Podcast Pak Dedi: Sekolah Favorit

Di podcast kali ini saya menceritakan bagaimana proses lahir sekolah favorit di negeri paman besut, kalo sekolah kamu?

Apakah yang dimaksud dengan Podcast? Dalam Bahasa Indonesia Podcast diartikan dengan kata Siniar, istilah “podcasting” pertama kali muncul dalam sebuah karangan artikel oleh Ben Hammersley di surat kabar The Guardian pada Februari 2004, bersama dengan istilah lain yang diusulkan untuk menamakan teknologi baru ini. “Podcast” merupakan lakuran kata “pod” — “playable on demand” (dimainkan atas permintaan), yang kelak digunakan Apple Computer (sekarang Apple) untuk merek pemutar-media-saku (portable media playeriPod — dan “broadcasting” (penyiaran). Nama ini dapat menyesatkan, karena siniar dapat digunakan tanpa iPod, atau bentuk pemutar-media-saku lain; isi-kandungannya dapat diperoleh dengan komputer yang dapat memainkan berkas media. Penggunaan istilah “podcast” mendahului adanya dukungan asal (native support) untuk layanan siniar bagi iPod, atau perangkat lunak Apple iTunes. Untuk menghindari keterkaitannya dengan istilah “iPod”, beberapa orang memakai istilah “netcast” sebagai pengganti “podcast“, seperti siniarwan (podcaster) TWiT.tv Leo Laporte. Singkata balik (backronym) telah diusulkan supaya “podcast” dapat diuraikan sebagai “personal odemand broadcast” (penyiaran atas permintaan pribadi).

Podcast mungkin baru terdengar gaungnya di Indonesia, tetapi telah lama dikenal di dunia. Pada 2004, The Guardian menyebutnya sebagai “audible revolution”. Sejak 2014, pendengar podcast melalui ponsel naik hingga 157%. Tentunya ada pula yang mendengar melalui perangkat lain seperti tablet atau komputer. Sepuluh besar negara dengan pendengar podcast terbanyak adalah Korea Selatan, Spanyol, Swedia, Australia, Amerika, Italia, Kanada, Prancis, Jepang, dan Jerman. Genre terpopuler yang didengarkan di Korea Selatan adalah berita dan politik, musik, komedi, film, dan bahasa. Pendengar di genre politik sendiri mencapai 35,2%. Bisa dibilang podcast dianggap sebagai konten yang cukup kredibel untuk menjadi sumber berita meski penyiarnya bisa jadi individu, bukan organisasi tertentu.

Studi lain menyebutkan bahwa ada 51% dari total populasi penduduk Amerika yang menjadi pendengar podcast. Lima tema besar yang populer di Amerika adalah budaya, bisnis, komedi, berita dan politik, serta kesehatan. Mayoritas pendengar berusia 25 hingga 34 tahun. Artinya medium ini populer di kalangan muda. Bila dibandingkan dengan kelompok pendengar usia 65 tahun ke atas, jumlahnya hanya mencapai 6%. Hal ini bisa jadi karena kalangan muda lebih banyak menggunakan internet juga beragam perangkat teknologi komunikasi. Podcast belum cukup ramah untuk lansia.

Bagaimana dengan tren pengguna podcast di Indonesia? Ada 67,97% yang mengaku familiar dengan podcast. Dari jumlah itu, 80,82% mendengarkan podcast dalam enam bulan terakhir. Namun bukan berarti mereka adalah mendengarkan podcast secara intens. Separuh dari responden mengakui belum yakin untuk mendengarkan podcast secara reguler. Mayoritas juga mengakan idealnya durasi podcast mencapai 10 hingga 20 menit saja.

Beberapa podcaster mendapatkan penghasilan dari mengiklanan sendiri produk maupun jasa yang ia buat. Ia juga dapat menawarkan semacam meet and greet sehingga pendengar dapat melihatnya langsung ketika podcaster berbicara. Persis seperti menonton seminar atau kuliah umum.

Seperti instagram, kamu bisa follow akun Siniar saya dan bisa memberi respon berupa tepuk tangan, atau siaran bareng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.