terpakai dan bisa dimanfaatkan oleh mereka untuk digunakan atau di jual, beberapa dari mereka bertanya tentang harga yang harus mereka bayar, karena mungkin mereka menduga saya menjual barang loakan, tapi saya katakan saya tak menjual, tetapi bapak atau ibu juga tak bisa meminta bayaran kepada saya untuk mengangkut barang yang kadang jumlahnya beberap gerobak atau karung.

Memberikan sesuatu kepada mereka yang mengemis dipinggir jalan semakin menguatkan mental mereka untuk terus menjadi pengemis, melanjutkan pola hidup malas dan bergantung belas kasih, padahal di sisi lain mungkin mereka merasakan sedang berwisata, jalan-jalan menikmati hasil pembangunan, pekerjaan pemimpin yang mereka pilih lima tahun sekali.

Mau sampai kapan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.